
Bibir Lala berkedut menatap wajah Kevin yang terlihat tanpa ekspresi, tapi rahang itu mengeras, atau pria itu menahan marah dan mencoba menggertaknya, terlihat sekali bila Kevin menghindari pertanyaannya.
"Anda mau bulan madu? Biarkan Johan mendengarkan desa..han kita saat dia datang."
"Menyebalkan! kamu mengalihkan pertanyaan ku, Kevin."
"Oke." Kevin menarik nafas panjang. Beban di dadanya tak bisa dikeluarkan. "Macan putih, kamu lihat, ayahmu itu hanya melatih mereka, saya tidak pernah menyuruhnya untuk membunuh seseorang." Kevin menunduk mengecup kening Lala lama tak mempedulikan tolakan tangan itu yang mendorongnya.
Dia menjauh dari wajah Lala jarak sejengkal, wajah wanita itu memerah, giginya menggertak. "Jangan marah-marah, Babe, kamu justru semakin cantik, apa kamu menggoda ku?" satu sudut bibir Kevin terangkat dan wanita itu semakin mendesis sampai tubuh wanita itu bergetar seperti menahan kesal.
"Tenanglah, aku tidak mungkin menyuruh ayah mertua untuk membunuh seseorang," mengusap bibir Lala yang mana wanita itu matanya membelalak, bibir lembut itu ... dulu milik ku dan akan kembali menjadi miliku.
Tet.. Tet.. Tet.. suara mengganggu konsentrasi Kevin, dengan tajam menoleh kiri pada layar cctv. "Johan sudah sampai, ayo kita jemput amber dan Lydia," suara Kevin dengan lembut.
Lala masih terpaku karena bekas sentuhan jari Kevin di bibirnya.
Sakit, sakit sekali, aku tidak menginginkan ini, Tuhan aku merindukan Kevin. Aku benci Kevin. Aku bingung. Aku tidak mau. (Lala)
Kevin melebarkan mata saat wanita itu berlari ke arah pintu, dia rasa tidak melakukan kesalahan pada mantan istrinya kan.
Pesawat jet turun di landasan helipad. Lala tanpa menggunakan jaket, berlari, begitu keluar dari lift melewati lorong kaca saat mulai menangkap sosok dua putrinya.
"Ibu!!"
Amber dan Lydia memeluknya. "Putriku, maafkan ibu."
Johan memeluk Kevin, dan mengusap belakang rambut Kevin.
"Hai Lala kamu baik-baik saja?" Johan memegang ke dua bahu Lala.
"Apa ada alasan untuk tidak baik-baik saja?" Lala mengerutkan alisnya dengan senyum hangat.
"Dasar, membuat khawatir saja!" Johan menunduk mengecup pipi kanan- pipi kiri Lala dengan gemas lalu mendekapnya.
"Sudah lah Jo, tak perlu khawatir," Lala merinding karena suhu luar, dan mencium aroma citrus dari dekapan Johan.
Walau itu hal biasa di negara ini, tetapi mengesalkan mengetahui Johan main nyosor saja kepada Lala. Padahal jika dirinya yang akan seperti itu pasti Lala langsung menjauh sehingga dirinya harus main cepat untuk mendapatkan kening Lala. Kevin berdeham dengan sangat keras sambil menarik mantel di punggung Johan, enak saja main peluk-pelukan.
"Kamu mengganggu saja Kevin," Johan mencibir kesal pada Kevin.
Sekadar untuk sebentar saja, masa tidak boleh, sudah mantan saja, sok prosesif. (Johan)
"Cepatlah masuk, atau kamu mau membekukan mereka?"
"Ampun deh," menggeleng kepala, mengusap hidungnya yang sedikit flu, "dingin. Benar kata papa." Lydia menggigil, menyesuaikan suhu dibawah 3 derajat. "Ayah peluk nya di dalam saja, kasian Ibu."
Lala menggelengkan kepala karena itu, dia memperhatikan Amber yang sebulan lalu belum dilihatnya. Lydia dan Amber berjalan mengapitnya
"Ibu aku melihatmu di restoran dengan aksen Bali saat itu!" Amber yang baru melihat ibunya masih termenung-menung sambil jalan. Sementara papa Kevin dan ayah Jo sedang pukul-pukulan sambil jalan. Beberapa pelayan mengambil alih tas koper di belakang.
"Oh iya? hem restoran mana ya, ibu lupa?"
"Ibu ingat waktu makeup ibu jatuh di kasir? setelah itu, aku mengejar ibu dan membawa souvenir rumah patagonia-chile yang ibu jatuhkan di parkiran restoran, ah setelah ibu bertemu dengan bupati, tepat seminggu sebelum ulangtahun kota."
Lala mengusap punggung Amber saat di dekat lift. "Pantas saja, saat ibu mencari itu nggak ketemu. Syukurlah, kamu yang menemukannya. Itu boneka kesukaan ibu."
__ADS_1
"Ibu jadi artis di sana? oh ibu keren, semua orang ingin berfoto sama ibu dan ternyata itu ibuku, ini agak memalukan." Amber tertawa.
Di Lift Johan dan Kevin di pojok dalam, Lala masih diapit putrinya.
"### Jadi, ibu memalukan ni?" Lala mengangkat alisnya penuh tanya.
"Tentu aku bangga pada ibu. Aku yang malu karena ke kolam renang berkali-kali mau menemui ibu, dan ibu tidak pernah di sana." Amber terus menatap ibunya tanpa berkedip.
"Iya lah Amber terus memaksa ku ke kolam renang, menyebalkan." Lydia bersandar pada lift, sedikit melirik papa Kevin yang hanya tersenyum tipis kearahnya.
"Daripada kamu terus dengan tablet di kamar kurang kerjaan," cibir Amber.
"Sudahlah kalian itu ribut mulu sih, bikin pusing." Panas di kepala Johan makin bertambah bila dua putrinya selalu ribut dengan suara melengking.
Lala tertawa mengusap rambut Amber. Dia kemudian menatap wajah Lydia yang pipinya memerah, bibir anak itu sedikit membiru, Lala memegangi kening Lydia, "Astaga panasnya. Jo, dia demam," dua tangan memegang kening dan leher Lydia.
"Apa dia sakit?" Johan baru sadar dari kemarin Lydia terus diam.
"Kamu sakit sayang?" tanya Kevin pada Lydia.
"uh ... cuma penyesuaian suhu, sudah jangan pada lebai deh. Lydia cuma ingin tidur." Lydia bersandar di bahu ibu.
"Biar dokter memeriksanya," Kevin berkata dengan helaan nafas, dia juga sama menyayangi dua putri Lala ini seperti putrinya sendiri.
Dokter telah memeriksa, dan Lydia telah meminum obat, Lala membawa gelas kosong ke dapur, saat tiba-tiba tangannya di tarik. Gelas kaca itu dilemparkan dan tertahan.
"Jo, kamu, mengagetkan saja sih! kena gelas gimana?!" Lala akan menguap dan langsung menunduk untuk menguap.
"Bagaimana bisa mereka menculik mu?" Johan menurunkan tangan bersama gelas dalam pegangannya bersamaan Lala melepaskan tangan kiri dari tarikan tangan.
"Besok lah aku mau tidur," melangkah ke bak cucian dan meraih gelas baru di rak, semua tempat di sini masih sama.
"Tidak sampai kan?" Johan meraih cangkir di lemari atas dengan begitu mudah.
"Makasih," menjambret cangkir dari tangan Johan, dan meluncur ke kanan dalam hitungan detik, "apa kamu mau susu hangat?" Lala membuka lemari bawah dan mengambil panci dan menyalakan kompor.
"Susu apa ini?" Johan nada berkelakar.
Membuka kulkas dua pintu di sisi kiri, mencari, "anda maunya susu apa Tuan Johan Orion Abimanyu? sapi? kambing? Dan dengar-dengar ni ya susu tikus memiliki kandungan terbaik dibandingkan susu lainnya, dengan harga selangit." Lala tertawa sambil meraih botol susu. Melangkah sambil melirik Johan yang berdiri sedakep di pinggir meja. "Anda mau mana Pak?"
Johan masih tertawa saat Lala menuangkan susu ke dalam panci, "apa tidak ada opsi lain?"
Membuka laci dan meraih spatula, menunjuk Johan, "opsi lain aku akan menamparmu dengan ini jika pikiranmu kemana-mana."
Johan dan Lala tertawa, di belakang sudut Kevin melihatnya sambil mengepalkan tangan.
"Ambil dua gelas lagi, aku akan memberimu dan lalu cepat pergi tidur."
"Kenapa dua?" Johan tetap menurut meraih dua gelas di lemari, dan menyatukan di sisi tadi.
"Satunya, Anda berikan pada Kevin," mengaduk-ngaduk, tangan kirinya memijat bahu yang pegal.
"Hei, kamu tidak ribut dengan dia?" lirih Johan yang melihat Kevin dan Lala baik-baik saja.
"Dia siapa?" Lala memiringkan kepala ke kiri, "Kev-?" menangkap Johan yang mengangguk. "Biasa saja, dan kami baik-baik saja."
__ADS_1
Mata Johan melebar dan bergeser hingga jarak setengah meter, "kamu mau balikan sama dia?"
Johan menghembuskan nafas lega, saat Lala menggeleng.
Johan memperhatikan Lala dalam diam dengan pikiran yang terbang di kepalanya, apa yang wanita itu tahu tentang penculikan kemarin, sialan Kevin dan Richie tidak mau memberi tahu.
Menuangkan susu, ke dalam tiga cangkir, "besok setelah sarapan, aku ingin berbicara denganmu, Jo, empat mata."
Johan menunduk meraih gelas itu dan mengikuti dari belakang, "wah soal apa? bikin penasaran. Semenjak kapan Anda berbicara serius?" melirik Lala yang terus menguap. "Selamat malam ibu Lala." Johan melembutkan suaranya dan Lala tertawa teringat Dima yang suka memanggilnya ibu.
Eh gimana Dima ya?! Kuharap dia tidak mendapat masalah.(Lala)
"Kenapa tertawa? lucu ya?" Johan memencet tombol lift.
"Tidak apa, malam juga Johan." Lala menyusul dalam lift.
"Kamu tidur di kamar siapa? tidak mungkin Kevin kan, bukannya sebulan lalu teriak-teriak penuh umpatan, jangan sampai kamu menjilat ludah mu sendiri, Lala."
Lala menggeleng perlahan lalu menunduk menatap kepulan susu, "aku menemani tidur Lydia, anak itu demam, apa dia sedang ada masalah, kenapa murung, atau memiliki pacar?" Lala menoleh kanan pada Johan yang melirik angka lift.
"Pacar? sepertinya tidak, dia hanya marah karena jam malam-" Johan menutup mulutnya, keceplosan.
"Jam malam? kenapa dia marah? bukankah dari dulu jam malam berlaku, apa dia keluar malam-malam?"
Lift kamar Lydia terbuka. "Kita bicarakan besok saja, sudah jam tiga, eh selamat pagi dong bukan malam," Johan menggelengkan kepala dan tersenyum kecil, dia dan Lala sama saja, sudah tidak fokus.
"Malam, eh pagi. Bye Jo, nice dream." Lala menjaga matanya yang sudah lima watt.
"Uh-huh." Johan menatap kepergian Lala sampai lift tertutup menuju lantai sepuluh, kamar Kevin.
Di kamar, Lydia dan Amber sudah tidur, Lala mengerutkan kening saat Kevin beranjak dari sofa.
"Ngapain kamu di sini? Johan ke kamar mu, sana pergi." Lala menyeruput susu setengah dan lelaki itu hanya diam saja, Lala ke kamar mandi mencuci wajah.
Keluar kamar mandi, mengelap wajah basahnya dengan handuk mini dan lelaki itu masih di kamarnya.
"Kevin, itu bekas minum ku!" bisik Lala tidak mau membangunkan tiga anaknya, mana Kevin minum tepat di bekas bibirnya, hah terserahlah. Lala mendorong punggung Kevin berat sekali, keluar sampai batas pintu, dada Lala sudah memanas, mau tidur saja banyak gangguan.
"Johan mencari mu di atas."
Kevin berbalik dan menyerahkan gelasnya, Lala menunduk menatap gelas itu telah kosong.
"Bagaimana tawaran saya?" Mata Kevin menyipit, bibirnya meremas membentuk garis lurus tipis.
"Tidak!" bisik Lala kasar dan mendorong pintu. Pintu itu tidak tertutup terganjal. Ternyata Kevin menahannya.
Ya ampun keras kepala (Lala)
"Apa?" bisik Lala.
"Tolong pijat leher saya," Kevin memasang wajah murung, "sebentar saja."
"Maaf, itu tidak boleh."
"Saya tidak akan berulah, Lala."
__ADS_1
"Bukankah kamu bisa minta tolong Johan? saya ngantuk, Kevin." Lala tidak bisa menahan matanya lagi.
"Please..."