Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
Bab 29 : SLICE CAKE CANTILLY


__ADS_3

Jam 11 malam di Villa.


Tenggorokannya sangat kering, rasanya tercekik. Sang wanita yang kehausan meminum habis air yang tinggal setengah gelas namun tidak cukup menghilangkan haus yang terus mencekik. Lala menengok kekiri, Bella sudah tidur pulas.


Lala yang memakai baju tidur cukup tipis celana panjang berlengan pendek dengan warna salmon, berjalan keluar kamar menuju dapur. Redup di sepanjang ruangan dan udara cukup dingin sampai membuat telapak kaki Lala seperti tertusuk duri.


Gedebuk!


Lala tersandung kakinya sendiri.


“Agh! ssst” Lala bangkit. Malam hari, sepi dan di rumah orang, rasanya takut saja, takut menemui hantu. Kata orang-orang, malam di pantai terlihat lebih menyeramkan, ternyata benar.


Gadis itu lalu bergegas berdiri dan sedikit berlari, saat membuka pintu kulkas, matanya terpanah, Lala yang tadinya ketakutan sekarang sangat terpukau dengan isi kulkas yang sudah di tawarkan Luca tadi pagi, “Wah ada macam-macam makanan dan terlihat mahal." Lala menelan salivanya. Bagaimana  bisa orang kaya mengisi kulkas saja menghabiskan banyak uang. Di dalam kulkas banyak kue-kue dan makanan yang menggoda untuk di mainkan lidahnya.


“Aku ngiler! ini surga makanan.” Lala menatap kue-kue,  mulutnya mengecap-ngecap, matanya menyalak, ia menelan salivanya, tak sabar ingin memakannya.


Ia mengambil dua potong kue bertuliskan ‘Choco Rain’ dan ‘Chantilly’  serta sebotol air dingin yang di jepitkan ke ketiaknya. Ia cepat melangkahkan kaki lalu mengambil sendok di meja dapur dan segera menyendokan slice cake Chantilly.


“Hmmm!!!!!!” Lala memejamkan matanya mengunyah dengan lembut. Kelembutan dan kesegaran kuenya membuat dia akan melayang ke langit ke tujuh. Ia menyendokkan lagi sendokan kedua, LEB… “Hmmm! sungguh lual biasa” ucapnya dengan mulut penuh kue yang terasa sangat lembut, tentunya sangat enak dengan manis yang sangat pas, sesuai seleranya.


Saat membuka mata Lala terkejut.


“Setan!!”  Lala melonjak kaget sampai terjatuh kebelakang saat tiba-tiba ada yang berdiri di sebelahnya.


“Lala!” orang itu membantu Lala bangun.


“Aghhhh!" Lala meringis kesakitan pantatnya sakit, terasa sakit sekali di tulang ekornya.


“Kamu tidak apa-apa? maaf mengagetkanmu, ayo kubantu.” orang itu memapah Lala.


“Aghh! Mas Luca ih kesel ! ihh” keluh Lala bangun dibantu Luca berdiri.


Ah sial banged si hari ini! jatuh di pantai, tertusuk kaca, jatuh kesandung, sekarang tulang ekorku sakit banged.


“Bentar mas Luca,” Lala meraih sebotol air mineral yang diambilnya tadi, Ia belum sempat minum, lalu Luca membawanya ke ruang keluarga.


Luca mendudukan Lala di sofa. Gadis itu terus meringis, bagaimana tidak, Gadis itu terjatuh cukup keras.


“Mana yang sakit?” tanya Luca duduk di karpet, bingung, karena Lala jatuh terduduk, pastilah yang sakit pantatnya.


Kemudian Luca tidak sengaja melihat darah masih basah di lutut Lala, ”Apa ini?”, Luca menyentuh Lutut Lala. ”Kok bisa berdarah disini? kan jatuhnya duduk?” tanya Luca dan berlalu untuk mengambil kotak p3k, di lemari di ruangan yang sama.


“Oh, aku jatuh saat mau ke dapur.” jelas Lala dan menghabiskan air di botol kecil tetapi hausnya masih terasa.


“Maka dari itu lebih berhati-hati, ceroboh sekali,” tegas Luca yang duduk di karpet akan menaikan celana kiri Lala.


“Mas Luca mau ngapain,” pekik Lala mencondongkan badannya menahan tangan Luca tidak mengizinkan laki-laki itu menaikan celananya.


“lututmu berdarah,” pungkas pria itu menatap Lala. Walaupun hanya melihat wajah Lala, tapi badan Lala yang condong membuat  belahan dadanya sedikit terlihat, pria itu mengalihkan pandanganya ke bawah, tidak mau mencuri kesempatan. Tapi aroma kehangatan tubuh gadis itu dan wangi rempah membuat Luca jadi semakin canggung.


"Nanti aku obati sendiri dikamar," tegas Lala.

__ADS_1


“Jika kamu tidak ingin aku yang melakukannya, obati sendiri, sekarang."


“Mas Luca, aku masi haus, tolong ambilkan aku dua botol air. Sedangkan kue tadi, aku sangat menginginkannya."


“Iya-iya aku ambilkan, kamu obati dulu lututmu, aku ganti baju dulu,” ucap Luca berlalu pergi.


Lala menaikan celana kirinya selutut, ia menyemprotkan pembersih luka, memasangkan plester, dan menurunkan celananya kembali.


Tak lama setelah itu Luca kembali dengan kaos berwarna hijau dan celana panjang abu-abu.


“Apa kamu dari tadi belum tidur?” tanya Luca menyalakan TV setelah meletakan air mineral dan kue yang diminta gadis itu. Gadis itu langsung meminumnya.


“Aku sudah tidur lalu terbangun karena haus. Apa mas Luca dari kantor?” gadis itu menyandarkan badannya di sofa, dia kini memeluk bantal di sebelahnya, karena cuaca yang lumayan dingin.


“Iya tadi ada masalah di proyek jadi aku langsung pergi, kau sudah mengobati lututmu?” tanya  Luca melirik lutut gadis itu.


“Sudah. Apa Lala boleh bertanya. Kevin siapanya mas Luca?” Lala memberanikan diri, setelah Lala mengetahui kamar Kevin terlihat sudah lama ditinggali. Lalu dari cara pelayan memperlakukan Kevin seperti sudah sangat mengenal Kevin.


“Kevin adalah adikku. Aku anak pertama, Kevin anak nomor dua, dan adikku nomor tiga namanya fabio.”


“Adik? Mas Luca gak bercanda? bagaimana bisa? kenapa Mas Luca tidak kaget saat melihat aku dan Kevin saling mengenal?” Lala duduk menghadap Luca. 


Luca diam.


"Mas Luca," Lala menarik pelan baju pria itu karena tidak mendapatkan jawaban.


"Aku tidak tahu La, jangan bahas itu." Ucap Luca dingin, Ia tidak tahu harus menjelaskan apa.


Cukup lama mereka diam sampai Lala yang masih duduk di sofa tertidur memeluk bantal.


Luca memandangi Lala. Ia tidak bisa memberitahu gadis itu jika Ia hanya disuruh ayah Anton untuk segera menikahi si gadis malang.


"Lala bangun, tidur di dalam hei," Bisik Luca menepuk-nepuk pipi Lala pelan.


"Ahhhhh!" rengek Lala menghempaskan tangan Luca.


"Hei bangun, badanmu bisa sakit semua, bangun ayo, aku tak bisa mengantarmu, ada Bella tidur, ayo bangunlah" Luca berusaha lagi.


"Ah !!!! " tangan Lala meraih tangan Luca , menjadikan tangan Luca bantal.


"Hisss gadis ini!" keluh Luca tak bisa apa-apa.


Keesokan hari, Luca membuka matanya, saat sesuatu keras memukul dadanya, dilihiatlah ke dadanya tangan kiri Lala sudah mendarat di dada Luca, yang lebih gila Kaki kiri Lala sudah di pangkuannya,


"Ish! bahaya sekali!" Luca cepat menyingkirkannya dari badannya, Ia mau tidak mau cepat-cepat memindahkan Lala kekamarnya. Pintu kamar sudah terbuka, terlihat Bella tidur berselimut disana, Luca membaringkan Lala dan cepat-cepat pergi sebelum ada yang salah paham dengannya. Luca menutup pintu kamar dan Ia segera kembali ke kamarnya, dilihatnya jam masih jam 4 pagi, Ia sudah tidak bisa tidur karena ulah gadis itu, tau begitu dari semalam Ia memindahkan Lala.


*


Di kediaman Budi Saputra, sahabatnya Johan jam 9 pagi.


kring- 

__ADS_1


" Halo ..


Apa? pil pencegah kehamilan? Ya bisa. Itu 10 juta untuk ongkosnya saja. Transfer dulu sekarang, ada uang ada barang. Sore ini? kalo gitu 20jt, kau kira mudah dapat begituan!" suara Budi.


Seseorang menguping di balik pintu. Orang itu mengurungkan niatnya menemui Budi.


**


Budi menuruni anak tangga menemui tantenya yang tengah menunggu di bawah. Adik dari mamanya itu masih terlihat sangat muda di usia nya, walaupun tante sudah ditinggal mati suaminya 5 tahun lalu namun tante tetap selalu kelihatan kuat.


"Tante Bilqis," Budi memeluk pemilik pabrik textile terkenal di kota itu.


"Selamat ulang tahun Budi keponakanku sayang, sweet seventeen!" Bilqis membalas pelukan anak itu dengan mata berkaca-kaca.


"Terimakasih tante, Loh sendirian? Mana Bianca ga ikut?" tanya  Budi ikut duduk di sebelah tantenya.


"Lah tadi Bianca ke atas, apa belum ketemu? Kemana anak itu?" tanya balik Bilqis.


"Budi belum bertemu Bianca, mungkin dia ke kamar mandi."


"Mama sedang memberikan pendampingan hukum, jadi gak bisa ketemu tante, padahal tante sudah menyempatkan datang. "Jawab Budi memasang raut sedih.


"Tak apa sayang, mamamu, lagi banyak menangani perkara, maklum advokat handal, kamu yang sabar ya, mamamu memang sibuk, tapi dia sangat menyayangimu, dukung mamamu terus, ya, kalo bukan kamu ... siapa lagi yang setia berdiri di sampingnya, " Bilqis memeluk keponakannya lagi, keponakan yang sering kesepian apalagi setelah kedua orangtuanya berpisah 5 tahun lalu, karena perselingkuhan ayahnya.


Keponakan dan tantenya sedang banyak mengobrol, itulah keluarga terdekat Budi Saputra. Walaupun selalu sibuk, namun tante berusaha menyempatkan waktu untuk mengunjunginya.


Tantenya kemudian pergi meninggalkan Bianca untuk menemani Budi yang sering di rumah sendirian.


"Budi, kamu kamu sudah punya pacar belum?" tanya Bianca pada sepupunya.


"Pacar katamu? Nggak penting! buang-buang waktu tau. Aku harus fokus untuk menjadi lulusan terbaik. Aku tidak ingin gadis miskin itu mengalahkanku lagi!" kesal Budi mengingat nilainya telah dikalahkan oleh Lala.


"Oh gitu ya," jawab Bianca.


Budi nggak pacaran? Syukurlah kalau itu bukan Budi.Lalu pil pencegah kehamilan, untuk siapa? Apa Budi membohongiku, atau jangan-jangan dia malah sudah bercinta dengan cewek !? bagaimana jika cewek itu hamil lalu memangfaatkan Budi? tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku akan setia melindungi saudara sepupuku!


bersambung ...


 ____________________________________


Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca BAB ini.


Ada yang seru di BAB 30 !!!


Yuk Simak di BAB selanjutnya🔍


Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘


Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.


Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.

__ADS_1


__ADS_2