
-POV Lala-
Pesawat Pribadi milik Kevin mendarat di landasan luas, dimana terdapat banyak penjagaan, di Kuba. Aku memperhatikan orang-orang yang tidak menggunakan jas, seperti orang biasa tapi tubuh mereka seperti memiliki kekuatan dan mungkin pandai berkelahi.
Ada yang bertubuh tinggi, kurus, pendek, gemuk. Rambut keriting, lurus, tebal, gundul. Mungkin lengkap, seperti orang-orang berbeda kewarganegaraan.
Kevin duduk di kursi roda yang di dorong Parker. Tangan Kevin menyerap cairan infus, pria itu masih lemah tapi kekeh menemui Ars.
Sementara aku dan paman Pedro di belakangnya, dengan konstan melewati setapak, di halaman dengan rumput hijau terawat. Menuju rumah bercat warna oranye labu, yangmana banyak tanaman bunga tropis di sekitar sehingga siapa saja yang melihat pasti akan terpikat.
Tiba-tiba ponsel berdering, saya menghentikan langkah dan Kevin menoleh ke arahku. Dia mengangkat tangan yang terinfus, membuat Parker menghentikan dorongan.
Sebuah panggilan dari Richie di layar ponsel, saya mengangkat dagu, menangkap tatapan sayu Kevin yang sedang menunggu, "Aku akan menyusul," mengangguk untuk meyakinkan dia.
Cukup lama saya berbicara dengan Richie di telepon, dengan jari-jari memainkan daun dan tumbuhan tropis. Mengakhiri panggilan dan menyusul ke dalam, tanpa terduga saya menabrak sesuatu yang muncul tiba-tiba di lorong, dan suara tangisan yang begitu ku kenali berhasil mengejutkan saya "Damir eh sayang?" langsung berjongkok, menggendong menenangkan tangisan Damir sambil meminta maaf.
Tidak memakan waktu lama sampai baby sister datang, sepertinya Damir terlepas dari pengawasan mereka.
"Madam, Damir mau pulang kangen papa," anak itu terus merengek dengan suara khas membuat saya merasa ngilu di bagian terdalam. Richie benar-benar menculik Damir, kemarin saya sempat tidak mempercayai, bagaimana tega dia memisahkan anak kecil dari keluarga mereka.
"Nyonya, mereka sudah menunggu," suara Parker datang dari arah belakang. Lalu pria itu berbicara dengan pelayan, tiba-tiba wajah baby sister jadi tampak ketakutan, sementara aku tidak tahu apa yang membuat mereka takut, karena aku tidak tahu apa isi percakapan mereka.
Parker memberitahu tidak apa untuk membawa Damir. Saya berusaha terus menghiburnya dan bersyukur karena Damir mau menghentikan tangisan dan menggelayut manja pada saya.
Begitu memasuki ruangan bercorak bata dengan aroma bambu begitu kental di sana, semua orang menatapku. Saya berusaha tetap tersenyum saat seorang pria sangat tinggi besar memberi arahan saya duduk di samping Kevin.
Saya masih mencoba menguasai ruangan, terutama Kevin yang tatapannya tidak suka saat Damir memeluk dadaku, mungkin karena saya menggendong putra dari musuhnya.
Seorang kakek Tua di depan saya tersenyum hangat dan aku membalasnya, dia tampak sangat disegani, kemungkinan sang pemilik rumah. Rambut telah memutih dan satu tongkat kayunya tergeletak di sebelahnya. Tatapannya dalam dan ramah seolah sudah mengenal aku sejak lama, membuatku timbul rasa penasaran dengan Kakek Jin.
Antara Kevin, Pedro dan Kakek Jin mereka cenderung mengobrol dengan bahasa yang, tidak saya pahami. Sementara Parker hanya diam berdiri di dekat pintu.
Saya tidak ragu bahwa terkadang ada poin-poin yang membawa-bawa tentang aku, karena mereka sempat melirik meski tidak sampai menyebut nama saya.
Sementara aku memangku Damir yang asik bermain. Anak itu terus bertanya tentang sang papah. Di dekatku terdapat satu orang ibu muda yang selalu menjawab dengan kebohongan dan Damir percaya. Kasian sekali Damir, anak sekecil itu harus tersangkut perkara papahnya.
Saya sendiri melarang Richie dan Kevin menggunakan Damir, tapi sepertinya mereka jauh lebih tahu banyak, sedangkan saya tidak tahu apa-apa.
Awan mulai menguning dan hari telah sore. Setelah beberapa jam berlayar menggunakan kapal tugboat, kami pindah ke kapal pesiar. Sepertinya, ini kapal Ars.
Benar saja, begitu berpindah, datanglah Ars dengan mata memicing dan, Daniel dengan tatapan tajam. Apakah cuma perasaan saya saja, jika dua orang itu seperti ingin membunuhku.
__ADS_1
Ars diikuti gerombolan, mungkin ada dua puluh orang, dengan wajah-wajah sangar di belakangnya, seperti preman, tapi memang preman, saya mulai terbiasa melihat orang-orang sangar, tato, tindik, kulit bekas luka, tetap saja selalu membuat saya bergidik.
Pria gondrong pirang itu langsung berlari ke arahku dan aroma alam langsung menyeruak ke lubang hidungku. Saya menoleh menunduk pada Kevin di kursi roda, dan dia mengangguk seolah mengatakan tidak apa-apa dan situasi terkendali.
"Damir," Ars meraih Damir dari gendonganku, dia menepuk-nepuk erat punggung Damir dengan pancaran penuh kerinduan.
Daniel menyusul dan menatap saya dengan pandangan sulit ditebak, tapi untuk suatu alasan mampu membuatku merinding di tulang punggung dan menjalar ke tengkuk.
"Ikuti saya," kata Daniel dengan nada suara tidak biasa, rendah, tersirat akan ancaman.
Sementara sebuah tangan panas meraih pergelangan tanganku, itu Kevin menarik ku sampai saya bergeser menempel ke kursi rodanya.
Parker menyisip dan berdiri di depanku, menghalangi pandangan.
Orang di belakang Daniel serentak mengarahkan senapan ke kepala Parker.
Setelah aku menyadari orang-orang di belakang Ars ternyata menodongkan senapan ke arahku, paman di sebelah kiri ku, dan juga pada Kevin.
"Sambutan Anda sangat baik, Anak muda." sebuah suara dengan nada penuh kebijaksanaan dari belakang. Siapa lagi kalau bukan kakek Jin, suara sangat matang dan bijaksana. Mungkin mampu menghipnotis semua orang untuk tunduk di bawahnya.
Saya belum mengobrol secara pribadi dengan kakek, orang yang auranya tak tersentuh.
Kakek itu maju dengan bertumpu pada tongkat, diikuti dua orang berbadan besar, mungkin tingginya ada 220.
Dengan wajah tidak ramah, Ars menggerakkan tangan dengan mengayun ke bawah membuat pasukannya, menurunkan senjata.
Netra Ars menghunus tajam pada Kevin bergeser ke Parker
Begitu juga Daniel sama seperti Ars.
Tidak pernah terbayangkan, saya menghadapi situasi gila macam ini, dan itu semua menyangkut ayah dan mantan suami, bukan urusan bisnis melainkan mereka mengincar nyawa.
Saya mencoba berpikir mungkin yang dikatakan Kevin masuk akal, tidak mungkin Ars mau mengalah.
"Kejutan! tamu tidak diundang, bukankah kita menyediakan dua tiket, Artyom?" Ars menggoyangkan geraham sambil menggeram sampai suara decakan juga keluar dari sana, saya sadar betapa kesalnya pria itu.
"Ya, dua! Kevin dan Lala," Daniel tertawa beberapa detik penuh sarkasme. "Bukankah harus dibuang sisanya?" Daniel berdecak dengan seringai jahat, matanya memutar ke arah Parker dan Pedro, membuat bulu kuduk saya meremang.
"Tentu! Namun gerangan apa, Jin Samonov tampak tersesat jauh? Harus saya berbaik hati mengantar anda pulang?" Ars berbicara dengan giginya, dia tampak sangat geram.
Daniel maju dan membungkuk mensejajarkan mata dengan sang Kakek, "bukankah sudah saatnya anda duduk manis bersama cucu-cucu? Tulang anda sudah sangat rapuh. Lihat Ars apa perlu pencangkokan untuk kakek?"
__ADS_1
Ars menggeram, "Hentikan Artyom, cepat bawa mereka." Ars memunggungi Daniel dan pergi meninggalkan orang-orang dalam langkah dingin.
"Hei kakek, apa anda butuh 'wisata transplantasi' saya memberikan harga khusus," Daniel dengan seringai jahat. Kemudian kembali berdiri tegap, pucuk kepala kakek tingginya di bawah garis ketiak Daniel..
Kevin diam, aku melirik dia yang meremas pegangan pada sandaran tangan kursi roda, seperti tidak terima bila kakek dihina.
"Artyom - hentikan lelucon mu," Ars dengan nada kesal.
Wuss-Bet!
Sebuah sabetan tongkat mendarat dengan keras pada tulang kering Daniel, saya melirik anak buah Ars yang diam seperti menunggu perintah.
Rahang Daniel tampak mengeras, dia memicingkan mata kepada kakek.
"Betapa menyedihkan putra-putra Sergey, Anda butuh pendidikan etika. Mau tidak mau saya harus mengajarkan pendidikan pra sekolah. Dua-duanya, saya perlu turun tangan mengajari anda, Tyoma!" Wuss-Bett! menyabet keras paha Daniel, "Hei dan anda juga, Ars," suara kakek penuh tenaga sambil menunjuk dengan tongkatnya kepada Ars yang baru berbalik, dan menghadap ke arah kakek.
"zu zu zu Sergey akan menertawakan saya, tebakan dia tidak salah bahwa saya memang harus menghukum anak-anak nakal ini." Kakek menatap langit dengan tatapan dalam lembut membuat saya mengikuti titik pandang kakek, itu hanya langit kapal besi. Mungkin maksud kakek orang tua Ars yang sudah meninggal di atas langit-sedang menatap kemari.
"Oh Sergey hentikan tawamu, ini tidak lucu. Anda menertawakan saya dari atas sana, keterlaluan," Kakek dengan nada sedikit lucu, sepertinya berbicara pada ayahnya Ars yang telah tiada.
"Tidak ada yang mengijinkan mu, menyebut nama suci ayah kami," geram Ars. "Apa matamu buta kakek Tua, atau ... otak anda sudah lama mati? bukankah anda datang sendiri pada pemakaman papa Sergey? Anda lihat umur kami berapa saat itu? sebelas dan enam- tutup mulut anda, saya tidak peduli dengan anak buah atau anak didik anda 'Paman Jin' -" kata Ars terhenti, saya bergeser sedikit karena keheningan.
Dan saya memperhatikan Daniel saat merebut senapan dengan cepat dari anak buahnya, alisku berkerut karena mencium firasat bahwa situasi akan tidak baik.
Mataku langsung terpejam bersama letusan tembakan beruntun, menggema memekakkan telingaku, di ikuti getaran di ruang kapal semi tertutup.
Siapa! siapa! siapa! hampir-hampir aku tidak mau membuka mata, dada terasa sesak tidak siap akan apapun, oh jangan Kevin!
Tubuh saya bergidik menahan rintihan sambil menutup telinga dan memberanikan diri menyipit melirik Kevin di tengah ketakutan saga, dan di memandangku dengan tatapan sangat dalam, dia tidak terluka, aku sedikit menghela nafas dan memutar kepalaku menatap Paman juga baik-baik.
Saya menyipitkan mata pada percikan api di antara kabut gelap di depan kaki Parke, yang berdiri di depanku, bahkan Parker tak bergerak, tampaknya sudah biasa dengan itu, atau tembakan itu semacam gertakan Daniel?
Cor-coran di bawah berasap berdebu dan saya terbatuk karena menyedot debu, saya menutup hidung dan telinga bergantian, suara tembakan membuat saya gila. Loncatan anak peluru yang terpental dari bawah dengan tak beraturan.
Suara tembakan berhenti, aku mengatur nafas mendongak dengan gemetar masih menutupi telinga, aura Daniel menjadi lebih menyeramkan mengalahkan aura Ars, menakutkan. "Jalan!" Perintah Daniel entah kepada siapa, mungkin untuk kami semua.
Saya terus batuk-batuk, dan menangkap kepalan tangan Ars sampai buku-buku jari yang bertato hijau gelap itu menjadi warna hijau terang.
Kelopak mata saya mengepak perlahan, saat Ars memandangku dengan tatapan tajam manakala hidung itu berkedut seakan-akan hendak membasmi ku.
Membuat tubuhku diliputi hawa dingin. bergidik dan otak saya tersesat.
__ADS_1
Sebuah panas dari telapak tangan Kevin yang menempel ke telapak tangan kananku, membuatku tersadar dari ketakutan. Dan saya lebih meyakinkan diri untuk tidak perlu takut, setidaknya saya tahu bahwa aku tidak sedang sendirian di kapal ini, ada Kevin, Paman.
Dan ada Richie dalam persembunyian, di suatu kamar, di kapal ini.