Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 215 : MIMPI INDAH


__ADS_3

-POV LALA-


Malam datang, membosankan hanya dansa dan minuman beralkohol, saya menyingkir ke balkon. Saya begitu sangat merindukan anak-anak saya.


Namun, saya dibuat kaget, saat seharian bermain dengan Damir, anak itu tidak memiliki ibu dan biasa hidup dengan sang nenek dari ibunya yang telah meninggal.


Pasti Damir kesepian sama seperti saya dulu ketika hidup hanya berdua dengan ayah.


"Kembalilah ke kamar. Saya akan kembali sangat malam." Bisik Ars tiba-tiba di belakang saya, membuat saya terkejut sampai nyaris gelas minuman saya jatuh ke laut.


"Baik. Asisten anda tidak perlu mengantar, kan saya hafal jalannya."


Ars yang mabuk meraih pergelangan tangan saya dengan jari-jarinya hingga saya meringis. "Saya akan memberimu kesempatan, sebuah kepercayaan. Dan jika kau membuat masalah lagi. Anda tahu, saya memegang Vino." Ars mengedipkan mata nakal dan kembali menuju pada teman-temannya.


Keluar dari Ballroom, dan benar sang asisten tidak ada di sana. Sebelum masuk ke lift Lala melirik sekitar dan berbelok tajam ke lorong lain menuju pintu keluar. Sepertinya banyak hiburan malam di ruangan-ruangan terpisah. Bersliweran orang-orang kelas Atas.


Di sebuah kolam renang, perhatianku teralihkan pada pertunjukan .... Mereka mengisi waktu malam di atas kapal pesiar dengan harmoni di tengah laut. Pertunjukan drama, tarian dan acrobatic bertemakan air.


Saya menggoyangkan pinggul, duduk di kursi paling belakang, mulut saya ternganga saat pantomim bergerak seperti robot namun sangat cepat, tubuhnya sangat lentur.


Sampai tiba-tiba sesuatu seperti mengalihkan perhatianku. Saya menoleh kanan saat seseorang baru saja berdiri dan berjalan cepat. Seperti mengenal sosoknya, saya langsung bangkit dan setengah berlari. Mengikuti sosok yang hilang ditelan koroidor.


Di lorong bercabang saya memperhatikan seluruh arah tidak ada siapa-siapa, mungkinkah saya lihat, ataukah saya mulai berhalusinasi atau saya terlalu setres, sampai mimpi saja terasa begitu nyata.


Ketika saya berbalik, Daniel di belakang saya dengan wajah datar, saya melebarkan mata dan dingin menjalar ke seluruh tubuh.


"Lala, tampaknya Anda hobi sekali berkeliaran ya?"


"Saya te-"


"Tersesat?!" kata Daniel memotong saya, dia bahkan tahu kata-kata saya, dia terus lebih mendekat. "Temani saya minum."


"Tapi, saya harus kembali, dan Ars bisa menghukum saya," saya mencari alasan, secara alami insting saya sangat tidak enak.


Daniel meraih tangan saya dengan jari-jari kerasnya tanpa ada persetujuan saya dia menarik dan menyeret langkahku dengan langkah besarnya, hari ini sikapnya sangat kasar, dia tidak mendengarkan ku sama sekali, aroma vodka sangat kuat dari mulutnya.

__ADS_1


Di lift ketika pintu terbuka alangkah terkerjutnya saya ketika Ars di depan pintu, dan seketikan menatap tajam pada saya. "Thyoma?" Ars menatap tajam pada Daniel yang bersandar di lift. Dan beralih menatap saya dan berkata sangat dingin, "kemari."


Tubuh saya membeku, bukankah si gondrong tadi di bawah, tanpa menunggu perintah dua kali saya meloncat. Ars berbalik menuju lorong dan saya mengikutinya, melirik ke belakang meninggalkan Daniel yang mengedipkan mata nakalnya. Hoooh, apakah Daniel sengaja membawa saya pada Ars.


Jam pukul sepuluh, saya merebahkan diri di kasur, memejamkan mata menghitung domba, tapi itu tak berhasil, saya mematikan lampu meninggalkan dua lampu dan tengkurab, kembali menghitung domba-domba.


Saya tidak bisa tidur, bayangan domba berubah menjadi wajag Richie. Fix, saya mulai halusinasi.


"Sayang."


Nah saya mulai mendengar suaranya dengan jelas, aku menutup kepala saya dengan bantal, menutup dua telinga saya, "haruskah saya minta bantuan psikiater pada Ars, mengapa suara Richie menari-nari." Embusan nafas panah di kasur kembali pada wajah saya.


"Sayang ..."


Oh suaranya sangat indah, seandainya itu nyata, Richie ... Saya mulai terisak, bahkan di tempat umum saya mulai berhalusinasi bayangan Richie.


"Kamu, jahat Richie!!!"


"Kenapa saya jahat?" Oh apa bayangan halusinasi bisa menjawab pertanyaan juga, "ini sangat keren. Berapa banyak anggur yang saya minum."


"Oh Richie sialan pergilah dari bayang-bayangku!!"


Richie tertawa. "Kenapa saya jahat?"


Saya memukul-mukul kepala saya, "keluarlah dari pikiran saya!" Tubuh saya mulai gerah oleh selimut, saya berbalik, dan membuka mata perlahan menurunkan selimut, "Bayangan sialan! kau tampak sangat nyata!" saya berteriak pada bayangan Richie di depan.


"Berapa anggur yang kau minum?"


"Lima!"


Richie tertawa, "Luar biasa, keahlian anda meningkat ya!"


"Oh bayangan sialan pergilah, kau membuatku gila!"


"Bayangan?" Richie menyeringai, jari-jarinya menekan leher saya oh itu tampak sangat nyata dan saya mengejan sampai dua kaki saya tak tenang.

__ADS_1


"Kamu suka sayang? apa kau merindukan saya!"


"Omong kosong, bayangan sangat nyata."


"Jika ini bayangan, bukankah kau harus memangfaatkan segalanya."


"Ya betul! saya akan menghabisi mu apalagi jika kau hanya bayangan!" Teriak saya saat tangan itu mengangkat gaun saya, oh... itu sangat menggelitik.


Saya memutar tubuhnya sehingga dia di bawah saya, "Aku harap saya tidak mabuk," saya melepas kancing-kancing kemeja tipis, jika ini nyata tidak mungkin, tidak mungkin tubuh Richie begitu ringan saat saya mendorongnya.


"Anda sangat menginginkan saya?"


"Oh ya! saya harap anda bukan pria lain dan saya akan menyesak itu bila ini terjadi," Saya berjongkok, saat kemeja itu terbuka. "Bukankah ini sangat nyata, bahkan bekas jahitan di pinggangmu sangat jelas dalam otak saya, oh betapa Kevin jahatnya menyakitimu," saya meraba bekas jahitan di pinggang dekat pinggungnya.


"Anda bersemangat nyonya Richie!" Bahkan sayabmendengar nafasnya yang keras dan panas, atau tubuh saya yabg panas. Ketika saya melepas gespernya. "Bukankah ini yang saya sangat ingin lihat!" Saya mengelus gundukan keras, "Ini sangat nyata."


"Sayang akan menyesal!"


"No, ini hanyalah bayangan," saya menurunkan resleting dengan gigi saya sambil menatap wajah tampan Richie, saya sangat merindukannya.


"Sayang, saya tidak akan bisa menahannya!" Richie melenguh ketika saya meraih daging panasnya. oh ini harum, bayangan gila, dan saya seperti mendapatkan kesenangan.


"Sayang! sudah," Suara Richie serak, aku pasti benar-benar mabuk dan terlalu mengagumi Richie. Kepala sangat pink itu, seperti lolipop, cairan bening di sana saya menyentuhnya dan menggerakan tangan perlahan, oh apakah itu bisa masuk dalam mulut saya, saya membuat gerakan turun dan panas semakin membara baik tubuh saya ataupau pada apa saya pegang,


Saya memperhatikan ke atas bagaimana tangan kanan Richie bersandar pada kening seolah pasrah dengan mata satunya, setengah terpejam dan bibir sedikit terbuka, bahkan aroma cendana begitu kentara.


Entah saya mengayunkan bibir saya diantara pipa panas itu berapa kali, dan sesuatu meledak ke mulut saya, oh apa ini jus pandan, sedikit manis seperti micin dan susu bayi, bahkan mimpi itu terasa nyata dan saya dengan rakus membersihkan pipa panas.


Ketika Richie menarik tubuh dan membaringkan saya, suaranya sangat serak, "Anda sangat nakal! jika anda terus begini, saya tidak akan bisa menahannya, sayang."


Saya menatap netra hitam di atas saya, tubuhnya sangat hangat, ia merengkuh tubuh saya yang kesakitan oleh rindu, "ini mimpi indah Richie, sa-saya merindukanmu."


"Jangan buang air mata berharga mu sayang, saya akan membawa mu," jari panjang itu mengoles pipi saya dan bibir saya, dia mengecupi dengan lembut pada pipi, dan saya merasakan aliran dingin terus mengalir dari sudut mataku, ini menyebalkan begitu nyata.


Richie mengecup kedua kelopak mataku ...

__ADS_1


__ADS_2