
-POV JOHAN-
Berulangkali, aku menyerot cairan asin yang meleleh dari dalam hidungku. Dia mengelap pipi basahku dengan telapak tangannya. Dia tidak mengabaikan ku, dan aku merasakan kasih sayang, bahkan perhatiannya.
Aku merasa seperti bayi di depannya, begitu kanak-kanakan, menuntut dan menatap mata biru langitnya yang bekaca-kaca. Sedangkan dia tampak mencoba tersenyum. Betapa kejam dia, dan aku gereget ingin diterima! atau aku kurang ganteng?
Aku melilitkan tanganku pada pinggang dan bahunya dengan jari-jariku yang melebar untuk menarik punggung-atasnya membawa ke diriku.
Ya Tuhan
Aku terus bergetar, dia seperti kelinci kecil, semakin kueratkan semakin aku bergetar karena rasa sakitnya. "Seandainya begitu mudah untuk melupakanmu, aku akan melakukannya."
Telapak tangan hangat Lala menahan punggungku, bersama pelukannya, tubuhnya hangat, penuh kenyamanan, dia memelukku begitu kuat, ohhh! aku semakin tidak rela, kan.
Entah ada apa dengan dunia di ujung cerita kita, bahwa kita tidak bisa ditakdirkan bersama!? Fu*k. Tampaknya aku benar-benar gila! "Aku mencintaimu Lalaaa."
Kami hanyut dalam pelukan itu sangat lama dan tidak mempedulikan rasa sesak. Aku mencakar punggungnya, tidak mengijinkan dia yang mau melepaskan diri. Aku dalam ketakutan yang sangat nyata semakin menekuk sikut ku ke dalam, seperti ular piton yang melilit dengan sangat kencang. Aku melilitnya, ya, seperti ini dengan tanganku. Seharusnya, seperti ini.
"Johan, su-dah," katanya dengan pelan.
"Sudah? sudah??? Tidak. Jangan kau katakan sudah. Ini takkan pernah sudah, kau dengarkan? tidak pernahhhh," kataku gemetar.
"Aku tidak bisa bernafasss." Dia terengah-engah di leherku, tampak mencari udara hingga embusan panasnya seperti oven.
"Bohong. Kamu akan pergi,kan?" aku mengi tak ingin melepaskannya!
Sungguh dipenuhi kengerian, bila ini sampai terlepas, maka dia terlepas selamanya, kan? Betapa idiotnya aku, tapi aku tak mempedulikan ini, selama ini mampu menahannya, ku tahan dia.
"Hugh.hugh..hughh," merintih, aku meremas bahunya. "Kamu milikku."
Tanganku terkulai dari memeluknya. Aku merosot dari sofa jatuh seperti seonggok semen di lantai.
"Hanya dengan kamu aku bahagia. Tidak bisa yang lain, ohhh!" Aku merasakan diri berenang di lantai, tak bisa menguasai diri, mengais-ngais karpet menepuknya histeris. Begitu Lelah. Inginku berlari lalu merobek-robek kulit dadaku untuk bisa bernafas dan menghilangkan sesaknya, aku ingin ... ingin ...
"Bangun Johan, mengapa seperti ini?"
Suara datang dari seorang pria, tubuhku dalam setengah emosi tampak kabur, bahuku ditopang Richie.
__ADS_1
"Pergi, Pers*tan!" umpatku mendorong dengan kasar bahu Richie, membuatku begitu muak. Dan tubuh bodoh ini jatuh terkulai seperti pemabuk yang teler.
"Johan, tolong maafkan aku." Lala menopang bahu kananku, aku melepasnya, dan mendorongnya.
"Kauuu!" Richie tampaknya sudah meraihku.
"Mas, jangan!!"
Tampaknya aku mendengar kegeraman Richie, aku menoleh ke belakang pada Richie yang menangkap Lala yang tampak shock.
Entah pandanganku tampak kacau ditutupi kabut kemarahan. Dengan jalan bergoyang, ataukah sedang ada gempa. Dan aku merosot lagi saat akan menyentuh pintu. Tampaknya benar gempa bumi.
Aku tak bisa mendengar suara dengan benar, merasakan sakit kepala luar biasa. Sekali lagi aku bangun, tidak bisa merasakan kaki, berpegangan di sepanjang dinding dan mulutku merasakan asin dan pahit entah ingus, atau asam lambung, atau juga dua-duanya.
Tertatih, aku merasa tidak berdaya. Oke berhenti dulu. Aku tidak bisa merasakan tubuhku melainkan hanya menggigil oleh rasa marah. Terduduk di lantai, kepalaku berenang di udara.
Tampaknya aku mendapati sentuhan di wajahku, dia Amber, putriku, memelukku, kenapa dia menangis? aku tak mendengar kalimatnya yang semua tampak samar.
Tidak mengerti. Dan aku kini telah terbangun di kamarku. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan rasa lemas luar biasa ... aku meraih dompet, ponsel, sebungkus rokok, dan keluar dari ruangan.
"Mau kemana!?" tanya Richie dingin, dan aku melewati begitu saja. Tidak menganggap dia ada. Saat ini enggan berurusan dengan orang-orang, terutama dia.
Berjalan dengan limbung, aku mencapai pagar dan duduk di trotorar. Sebuah mobil sedan hitam berhenti di depanku.
"Ayo, mau kemana, datanglah."
Aku melirik dengan malas dan kembali menatap paving, yang tersorot cahaya dari lampu putih. Aku merasakan Si gila menopang ku, kemudian memuatku duduk di kursi samping pengemudi.
"Salaud !" (Bajing*n) Aku membogem dia yang langsung menerima pukulan, dan mendorong tanganku kembali. Dan kami saling menatap tajam. Bibirnya yang tampak berkedut.
"Apa!"
"Johan, Je me moque de ce que tu penses et je continuerai à faire comme je fais. Tu sais quoi ? Je t’emmerde !" (Johan, aku tidak peduli apa yang kamu pikirkan dan aku akan terus melakukan apa yang aku lakukan. Kamu tahu apa? Pers*tan denganmu!)
Sepanjang perjalanan, dalam keheningan. Mulutku terasa pahit dan aku menyalakan rokok di mobil dengan terus membuang asapnya ke kiri pada dia yang tenang mengemudi.
"Kau tidak tahu aturan dilarang merokok?" Richie mencicit.
__ADS_1
"Lalu?" Aku menjepit satu lagi dan menyalakan lagi, kini ada dua rokok di masing-masing tanganku dan mengembus asapnya pada si wajah gila.
Tampak Richie menggeram, tapi dia terus mengemudi ... tidak menghiraukan ku dan ini makin membuatku geram.
**
"On est tanqués, nine, là, t'y as vu ? Y a dégun !"(Perhatikan, temanku yang manis, betapa nyamannya kita di sini, tanpa seorang pun di sekitar!) sentak Richie dengan penekanan, saat membawaku di satu ruang VIP klub malam.
"Oh comme y fait froid enculé !" (Oh, bajin*an yang dingin!) sahutku dengan kekesalan karena paksaan Richie untuk ikut kemari.
Entah berapa botol Vodk* telah membuatku mulai mabuk. Aku menyadari aku mengumpat segala macam pada si gila, aku tertawa dan marah, tampaknya dia menertawanku, dan kupandangi Richie dengan mendorong gelas yang sudah kosong ...
**
Hari telah pagi ketika kepalaku seperti dicucuk mesin pemecah es dan tenggorokanku terbakar.
Dan Richie menatapku sambil memberikan sekaleng minuman bersoda rasa jeruk. Aku menggelegak hingga dingin mengguyur tenggorakanku yang tadinya kering kerontang langsung terhidrasi.
Satu menit kemudian mataku memutari ruangan, baru menyadari di kamar hotel. Mungkin kah Richie menemani ku hingga sekarang? tampaknya ya, dia masih dengan setelan kemeja yang sama. Oh tidak! Sepertinya, aku mengoceh buruk tadi malam.
"Ayo kembali. Lala mengkhawatirkan mu." Richie melempar jaket ke muka ku.
"Kau muntah, itu di buang." Richie berkata sebelum aku bertanya kenapa aku tidak mengenakan kaos dengan rasa malu.
Ketika kembali ke Mansion, orang-orang sibuk bercengkerama. Aku mencari-cari Kevin yang ku kira dia datang pagi ini, tetapi tidak ada.
Begitu di kamar, aku terhubung video call cukup lama dengan Kevin dan dia tidak datang di acara besok. Jadi, aku terluka sendirian.
Aku merasa malu, dan memilih tidur. Tidak berapa lama ketukan pintu membuatku langsung tengkurab.
"Johan, ini aku. Aku masuk ya?" Suara Lala tampak ragu dari luar pintu, dan pintu berderit terbuka.
Mataku terpejam dan tenggelam dalam bantal empuk.
"Aku tahu kamu tidak tidur. Makanlah dulu. Ku letakan di sini ya?" suara Lala dengan datar tersirat keragu-raguan di sana. "Jangan lupa, minum vitaminnya. Ehm, Johan ... Aku minta maaf. Tolong, jangan membenci ku."
Aku mengepalkan tangan di bawah bantal. Tak sadar ya? selama ini aku yang menginginkanmu.
__ADS_1