
Prang!
Dua gelas terlepas jatuh pecah berantakan.
"Lala," ucap pria itu terkejut.
"Kevin!" Lala tak kalah kagetnya.
Lala meletakan teko di meja sebelahnya. Dia berjongkok dan mengambil pecahan gelas bening dan mengumpulkannya, banyak pertanyaan di kepala Lala. Mengapa seorang Kevin bisa di Villanya Luca? Apa mereka saling kenal? Bukan. bukan itu masalahnya, tapi apa yang harus dia katakan pada lelaki yang kadang gak waras itu? Apa dia akan marah lagi?
" Aghh!" ringis Lala melihat dua beling kecil menancap di jarinya.
"Kau bodoh ya ! menyingkirlah dari beling-beling itu" bentak Kevin yang berada tidak jauh darinya. Pria itu berlari lalu berjongkok di hadapannya. Dengan cepat Kevin meraih tangan Lala, dan teliti melihatnya.
"Kevin biar aku saja," Lala menarik tangannya. Tangan lebar itu, kencang memegangnya. "Kau ceroboh tidak hati-hati,"keluh Kevin berhasil menarik satu serpihan pecahannya.
"Ighhh," ringis Lala melihat serpihan beling satunya yang gagal diambil.
"Lala," panggil seorang dari pintu, orang itu menghampirinya. Lala menoleh ke asal suara.
"Mas Luca?" Kepalanya menengadah ke orang yang sudah berdiri di dekatnya.
"Kenapa? terluka?" Luca melihat tangan Lala yang tertusuk.
"Pakai Pinset Vin" tegas Luca.
Lala masih melihat Luca dengan penuh tanda tanya.
...Mas Luca kenal Kevin? mereka saling kenal?...
Batin Lala.
Sedangkan Luca menatap Lala dengan tatapan yang sulit diartikan.
Kevin berdiri dan langsung menggendong Lala.
"Kevin turunin!" teriak Lala pada wajah masam itu.
Kevin mengacuhkan perkataan Lala, menggendongnya melewati Luca begitu saja.
Lelaki dingin itu melangkahkan kakinya ke sudut ruangan dan membuka pintu. Berjalan menyusuri lorong dengan kiri-kanannya taman.
"Aku bisa jalan" ucap Lala pelan kepada Kevin yang terus diam.
Apa Ia akan dimarahi Kevin lagi, Apa Kevin akan mence*iknya lagi? emosi Kevin susah di tebak.
-mode normal-mode psikopat- bisa aktif dalam sepersekian detik.
"Kevin... apa kamu marah?" Lala bersandar di lengan Kevin menangkap aura tidak suka pada tatapan matanya.
Lala terus menatap wajah Kevin yang tersorot lampu lorong.
Suara jangkrik dan hewan malam saling bersahutan, hembusan angin pantai yang mulai dingin menyapu tangannya yang atasannya hanya memakai kaos. Suara deburan ombak pun masih terdengar dari dalam villa itu.
Lelaki itu terus menatap ke depan, sampai di depan ruangan dengan pintu yang penuh ukiran klasik. Kevin menempelkan kartu dan pintu terbuka, Lampu ruangan itu otomatis menyala. Lelaki itu membiarkan pintunya yang otomatis tertutup. Bau wangi aroma terapi menguar di ruangan dengan desain ruangan sangat hommy, terasa hangat suasananya.
Dua buah sofa coklat dengan meja bulat beige beralas karpet abu-abu, ada sebuah rak di sudut dinding dan sebuah lukisan besar, satu kaca berukir di sudut lainnya dan sebuah guci cantik dengan ranting kering di dalamnya.
__ADS_1
Kevin menurunkan gadis itu di sofa dengan hati-hati, seakan takut membuat gadis itu merasakan sakit.
Lelaki itu berjalan ke sebuah lemari besar putih, dia menggeser tutupnya mengambil sesuatu,dan kembali pada gadis yang terus tertunduk menatap jari telunjuknya.
"Kevin, Bella pasti menunggu minumannya .."
"Kau lihat! tanganmu terluka!" potong Kevin duduk di sebelah Lala, dan meraih tangan gadis yang sedang kebingungan.
"Ighhh" ringis Lala, pria itu menekan jari telunjuknya, pria itu kesulitan mengambil beling yang terlalu kecil.
Kevin menarik jari Lala dan menyedotnya kuat,.
Lala terlonjak.
...Ah sekarepmulah (terserah kamulah)...
Lelaki yang tengah fokus itu memeriksa tangan Lala lagi, dan mengambil serpihan terakhirnya dengan pinset.
"Kevin, sampai kapan kamu mau diam? aku nggak nyaman," lirih Lala pada pria yang tengah membersihkan jari Lala dengan alkohol.
"... " Pria itu masih diam memberikan plester pada tangan gadis ceroboh.
Kegiatan mengobati luka Lala selesai.
"Mas Luca tadi memanggilmu, apa kalian saling kenal?" Lala mengarahkan wajahnya di depan Kevin.
Kevin menatap Lala sebentar lalu beranjak mengembalikan kotak itu ke tempat semula.
Lelaki itu beranjak keruangan lain di yang tak terlihat. Gadis itu benar-benar diuji kesabarannya lagi.
...Apa dia menganggapku gak ada !...
Lala beranjak cepat menuju pintu sebelum pria arogan itu kembali.
Oglek
Oglek
Gadis yang akan kabur itu menggoyangkan handle pintu, tapi terkunci. "Dimana kuncinya? kunci elektrik tapi kartunya pun tak nampak" keluh Lala melihat dinding sekitar pintu tapi dirinya tak mendapat apapun.
"Ah !!!" Kesal Lala masih menggoyangkan handle pintu.
Terdengar langkah kaki Kevin,
...Mati aku !...
Lala akan kembali ke sofa tapi Kevin sudah berdiri di pintu penghubung.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Kevin.
"Olahraga!" kilah Lala sekenanya, Ia merenggangkan kakinya, lalu maju mundur, meregangkan tangannya menghadapi aura mencekam di ruangan ini.
"Kemari," panggil Kevin masuk ke ruangan sebelah lagi.
Apa dia menyuruhku menyusulnya?
__ADS_1
" Lala !" teriak pria itu dari dalam sana .
" Iya! Aku datang!" Lala berlari sebelum lelaki itu kehabisan kesabaran. Dia memasuki ruangan tersebut. Wallpaper dengan warna biru laut, cantik! foto-foto Kevin menyambutnya di sisi tembok Kanan. Ini masih semacam lorong kecil, dilihatnya foto-foto Kevin ada yang masih kecil, Lala melihatnya dengan tersenyum. Dari Kecil Kevin memang sudah terlihat sangat dingin, dan kelam.
Kelam? Apa pendapatnya salah?, tapi fotonya memang terlihat kelam.
Lihat ada satu foto kevin saat kecil yang tengah tersenyum, tapi siapa gadis kecil itu... apa ini Samantha?
"Apa yang kau Lihat?" tatap Kevin semakin tak suka memergoki Lala yang hampir menyentuh foto saat kecilnya.
"Ah, bukan apa-apa," Lala berlari dan kini di depan pria itu. Lala berdiri di sebuah kamar, 1 kasur besar, 1 sofa, berjajar lemari besar, sebuah meja dengan laptop dan telepon diatasnya. Lalu di samping meja itu jendela besar dengan view pantai. Ada sebuah foto di atas meja yang membuat matanya teralihkan, gadis yang mirip di foto tadi tapi ini sudah berseragam SMA. Lala mendekati foto itu.
"Berani kamu menyentuhnya...!!" geram Kevin tak meneruskan kata-katanya.
Lala diam mematung menunduk melihat foto itu lagi.
...Mengapa melamarku? jika kamu saja masih menyimpan perasaan pada seseorang?...
...Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kau buat untuk main-main, Kevin. Batin Lala....
Lala berbalik memandangi Kevin, yang juga memandangnya dengan tak suka.
Ting!
Suara Ketel Listrik.
"Buatkan aku kopi," ucapnya dingin, tangan Kevin menunjuk teko di dekat sofa.
Lelaki itu berjalan, menggeser pintu kaca dan keluar. Terlihat dia duduk di balkon kamar.
Lala beranjak membuat kopi, dengan takaran seperti yang Ia berikan untuk Ayahnya. Lala membuat juga segelas teh untuk dirinya sendiri.Kemudian dia berjalan keluar dari ruangan yang redup karena hanya 3 lampu kuning yang dinyalakan.
Gadis itu berdiri di pintu menatap sekelilingnya. Kamar ini berbentuk rumah panggung tidak langsung menyentuh pasir pantai. Bila ingin ke bibir pantai harus lewat pintu depan dulu karena disini tidak ada tangga yang bisa langsung turun ke pantai. Disini pun sama hanya lampu Balkon yang redup, Lala meletakan segelas kopi di depan Kevin yang terus meroko* menatap deburan ombak.
Kevin memegangi tangan gadis yang masih memegangi gelas itu.
" Sebentar, ini" Lala menunjukkan nampan di tangan kiri yang berisi segelas teh.
Kevin melepaskan tangan Lala dan Lala meletakan segelas teh di meja, Ia hendak mengembalikan nampan, namun tangan Kevin menariknya sampai Ia terduduk di atas pangkuan Kevin."
"Kevin tolong, aku mau duduk sendiri." Pinta Lala.
____________________________________
...Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini....
Kevin dan Lala akan berlanjut sampai mana?
Yuk Simak di Bab selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.
__ADS_1