
Suara pintu berderit membuat Lala membeku, Richie tengah menghimpit tubuhnya di kamar yang pernah ditempati, tepatnya di lantai bawah dekat tangga.
Tempat ini sangat sempit, paha bersentuhan satu sama lain menambah panas di udara pengap.
Di sini di dalam kotak besi, tempat penyimpanan barang, sebesar lemari. Dan Richie harus terus menunduk karena tempat itu pendek, beruntung ada sedikit cahaya dari lampu led.
"sstt," Richie menempelkan telunjuk ke bibirnya sendiri menyuruh Lala diam. Lala mengangguk perlahan merasakan tangan Richie yang menjauh dari mulutnya saat derap langkah kaki mengendap di luar sana makin menjauh.
Lala dan Richie berpandangan dalam keheningan. Lala menjadi kikuk dan menurunkan mata, menatap dada Richie yang sangat dekat, tangannya merasakan deguban keras jantung Richie.
Sementara Richie menajamkan pendengaran pada aktifitas anak buahnya yang mencari identitas si penyusup yang tertangkap kamera, lewat ear piece di telinganya.
Dengan penuh cinta, menekuk telunjuk untuk mengusap bulir keringat di pelipis Lala. Mengulas senyum memperhatikan tarikan nafas Lala yang makin cepat, kelopak mata lentik itu mengepak dengan indah seperti kepakan burung.
Richie menjadi tidak sabar, ingin menyelesaikan misi lalu memboyong wanitanya ke markas.
Dia sudah membayangkan, berkebun bersama Lala, mungkin Risa memperbaiki letak -topi bundar putih- di kepalanya saat menggunting tangkai mawar Dan alangkah bahagianya jika Risa lekas melahirkan seorang anak untuknya. Bermain bersama di taman hijau.
Cukup satu anak, itu tak masalah. Namun, mengingat kelahiran Vino setahun lalu sedikit bermasalah. Menurut rekam medik di rumah sakit miliknya, bahwa akan terlalu berbahaya jika wanita ini hamil lagi.
Kehangatan badan Richie semakin membuatnya panas, Lala sesak sehingga harus mendongak dan justru bertemu tatapan Richie yang lembut, bibir dekat satu sama lain, nafas Lala menjadi meningkat karena gugup.
Memalukan membayangkan bahwa dirinya pernah menggoda Richie. Di telpon baginya biasa, tapi saat berhadapan, ia menjadi sulit mengontrol untuk tetap tenang.
"Kenapa kau tegang, sayang?" bisik Richie dengan mata berbinar, reseptor menikmati aroma manis tubuh Lala, bau vanila makin menguar karena panas bercampur dengan aroma parfumnya membaur memabukkan. Sangat membekas, sama seperti saat keper-jakaannya direnggut Risa tiga hari lalu.
Wajah Lala makin memanas, berusaha tersenyum normal sambil menggeleng perlahan. Tangannya menjadi kaku, ini sangat dekat, dia menjadi mengingat sedikit malam saat dirinya mabuk.
Lala, atur pikiran kotormu! (Lala)
Telapak tangan Lala yang membeku, lalu turun perlahan mendorong pinggang Richie agar menjauh. Dia takut bila dirinya tidak bisa mengontrol karena kilasan malam itu terus memberondong pikiran, membuat perut bagian bawahnya demam.
Mata Richie menyipit, merasa gemas dengan wajah Risa yang makin memerah dan menghindari tatapannya.
Tiba-tiba derap langkah kaki mendekat, dan mata Lala membesar, merasa ngeri. Sepertinya, orang itu berdiri tidak jauh, tapi Lala menangkap sikap Richie yang tetap tenang.
Dan Lala semakin membeku, nyali menciut memikirkan kemungkinan terburuk. Bila orang itu akan membuka pintu atau Richie akan menyerang lalu membuat masalah. Jantungnya berdegub makin kencang sampai dia memejamkan mata tak siap oleh ketakutan.
Apa itu Ars atau Daniel? gimana ini, siapapun itu akan menemukan Richie menyusup.(Lala)
Dzzt-- Getaran terdengar dari luar, dan suara langkah itu menjauh.
Kira-kira sepuluh menit, Richie memperbaiki letak earpiece saat anak buahnya mengabari kepergian penyusup. " Aman," kata Richie, mendorong pintu langsung menjauh dari lemari.
__ADS_1
"Sayang, sebaiknya kamu di rumah saja," Richie berkata sambil melepas dua kancing kemeja dengan jari-jarinya, saat bulir keringat mengalir ke dada dan kemeja semakin basah.
Richie mengipasi leher dengan tangannya, membuang panas di tubuh, udara dingin di ruangan baru menerpa tubuh yang kepanasan seperti di bakar matahari.
"Bagaimana jika tadi Ars?" Lala mengelap leher. "Dia akan marah, setelah tidak menemukan ku di kamar." Mengelap keningnya yang basah sambil menutup ruang tersembunyi.
"Risha, sadarlah, ini urusan para lelaki. Pulang ya, lebih aman, menjauh dari bahaya," Richie mendengus, rasa panas di tubuhnya tidak kunjung turun. Dia mulai menaiki tangga menuju ke lantai atas dengan diikuti Lala.
"Oh, jadi kamu akan mengekang ku?" menghentikan langkah, memicing ke punggung Richie saat lelaki itu berbalik.
"Bukan begitu," tangan Richie menekuk-mengepak, membuat gerakan untuk memangil Lala yang tampak cemberut. Tentu saja wanita itu tidak menurut, dan dia merasa kalah, lalu menuruni tangga.
"Sayang, kamu cantik saat marah," bisik Richie, tangan kirinya meraih dua kaki Lala dan menggendong di depan dada.
"Mas turunin!" Lala melirik ke arah pintu, takut bila Ars datang memasuki ruangan lalu menemukan Richie.
"Tenang, sayang, aku akan tahu bila ada orang akan masuk, kamu tak usah cemas." Richie merasakan tubuh Lala yang sangat ringan.
Bila diingat terakhir kali menggendong Lala adalah saat musim dingin di pusat kota London, dua tahun lalu di hotel. Richie menjadi senyum-senyum sendiri karena kini wanita itu menjadi miliknya.
"Jawab, mas! Kamu mau mengekang ku?" Lala menatap dagu Richie. Merasakan tangan kokoh yang menggendongnya, seharusnya ini sangat nyaman, tapi dia benci dikekang. "Melarang ini dan itu, untuk kedepannya?"
Perlahan Richie menurunkan Lala dengan hati-hati.
"Aku tidak akan melakukan itu, sayang," dengan suara lembut Richie lalu memeluk bahu Lala. Makin mengeratkan untuk menempel seluruhnya, itu membuatnya sedikit tenang. "Maaf, tapi tempat ini sangat tidak aman. Dengarkan saya, tolong pulang, ya."
Lala terkesiap oleh jari-jari Richie yang menekan di tulang belikatnya, itu mulai turun ke punggung bawah dan berakhir di sana menyusuri di sepanjang pinggang membuat merinding dan nafasnya kembali meningkat.
"Sesuatu yang paling saya benci adalah 'tidak didengarkan'. Setiap orang memiliki hak untuk memutuskan sendiri, tidak terkecuali aku. Dan kamu mulai melarang ku, menganggap ku seperti anak kecil yang tidak bisa melindungi diri sendiri. Jadi, aku akan tetap disini, dan mungkin aku akan memikirkan lagi soal tanggal pernikahan itu," tegas Lala dengan benjolan kekecewaan di tenggorokannya.
"Loh, kapan aku melarang? dan menganggap kamu tidak bisa melindungi diri?"
Bibir Lala berkedut, "ini?! melarang ku di sini, menyuruhku pulang. Ini yang namanya menghargai keputusan ku?!"
"Hahhh," menyibak rambutnya sendiri ke belakang dengan keras. Richie kesal pada dirinya sendiri. "Mereka orang berbahaya sayang, mereka menyelundupkan obat, dan orang ku melacak transaksi racun mematikan yang dilakukan Bella. Oh!" Richie menggigit pipi bagian dalam. "Jelas tidak mau kamu terluka, itu racun berbahaya, dan siapa penyusup tadi, Ars bodoh itu bahkan tidak tahu. Apakah aku akan diam saja membiarkanmu dikelilingi orang jahat, salah satunya teman kos mu itu, orang yang berkeliaran jelas-jelas mau membunuh wanitaku? haruskah aku diam? tolong jangan seperti ini sayang!?"
Menatap kecewa, Lala mencakar pahanya sendiri. "Lalu apa? kamu, kamu, sama saja dengan Kevin, mengekang ku, dengan segala alasan. Melindungi ku? aku benci ini!!" desis Lala tanpa meninggikan suara.
"Kenapa jadi bawa-bawa Kevin?? oh kamu menyamakan saya dengan Kevin yang selingkuh di belakangmu!?" rahang Richie mengeras, "berapa tahun aku menunggumu? dan kamu menyamakan aku dengannya? dia yang telah tidur dengan perempuan lain? dan aku yang cuma menunggu dirimu, untuk menepati janji suci, masa kecil KITA?"
"Mengapa kita jadi berdebat? Aku hanya ingin tetap di sini, tak peduli kamu melarang ku atau mengijinkan, Dan bila kamu memaksa atau membius ku untuk memindahkan aku ... maka aku, aku tidak akan menikah denganmu mas," mendesis, mata Lala memanas dan langsung berbelok tajam ke kamar mandi, "Pergi mas. Biarkan aku sendiri," suara serak Lala membuat hati Richie bergetar.
Richie dengan perlahan menyusul, hatinya sakit tanpa tau alasannya. Terlihat wanita itu membasuh muka, tapi matanya merah di pantulan cermin.
__ADS_1
"Risa," Richie dengan suara lembut menempelkan tulang belikat di pintu kamar mandi, dia tahu wanita itu sedang kesal dan mungkin menyembunyikan tangisan.
Richie menyayangkan, seharusnya kekasihnya itu tidak perlu sampai mengancam akan membatalkan pernikahan. Bahkan tempat yang indah telah dipilih, dan waktunya sangat dekat, hanya tinggal tiga bulan lagi.
Pikiran Richie menjadi terbagi, dia takut tidak fokus pada misi ini. Namun, kata-kata Lala terngiang-ngiang, sangat mengganggu.
Atau dirinya memang salah, seharusnya tetap tenang. Namun hanya di depan wanita itu, dan segala hal yang menyangkut tentang Lala menjadi sulit untuk mengontrol emosi.
Dimana dirinya yang dulu selalu menggunakan logika, rencana, dan pikiran sangat matang. Sekarang menjadi tidak terkendali hanya karena ungkapan tak terima Lala, padahal dirinya hanya mau melindunginya.
Lala melirik Richie di tampilan cermin, lelaki itu seperti model majalah yang melipat tangan di depan dada dengan tatapan dingin.
Menggigit ujung bibir, Lala menggosok sabun di wajahnya sambil bertanya-tanya pada diri sendiri. Apa mungkin dirinya sudah keterlaluan pada Richie.Seharusnya tidak perlu sikapnya sekeras tadi, tapi bila di suruh pulang, dirinya tidak mau sebelum ayah ikut bersamanya.
Mengelap wajah dengan handuk, Lala mematung bingung harus minta maaf atau apa, dirinya merasa bersalah, mungkin Richie hanya ingin membantunya.
Richie menarik perut ramping itu sampai menempel ke perutnya dan menatap Lala dalam.
"Apa orang tadi akan masuk kamar ini lagi?" tanya Lala bergetar, aroma cendana itu menyeruak ke lubang hidung.
"Dengarkan sayang," Richie mencium rambut Lala, memeluknya erat.
Lala tidak boleh di sini (Richie)
"Situasi berubah jauh di luar dugaan, lebih baik kamu tunggu di daratan ya?" Richie meyakinkan.
"Tidak bisa, aku akan membawa ayah sendiri."
"Saya akan menangani ini sayang, " mengusap punggung Lala, "sedikit lagi. Kau bisa lihat sendiri penyusup tadi, dia melakukan sesuatu di luar pengawasan Ars. Hal ini tentu ancaman nyata untuk keselamatan mu. Ada yang mengincar mu.
"Sekarang, kamu ragu, dan menolak menikah dengan saya, ya, akan ku hargai keputusan itu," lirih Richie merasakan keluh di lidah melewati tenggorokan, mengeras di dada sampai begitu getir di dalam relung jiwanya. "Tapi, aku tidak mau jika Bella, sampai menyentuh mu ... "
"Kenapa?" tanya Lala lesu, oleh hati yang menyusut. Memang. Mungkinkah, hubungannya, dengan Richie akan berakhir. Setelah dia mulai meletakan harapannya, di sana. Lala menatap dada Richie, tidak kuasa menatap netra hitam dingin seakan-akan sedang menuntutnya untuk bersuara.
Namun, kata-katanya berhenti di tenggorokan dan terkunci, menjadi buih dalam keheningan.
Memang, dirinya yang mengungkit pembatalan itu, tapi setidaknya seorang lelaki harus berjuang kan? ataukah hanya sebatas itu keinginan Richie untuk hidup bersamanya. Ataukah perasaan Eros sudah memudar dan menemukan yang lain... Bahkan dirinya tidak siap, bila ditinggalkan Richie dan hatinya menjadi sakit.
Richie menatap dingin pada Lala, dan wanita itu sama dinginnya.
Dua pasang tangan saling menjalin dengan jari-jari menyatu ... meskipun semakin lengket oleh magnet yang tidak berwujud, akan tetapi hati -Lala dan Richie- menjadi sama gundah gulana.
Tatapan kecewa tersirat dari netra hitam dan biru langit, seolah terus beradu untuk mencari suatu kebenaran dari pemilik hati.
__ADS_1