Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 114 : Bella


__ADS_3

Kevin mendorong kursi ke belakang, menutup semua buku-bukunya. Dia keluar dari perpustakaan melewati para mahasiswi yang siap menghadangnya.


Empat pengawal menghalangi para gadis yang terus memangil dengan kegirangan ke arah Kevin.


Seolah tak peduli dengan dengan status Kevin yang telah menyandang status suami orang, mereka tetap lihai menggoda dengan terang-terangan.


Cahaya semu merah menghiasi langit sore, Kevin memasuki mobil setelah supir membuka pintu, Kevin memasuki dan segera melepas sweater hijau. Dia melapisi kaus putih dengan jas hitam. Mengganti sneakers dengan pantofel.


Hari ini, pikirannya terusik karena istrinya ingin bertemu Bella. Pikirannya begitu kalut, menimbang kemungkinan terburuk jika Lala tahu kenyataan sebenarnya.


Setiba di Sanla Group, sambutan dan sapaan hormat karyawannya, tak digubris.


Matanya jengah saat menatap ruangan yang telah dibuka oleh Lyra. Terlihat tumpukan berkas di atas meja telah menggunung.


Kevin beringsut ke jendela lebar di balik kursi kebesarannya.


Rumah-rumah di bawah terlihat kecil. Aroma vanila di ruangan ,tetap tidak bisa menghilangkan pikiran tentang Lala. Justru dirinya semakin kesal ingin segera pulang.


"Tuan, Anda bilang ingin segera pulang, sebaiknya anda segera tanda tangan." kata Lyra sambil menatap punggung sang bos.


Kevin berbalik menyelidik ke Lyra, membuat yang di awasi itu sedikit gemetar. Suara sepatu bos menggema di telinga Lyra, membuat nyali Lyra semakin menciut, terlebih saat sang bos menyesap kopi dan terus menyelidik ke Lyra.


"Apa saya melakukan kesalahan, bos?"


Kevin yang masih berdiri, meletakan gelas dengan kasar ke tatakan, "KELUAR"


"B-baik." Lyra melangkah mundur keluar dari ruangan dan menutup pintu pelan, sedangkan tangan lain langsung mengelus dada, karena hari ini selamat dari amarah sang bos.


Semua berkas telah di teliti dan ditandatangani. Tak mau berlama-lama, dia langsung menuju tempat Bella.


Sejam berlalu, mobil memasuki halaman kecil. Kevin menatap rumah biasa yang selalu menyesakkan hati. Enam penjaga lelaki dan dua maid, dirasa cukup hanya untuk menjaga wanita yang tengah mengandung darah dagingnya.


"Dimana," tanya Kevin, dingin, pada maid saat di pintu.


"Kamar, tuan," kata maid itu terus menunduk.


"Panggil atau seret dia," kata Kevin dingin dengan kedua tangan di saku celana. Maid itu mengangguk, mematuhi perintah. Lampu rumah, menyala otomatis di waktu petang. Aroma -kayu manis- begitu kentara, membuat Kevin semakin muak dan enggan berlama-lama.


Sudah lima belas menit Kevin duduk di sofa, dia melihat jam tangan, gelisah karena sang istri bisa kian merajuk bila tidak segera pulang.


"Oh rupanya, masih ingat kesini?" tanya Bella, dia melipat tangan, menatap lelaki yang tak pernah mau melihatnya. Pernah sekali saat dirinya meludahi bedebah malam itu.


"Duduk."


"Untuk apa? Seharusnya kau tak peduli, mau aku duduk atau tidak. Selama aku hamil, kau kesini hanya dua kali. Hh ini yang ke tiga. Sssah kau benar-benar kelewatan."


"Saya bilang DUDUK." Kevin yang duduk dengan kaki merenggang, mengepal tangan kuat di atas lutut. Matanya menatap nyalang ke arah meja kayu di depan.Dada Kevin, terlihat naik-turun, menjaga agar emosi tetap terkontrol.

__ADS_1


Bella lalu duduk di kursi ujung.


"Ikut saya menemui Lala."


"Apa!?? kamu benar-benar sinting, Kevin!!"


"Kamua tidak bisa menolak, tugas mu hanya melahirkan anak itu."


"Kamu kira aku hewan ternak-"


"Hey!! Lakukan saja. Saya bisa menghabisi mu dalam sepersekian detik," bentak Kevin dengan tangan yang telah membidik perut Bella.


"Lakukan! Apapun yang kamu mau. Selama ini, kau juga tidak menganggap ku ada-


DORRR DORR!!


Dua tembakan mengenai sofa di dekat kaki kanan dan dekat kaki kiri Bella, wanita itu mematung lalu tersadar.


"Br*ngsek!!! tembak seka-."


DORRR DOOOR!!


Dua tembakan mengenai dinding di belakang Bella, tepat dikiri dekat kepala Bella, wanita itu mendelik saat anak peluru memantul balik dari dinding dan mengenai tangan.


Bekas sentuhan peluru, terasa panas di tangan Bella. Dia melenguh dengan luka bakar. Namun, Bella tidak gentar dengan todongan.


Wanita hamil itu, bersumpah dalam hati akan membalas semua perlakuan Kevin. "Baik, aku akan ikut."


"Jangan berulah, 'Merry Kencana', ibu kesayanganmu itu ada dalam pengawasan saya. Pilihlah Kepala? jantung? atau dua-duanya, akan saya bawakan pada mu, Ja*lang," kata Kevin dengan penekanan, seakan bisa tahu pikiran Bella.


"Zialan! Scorpion akan menghabis mu, bajingan! Kau tahu mereka bisa menghancurkan Lala!!"


Dorr!


Tembakan mengenai sofa diantara celah tangan dan perut Bella.


"OKE! aku ikuti semua keinginan kamu!! Puas!!!" Pekik Bella, dirinya lebih baik mengalah terlebih dahulu. Dia tidak ingin mati, sebelum membuat dunia Kevin menjadi hancur dan gelap.


Kevin menatap dengan jijik ke mata Bella, "jika kau buat masalah, MATI, kau Jal*ng!!"


Kevin berdiri dan melangkah dengan cepat, "siap-siap besok di jam yang sama."


Setiba di kekediaman suasana begitu sepi, Kevin merasa sangat kesepian.


Dia merindukan tawa Lala yang dulu selalu memenuhi hari-harinya.


Dia bergegas ke kamar, dilihat Lala dengan baju tidur tipis sudah setengah meringkuk dengan hp tidak jauh dari kepala dia. Sepertinya sang istri pura-pura tidur.

__ADS_1


Padahal masih jam delapan. Kevin menghela nafas.


Setelah mandi, tanpa makan malam dan dia naik ke kasur, berbaring di belakang sang istri.


"Saya terlalu bermimpi, bila saya ingin kamu menerima apa adanya hidup saya kan? jika saya bisa menerima semua tentang mu, mengapa kamu tidak..." gumam Kevin sambil memandangi langit-langit kamar.


Dia mencoba memejamkan mata dengan hanya memakai boxer tanpa selimut.


Lala yang mendengar itu tak bergeming, hatinya begitu sakit. Dirinya mencoba menerima, tapi itu sangat sulit. Hanya menunggu waktu, sampai kebenaran itu terungkap.


Suara keroncongan dari perut Kevin, semakin terdengar keras. Dia lebih erat mendekap dan mengecup rambut Lala.


Lala merasa berdosa karena membuat Kevin menahan lapar. Hatinya ragu akan menyiapkan makan malam atau tidak. Sebenarnya, hanya perlu telepon dari kamar untuk mengabari pelayan. Namun, dirinya sudah terlanjur pura-pura tidur.


Perut Kevin terus berbunyi, Lala benar-benar merasa tidak bisa menahan kasian. Padahal sang suami sudah sibuk seharian, dirinya merasa terlalu egois.


Lala berbalik dalam pelukan Kevin, menatap Kevin yang langsung tersenyum dan dia berbisik, "laparrrr, istri ku."


"Mau makan apa?"


"Makan kamu," katanya dengan suara manja, meskipun terlihat letih dia selalu berusaha tersenyum dan terus menggoda sang istri.


"Ih apaan sih," Kata Lala kesal, "masakin nasi goreng, baru tahu rasa," ucap Lala, yang tahu suaminya paling anti makanan berminyak, terutama nasi goreng.


"Saya mau nasi goreng," kata dia semakin manja dan mengelus si kembar, "Seperti mamanya si kembar, yang masih sembunyi-sembunyi makan nasi goreng, padahal saya sudah melarangnya sejak lama kan?"


"Ahhh... Itu!" Seru Lala gelagapan, takut bila Kevin menghukum inem lagi.


"Jadi, buatkan saya nasi goreng," kata Kevin lalu mencubit hidung Lala. Kevin tahu, istrinya itu bebal, susah dibilangin, supaya jangan makan-makanan berlemak, masih saja hobinya makan gorengan, buatan Inem dan diam-diam.


"Aghh! sakit," ringis Lala mengoles-ngoles hidungnya yang panas.


Di dapur Kevin terus mengamati istrinya yang mulai keringatan, sedang membolak-balik nasi goreng setelah menceplok dua telur mata sapi.


"Saya mau sayurnya yang banyak, Babe, tambahin lagi itu."


"Iya-iya bawel, bisa diem nggak???" Lala memotong dua untai sawi dengan cepat, dan menambahkan ke wajan.


Dia kembali membuat api besar. Setelah sayuran layu, Lala memindahkan masakan ke piring lebar yang telah di alasi selada air.


Segenggam irisan kubis, hiasan dari tomat dan hiasan satu cabai merah panjang yang dibuat bunga, di tata. Telur mata sapi dengan kuning setengah matang itu di letakan di sisinya, bersama potongan timun.


Sang istri tersenyum puas, memperlihatkan hasil keringatnya ke depan Kevin "Ini sangat sederhana sayang!"


"Ini enak..." kata Kevin berbinar-binar setelah sedikit menunduk untuk mencium aroma masakan.


Lala menaikan alis sebelah,"makan dulu, baru bilang enak," katanya membawa makanan itu ke ruang keluarga.

__ADS_1


Di sana sang suami duduk manis, Lala menyuapi nasi goreng dengan banyak sayur.


__ADS_2