
"Kamu senang dengan hasilnya?" Mata Lala berbinar di sepanjang lorong kamar hotel.
"Kamu menanyakan itu lagi sayang? sudah berapa kali sejak kita dari rumah sakit?" Richie berhenti di depan kamar Lala.
"Aku tak percaya mas!"
CUP!
Richie melepas kecupan dari kening Lala. "Apa mau saya tunjukan kertasnya, atau kita panggil dokter-"
Jeglek- Pintu berderit dan Amber keluar dari kamar Lala dengan tas di lengan. Lala dan Richie menoleh saat Amber sudah memasang wajah cemberut.
"Amber, mau kemana?" Lala bertanya sambil mengambil alih gendongan Vino dari Richie.
"Regent Street." Amber meraih ponsel dan memeriksa isi dompet.
"Naik apa?" Lala mengerutkan kening lalu bertemu tatap dengan Richie.
"Tube."
Richie melirik dompet Amber, putri Lala itu memeriksa Oyster Card.
*Kartu yang digunakan untuk London Underground (tube/kereta)/bus/train tertentu/DLR/London Overground/layanan ferry di Sungai Thames adalah Oyster Card*
"Ayo, Paman, antar ... " Richie melepas jasnya dan memberikan ke bahu Lala.
"Enggak ... " Amber menanggapi dengan ketus, memasukan dompet ke tas, meraih ponsel dan mengecup Vino yang terlihat lelah.
"Ayolah, sayang, lagian sendiri seperti orang hilang." Lala melembutkan suara.
"Amber pulang agak malam, ibu ..." Amber mengecup pipi Lala dan melangkah ke koridor tak menggubris paman.
"Loh, jangan malam-malam, jam sepuluh." Lala sedikit berteriak saat Richie juga mengecupnya.
"Hati-hati, mas, jangan terlalu keras padanya."
"Kapan aku keras?" Richie mengusap telinga Lala dan mengecup Vino yang setengah terpejam.
Lala menatap kepergian Richie yang menyusul Amber. Baru pintu kamar tertutup, ponsel berdering. Lala meletakan jas Richie di kursi, dan tas di nakas. Dia menjepit ponsel itu dan menatap sebuah panggilan video call dari Kevin.
"Vino mau tidur." Lala mendapati Kevin yang berada di tepi laut sampai suara angin begitu jelas.
"Kapan kamu bawa pulang Vino. " Kevin menatap putranya yang setengah terpejam dan Lala yang menggendong di kamar.
"Aku tidak akan kembali." Lala melempar ponsel ke kasur, dan merebahkan Vino.
"Oh ya?" Kevin menatap layar hp yang menampilkan langit kamar. "Vino juga butuh papahnya."
__ADS_1
Menaruh tas ke nakas, dan merebahkan diri di samping Vino. "Ya, kita pernah bahas ini. Kita atur waktu dan ... " Lala duduk lagi, melepas tali sepatunya kanannya.
"Dimana wajahmu, aku mau melihatmu."
"Dan aku tidak mau melihatmu." Lala melepas sepatu kiri dan menjauh dari tempat tidur meletakan di sudut ruangan.
Lala selesai mandi dan Vino masih tidur. Dia memakai piyama dan memeriksa panggilan yang masih terhubung. Lima belas menit semenjak dia melepas sepatu.
Menguap, Lala menyalakan tv dan meraih biskuit untuk dibawa ke nakas sebelah kasur
"Lala ... ayolah ... aku tahu kamu di sana."
Meraih ponsel dan menggunakan kamera belakang. "Lihat, dia tidur, lucunya ... " Lala melahap biskuitnya.
"Vino, papah kangen kamu, boy." Kevin menatap Vino yang tidur melongo dan tangan di dekat pipi. "Kenapa dia tidur sore?"
Lala menelan biskuit. "Seharian di luar, dan hanya tidur siang sebentar."
"Apa hari ini, kamu tidak menengok ketiga putrimu?"
"Mereka sibuk dengan teman kuliahnya. Apa kamu sudah tahu pacarnya Isla?"
"Hanya putra dari seorang professor." Kevin berbicara dingin.
"Terdengar bagus .... " Lala menatap Kevin yang melepas kancing kemeja sampai tiga kancing teratas itu terbuka. "Kevin, tempatkan satu saja bodyguard untuk Isla. Kamu membuat pacar Isla ketakutan dengan kamu memberikan empat penjaga."
"Tidak bisa." Kevin bersikukuh. "Lihat saja, siapa yang berani main-main dengan putriku."
"Tidak."
"Biarkan Isla mengenal dekat Anton, lebih cepat Isla tahu karakter asli Anton lebih baik, kan."
"Lala, aku belum tentu menyetujuinya. Latar belakang keluarganya terlalu biasa."
"Professor ... kamu bilang biasa? kamu mau yang seperti apa lagi? dan Isla belum tentu serius, berikan mereka kebebasan untuk kencan. Bahkan menonton bioskop, kamu tak mengijinkannya. Kevin kamu kejam. Kita tidak pernah tahu dalamnya hati seseorang, dan aku takut bila Anton suatu saat melakukan kekerasan, jadi biarkan Isla mengenalnya sendiri."
"Nanti, aku pikirkan."
"Aku mau tidur."
Kevin menatap Vino terakhir kali. "Boy, aku mencintai mu ... "
"Bye, Papah-Vino."
"Ya, terima kasih, Lala."
Bip!
__ADS_1
Lala mencharger ponselnya dan merebahkan diri memeluk Vino yang sangat damai setelah terus menangis saat perjalanan pulang.
...**...
"Aku mau pergi sendiri!" Amber berhenti saat paman Richie terus mengikuti sampai loby.
Sebuah mobil Roll Royce Phantom menepi. Seorang sopir membuka dan menarik pintu penumpang ke belakang, terlihat dari desain pintu yang dibuka secara berlawanan arah, atau disebut coach doors.
"Amber ... masuk." Richie menggelung kemejanya.
Amber mematung, tidak suka dengan aura perintah itu, membuatnya seakan harus mematuhi. Seharusnya dia menolak tapi entah terhipnotis atau apa menjadikannya sulit untuk menolak. Amber menggeleng kepala, dia tidak mau satu kursi. Dia membuka pintu depan dan duduk di samping pengemudi.
Richie mengangkat bahu dan duduk dengan elegan di kursi belakang.
Mobil melangkah melewati Picadilly dalam keheningan.
"Amber, apa pacarmu bernama Bobby?" Richie berkata dengan dingin.
Mata Amber membesar. Padahal ayah Jo tidak mengetahui ini dan dia pacaran diam-diam. "Saya tidak memiliki pacar. Dan anda jangan ikut campur urusan pribadi saya."
"Oh, begitu. Saya kira Bobby Halim Narendra pacarmu. Bukan ya? Baguslah. Biarkan saja mereka memadu kasih."
Amber menyipitkan mata. "Memadu kasih apa?"
"Anda bilang bukan pacarnya, ya sudah tidak perlu dibahas."
Mendengus, Amber menoleh ke belakang menatap paman dingin. "Mengapa Paman berbicara seperti itu. Fine, dia pacar saya. Jadi apa maksud Paman?" Amber yang sudah seminggu tidak mendapat kabar dari Bobby menjadi bingung karena perkataan Paman sok tahu ini. "Dan kemana kita akan pergi? ini bukan ke Regent St!"
"Saya mau melihat Bobby Halim Narendra." Richie menatap ke luar saat hari mulai gelap, gemerlap lampu menghiasi toko kelas atas di sepanjang Oxford St. Sayangnya, dia tidak bisa menyogok Amber dengan uang, gadis ini keras kepala ... bila salah sedikit saja, pasti gadis itu menentangnya. Tawaran apapun selalu ditolak Amber. Bagaimana jika kita tunjukan, betapa busuknya pacar Amber.
**
"Mengapa kita ke mari?" Amber masih mencoba mencerna situasi saat berjalan hampir mendekati Bianglala.
"Kamu yakin Boby yang kamu pacari lebih dari dua tahun, sosok yang kamu dambakan, Amber?"
"Tidak perlu bertele-tele, saya akan pulang! Dari awal salah saya mengikuti Paman." Amber tidak mengerti kenapa paman Richie membawanya ke London Eye, tidak mungkin kan jika paman mengajaknya naik Bianglala dengan tinggi 135 meter.
Richie memegang bahu Amber dan membalikan Amber tepat ke kapsul kaca, yang sedang terbuka.
Amber mengerutkan kening, mengenali sesosok yang baru keluar dari kapsul. Itu, Amber menajamkan penglihatannya, mungkin pria itu hanya mirip, tapi Ia yakin dengan apa yang di lihatnya. Memang benar, Boby ... pacarnya itu memeluk pinggang perempuan. Amber dengan dada yang terasa mendidih menghampiri pacar backstreet nya.
Richie termenung mengamati Amber yang sedang ribut dengan cecunguk kecil. Ketika Bobby melayangkan tangan ke udara untuk menampar Amber, Richie menahan tangan itu di udara.
"Apa kamu begitu mudah bermain tangan terhadap perempuan?" Richie memuntir tangan itu ke belakang dan menendang punggung cecunguk itu, dan Bobby tersungkur. Richie melirik Amber yang pergi ... dan Anak buah Richie datang.
"Urus dia." Richie menunjuk Bobby yang dibantu bangkit seorang gadis.
__ADS_1
"Sekali lagi, kau menemui Amber, kau berurusan denganku ... " Richie menggera menginjak dan memuntir sepatu Bobby sampai pria itu meng..erang kesakitan.
Dalam sekejap Richie kehilangan Amber yang pintar menipu anak buahnya, sampai kehilangan jejak. "Apa ada yg melihatnya?" Richie bertanya pada supirnya, saat mobil melaju di jalanan.