
Motorhomes terparkir di perkebunan di batas hutan, itu dekat di gerbang markas Richie.
*Motorhomes, bus yang memiliki interior seperti apartemen, lengkap terdapat kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dapur lengkap dan bagian bawahnya di jadikan bagasi mobil.*
Kevin menempati motorhomes. Sementara empat mobil sedan dan enam mobil humvee terpakir disekitarnya. Mereka juga mendirikan kemah kecil dari semalam.
Kevin menatap kosong ke luar jendela bersandar pada bed, pohon-pohon hijau di luar sana tak bisa menghilangan keresahan hatinya.
TOK-TOK!
Pintu terbuka, Kevin tak bergeming.
Parker masuk kamar, menngakat sarapan yang telah dingin, "Tuan, mengapa anda tak memakan sarapanmu? anda bisa sakit. Jika anda sakit bagaimana nyonya nanti, pasti nyonya khawatir."
Kevin mendecak, "mereka belum melakukan pergerakan?"
"Belum, pisaunya sempat diambil Tuan Richie, sepertinya dia tahu jika pisau lipat itu sudah disisipi kamera, alat sadap dan pelacak."
"Pantau dari sini saja, saya mau tahu apa istriku mengikuti arahan."
"Baik Tuan," Parker keluar dari kamar tak lama dia kembali lagi membawa dua laptop.
Parker keluar dan masuk lagi membawa susu, dan sup jagung hangat lalu di letakan pada meja portable, "Tuan tolong, perut anda kosong ... , jika kurang cairan bisa saja anda pingsan."
Kevin beranjak dengan malas menggeser tubuh ke bed sisi lain, dia mulai menyantapnya, sedangkan Parker mulai siap dengan dua laptopnya dan duduk memunggungi Kevin. Satu laptop memantau nyonya, satu laptop memantau pergerakan Black Lion.
"Ada pergerakan Tuan."
Kevin meninggalkan sup yang belum habis, dan bergeser membawa susu yang belum diminumnya.
SIAL. 'Richie memeluk istriku dari belakang.' Kevin mengepalkan tangannya saat melihat pipi Richie menempel pada pipi Lala, istrinya yang tak nyaman namun ancaman Richie cukup membuat Lala tak berani melawan.
"Matikan cameranya!" bentak Kevin lalu di turuti parker. 'Richie sengaja menghadapkan pisau itu padanya agar aku bisa melihat itu, dia ingin menunjukan padaku ya?'
Parker dan Kevin menyimak audio mereka.
"Apa tangan anda cukup kuat untuk menggunakan ini, Nyonya Saint?" kata Richie.
"Minggir, Tuan Richie, saya tahu menggunakannya."
"Ah! ayo perlihatkan padaku, saya mau melihat Anda menggunakannya."
"Ah!" teriak Richie kecil suaranya terdengar pura-pura, "Anda kurang keras, Nyonya Saint. Ayo perlihatkan padaku cara membukanya."
__ADS_1
Kevin mengepalkan tangan.
'Anda yakin mau mendengarkan ini, bos? yang ada anda kebakaran jenggot, sepertinya Richie sengaja memanas-manasi bos.' batin Parker saat melihat mata Kevin seperti iblis.
BLAK!
Gelas susu yang belum di minum justru di hentakan Kevin ke meja hingga susunya tumpah sepertiganya, beruntung itu tidak pecah, bila pecah laptopnya bisa kena. Parker gemetar mau memberikan tisu juga tak berani, 'mengapa aku harus selalu di saat-saat mencekam ini. Ah! bos benar-benar hobi menyerang mentalku. Mengapa anda tak menjemput nyonya langsung ke markas si bos? bosku ini sungguh aneh.'
Disisi Lain di kamar tamu markas Richie.
Lala menginjak Richie lebih keras.
"Aw! anda sangat bernafsu ya, Nyonya Saint."
"Saya bilang minggir!" Lala kesulitan lepas dari Richie. Maju terdekap tangan Richie. 'Sebal, tenaganya kuat sekali, sikutku tak bisa di gunakan untuk menyikut. Aku akan jongkok pun tanganku terhalang tangan Richie yang terlalu erat, "saya mohon, Anda tak boleh seperti ini."
"Jangan banyak bergerak nyonya Saint, apa anda mau membangun adik kecil saya?" bisik Richie sangat pelan di telinga Lala.
"MINGGIR !!!" Teriak Lala, luar biasa keras dan kesal, membuat Richie terlonjak dan terdiam sesaat. Lala yang sadar, langsung menyentak tangan Richie, Hingga dirinya lepas. Lala menekan tombol otomatis, ujung pisau itu dia arahkan ke Richie, "Jaga jarak! jangan asal menyentuh saya!"
Richi tertawa.
"Apa yang lucu! saya serius Tuan Richie. Cepat bawa saya ke Johan."
"Baiklah,berikan tanganmu," kata Richie.
Saat melewati kamar, para bawahan Richie akan menyerang Lala tapi Richie menyuruh mereka menyingkir. Sampai di lift Richie, terus mundur hingga pinggangnya menyentuh ujung pisau, dia sedikit menekan hingga mantel hitamnya sudah tembus oleh pisau itu.
"A-a-pa yang anda lakukan Tuan Richie," kata Lala, jantungnya berdebar dia sudah menarik pisau, sampai sikunya sudah menempel lift, tapi lelaki itu terus mundur, "Berhenti! ini bisa melukai anda."
"Anda terus menodongkan pisau, saya takut tangan anda lelah, bukankah anda mau menusuk saya? harusnya anda senang kan."
Lala mendorong punggung Richie menggunakan tangan kirinya. "Mengapa anda sangat menyebalkan," kata Lala, dia mengelap ujung pisau yang berdarah, "Lihat, anda luka!" Lala melipat pisaunya dan menyimpannya di kantong.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Richie saat Lala mengangkat mantelnya.
Lala membelalak melihat kemeja putih Richi, yang mencetak darah sebesar bola bilyar.
TING!
Pintu lift terbuka.
"Sudah selesai memeriksanya? ayo cepat keluar."
__ADS_1
"Berikan saput tangan anda cepat!"
Richie merogoh mantel bagian dalamnya, "untuk apa?"
Lala menarik kemeja yang tadinya masuk celana itu menjadi keluar celana.
"Nyonya Saint!"
Lala membungkuk menekan pada pinggang belakang Richie. Lipatan saput tangan itu menyerap darah yang masih keluar, sapu tangan itu sudah setengah basah.
Pintu lift tertutup lagi.
"Cepat keluar," Richie
"Tapi darahnya?"
Richie menarik Lala keluar dari Lift, dia berbicara bahasa asing dengan anak buahnya.
Tak lama anak buahnya membawa p3k, Richie duduk condong kedepan membiarkan anak buah merawatnya.
Lala duduk di depan Richie, dua tangannya menaut. Kakinya tak bisa diam terus bergerak-gerak, Richie yang melihat itu merasa terganggu.
"Tolong maafkan saya, bukan maksud__"
"Hem," ucapan singkat Richie memotong kalimat Lala, "Anda harus berlatih lagi nyonya Saint, jika anda memegang pisau seperti tadi anda akan langsung dilumpuhkan lawan. Anda harus menjaganya tetap jauh di depan tubuhmu namun tidak boleh terlalu jauh, Dan latih kekuatan tanganmu."
Richie berdiri saat anak buahnya selesai, dia mengulurkan tangan membuat Lala termenung dan akhirnya memberikan tanganya, mereka bergandeng tangan melewati lorong hitam panjang.
"Anda harus selalu memakai hadiah dari saya, apa suami Nyonya Saint tak menjelaskan seberguna apa hadiah saya di sebagian besar wilayah."
"Saya melepaskannya ketika sampai rumah, semalam mendadak keluar tanpa sempat saya membawa tas dimana cincin saya menyimpannya."
"Bisa saja semalam Anda terbunuh. Siapapun yang melihat cincin itu tak akan berani menyentuh anda, jadi jangan pernah lepaskan cincinnya. Anak-anak buah saya tak menghafal Anda tapi mereka akan mengenali anda lewat cincin itu. Mereka tersebar di banyak tempat akan setia melindungi jika anda mendapat bahaya."
"Terimakasih Tuan Richie, itu hadiah yang sangat spesial untuk saya."
Dua preman yang lumayan gendut berpakaian hitam dengan seutas kain terikat pada kening sedang berjaga di pintu.
Lala memasuki ruangan pengap, dan dingin langsung menyentuh pipinya , 'mereka tak menggunakan pemanas ruangan?'
Lala terlonjak saat melihat muka Johan yang lebam itu tengah duduk di lantai sedang memakan roti dan memandang kosong pada susu yang telah diminum setengah gelas, dengan kepala tertunduk tanpa tenaga dan tangannya masing-masing di rantai, oleh rantai panjang satu meteran. Jaketnya telah lusuh, sobek tak beraturan, perban dikeningnya telah kotor dan sedikit menghitam oleh darah.
Johan mendongak melihat suara orang berlari, roti terlepas dari tangannya saat melihat orang yang dicintainya berlari dan menangis, jantungnya berdebar cepat lantas sedikit senyum saat Lala duduk di depannya tengah memegang setiap inchi wajah dan memeriksa setiap luka, termasuk luka di perutnya.
__ADS_1
"Lala, kamu baik-baik saja, syukurlah," lirih Johan menatap dalam mata Lala, tangannya menghapus kristal air mata di pipi Lala, "hei, aku tak apa, hentikan air mata ini," kata Johan dengan lembut, kedua matanya hanya terbuka sedikit karena bengkak dan memar menutupinya.
"Bajingan! apa yang kalian lakukan padanya! apa kalian manusia?!" teriak Lala menggema keseluruh ruangan dengan air mata berderai menunjuk semua preman disitu.