Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 107 : IBU MERTUA


__ADS_3

Sheril Sukmawati menyambangi kamar putranya, “Apa dia tidur?” tanyanya dengan alis teragkat.


Siska dan yang lain memberi hormat, “Tidak nyonya besar, nyonya Lala baru saja minum obat.”


Luca yang di belakang mamanya mau masuk, dihalangi mamanya, “Mah, Luca mau lihat Lala.”


Sheril mundur lagi beberapa langkah menarik Luca,”ini kamar adik iparmu, kamu mau apa?  tidak pantas masuk tanpa keberadaan suaminya, menyalahi privasi.”


“Peraturan dari mana, ah kan ada mamah, boleh mah,”kata Luca dngan pelan  dan memelas.


“Tidak. Tunggu di luar,” kata Sheril meninggalkan Luca yang tengah mendengus kesal.


Luca melirik Siska, dia masih sebal sama asisten Lala itu, yang dulu selalu menghalangi dekat-dekat Lala, “Hey kuncir kuda, ada perkembangan apa dengan majikanmu.”


Siska tak menggubris dengan orang yang selalu mengajak ribut padanya, lagian dia bukan bekerja untuk Luca, jadi tak perlu dijawab tak masalah.


Sepatu hitam mungil yang di pake Siska di tendang,“telingamu harus di periksakan itu, apa kau kamu sedang sariawan? Aku kan bertnya padamu.”


“Anda berbicara dengan saya, Tuan?AH maaf, saya tidak tahu. karena tidak ada yang menyebut nama saya,”kata Siska sopan dengan setengah dusta.


Luca tertawa kecil, “Kamu lucu ya, beritahu bagaimana kondisi majikanmu sekarang.”


“Oh kabar Tuan Kevin baik-baik saja.”


“Astaga, Siska, saya serius,” kesal Luca.


“Saya juga serius,” sahut Siska serius, dia merasa majikannya hanya bos Kevin, walau dirinya tahu yng dimaksud Luca adalah nyonya Lala, ‘masa bodoh lah, ingin sekali menimpuk orang ini,’ kesal Siska semakin menahan-nahan kekesalan karena berkali-kali dirinya mendapat hukuman dari bos gara-gara orang ini.


Luca mendengus kesal, mana ada orang mempekerjakan orang semenyebalkan Siska, percuma jika dia meladeni, salah dirinya dari awal bertanya pada perempuan ini.


“MAH, LUCA MASUK, YA?!” teriak Luca, merasa tidak mendapat jawaban, lelaki itu masuk, tetapi perutnya dicegat dua penjaga bertubuh tinggi.


“Nyonya besar sudah menyuruh anda menunggu kan, Tuan!?” sindir Siska dengan nada sinis. Dia masih asik bersandar di dinding luar kamar, dengan tangan melipat, membuat Luca yang mau tak mau menghampiri dan ikutan bersandar di sisi Siska.

__ADS_1


“Tolong beritahu aku kondisinya, nona Siska.”


Siska menatap dinding di depannya,  tanpa melihat Luca, dia dapat merasakan keingintahuan Luca begitu kuat. Sebenarnya, bos Kevin telah mencabut larangan Luca menemui nyonya, tapi sesekali mengerjai Tuan menyebalkan ini, cukup menyenangkan. Kapan lagi bisa mengerjai keluarga bos.


Siska tertawa dalam hati. Tiada hiburan selama masa kerja. Pekerjaanya menuntut dirinya untuk selalu memiliki kepekaan yang tinggi dan keberanian,  siap mengambil apapun risiko yang terjadi di lapangan.


“Hey, jawablah.”


“Nyonya Lala mulai mau makan, walaupun masih selalu diam, dan nyonya sudah tidak marah-marah lagi sejak Tuan Kevin ikut-ikutan mengiris tangannya saat nyonya besar melakukan itu.”


“Apa! Mengiris nadi maksudmu?apa Lala mencoba bunuh diri?!” Jantungnya berdetak kuat.


“Ya selama dua bulan terakhir, nyonya sangat tak terkendali. Jadi, nyonya sampai ditempakan di kamar yang paling aman, Tuan Kevin sampai ikut menempati kamar tanpa jendela, kaca, apalagi balkon, setelah Inem mendapati nyonya Lala  sudah naik pagar dan akan lompat dari balkon.”


“Apa?! Dari lantai 10? Dia mau lompat??” Luca menggelengkan kepala tak percaya.  Dia memijat keningnya yang terasa sakit dan dia akan masuk kamar, tapi dihalangi Siska.


“Anda tidak boleh mengungkitnya, itu hanya memperburuk keadaan nyonya yang mulai membaik. Setelah nyonya mendapatkan infus khusus dari seorang dokter yang didatangkan khusus dari luar negeri. Sepertinya, infus khusus itu juga turut bekerja untuk menekan keinginan bunuh dirinya,”


Para penjaga berbaris, Siska ikut berbaris saat mendengar suara langkah sepatu hak nyonya besar. Luca menggeser tubuhnya tepat di pintu.


Luca melihat wajah Lala yang sangat tirus, tak bercahaya dan terus menunduk melihat tangan di pangkuannya, perutnya semakin besar setelah tiga bulan tak bertemu. Kenapa Lala beda jauh dengan saat terakhir ketemu.


Lala hanya menatap kosong, mendengarkan percakapan mereka. Tiba-tiba Luca jongkok di depannya dan menyentuh kakinya. Lala menarik tubuhnya ke belakang menghindar, “pergi! Pergi!!menjauhlah!”


Penjaga menarik Luca yang shock agar menjauh dari Lala yang ketakutan.


“Lala, kamu tak mengenalku? Aku Luca?”


Sheril berjongkok di depan Lala dan memegang Lala, “Lala ini mamah, tidak ada apa-apa, tenanglah, dia hanya kakak iparmu. Oke kamu mendengakan mama? Kamu mengerti apa yang mama ucapkan?”


Lala mengangguk dengan mata kosong dan terus menggenggam tangan ibu mertua dengan kuat. Luca melirik Siska seolah minta penjelasan.


Setelah Sheril pergi mendorong kursi roda yang di dudukki Lala, Luca menahan tangan Siska, “Kamu yang paling tahu apa yang terjadi dengan Lala, kan? Mengapa dia takut kepadaku?!”

__ADS_1


“Nyonya takut pada sentuhan orang tak di kenal, terutama laki-laki.”


“Dia mengenalku kan?”


“Tapi anda Laki-laki.”


“Apa kau bisa menjelaskan kenapa begitu?”


“Pada mulanya, Tuan Kevin melarang kami mengikuti bila nyonya pergi dengan Johan, malam itu setelah kita Punting bersama. Lalu tiga  malam Tuan Kevin dan Nyonya tidak pulang, saat pulang nyonya telah banyak diam dalam gendongan Tuan Kevin, sejak itu nyonya mulai sering menyakiti diri.”


“Bukan itu. Aku bertanya kenapa dia ketakutan melihatku?”


“AH ya karena anda laki-laki! Saya mau menyusul nyonya,”kesal Siska meninggalkan Luca. Entah mengapa bila dirinya di depan Luca susah sekali untuk formal dan menahan diri dari jengkel.


--Terhampar rerumputan hijau, luas, dan sangat terawat di belakang Istana, disana terdapat kursi taman  di dekat kolam ikan- Di meja bundar yang di kelilingi kursi, disitu Sheril tengah sibuk menemani Lala.


“Enak kan? Mama yang buat sendiri loh rendangnya. Papa Anton suka sekali sama rendang bikinan mamah, memasaknya saja minimal harus lima jam.  Tetapi, yang ini spesial untuk menantu ku tersayang,” kata Sheril lembut.


Menantunya itu hanya mengangguk. Sheril tidak kaget bila sang menantu masih sulit membuka diri walau sebatas berbicara. Bahkan, Kevin mewanti-wanti agar dirinya tidak sampai menyudutkan Lala, ‘memang apa yang putraku pikirkan? Huh!’


Sheril memegangi piring di tangannya, sambil mengamati Lala, “Menantu ku, ebelumnya mamah minta maaf  atas semua perkataan kasar yang pernah saya lontarkan, bukan maksud hati kasar padamu, Nduk. Saya masih kaget dengan semua hal yang serba mendadak dan mengejutkan.  Ibu mana yang tidak gila karena banyak sekali yang disembunyikan putranya.”


Sheril melihat Lala yang mengangguk seperti anak kecil, ‘sepertinya dilihat-lihat Lala juga lumayan, tak buruk’ batin Sheril.


“Ya, wajarkan jika saya terkejut, melihat Kevin yang dulu selalu diam. Tiba-tiba mengenalkan diri dengan perusahaan baru yang di luar nalar untuk anak seusianya. Ya memang dari kecil, kami selalu mendidik dia dengan bisnis, karena kakeknya itu luar biasa keras dan disiplin. Namun, saya  masih saja  kaget bagaimana cara putra pendiamku itu bisa mengenal banyak orang hebat dan investor besar. Bahkan papanya sendiri hampir gila mengetahuit itu, suamiku sampai tidak bisa tidur  dua malam karena tahu itu, sama saya juga saat itu sampai tidak bisa tidur, Lala.”


Sheril membelah daging rendang dengan tangannya lalu mencampurkan dengan nasi, dia menyuapi menantunya seperti pada putrinya, ah tapi dia tidak memiliki anak perempuan.


Pikiran Sheril melayang jauh, ke sang suami  yang dulu minta anak perempuan, dan Sheril menolaknya karena sudah tiga anak, dia tak menyetujui untuk hamil lagi. Sejak saat itu, sepertinya, hubungannya dengan Anton mulai renggang, dan tak peduli satu sama lain.


Lala tersedak, Sheril langsung memukul pelan punggung Lala, “Ndok, kalau makan jangan melamun. Minum.” Sheril memegangi gelas itu dan Lala ikut memegangi gelasnya. Sheril kembali menyuapi Lala, tapi Lala menggeleng, “satu lagi, ini untuk bayi-bayi ya,” di dorongnnya ke mulut Lala, “sebentar kamu tunggu sini,” Sheril meninggalkan Lala yang masih mengunyah.


Kepergian ibu  mertua yang fashionable itu di pandangi Lala, tatapan Lala sedikit melembut melihat Sheril yang sedang cuci tangan kira-kira jarak 5 meter. Tangan Lala merasa tak bertenag, jadi angin yang menerbangkan rambut-rambut ke wajahnya dibiarkan saja,tiba-tiba sebuah tangan menali rambutnya. Lala tak menoleh karena dia merasa tak bertenaga.

__ADS_1


“Apa salahku, katakan...”


Mendengarkan suara yang dikenalnya, Lala mengerjapkan mata saat jantungnya mulai kembali meningkat.


__ADS_2