Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 148 : MENYAKITKAN


__ADS_3

...🇨🇴🇨🇴...


Markas James digempur tiba-tiba, setelah James menyelesaikan penuturan panjang yang berisi umpatan karena Kevin menghalangi James membunuh Alen, Lala dan ketua Bee.


Mata iblis itu benar-benar hilang kesabaran, dia mengaktifkan bom di badan Kevin. Dia tertawa meninggalkan Kevin di tengah getaran dinding itu.


Tak lama seekor macan peliharaanya masuk, Kevin menggelengkan kepala tanpa berpikir panjang dari mana macan itu bisa sampai sini.


"Diam Teddy, jangan mendekat, pergilah," perintah Kevin pada macan itu karena waktu berjalan mundur dalam lima menit.


Seseorang masuk, dia membuka masker, " Tuan," Katanya bergegas mendekati Kevin, mengambil pisau dan memilih kabel yang akan dipotongnya.


"Parker, cepat!" Seru Kevin, yang tahu Parker pandai akan hal itu.


Ada lima kabel yang dipotong Parker, dia langsung melepas semua jeratan kabel yang membelit Kevin.


Tak lama Kevin berjalan di belakang macan Teddy yang melindunginya. Parker berpisah mencari Edric, tak lupa Parker memberi Selang khusus.


Di sisi barat markas, Johan bertarung dengan Viktor.


Di sisi utara markas, Alen melawan James.


Sementara Kevin menemui Bella, melihat wanita itu yang duduk di pinggir jendela tak goyah dengan gedung yang akan ambruk.


"Bell?" panggil Kevin berjalan, sampai berjarak tiga meter.


"Pergilah, aku tetap disini bersama James."


"Ikutlah saya, badan Intelegen akan menangkapmu, itu tak baik untuk Edric. Menurut lah, Bell."


Bella menatap Kevin, "Aku tak peduli."


"Apa dua anak di foto ruangan itu anakmu dengan James?"


Bella menggeleng, "Jamed tidak mau menyentuhku, semua itu karena mu. Jadi, pergilah, aku mencintai James, matipun bersama James."


Dinding semakin bergetar, atap roboh, Kevin berlari menangkap Bella, memjauhkan dari kejatuhan kayu.

__ADS_1


"Edric menunggu mu cepat." Kevin menggendong Bella melewati reruntuhan. Wajah mereka telah putih oleh reruntuhan. Kevin melupakan maskernya.


Teddy menyerang orang-orang yang akan menghalangi Kevin. Di lantai dua, Kevin tak memiliki jalan keluar, tanpa pikir panjang dia terjun membawa Bella yang berteriak tak siap, karena gedung itu akan roboh.


Kevin jatuh ditambah tertindih Bella dan tangan Kevin terkilir. Pasukan yang entah dari mana membantu membenarkan posis tangan Kevin sampai terdengar bunyi KRAK! Dan Kevin memjerit. Dan Bella yang akhirnya mau menurut dengan perkataan Kevin.


Serangan badan keamanan, Klan Macan Putih, Klan Bee, beberapa Black Lion yang menyusup, membuat tempat itu berantakan dan gempuran tembakan menggema, daratan itu seperti terjadi gempa. Getaran dan getaran.


Kevin dan team tidak bisa menaiki helikopter dari markas itu, karena anak buah James sudah menembak jatuh helikopter itu.


Kevin dibawa ke sisi barat, bantuan kendaraan keamanan setempat membantunya, setelah merobohkan benteng sisi barat.


Setelah berjalan dua jam, berganti-ganti kendaraan perang,Kevin dan Bella menaiki pesawat hercules, disana ada Edric.


Mereka bergerak cepat terbang ke pula terdekat. Di sana, pesawat jet milik Johan sudah menjemputnya membawanya ke daratan Eropa.


Kabar kematian James dan Viktor tersiar di televisi pesawat Jet. Bella mematung, tangannya di genggam Edric yang sedang bersandar pada bahu Bella.


Edric tahu secinta apa mommynya pada James. Kevin yang duduk cukup jauh, menatap Bella yang berkaca-kaca melihat siaran berita itu, yangmana melihat mayat yang ditutupi itu sedang di angkat dengan tandu oleh keamanan setempat ke dalam mobil, membuat Kevin mematikan tivinya.


Bella memejamkan mata, dadanya naik-turun, sesak di dadanya kian membuncah. Namun, bulir airmatanya mulai berjatuhan tanpa bisa di tahan.


Sementara Edric menatap penuh kebencian pada Kevin, melihat Kevin yang berlalu ke kamar tanpa berusaha berkata apapun untuk meredakan kesedihan sang mama.


...🇬🇧🇬🇧...


Malam itu Lala pulang karena Kevin menjemputnya di markas Richie ke Istana menggunakan jet.


Dan mereka hanya diam. Kevin mencoba meraih tangan Lala ke pahanya dan wanita itu hanya diam memandang ke luar.


Setiba di kediaman, baru saja Lala akan langsung ke Lift dan justru Kevin menariknya ke ruang keluarga.


Langkah Lala terhenti melihat sorang pemuda. Dan wanita yang seumuran dengan Lala itu langsung bangkit dari duduk untuk menghampiri Lala.


Memang Lala tak mengenal siapa, tapi dari matanya seakan mulai mengenal siapa wanita itu.


"Lala..." Kata wanita itu semakin berlari dan langsung mendekapnya. Lala tahu betul suara itu.

__ADS_1


Tanpa membalas pelukan itu, Lala tahu kehangatan pelukan ini, mata Lala mulai terasa panas,bulir-bulir air mata jatuh ke pipi. Lala memejamkan mata, saat wanita itu menyebut nama.


"Kau ingat aku? Apa kau membenciku?"


Tangan Lala terangkat memegang punggung wanita itu, "Bell..." Sulit sekali bagi Lala, dia tak bisa berkata apa-apa. Dia tak akan bisa membenci Bella. "Aku tak pernah membencimu," kata Lala dengan penuh bergetar.


Kevin menatap dua orang itu dengan senyum getir. Namun, dia sudah lega, kini Lala bisa hidup bebas. Bisa pergi sesukanya. Dan Kevin tak kan membatasi, apapun keinginan Lala.


Dilepaskan pelukan Bella, Lala menatap dengan senyum dalam. Mereka beradu tatap.


"Ma'af," kata Lala dan Bella bersamaan dan mereka justru tertawa dalam tangis.


Dielusnya punggung Bella, saat Bella mengajaknya mendekati Edric. Dan anak itu menatap Lala dengan pandangan sulit di tebak.


"Edric..." panggil Bella, dia mengulurkan tangan menunggu sang anak mendekat. Pemuda itu berdiri di depan Lala, dia mengulurkan tangan dengan sedikit gemetar.


"Edric Kencana Mariano," kata Edric menatap Lala tanpa berkedip.


"Lala Chlarissa," jawab Lala membalas jabatan itu. Hatinya langsung bergetar begitu menyentuh tangan anak itu. Deg-deg an dan takut akan respon anak itu bila tidak akan menyukainya.


Dari arah belakang, Kevin menyentuh pundak Lala, tapi mata Kevin beradu tatap dengan Bella, dan itu disadari Lala, Lala menyadari mereka yang saling tatap.


Lala tak bisa bernafas lagi berada di antara mereka, terutama karena saling tatap antara Kevin dan Bella, membuat kaki Lala langsung dingin terasa seperti tertusuk duri saking dinginnya, dingin menjalar ke atas ke lutut dan lututnya semakin gemetar.


Dadanya makin sakit, perasaan tak nyaman itu terus naik ke atas, membuat tenggorokannya sangat tercekat. Rasanya seperti dicekik, nafasnya seperti berhenti di tenggorokan.


Matanya sudah memanas, dan makin kesulitan nafas. Kepalanya berdenyut-denyut saking tak kuatnya.


Bila ditahan lebih lama pasti dia akan jatuh, Lala semakin mual, perutnya sakit, tangannya semakin terasa dingin. Dia benar-benar jadi mual.


"Em..." kata Bella, justru membuat jantung Lala makin berdetak kencang.


bersambung ...


***


terimakasih yang telah mampir... jangan lupa mapir y ke novel bagus. di bawah ini. tinggalin jejak ya

__ADS_1



__ADS_2