
-POV Kevin-
Cahaya kuning menyinari cambridgeshire. Parker menyampaikan infomasi yang mengejutkan saya pagi ini.
"Sejauh mana situasinya."
"Mayatnya hilang Tuan, kami mengejar namun gagal. Tapi anak-anak yakin yang membawa mayat itu salah satu anggota Fraksi Utara."
"Siapa yang melihat kejadiannya, Bill?"
"Tidak ada Tuan, kita sudah mengambil rekaman cctv sepanjang jalan itu."
"Kau yakin tidak meninggalkan sedikit jejak? sepertinya saya harus mengirim mu ke medan perang, Bill. Perform mu semakin hari buruk sekali," Aku menghela nafas.
"Am-pun Tuan, apapun perintah Anda. Satu lagi Tuan. Daniel semakin mengorek 'Black Lion' apa kita segera eksekusi dia?"
"Tidak, jangan sampai dia terluka, tunggu dia makan umpan. Setiap dia akan mundur, halangi. Kau awasi siapa yang memboncenginya."
"Baik Tuan, bukankah saya harus kembali ke Indonesia, karena ini?"
"Tidak, kau tetap di sini."
"Baik. Tuan sepertinya Tuan Luca masih berani mendekati nyonya Lala."
"Sabotase Mariano Group."
"Apa!? Serius Tuan?"
"Haruskah saya mengirim Lyra!"
"Baik,saya laksanakan. Sampai 50 persen kan, Tuan?"
"150."
"Harus sejauh itu?"
.
"Kau memang tidak becus, Lyra saja."
"Bukan begitu Tuan, Bukankah Tuan Luca yang paling menyayangi anda saat kecil."
"Saya tidak memintamu untuk berdongeng."
"Tapi setidaknya anda harus tau ini, Tuan. Saat di villa pantai, anda masih berusia 5 tahun. Anda terseret ombak, dia melompat ... berenang lalu mengikat anda dengan baju TuannLuca,pada sebuah papan dan memastikan anda selamat. Dia mengalami hipoterma, sampai akhirnya dia tenggelam. Beruntung saat itu Tuan Besar belum terlambat," ucap Billy mengelap matanya.
"Saya melihat Tuan Luca saat itu mulai membiru. Dia kritis, sampai dia meregang nyawa Tuan. 20 detik. Entah malaikat maut sedang membuat lelucon. Tiba-tiba dia hidup kembali," isak Billy dia mengendarai mobil lebih pelan.
"Sejak saat itu Tuan Besar mengalihkan perhatiannya pada Tuan Luca," kata Billy.
"Saat anda sebelum masuk TK, sikap orang tua anda berubah pada. Itulah yang saya tahu. Lalu Tuan besar sejak saat itu menyuruh saya berfokus pada pertumbuhan Anda, karena dia tak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dia ingin semua putranya benar- benar dijaga," ucap Billy terlihat tegar.
"Mengapa kau baru menceritakan ini sialan."
__ADS_1
"Tuan besar memintaku menyembunyikan ini."
"Oh terlalu banyak yang kau sembunyikan ya Bill!? kau yakin tidak ada yg kau sembunyikan lagi, Bill?"
"Tidak ada."
"Ck!"
"Lalu apa rencana sabotase itu dibatalkan saja?"
"70 persen."
"Tuan itu tetap saja bangkrut."
"Oh kau membela Luca yang berani memegang tangan istriku? Itu pun tak kau laporkan, sialan kau Bill," kataku.
"Itu saya tidak tahu."
"Sudah banyak yang tidak kau laporkan, Bill. Apa saya harus menembak Mr. P mu? Kau pikir saya bodoh?"
"Saya pikir beberapa tak terlalu penting untuk Anda, Tuan."
"Sialan siapa bosnya, kau justru mengatur. Kau bukan keluarga atau ayah, Bill. Sekali kau tak melaporkan, apa yang matamu lihat dan apapun yang kau dengar telingamu... Saya benar akan mengambil itu semua darimu dan menjadikanmu mayat hidup. Ck!"
"Am-ampun Tuan, saya lancang."
"Kau hanya Alat. Saya yang memutuskan. Saya terlalu baik padamu Bill. Jalani hukuman mu. Cari tahu kesalahanmu."
"Kau tahu kenapa saya jadi bos, dan kau jadi anjing. Karena saya tahu semua yang kau ketahui, dan kamu tidak tahu apa yang saya ketahui!" saya menendang jok Billy sampai pria itu sedikit tergoyang.
"Ampun, hidup saya seluruhnya milik Tuan."
Saya telah sampai di hotel kecil di perbatasan wilayah utara.
Saya melewati anjing-anjing penjaga, mereka yang hanya patuh pada perintah saya.
Di dalam kamar, dokter itu gemetaran. "Setelah peluru diangkat, dia hanya perlu beristirahat. Lebih baik dia ti-dak minum alkohol sementara ini, Tuan. Permisi."
Saya duduk di sebah lelaki payah itu dan teelonjak.
"Hamil dengan Kevin! orang gila itu sudah banyak menyakitimu! aku Johan yang membawamu dari neraka," teriak Johan dalam keadaan mabuk dengan tangan mengacung-ngacung ke atas.
"Seharusnya aku yang kau pilih," ucap Johan lalu berlinang air mata.
Saya tertawa kecil.
"Lihat dirimu Johan, apa kau pantas disebut pria?"
Perut Johan tertembak anak buah Richie.
Johan membuat masalah dengan membunuh anak buah Richie. Saya harus membersihkannya, saya tak ingin Richie sampai tahu ini.
"Tuan, apa kita akan mengirim Johan pulang?"
__ADS_1
"Ya, besok. Biarkan dia pulih."
"Ini hp Johan sudah dibuka passwordnya."
Saya meraih hp terebut, "Pergilah, kau terlalu mencolok."
Billy pergi dan menutup pintu, saya membiarkan kamar ini sedikit redup dan tidur sebelah Johan.
Hp dia menggunakan wellpaper foto Lala. Dada saya mulai bergemuruh.
Saya membaca kotak pesan Johan, "kau akan lomba basket disini?"
Saya menggulir lagi pesan, "Oh kamu dekat dengan Budi."
Saya gulir semua pesan Johan dengan Lala, membaca semua pesan selama satu tahun ini.
"Mereka tidak terlalu dekat," Saya menghembuskan nafas karena mereka menggunakan topik biasa.
Saya membuka folder foto. Jihan dan Alen terlihat dekat. Foto Johan kecil dalam gendongan Alen, wajah Alen dari dulu sama. Hm
"Jadi sepenuhnya Alen yang melatih kamu ya Jo? ini keren, saya menggenggam Alen. Alen harus menjadi anjing setia. Saya akan diam-diam menyatu dalam Fraksi Selatan."
Saya tersenyum puas, "Kekuasaan saya akan semakin besar. Tidak hanya fraksi utara yang ada dalam genggaman. sebentar lagi, sebentar lagi..."
Keberadaan Alen melicinkan tujuan saya, dia yang paling mengetahui seluk beluk ke Lima fraksi. Saya hanya perlu mengatur tali kekang pada leher Alen. Dia benar-benar anjing yang bisa diandalkan.
Bella dalam genggaman saya, ini juga hadiah untuk saya semakin mudah menguasai fraksi Barat.
Saya tersenyum penuh, bau kemenangan makin nyata. Enam puluh persen lagi, sampai semua akan tunduk di bawah kaki saya.
Dunia akan semakin kecil dalam genggaman saya.
Mencapai tujuan akhir ...
Dewi Fortuna mari bergandeng tangan.
Saya memejamkan mata tersenyum lebar. Ini sangat damai.
Anjing-anjing setia mengelilingi saya.
Saya memiringkan tubuh, mengacak-ngacak rambut Johan. Dia tampak lucu. Dia yang pernah dekat saya.
Namun, juga membangkitkan api dalam diri saya.
Tunggulah Johan, sampai pada waktunya. Saya tersenyum penuh menatap wajah cupu Johan dan menertawakan kebodohannya.
Bersambung ...
_______________________________
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍
__ADS_1