Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 163 : KERIBUTAN JALANAN


__ADS_3

Pertemuan berlalu hingga sore, Lala melangkah dengan sepatu hak rendah krem menuju beranda restoran, begitu anggun walau menggendong Vino yang masih tidur.


Para pegawai resto, menyempatkan mengintip sejenak untuk sekadar melepas kepergian wanita yang sedang terkenal itu. Tidak jauh darinya Sang Ibu Boss membiarkan mereka, selain karena tamu sudah ditangani. Sang ibu bos juga sama penasarannya. Bukan karena awet muda, tapi karena namanya. Namanya membuat hatinya terganggu.


Lala mengamati Vino dalam gendongan bahu. Anaknya itu tidur sejak di pertengahan rapat - dalam rangka persiapan menyambut hari ulang tahun Kota ini. Dan itu tinggal seminggu lagi.


"Maaf, tunggu."


Seorang wanita memanggil dan menyentuh pundak Lala membuatnya menoleh.


"Ya? ada apa?"


Terlihat wanita fashionable didepannya, seperti bukan warga kota ini.


"Maaf, saya mendengar orang-orang memanggil nama Anda 'Lala'? kalau boleh tahu nama panjangnya siapa?"


Pertanyaan itu membuat Lala curiga, dia memilki identitas baru Lala Alena. Jadi, merasa aneh bila ada orang asing menanyakan nama panjangnya. Apa dia mata-mata? tapi-harusnya tidak terang-terangan dong!?


"Saya, Lala Alena. Maaf, kenapa Anda menanyakan itu?"


"Oh, saya kira anda teman saya. Ternyata nama saja yang mirip. Kebetulan saya mencari teman saya Lala Chlarissa. Bukankah namanya mirip-"


"Anda siapa?" tanya Lala tersentak, mengamati dalam-dalam wajah wanita berambut keriting yang indah, di depannya. Bila dilihat-lihat Lala seperti mengenalnya.


"Ah saya Ella Hudson, perkenalkan, panggil saja saya Ella. Datanglah kemari lagi, kami akan memberikan diskon lain kali da-"


Lala berpikir sejenak memikiran nama itu, dan seketika dia tercerahkan. "Ella? Ellaaa???? What? Universitas Melalang Buana?" mata Lala melebar tidak percaya, mendapati wanita cantik di depannya.


"Kok anda bisa tahu kampus saya, Eh?" Ella berkerut semakin dalam, dia memiringkan kepala menutup mulutnya, "kamu bukan Lala pacar nya Johan kan? Johan Orion Abimanyu, kapten basket di-"


"Ela!Ela! Ela pemilik restoran Hudson dekat kampus Melalang Buana!?"


"Ya. Itu aku !"


Mereka berpandangan sebentar melihat dari ujung atas ke ujung bawah, kembali ke atas lagi, dan bibir melengkung membentuk senyuman dua-duanya meringis, seketika Lala menarik tubuh Ella lebih dekat. "Oh Tuhan, aku kangen kamu Ella. benarkah ini Ella? Ella?"


"Ya ini Ella, tapi kenapa namamu berubah? kamu beneran Lala? mengapa kamu seperi artis saja!? kamu dulu buluk." Ella masih tidak mempercayai, walau wanita di depannya mengakui identitasnya 100x pun ini seperti bukan Lala yang dia kenal. Tapi aku mengenal kehangatan ini. Dia benar-benar Lala pacarnya Johan!


"Eh mana Johan?"


"Mengapa kamu selalu menyebut Johan? dan apa kamu bilang aku pacarnya dia?"


Ella menarik Lala masuk ke ruang khusus di restoran dan mengambil selimut tipis untuk alas Vino di sofa.


"Bukannya kamu pacaran dengan Johan? terakhir kali saat kamu menghilang ketika kamu kerja di restoran papa ku, dia mencarimu dan terus menanyakan mu. Anak-anak kampus menyebut kalian 'pacaran'. Sebenarnya kamu kemana saja selama ini? pulang-pulang sudah seperti artis mancanegara saja. Apa ini beneran kamu? Lihat perutmu."

__ADS_1


Ella membuka kemeja putih Lala dan langsung meraba-raba perut Lala, "astaga seperti perawan Saja


" bahkan mendorong duduk Lala ke depan dan memegang pantat Lala. "Hei apa ini suntikan!? mengapa menonjol begini!? Gila."


"Apaan si kamu, main pegang-pegang saja-"


"Kasih tau dong, aku juga mau punya kek gini, apa ini kamu suntik payu.dara juga-"


"Eits- jangan pegang!"


"Aku kan menyusui ya mekarlah, kamu aneh..."


"Tapi anakmu seperti bule? Johan tidak bule?" Ella mengamati rambut keemasan dan bibir bayi laki-laki yang sedang tidur itu.


Lala menggeleng kepala,"Johan terus yang kamu sebut. Dia bukan anak Johan. Dan aku tidak menikah dengan Johan."


"Jadi suami mu Bule? pantas kamu glow-UP. Bukanya bule suka sama kulit gelap ya, kenapa kamu masih laku." Ella Hudson tertawa, matanya tidak pernah lepas, menatap kulit Lala yang cerah berkilau seputih porselen.


Namun, melihat Lala yang terdiam seperti itu, pasti semua orang juga bisa menebak. Bahwa ada yang tidak beres dengan pernikahannya.


"Aku berpisah lama. Sudahlah." Lala tertawa ringan, tangannya menarik tangan Ella ke pangkuan dan memijitnya. Gemas, mendapati Ella yang dulu sangat kurus kini berisi dan sangat anggun.


"Wah kok bisa, aku turut bersedih ya, tapi wajahmu kenapa bisa sekencang itu? E lelaki bodoh mana yang membuatmu kecewa ya, masa tak bersikap baik pada wajah sebidadari ini."


"Suamiku sudah meninggal, serangan jantung. Anak ku masih kuliah di luar negri. Karena itu aku meneruskan restoran milik suami."


"Ell, turut berduka Ya." Lala memeluk erat-erat Sahabatnya yang sudah banyak membantu dia saat kesulitan dulu. Dengan tatapan lembut dia berusaha menyemangati.


Angin pantai sore cukup kencang dibandingkan saat datang jam sepuluh. Vino pun sudah bangun dan sempat rewel sebentar.


Sahabatnya itu memaksa mengantar pulang. Jadinya, Lala menelpon Pak Dennis untuk tidak menjemputnya


Sepanjang perjalanan empat puluh menit itu mereka saling bercerita, karena kota itu baru berkembang sehingga jalanan pun lancar tanpa kemacetan.


Ternyata selama ini Ella tinggal di kota yang sama dengannya, sungguh mencengangkan, mengapa dirinya baru tahu hal ini.


Jadi, kita sama-sama hidup sendiri, Ell! Seandainya kita tahu sejak lama, mungkin aku tidak seterpuruk dulu. Ketika semua dihadapi sendirian, bahkan melahirkanpun tiada yang menemani. Aku dapat merasakan apa yang kamu rasa. Sahabatku, aku memahami bagaimana sakitnya.


PIM...........M! PIM PIM


Klakson panjang dari arah belakang begitu Ella menepikan mobil ke kanan jalan.


"Eh mata Elo buta ya!? retting mendadak!!!" Seru pengemudi mobil lain yang langsung berhenti di tengah jalan saat mobil sudah sejajar.


Lala tercengang dengan jeritan wanita yang turun dari mobil itu sambil marah-marah. Suaranya keras sekali, Laki apa perempuan?

__ADS_1


"Hheek-heeekkkkk!" Vino mulai menangis menjerit karena suara keras perempuan itu, para tetangga mulai keluar dan berkerumun


"PIM PIM PIM" Suara klakson dari mobil-mobil yang mau lewat karen terhalang mobil itu, sementara Ella masih parkir setengah jalan dan Lala mendapati Ella sudah di depan wanita itu dan mendorongnya.


Jadi masalah panjang ini. Tunggu, bukankah wanita ini yang di mini market itu? Ah pantas saja kelakuannya? apa dunia sekecil ini sampai bertemu nenek lampir ini! Batin Lala sambil turun dari mobil, menenangkan Vino yang ketakutan.


"Bianca! nenek sihir!" Seru Ella mengunci Leher Bianca di keteknya,.


"Kau bilang apa! wanita ja*lang." seru wanita itu semakin menjambak rambut dan mencakar wajah Ella dengan kuku panjangnya.


Mereka saling ribut dan menjambak di tengah jalan. Walau jalan ini buntu, tapi ini jalan lebar dan para pengunjung kolam renangnya sedang pada pulang. Bahkan orang-orang mulai memvideo tapi di tangkap warga. Suasana sangat kacau. Belum lagi tangisan Vino yang menjerit tak ketulungan mendengar teriakan mereka.


"Ell, sudah, Ell, sudah sudah." Lala sedikit berteriak karena orang-orang yang mencoba memisahkan mereka tak berhasil.


"Lala, biar orang rese ini mampuss, uhhhh! kau berani." Ella menarik baju wanita itu sampai sobek ke atas memperlihatkan tali b.r.a merah muda.


"Sialan Ella ja*ang! kau bilang apa? Lala? oh ih uh si kuman itu ihhhhh!!!! siall-" seru Bianca tidak mau melepaskan cengkraman pada rambut belakang Ella.


"Kalian, hentikan!!!" Lala menarik dan menahan kuat tangan Bianca, memiting ke belakang dengan satu tangannya.


Bapak-bapak yang melihatnya pun tercengang. Darimana tenaga sekuat itu? yang mereka tahu Lala adalah wanita yang anggun dan sangat lembut.


"Hajar-hajar, bu Lala!" Sorak emak-emak.


"Itu kan, bu Bianca calon tetangga baru ..." Salah satu tetangga mulai mengenali lawan Lala.


Lala semakin kuat memiting Bianca agar mau melepas Ella Hudson dan itu bekerja. Namun, wanita itu menarik kaki Vino dengan begitu keras,, hingga pegangan Lala lengah dan Vino terlepas darinya.


Seketika tangisan Vino semakin keras ketika terlepas dari -tangan Lala- , jatuh.


Richie melompat menangkap Vino yang tengah jatuh di depan lutut Lala, dalam dekapannya.


Itu tepat bersamaan Richie menendang perut Bianca, membuat wanita itu terjerembab.


Blaag.


Vino dalam dekapan kuat Richie, tangan lelaki itu terseret di aspal, dan Vino menangis histeris.


"hhhh Berhenti hhhh," tegas Pak RT terlambat. Dan justru mengalihkan perhatian orang-orang yang sedang mengurus keributan.


Pak RT semi membungkuk dan memegangi lutut dan dada yang naik turun, dia nyaris kehabisan nafas.


Para tetangga tahu pak RT punya penyakit asma, jadi orang-orang ikut panik kian mendekat ke pak RT.


Para pengemudi mobil yang mau lewat, masih menonton pertunjukan sejak awal keributan.

__ADS_1


__ADS_2