Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 180 : LYDIA DAN LUCA


__ADS_3

Mmm... kepala Lydia bagai pecah, rasanya seperti burung pelatuk telah menetap di sana. Tubuh tidak patuh, dan semuanya kering di mulut.  Air... Saya sangat membutuhkan air, hanya saja, selain yang lainnya, Lydia merasa sehingga  sangat ingin mengosongkan perut.  Mual ingin  mencoba membuka mata. Hmm, ada yang tidak berfungsi. Oke, sekali lagi mencoba... dan satu lagi gagal. 


Tuhan, berapa banyak yang sudah ku minum kemarin? Lagi pula, apa yang terjadi kemarin?


Jadi, dia perlu meregangkan ingatan ... 


Kemarin adalah hari jumat - itu bagus. Klub dan kemudian: segelas anggur, tidak ada tiga gelas, lalu tequila, lalu beberapa gelas. diikuti oleh dua gelas lagi dan tunggu,


Kenapa aku tiba-tiba minum banyak? Ah. ya. persis! Si brengsek main mata dengan segalanya! aku benci! 


Oke, mari kita lanjutkan - apa yang kita miliki di sana ..


oh ya, satu tembakan, lalu dua lagi dan seorang pria yang baik mengundang untuk berdansa. Menari dan dan kemudian gagal... 


Tiba-tiba,  Lydia merasakan  sesuatu  bergerak  di sebelah. Mata bergetar terbuka.


Sial, betapa cerahnya ruangan ini! Tapi ini melantur, siapa yang bisa berada di tempat tidur saya, atau apakah saya di tempat tidur orang lain.


Mata mulai mengamati ruangan tempat Lydia berada. Ya, itu bukan hotelnya. Hal berikutnya yang Lydia lakukan adalah mengangkat tepi selimut. Dan di sana Lydia benar-benar, matanya melebar. Tidak. Bagaimana saya berganti baju!


Di sebelah kanan, ada beberapa gerakan. Menekan dan dia hampir lupa bagaimana bernapas, Lydia menoleh dan membeku mengikuti tangan di atas perutnya.


Ada seorang pria di sebelahnya, sedang memeluk. Rambut hitam pendek di samping dan lebih panjang, tetapi tidak banyak, dan rambutnya sangat acak-acakan di bagian atas, seolah-olah telah disentuh sepanjang malam.


Jantung Lydia berdetak kuat, sekelebat bayangan mengingatkan tangannya menarik rambut itu. Dia kira itu hanya mimpi.


Lydia mengamati pria yang berbaring tengkurap yangmana menoleh ke arah Lydia, Wajah itu begitu tenang dan damai. 


Nah, bagaimana saya bisa tidur dengan PAMAN?


DEG saya kira itu hanya mimpi atau sebatas ilusi saat semalam saya mengenali hidung mancung paman.


Bahkan paman sempat tidak mengenali saya, setelah tiga tahun lebih tidak bertemu.


Jadi itu semua nyata. Lalu siapa yang mengganti baju ku dan kenapa?


Jadi.  oke, dirinya perlu  menenangkan  diri  dan meninggalkan ruangan ini, dan kemudian berharap ayah Johan belum bangun.


Astaga jam berapa ini!


Lydia merasakan tubuhnya semakin ditarik paman, membuatnya melebarkan mata dan jantungnya seakan berhenti.


Karena Lydia tidak terlalu mengingat apa dan bagaimana dia berakhir di kamar dengan sang paman.


Lydia dengan hati-hati melepas dan mengangkat tangan Luca. Namun, tangan besar itu mengencang genggaman pada pinggang sampai Lydia merasakan kehangatan dan berat kaki kanan paman yang kini terhampar di atas pahanya dan kening paman mendekat dan menempel di bahunya, membuat Lydia semakin tercekat, bagaimana bisa saya kabur.


Jantung Lydia makin berdetak begitu kencang. "Paman Luc... "


"Hahhh..." Suara bergetar sedikit marah pria itu, membuat Lyda membatu.

__ADS_1


"PAMAN!"


Lydia merasakan pamannya terlonjak, menjauhkan kepala dari bahunya."Minggir, berani sekali dekat! dekat!"


Lydia seketika merasakan dorongan keras membuat dirinya terguling.


"Aghh!" Blag "Auuuuw.. ighhh..." Lydia memegangi pinggang yang membentur dan mendarat kasar lantai. "PAMAN LUC !!!"


Luca melebarkan mata mendengar suara yang dikenalnya, dia salah mengira itu Ziya. Dia sempat terpaku dan ternganga melihat gadis yang sedang mengadu.


"Lydia, kamu kenapa?" Luca memandangi dirinya sesaat dan menyadari telah mendorong gadis itu, dia segera beralih turun dan duduk di lantai.


"Hah! paman yang benar saja, siapa yang mendekat! malah kamu mendorong keras aku begitu kuat. Ugh Sakit." Lydia menahan begitu nyeri saat tangan sang paman ikut mengelus pinggangnya.


"Ma'af ma'af... Bisa berdiri tidak?" Luca wajahnya menekuk terlihat khawatir, dia mengangkat Lydia ke kasur. "Bagaimana masih sakit? apa perlu di kompres?"


"Paman kenapa disini? tidak apa-apa sebentar lagi sembuh."


"Paman, yang harusnya bertanya. Kenapa kau bisa ditempat seperti itu hag?" Suaranya serak, Luca memegangi tenggorokannya. Mata menyapu seluruh ruangan.


Dia melangkah cepat, meraih botol mineral dan membukanya. Dia menenggak banyak sampai nyaris habis sebotol air mineral.


"Paman, nggak bilang ayah kan?" Lydia memijit pinggang


dengan wajah menekuk sambil mengamati sang paman yang berkaos abu-abu dan celana hitam sedang berjalan ke arahnya dan membukakan botol minum kemudian memberikan padanya.


"Ayahmu harus tahu ini.Jangan lagi mendatangi tempat seperti itu. Minumlah."


"Hih, kamu ini dibilangin malah lebih galak dari paman. Wah." Luca menerima botol dari Lydia, baru kali ini dimarahi seorang gadis, membuatnya merasa tidak terima.


"Paman bercanda kan!"


Luca bangkit, dan menuju kamar mandi, tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecil, "Tunggu, jangan kemana-mana."


Lydia turun dari tempat tidur, tidak tahu bagaimana dia bisa telah memakai pakaian terusan navy sebetis itu, mana gaunnya sangat longgar.


Dia menyapu pandangan dan mendapati tas. Dengan langkah- langkah kecil Lydia mendapatkan barang-barang itu lalu dengan hati-hati ke pintu.


Dia menjinjing sepatu saat tasnya telah menggantung di lengan dan meraih kenop dengan menahan napas melangkah keluar dan akan menutup pintu perlahan.


"Nona..."


DEG


Namun, karena hukum kekejaman, Lydia menoleh dan tidak bergerak saat seorang pria tua berjas tengah tersenyum di belakangnya.


Lydia menghela napas, dia tertawa menyengir saat lelaki itu menahan pintu agar tidak tertutup dan menarik tangan Lydia, tapi gadis itu melawan dan dengan mudah sang pria tua mengunci tangan Lydia ke belakang dengan masih menahan pintu tetap terbuka.


"Anda harus belajar lebih banyak, Nona. Silahkan masuk. Tuan Johan sedang perjalanan kemari."

__ADS_1


Pria itu sedikit mendorong Lydia.


"Apa!?" Alis Lydia terangkat sambil melangkah ke dalam, tepat saat sang Paman keluar dari kamar mandi dan mengibaskan tangan membuat, lelaki tua itu keluar kamar.


"Paman jangan seperti itu dong main panggil-panggil ayah!" Lydia menarik kaos di pinggang Luca saat lelaki itu mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil.


"Hah... dengar Lydia, kamu tidak tahu bahaya tempat itu." Luca menanggalkan handuk di leher sambil melangkah menuju pemanas air dan dibuntuti Lydia.


"Itu kan tempat senang-senang, dan Lydia bisa menjaga diri."


Luca menunduk menjaga jarak dua jengkal di depan wajah Lydia. "Lalu apa tadi malam? apa kamu tahu paman membawamu?"


"Paman, tadi malam itu," terdiam sejenak mengelus dagu. "Itu, baru tadi malam begitu. Biasanya tidak!"


"Lalu, bagaiman bila pria tak bertanggung jawab membawamu?"


Lydia memerjap pelan, "itu tidak mungkin. Lagian banyak teman dan penjaga itu, juga bartender mereka menjaga Lydia."


"Apa kamu bercanda? apa mereka akan begitu berbaik hati terus mengawasi mu?"


"Ahg kenapa paman yang repot si! Lydia bisa kontrol kok!"


Luca mendekat lagi. "Kamu tahu, paman juga masih lelaki, apa kamu sadar yang kamu lakukan tadi pagi pada paman?"


"A..ah apa... maksud pa-man." Lydia tercekat tak bisa mengingat apapun.


"Maka dari itu, jauhi minuman, dan jangan mengulangi lagi." Luca mendelik bersamaan gerahamnnya yang mengeras menatap intens pada manik mata cokla Lydia.


"Memang apa yang saya lakukan." Wajah Lydia terasa menegang, sudut bibirnya tertarik ke bawah, wajahnya menyiratkan keputus-asaan.


Luca kembali berdiri tegap, membelakangi Lydia dan membuka penutup teko, "kami menyayangimu. Karena itu kami melarang mu ke tempat seperti itu," kata Luca kembali dengan lembut sambil menuangkan air mineral dari botol besar ke teko.


"Tapi, kan juga paman ke sana, apa bedanya, sama saya? paman jangan sok suci." Lydia meninju pinggang Luca membuat Luca meringis sedikit mundur dan kembali maju menutup teko, dia kembali menatap wajah lusuh Lydia sesaat merasakan pukulan keras yang membuatnya merasakan nyeri.


Apa gadis itu tak ingat telah mengambil ciuman pertama ku? Sial.


Luca berdebar tidak menentuh, menyingkirkan sekelebat bayangan bibir manis Lydia dan kembali melihat teko menekan tombolnya. "Sudah cepat basuh wajahmu itu."


Luca dengan langkah panjang menuju nakas, meraih ponsel yang berdering dan terpaku menatap layar.


"Lihat ini ayahmu..." Luca menghadapkan ponsel dan tertera panggilan nama Johan, membuat Lydia mendengus dan wajahnya menegang dengan kilatan sorot tajam.


"Paman menyebalkan!"


Setengah berlari Lydia...


BLAKK!! membanting pintu kamar mandi begitu keras sampai tembok di sekitarnya bergetar, membuat Luca sampai mundur ke belakang, melebarkan mata dan baru menemui amarah gadis yang meledak-ledak itu.


Jantungngnya berdebar hebat saking terkejutnya. Matanya kosong saat duduk menatap pintu kamar mandi, dia menelan saliva saat menggeser layar ponsel. Dia geleng-geleng kepala dengan sikap Lydia.

__ADS_1


Menghela nafas panjang mengatur nafasnya. Kemudian dia berbicara dengan tenang pada Johan ditelpon.


__ADS_2