
"Harus melawan! kamu yang sekarang kok terlihat lemah sekali! ingat pas kita kabur dari penjaga hotel, nggak? Ayo berani seperti itu."
"Caranya?"
"Lepaskan Kevin, mungkin kamu butuh waktu sendiri. Lebih baik kau lepaskan dia, biarkan dia memilihmu atau Bella. Sepertinya itu terbaik untuk kalian."
Apa yang dikatakan Johan mungkin ada benarnya, dari pada ini tidak pernah berujung. "Lalu, jika dia menolak?"
"Bilang saja kamu tidak mencintainya."
"Itu sulit."
"Kamu harus berusaha."
"Lalu, jika dia meninggalkan ku?"
"Tata hati mu... apa kamu mau sampai mati, seperti ini ha?" gerutu Johan serays mencubit hidung Lala.
"Sakit!!!" Lala gantian mencubit dan memuntir cubitannya di pinggang Johan. Dan Lala tertawa karena Johan kesakitan.
"Kamu senang menyiksa orang ya!" Johan menggelitik Lala tanpa kenal ampun sampai Lala terjungkal ke belakang.
"Ampun Jo!"
Johan terus menggelitiki, sampai kaus Lala terangkat dan terlihat guratan bekas operasi cesar di perut Lala.
Lelaki itu begitu kagum melihat perut itu yang masih ramping. Perut yang dulu menjadi tempat ternyaman untuk Lydia dan Amber.
"Jo! suu..dah!!!"
Johan menahan kedua paha Lala yang memakai celana putih.
"Ammmmpunn!!" seru Lala melengking sampai air matanya keluar, sudah tidak kuat lagi dengan kegelian itu
Johan tertawa sambil memegangi perut, sampai dia tak bisa menahan tawa dan punggungnya dijatuhkan ke hamparan pasir kerikil. Entah mengapa Johan jadi merasa lebih rileks.
"Lala ... pejamkan matamu sejenak. Dengarkan suara burung-burung camar," kata Johan, yang mulai memejamkan mata.
Lala melihat Johan terpejam, dia menyusul memejamkan mata, sementara kakinya dibiarkan masih di atas paha Johan.
Wanita yang terbaring itu melemaskan diri, merasakan tekanan kerikil dan pasir yang di tiduri. Kerikil-kerikil di kepala, punggung, pinggang, pantat, paha, betis, dan tumit.
"Semilir angin melewati tubuh kita, ya, luar biasa, dapatkah kamu merasakannya?" tanya Johan yang masih terpejam.
"Iya, angin agak dingin, padahal aku memakai mantel. Johan, kerikilnya sedikit tajam. Rasanya, punggung dan kaki ku jadi seperti dipijat," kata Lala dengan nada mengadu.
__ADS_1
"Oh ya? apa kamu mau dipeluk? kamu suka suara ombak dan burung, kan?"
"Sangat suka, indah... aku jadi teringat di pantai milik kakek Lewis saat di kursi santai, aku kira kamu akan mencium ku_"
Dan seketika mereka saling diam.
"Kamu masih ingat? itu indah, karena kamu terlihat mengharapkan ciumanku saat Kevin belum mengganggu hubungan kita. Seandainya waktu bisa diulang aku akan mencium kamu begitu lama," batin Johan.
"Mari dengarkan suara alam. Lepas semua masalah. Kita memiliki kebahagiaan sendiri, dan bahagia itu sederhana, tertawa ... mari tertawa saat bersamaku. Yahhh, aku bersama mu," kata Johan dengan suara gentle, bahkan suara itu mampu menenangkan ketakutan Lala.
"Ulurkan tangan kamu Lala, raih tanganku, ya. Jangan buka mata kamu. Kita lihat, apa kita bisa saling bergandeng tangan? ini hanya sepintas tantangan__"
Lala tangan kirinya meraba," iya aku mulai mencari, kamu jangan curang ya," kata Lala sedikit teriak sambil meraba kerikil mencari tangan Johan.
"Aku mencarimu, mana coba. Hey, pakai instingmu."
"Insting? apa aku boleh sedikit menekuk badan? sepertinya terlalu jauh?"
"Ya, Insting, semua manusia sudah dibekali Tuhan dengan insting alami untuk melindungi diri, tinggal manusianya mau mempercayai atau menyia-nyiakan. Jadi gunakan insting mu sekarang. Lala, kamu boleh menekuk tubuh, tapi harus tetap menyentuh kerikil ya," perintah Johan, dengan tangan kanan terus bergerak.
Mereka tidak bersuara cukup lama, berusaha menggunakan insting.
"Jo... "
"Hmm?"
"Kamu tidak boleh lelah, ada aku bersamamu. Jadi, berikan beban mu itu kepadaku. Kamu tahu, aku selalu disini. Aku jadi ingat saat kita kehujanan naik motor untuk candle light dinner, bukankah kesusahan itu jadi kenangan manis,"kata Johan dengan senyuman.
"Tapi ini beda."
"Semua hanya terletak pada keputusanmu, apa kamu akan terus menahan sakit atau melepaskan dan mengikhlaskan. Itu saranku. Kalau tidak berusaha, kamu tidak akan tahu jawabannya. Jangan menggerogoti kebahagiaan mu hanya karena satu orang. Fokus pada dirimu ... Aaah! sepertinya aku sempat menyentuh tanganmu."
"Johan!!!!!"
"Hm??"
"Kamu tidak ingin menikah apa, Jo?"
"Aku ingin fokus pada Amber dan Lydia."
"Bagaimana bisa seorang lelaki tidak kunjung menikah, lihatlah umurmu... aku bertanya, apa kamu sudah memiliki kekasih?"
"...." Lelaki itu enggan menjawab.
"Jo?"
__ADS_1
"Mana tanganmu, cepat kamu geser lebih dekat. Begini saja, letakan tangan di pinggang, lalu arahkan mendekati kepala, siap?"
"Oke Jo, kita berhitung mundur ya."
"Eh tidak jadi, itu namanya tidak menggunakan insting."
Lala langsung mengayunkan tangan dengan cepat karena habis kesabaran.
Lalu menggeser tubuh mendekat cukup banyak, sampai Lala berhasil meraih sikut Johan. Sikut yang begitu terasa hangat dan lembut, "aku dapat!" katanya penuh kegirangan.
Johan membuka mata, menoleh kanan melihat Lala yang tersenyum dan masih terpejam, terlihat Lala sedikit terhibur.
Johan miring ke kanan, dikecup jemari tangan Lala yang tadi memegangi sikutnya. "Love you," bisik Johan.
" Jo," kata Lala terpaku refleks miring ke kiri.
Mereka beradu tatap dalam diam. Membuat jantung Johan seperti diputar dalam putaran mesin cuci.
Lala menatap dalam mata Johan, Ia ingin membagikan rasa lelahnya pada Johan.
"Kencan yuk," kata Johan.
"Kemana.."kata Lala datar dan pasrah. Mendengar itu Johan tidak percaya.
"Apa sebegitu kacaunya kamu, La? Ya, Tuhan ..." kata Johan dalam hati, apa yang ada dalam diri Johan begitu bergetar. Ingin rasanya kembali meraih Lala, tetapi lebih baik dirinya menjaga hati.
Johan merasa tidak yakin bila harus kembali mengejar Lala, yang ada nanti dirinya tidak dapat mengontrol seperti saat dulu.
Amber dan Lydia yang menangkap pemandangan itu, merekam dengan hape Amber.
"Wah! apa kita punya harapan?" tanya Amber, yang sejak lama ingin kedua orang tuanya kembali bersatu.
"Hus, jangan ngomong begitu, takut ada yang denger," sahut Lydia, merasa tidak enak hati dengan adik-adiknya.
"Cinta orang dewasa memang rumit," kata Lydia dalam hati, meskipun sejujurnya dia berharap orang tuanya bisa bersatu.
...🇨🇱🇨🇱...
Mereka mendarat di Puerto Natales kota terdekat dari Torres Del Paine, yang merupakan tujuan selanjutnya.
Mereka turun dari pesawat jet dan pindah ke Mobil.
bersambung ....
...***...
__ADS_1
Selamat pagi, Othor ada pengumunan novel bagus ini, jangan lupa mampir ya...