Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 133 : TEMAN MASA KECIL


__ADS_3

"Terkunci?" tanya Kevin sambil memberikan tutup flashdisk pink yang Kevin tahu itu milik Ivy, "apa kamu bisa menjelaskan ini?"


"Pah ..."


Kevin membuka pintu kerja itu, dan cepat duduk, diikuti Ivy yang tahu dirinya mau di sidang. Kevin menatap putrinya yang terus tertunduk itu.


"Sebenarnya, papah ingin memberitahu ini saat waktunya tiba, tapi sepertinya kamu sudah mengetahui lebih awal. Cepat buka laptop papah, papah tahu kamu bisa membuka sandi itu, sama seperti saat kamu memdapatkan foto itu dari laptop papah."


"Ivy minta maaf pah," kata Ivy sambil memasukan sandi yang sudah dirubah papanya. Ivy mencoba terus sandi tebakannya.


"Jadi, selama ini yang mengacaukan sistem keamanan papah adalah putriku sendiri?" kata Kevin, dia lalu tertawa.


"Bagaimana bisa kau meretas masuk ke sistem 'Black Lion' dan 'Macan Putih'? itu sudah keamanan tingkat tinggi." Kevin menggelengkan kepala, bagaimana bisa gadis semungil dan spendiam di depannya bisa menjadi hacker dalam perusahaan Kevin.


"Kamu tidak menjual semua data perusahaan papah kan?"


"Tidak pah, Ivy hanya ingin tahu, Ivy takut papah membahayakan nyawa papah sendiri," kata Ivy memberikan laptop yang sudah berhasil di buka passwordnya.


"Ivy, apa kamu mau menangani dua bisnis gelap papa? kau hanya perlu mengontrol arus keuangan itu."


"Tidak pah, Ivy tidak mau. Ivy tahu itu terlalu berbahaya. Dan Ivy tidak mau mengecewakan mamah, pasti mamah tidak suka ini."


Kevin terdiam, tidak menyangka anaknya langsung menolak. Padahal Ivy orang paling tepat untuk menggantikan dirinya. Mungkin dia tidak perlu terburu-buru.


"Ivy, kau tahu siapa bayi di foto ini?" Kevin melihat Ivy yang geleng-geleng, "dia kakak mu."


Mereka terdiam sejenak.


"Jadi, kamu yang masuk ruangan papah?"


Ivy mengangguk pelan.


"Ivy, kau tidak bilang ke mamah soal Black Lion dan Macan Putih, kan? ingat, tidak boleh ada yang tahu soal itu, termasuk teman-teman genius mu, kau mengerti?"


Ivy kembali mengangguk.


"Jadi, kamu mau hadiah apa untuk loyalitas mu pada papah?" tanya Kevin dengan senyum hangat.


"Ivy tidak mau papah pergi ke pulau berbahaya itu."


"Apa?" tanya Kevin, "kau tahu itu?"


"Jangan pergi kesana, pah. Dia bukan lawan papah, dia orang gila," kata Ivy mulai terisak lagi.


"Itu tidak bisa Ivy, papah harus membawa kakak laki-lakimu, dia putra papah. Edric harus keluar dari tempat itu."


"Apa termasuk membahayakan nyawa papa sendiri? lalu kami bagaimana? apa papah lebih mencintai Ka Edric dari pada kami dan mamah?" tanya Ivy sambil mendobrak meja dan berlalu pergi meninggalkan Kevin yang membelalakan mata, karena sikap Ivy.


...☘️☘️...

__ADS_1


Sehari sebelum perjalanan keluarga Kevin berlibur, saat Kevin di kantor. Lala berlalu dari toko bunga, menemui Richie di hotel tempat menginap Richie.


Setelah menunggu lama di loby, dan Richie tidak mau menemuinya, terpaksa Lala menghampiri kamar Presiden Suit.


Begitu pintu terbuka, mata Lala terbelalak melihat Richie yang hanya memakai jubah yang tidak di tali memperlihatkan dada dan perut six-pack dan ****** ***** biru gelap yang menampakan cetakan tonjolan besar yang terlihat telah mengeras dibaliknya.


"Astaga, apa kamu mencoba memandangiku, apa kamu tertarik dengan ini nyonya Saint," kata Richie yang mulai memperlihatkan perut ramping kempas-kempis itu di usia ke 50 Richie, lelaki itu tetap menjaga tubuhnya.


Lala menggelengkan kepala dan berbalik meninggalkan Richie, tapi tangannya di tarik masuk dan Richie segera menutup pintu.


"Lepaskan Tuan Richie," kata Lala merasakan tubuh Richie yang mulai menghimpitnya.


"Bukankah kamu kesini karena meminta bantuan, mengapa mau pergi?" tanya Richie mulai mendekati bibir Lala.


DUCK!


Lala menginjak kaki Richie dengan high heelsnya membuat Richie mengaduh kesakitan. "pake bajumu yang benar," katanya, meninggalkan Richie dan duduk di sofa.


Richie duduk di sebelah Lala, "bukankah kau selalu suka memandangi tubuh ku ini, Nyonya Saint?" tanya Richie dengan nafas mulai memburu mulai mengendus leher Lala dengan hidung mancungya.


"Menyingkir lah," kata Lala dia mendorong leher Richie, tapi tangannya di tahan Richie dan membuat Lala jatuh ke sofa dan Richie merangkak diatasnya.


Richie menahan kedua tangan Lala ke atas dan mulai menciumi bibir Lala, Richie merasakan kehangatan dan rasa manis itu setelah dua puluh tahun sejak penyekapan Johan dia tak mendapatkan ciuman itu.


Lala menggigit bibir Richie, lututnya yang akan menendang kejantanan Richie ditahan paha Richie.


Rontaan Lala membuat Richie semakin berhastrat, dia menempel senjatanya yang mengeras dan menekan pada pinggul Lala.


Lala mendorong tubuh Richie sampai lelaki itu terguling dari sofa ke karpet di bawah. Lala bergegas berdiri. Richie menarik baju Lala sampai gaun itu robek dan menampakan betis mulus dan sebagian pahanya.


"Hentikan, jangan seperti ini!" kata Lala menekan hak tingginya di perut Richie. Membuat Richie semakin tersenyum disaat keseksian wanita itu nampak semakin jelas dengan paha mulus, dan bagian bawah baju yang sobek itu masih ditarik Richie. Membuat Lala tidak bisa pergi dan semakin memasang wajah galak, karena itu Richie semakin merasa bahagia.


"Ayolah, aku masi perjaka. Sampai umur segini hanya demi menunggu mu."


"Berhenti! dengan omong kosongmu, Tuan Richie, kau mulai berulah lagi." Lala menggeser sepatu heels itu keatas kejantanan Richi yang masih mengeras.


Richie kegirangan saat wanita itu menatap sinis ke arah kejantanan Richie.


"Sekali lagi kamu main-main, aku akan menghancurkan ini dengan sepatu hak ku, paham?" perintah Lala sedikit menekan hak lancip pada kejantanan Richie.


"Oke, Bantu aku," kata Richie dengan senyuman dan mengulurkan tangan.


Lala mengulurkan tangan dan Richie menariknya membuat Lala terjatuh dia atas dada bidang hangat dan Richie mendekap pinggang Lala, "ada masalah apa?" tanya Richie serius saat memeluk pinggang Lala diatas tubuhnya semakin erat.


Lelaki itu memutar tubuh Lala, hingga wanita itu terbaring di bawahnya."Apa ada masalah besar?" tanya Richie lalu mengecup kening Lala dan sedikit memainkan jemarinya di telinga Lala membuat Lala kegelian dan terpejam tanpa disadari Lala.


Richie makin menurunkan jemarinya ke leher jenjang Lala, lalu berhenti saat akan menyentuh tulang selangka Lala.


Richie menarik tangan menjauh dari Lala, berdiri dan meninggalkan Lala, berjalan menuju balkon, menghirup udara dingin di tengah salju yang turun, berharap bisa menurunkan hastrat yang sukar dikendalikan.

__ADS_1


Sudah dua puluh tahun sejak pertemuan kembali dengan Lala, tapi mengapa perasaan Richie tak bisa memudar dan justru semakin kuat.


Lala adalah teman masa kecil Richie, tapi wanita itu tak juga ada tanda-tanda mengingat saat Richie menyinggung kenangan masa kecilnya.


"Hei Tuan, anda bisa mati kedinginan di luar!" seru Lala dengan nada datar, tangannya sudah memegang roti kesukaan Lala yang sepertinya sudah disiapkan Richie.


Richie hanya menoleh kebelakang. "Apa kamu tak ingat moment masa kecil mu?"


"Tidak," sahut Lala santai, dia memakan potongan kue yang lembut itu dan berjalan mendekat ke Richie, "kenapa?"


Richie mengamati pemandangan kota London. "Saya lahir di Rusia.."


"Oh ya? Ayah pernah bilang saat aku usia dua sampai tujuh tahun aku juga sempat hidup disana, tapi aku sama sekali tak memiliki ingatan sebelum SD."


Richie memandangi Lala yang matanya begitu lembut memandangi mobil-mobil yang berseliweran di bawah seperti semut, "apa kamu mengalami kecelakaan sampai kamu lupa masa kecilmu? bagaimana bisa kau kehilangan ingatan sebelum SD?" kesal Richie, pantas Lala tak bisa mengingat semua kenangan bersamanya.


"Aku tidak tahu," kata Lala saat Lelaki itu menyerobot kue dari sendokan kue yang hendak di lahapnya, hingga bibir Lala dan Richie nyaris bersentuhan.


"Jangan seperti itu," kata Lala dengan nafas sedikit memburu, jarak mereka sangat dekat, tak dapat dipungkiri lelaki itu selalu membuat Lala kelimpungan.


Richie meraih pinggang Lala semakin mendekat.


"Stop," kata Lala.


"Sekali saja, berikan sekali saja," kata Richie tangan kanan memegang punggung Lala, membuat roti dalam tatakan kertas itu terhimpit diantara dada Richie yang polos dan gaun Lala.


"Jangan," kata Lala dengan air mata lolos dari pelupuk mata.


"Mengapa kau selalu setia, sedangkan suamimu memikirkan perempuan lain? kau tak pernah melihat usahaku menahan hastraku selama ini, kau egois," kata Richie yang sudah melorotkan resletinng di punggung Lala dan melepas kaitan B r a.


"Dia tidak akan pernah selingkuh, aku pun juga, jangan membuatku seperti perempuan murahan."


Richie menciumi pipi Lala, "siapa yang bilang seperti itu, aku akan membunuhnya" kata Richie mulai menjilati telinga Lala. "Aku sudah terlalu banyak bersabar padamu."


Ciuman itu bergeser ke bibir Lala, Richie semakin mendekap erat, hingga dua bongkahan kenyal itu terasa di dadanya yang polos. "Bukankah kau juga menginginkanku, tubuhmu sangat menginginkanku," kata Richie saat mendengar lenguhan Lala.


"Berhenti!!!!"


Richie menyumbat teriakan Lala dengan ciumannya yang semakin dalam dan menghentikan aksinya. "Kau benar-benar membuatku gila Lala!" kata Richie berubah dingin dan berjalan masuk ke dalam. Dia melemparkan kue yang tadinya bulat, sudah tinggal separuh.


Kue yang telah dibubuhi obat perangsang itu telah hancur tak berbentuk tepat mengenai kaki Lala yang melangkah masuk.


"Aku akan langsung to the point Richie!" seru Lala yang merasakan lengket di kaki kirinya, sepatunya jadi licin.


Lala menarik kursi meja makan, duduk dan melepas sepatunya. Namun, tubuhnya terasa mulai panas, dia tidak tahu apa yang di rasakannya itu, nafasnya menjadi sedikit memburu hanya karena sentuhan tangan di kakinya.


bersambung ...


Terimakasih, hai pembaca setia, othor ada novel bagus ni , mampir ya ...😘

__ADS_1



__ADS_2