
-POV Author-
"Tuan Artyom, tolong maafkan ayah saya," lirih Lala saat makanannya menjadi terasa hambar dan menyudahi makan.
Namun, beberapa detik kemudian Daniel menarik piring itu dan menghabiskannya, Lala diam pikirannya kalut tidak tahu harus berkata apa lagi pada mantan bosnya agar mau mengabulkan permohonan.
"Lala, kamu tahu, ada beberapa hal yang kadang kita tidak bisa mengubahnya, sekalipun kita ingin."
Persetan dengan keadaanmu Daniel, kau memperlakukan ayah saya dengan penuh luka di tubuhnya. Kamu bukan manusia. Memang sama seperti Ars. Kalian hewan, oh bukan, hewan tak bersalah. Justru kalian yang pembunuh! ( Lala )
"Apa maksudmu?! anda mau membunuh ayah saya?"
" ... " Alis Daniel terangkat satu, dia memutar mie dengan garpu bekas Lala, putaran terakhir dan melahapnya dengan santai, "Bisa jadi." Daniel dapat menangkap gemertak gigi Lala dan dua tangan wanita itu mengepal di atas meja. "Kamu tahu, saya sangat muak dengan Alen."
"Mana janji anda akan membantu saya?! Apa Anda beneran head chef yang pernah saya kenal?" Lala menelan saliva dan jemari kaki mencengkram pada pijakan kursi, darah di dadanya tampak mendidih dan siap muncrat membasahi siapa saja di sekitarnya. Entahlah, dirinya sangat ingin marah dan melampiaskannya. Sudah cukup kesabarannya selama ini.
Daniel menangkap tangan wanita itu gemetar mungkin oleh takut. "Ya, inilah saya. Sudahlah jangan membuat saya marah, karena saat itu saya akan melempar kalian ke kumpulan ular dan hal terburuk kamu tahu apa? saya akan menembak kepala Alen di depanmu," Daniel menyeringai jahat, membuat Lala berdiri dan meraih piring kotor dari depan Daniel.
"Saya sangat kecewa padamu Daniel," kata Lala dingin di samping Daniel sebelum dia melenggang ke bak cucian.
Daniel mengepalkan tangan, mengutuk dirinya karena peduli pada wanita itu, memang dulu dirinya sempat kagum pada kepolosan wanita itu, entah sejak kapan, sejak bertemu Kevin di kos Lala, semua menjadi tampak mengesalkan.
Terlebih sejak dirinya menghancurkan kos an Lala, dan akan membawa Lala saat itu, tapi Lala tidak pernah terlihat dan lalu Kevin menggagalkan segalanya dan menyerang balik markas lamanya.
Lalu dirinya menyusup ke markas Bella, berakting sebagai sandra dan menyerahkan diri disana, untuk sekadar mencari tahu. Dan di sana lagi-lagi Kevin, lagi orang-orang Kevin hampir membunuhnya, tapi beruntung sejak itu ia jadi tahu anak buah Kevin dan melacak ke atas, dan menemukan dua klan terkuat di bawah naungan Kevin, yang lebih mengejutkan lelaki itu sudah menikah dengan Lala bahkan sampai memiliki tiga anak dan kebetulan atau dirinya ketiban durian runtuh, menemukan keberadaan Lala di pulau jawa dan ternyata sedang dalam kasus perceraian, yang lebih mengejutkan lagi ada seorang anak.
Pada saat yang sama Bella mengirim sebuah surel mengajak ia bergabung pada rencana Bela, entah darimana wanita itu mendapatkannya. Dan semua menjadi sangat mudah karena kehadiran bayi laki-laki bernama Vino. Bella tahu betul itu senjata terlemah Kevin. Jadi, rencana sedikit berubah. Sekarang saatnya eksekusi.
**
Udara asin di antara rintik hujan. Merasuk dan melewati jendela kaca yang terbuka di ruang keluarga, sedikit menggigil tapi aroma laut dan hujan benar mampu merilekskan selang-selang otaknya yang sudah carut marut. Seharusnya ini sangat menyenangkan. Jantungnya berdebar akan bertemu dengan ayah. Rasanya luar biasa, bahkan dua tahun lebih belum mendengar suaranya apalagi bertemu.
Menatap tangan Damir yang menempatkan mobil mini kuning di dalam lingkaran rel hitam yang memutari bangunan-bangunan sebuah miniatur kota,dia tersenyum pada Damir yang memberikan satu mobil mini biru padanya agar ikut bermain.
__ADS_1
Melirik jam tujuh, langit mendung saat Ars datang dan mengecup pipi Damir. Lala menghindari untuk menatap Ars, takut bila pria itu malu karena kejadian semalam.
"Kamu bisa buat kopi?" tanya Ars dengan suara tanpa warna, seperti suara tanpa bernyawa.
Berdiri tanpa menatap Ars, "saya akan membuatnya."
Kembali membawa kopi aku melirik Ars bermain dengan Damir tanpa ekpresi, jika begini bagaimana dirinya bisa mengobrol dengan Ars.
"Kau sudah mandi?" tanya Ars tanpa menoleh, tapi Lala meyakini pertanyaan itu ditujukan untuknya sebab tidak ada orang dewasa selain dia dan Ars.
Bagi Lala mungkin Ars juga tidak melihat kearahnya yang masih memakai piyama. Jika lelaki itu melihatnya belum memakai gaun, seharusnya lelaki itu tahu bahwa dirinya belum mandi. Atau itu hanya sekadar basa basi.
"Madam, ikuti saya," Ars dengan jubah coklatnya menggendong Damir, sampai di kamar Ars, lelaki itu membuka lemari putih dan mengotak-atik pakaian warna-warni dalam lemari, lalu menarik satu kemeja biru sangat ekslusif mengkilap indah. Lala membelalakkan mata, baru menyadari dalam genggaman Ars itu adalah pakaian wanita.
Lala dapat menangkap Ars tersenyum pada kemeja itu seakan-akan pria itu tersenyum pada seseorang, lelaki itu menghirup kemeja di bagian tengah dan tampak penuh kasih sayang.
"Kamu ingat baju ini, sayangku?" tanya Ars, menatap Damir dan Anak kecil itu langsung mere..mas kemeja bergaris vertikal.
Hati Lala seperti ditikam pisau tajam, entah mengapa, dia sangat iba pada anak itu, dia pernah di posisi itu.
"Apa boleh madam memakai baju mamah?" tanya Ars dengan lembut dan Damir mengangguk, sedangkan Lala melotot manakala lehernya seperti di cekik dan dadanya begitu sakit.
Ya, Bagi Lala, bagaimana bisa pakaian seseorang yang sudah meninggal harus dikenakannya. Satu, jujur dirinya takut digentayangi. Dua, dia sangat tidak nyaman jika Ars membuat dirinya seperti robot.
"Madam cantik, madam akan pakai baju mamah, Damir suka baju mamah, Damir suka madam," kata Damir, anak itu bahkan menatap Lala seperti menuntut.
Nah, loh, Lala menelan saliva, bila dipikir-pikir apakah Ars memanfaatkan anaknya sendiri agar dia mengikuti perintah Ars. Dada Lala bergemuruh kian kesal, mau marah tapi tidak bisa, atau ini digunakan saja untuk minta pengampunan atas ayah. Oh, Ibu Damir, maaf kan saya.
"Ambil madam," kata Ars kembali tanpa warna suara bahkan tidak melihatnya, tapi Lala bergegas meraih itu tanpa perlu berdebat. Dan Ars memilah-milah lagi, kini lelaki itu mengambil celana pendek putih, mata Lala melotot, hidung dan bibir berkedut.
"Tidak, Tuan Ars. Saya tidak pernah memakai itu, dan tidak akan," kata Lala dengan tegas itu sangat pendek, mungkin sepaha, itu memalukan bila wanita seumurnya harus memakai pakaian seperti itu, sekali lagi, karena dirinya tidak pernah memakai itu di luar apalagi di depan lelaki selain Kevin, ya, tentunya dulu saat menjadi pasangan.
"Bukankah dulu aku sempat melihat semuanya," gumam Ars.
__ADS_1
"Apa?" Mata Lala memutar ke kiri, ke kanan, dan kiri lagi, memikirkan kalimat Ars, apa yang dilihat maksudnya. Lalu di depan putranya sendiri mengatakan itu ... Lala meremas kemeja mama Damir.
Ars tersenyum menatap celana itu, tetapi beberapa saat kemudian senyum itu memudar. "Hai madam, jangan mere ..masnya, anda menyakiti ibu Damir," kata Ars dengan nada yang Lala yakini itu sendu. Dada Lala bergetar, ternyata diam-diam Ars memperhatikannya, segera Lala mengelus-ngelus kemeja itu agar tidak kusut.
"Maaf."
Jika tidak mau menyakiti mama Damir, mengapa, sampai tega menyuruh orang lain memakainya! ( Lala )
Ars mengangkat bahu, " benar jua, ya, Tyoma bisa kesenangan jika melihat ini," mata Ars melebar dan Lala menangkap sedikit bibir Ars agak mengerucut ke depan.
"Mari, kita lihat, " Ars memasukan celana pendek ke lemari, dan menarik sebuah rok span putih, Lala memperkirakan selutut.
Ars langsung memberikan ke Lala dan langsung menutup lemari tanpa mengijinkan Lala menjawab lagi. "Bersiap, tidak perlu mencoreng wajahmu dengan apapun, saya tidak menyukai pewarna bibir," ujar Ars meninggalkan Lala di kamar, "Dan mandi di sini, lima belas menit." Ars menutup pintu kamar, membuat mata Lala berputar dan berhenti di langit kamar, seakan di sana ada video replay Ars.
'tidak perlu mencoreng wajahmu dengan apapun, saya tidak menyukai pewarna bibir'
Sampai Lala bebersih kata-kata itu terngiang.
"Urusanmu bila tidak suka, bukan urusanku! Bibir-bibir ku, muka-muka ku, kenapa anda yang rempong, oh Tuan Ars! awas saja kalau sampai nanti malam saya digentayangi! Saya akan menuntut mu!" Bulu kuduknya menjadi merinding. "Astaga, mamah Damir, maafkan saya, tolong bilang ke Tuan Ars agar mau membebaskan ayah saya ya?" melirik ke kanan dan kiri, perasaanya jadi tidak enak.
Lala menggelengkan kepala, dia menatap meja rias, dan di sana terdapat botol parfum perempuan yang ia tahu harganya selangit dengan aroma citrus bercampur rerumputan berbaur aroma manis, dia pernah mencobanya dari teman kuliahnya di Cambridge yang kaya raya dan pecinta barang mewah. "oh ..." sepertinya itu milik mama Damir.
Kata-kata Ars terus terngiang di kepalanya, lagian di kamar ini tidak ada peralatan make up.
Memandang wajah yang memerah di pantulan cermin, kini dirinya sangat berlainan dari tampilan kalem.
Kesan kuat, feminis, wanita tak tersentuh dan sangat high, menginginkan kesetaraan gender, tidak mau kalah dengan laki-laki dan berdiri di atas kaki sendiri, hanya karena pakaian ini. Luar biasa, jadi dia pikir pakaian ini memiliki kekuatan sendiri, hingga dirinya menjadi terbawa ingin menyuarakan suara perempuan.
Tampaknya pakaian ini membawa dirinya menjadi kuat. Dan dia tidak ragu jika Ibu Damir adalah seorang wanita yang luar biasa.
Dirinya bertanya-tanya mengapa ukuran pinggang ini sangat pas, bahkan tidak longgar dan tidak ketat, ini terasa nyaman.
Meminjam sisir Ars, Lala merapikan rambutnya sampai kemudian Ars datang dan di pantulan cermin Lelaki itu tatapan sangat dalam seakan disana penuh luka bahkan itu mampu menusuk di titik diantara dada Lala, di bawah payu..dara nya, sangat sakit, bahkan bukan dirinya yang mengalami itu, tapi mengapa ... sakit.
__ADS_1