Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 90 : RUMAH SAKIT


__ADS_3

-POV Lala-


Bau diinsfektan begitu kentara di ruang rawat inap. Jam menunjukan sebelas malam dan sudah satu jam aku duduk di samping Johan.


Dia terlihat seperti anak kecil saat tidur. Tanganku menyingkirkan anak rambutnya. Kening itu masih demam. Lelaki berwajah indo banget ini seperti bayi yang tengah tidur dalam keranjang bayi.


Baru kali ini aku melihatnya tidur, mengapa kau terlihat lemah, dimana kamu yang dulu ceria. Bukankah ceria itu daya tarik mu seperti magnet kuat yang bisa menyedot semua perhatian di sekitarmu. Banyak wanita baik di sekitarmu. Bukankah seharusnya kamu mulai membuka hatimu untuk mereka?


Telinga Johan terasa dingin saat aku menyentuhnya, "Johan, aku senang kamu datang menemui ku dan juga putri-putrimu. Terimakasih telah menyentuh mereka, aku yakin mereka sangat senang."


"Harapan memiliki hubungan baik denganmu, sepertinya akan sulit. Kita menelan pil kekecewaan, maaf ... aku membuatmu sakit. Aku terlalu banyak menyalahkan mu, maaf ... aku sangat menyesal."


"Aku tidak pernah ingin kita berada dalam keadaan Ini. Kamu adalah hal terbaik yang telah terjadi padaku.'


Aku menyandarkan kepala di dekat pinggang Johan. Aku memejamkan mata lama.


Sentuhan hangat menyentuh pipiku. Itu terasa nyaman. Sangat nyaman. Kemudian aku terbangun


Itu tangan Johan sedang mengelus pipiku. Kulihat dia tengah tersenyum lemah padaku, aku mematung.


Dia sudah sadar, tatapan Johan menusuk ke dalam relung jiwaku. Sama Jo, Kamu juga mengukir terlalu dalam.


"Aku panggil dokter," kataku dengan tubuh bergetar aku beringsut menjauh dan itu tak berhasil karena Johan menahan tanganku seakan tak mengijinkan aku bernafas sejenak.


"Kamu memang hobi kabur Lala." Johan mengangkat tombol panggilan dokter di tangan kanan dan menggoyangkan tombol, dia menarik tanganku mendekat padanya.


"Kabur?" tanya ku lebih membungkuk ke arah Johan, tanganku gemetar mengambil alih tombol panggilan itu lalu aku menekannya.


"Berkat kamu yang hobi kabur, kita jadi bertemu. Tapi Lala, jangan kabur dariku ya," lirih Johan.


Tangan kanan dia meraih rambut panjang kananku, tangannya sempat menyentuh telingaku membuatku semoat terpejam.


"Jangan terus membual," kataku menengok ke bawah, tatapan kami bertemu, pipi Johan memerah.


Jari telunjuk Johan yang membelit seuntai rambutku membuatku sedikit tertarik lebih dekat Johan.


Hidung mancungnya menghirup rambutku dengan nafas Johan yang terdengar memburu dan hagat nafasnya menyapu pipiku.


Jantungku berdegub cepat, saat dia meraih kepalaku dan akan mengecup bibirku membuatku telonjak, refleks aku bertumpu pada dada bidangnya dan aku menjauh membuat dia tersenyum masam.


"Kita akan segera pulang. Kamu tidak minum antibiotik mu? kamu ceroboh sekali," kataku mencoba mencairkan suasana saat aku mendorong tangan Johan agar melepaskan tangan kiriku dari genggaman hangat Johan.


"Tau darimana?" tanya dia.


Aku bergegas mengambil hp Johan di nakas di sudut ruangan.


"Itu kata dokter lewat security kantor," aku membuka Laci sambil memikirkan akan menghubungi siapa.


"Kau harus minum obat rutin. Karena sikap masa bodo mu itu, kamu sampai demam, kamu harus banyak istirahat. Ah kamu menyebalkan, Jo. Bagaimana bila itu parah?"


"Seperti seorang istri," kata Johan.


Aku membalikan badan, "Apa?! otakmu sepertinya konslet."


"Kau terus mengomeliku seperti istri pada suaminya," kata Johan datar.


"Jo, sudah. Lebih baik kita berteman, itu terdengar menyenangkan?"


"Berteman? Cukup bagus. Lebih baik lagi Teman tapi mesra, bagaimana?" tanya Johan.


"Tidak, aku akan menghajar mu."


"Sekarang kamu tambah galak. Jika begitu aku mau dihajar kamu Lala," kata dia dengan senyum nakal.

__ADS_1


Aku berjalan ke arah Johan dan menggelengkan kepala.


Meski dia tengah sakit, masih saja hobinya mengangguku, "Mau aku menghajar mu, dengan apa?" tanyaku.


"Cinta."


"Cinta palsu, Aku akan terus memberikanmu dan menghajar mu dengan itu Jo," kataku sambil mencari -buku kontak- di hp Johan.


Walau kami sering bercanda. Terkadang .. aku sulit membedakan mana yang serius dan mana yang tidak.


"Percayalah, aku akan, kembali memenangkan hatimu," kata Johan terlihat serius. Dia memparodikan ungkapan cinta ala korea membuat aku tersenyum lembut.


"Aku menunggu."


"Yakin La?"


"Tapi bohong," kataku meledek.


Cukup lama kami tertawa, hatiku menghangat, jantungku berdebar.


"Aku akan menghubungi mama Tiara," kataku.


"Tidak perlu menghubungi mereka. Besok malam aku balik."


Mungkin Johan tidak ingin membuat keluarganya khawatir, aku hanya mengangguk. Jadi dia akan pulang? Ada desiran aneh saat mendengarnya. Seakan aku tak rela jika dia menjauh.


"Johan, kamu berkelahi dengan siapa?" tanyaku saat dia menekan tombol, menaikan setengah ranjang agar lebih tinggi.


"Ini peluru nyasar, tak usah dipikirkan."


"Jaga dirimu, Jo."


"Kamu masih mengkhawatirkan aku? seharusnya kamu tidak perlu lagi. Kamu semakin memberikan harapan untukku, La." Sudut bibir Johan tertarik kebawah dengan mata kelam membuat ku terdiam dengan meremas kuat mantelku.


"Lalu aku semakin berharap bisa memelukmu lalu mencium kamu lagi," kata Johan.Dia mencoba mengukir senyum yang terlihat dipaksakan. 'Aku tidak suka saat melihat Johan begini'


TOK-TOK


Dokter masuk menghentikan aksiku.


Aku membulatkan mata lebar melihat siapa yang berdiri di belakang dokter. Satu orang membius sang dokter. Yang lain menghampiri kami.


Aku menengok Johan, dia sedang menarik infus dari tangannya.


dia turun dari ranjang lantas berpindah ke belakang ku setelah dia menendang keras dua orang yang menyerang tiba-tiba.


Bugh! Bugh!


Johan menghalangi orang yang akan mendekatiku.


Delapan orang menghajar Johan, "Awas Jo!" teriakku. Aku sangat takut, Johan mana mungkin bisa mengalahkan mereka.


"Belakangmu!!" teriakku dan Johan langsung membungkuk, nyaris kayu itu memukul kepala Johan.


Satu orang mendekatiku, "Jangan, siapa kalian!" aku terus mundur sampai punggungku menyentuh tembok yang dingin.


Wajah mereka tertutup.


Aku menoleh mendengar suara keras, Johan telah tersungkur.


Badanku gemetar, suasana sangat mencekam,"Jangan sakiti dia!"


Johan membalik badan. Tendangan keras mendarat tepat di perut Johan, "Jangan!!!!!!"

__ADS_1


Wajah Johan sudah banyak bekas pukulan. "Johan," dadaku sakit saat dia memiringkan badan, meringkuk ... memegangi perut dengan gigi yang menggertak dan kesakitan.


Dia menatapku dengan tatapan dalam di tengah ringisannya.


"Pergi!" teriakku berkali-kali dengan lutut gemetar saat orang itu menarik tanganku.


Lelaki itu akan mengikat tanganku, tidak lama laki-laki itu terpelanting ke lantai karena tendangan Johan. Tanganku sempat ikut tertarik tapi ditangkap Johan. Hingga aku tidak sampai terjatuh, aku mendekap erat Johan aku takut, ketakutan dan traumaku akan kambuh...


BUGH.


"Johan!!" tangisku saat tendangan keras mengenai kepala Johan.


Johan terhuyung, aku menahannya. Darah Johan begitu basah di tanganku. Dia berdiri lagi dan melepaskan aku.


Pikiranku kalut, aku berbalik meraih hp Johan di kasur dengan gemetar. Tanganku mengelap mantelku agar darah hilang dari tanganku.


Sulit sekali konsentrasi, berkali-kali aku salah membuka menu, aku hanya perlu mencari riwayat panggilan.


Ketemu, nomer Kevin.


"Hngggghhhh!!!" aku sesak saat tangan besar itu membekap wajahku. Tangan ku berusaha meraih-raih tangan besar itu. Tangan itu begitu kuat, aku membelalakkan mata hampir kehabisan nafas, tanganku mencengkram kuat pada tangan itu.


"Lala!" suara Johan terdengar mengecil, pandanganku semakin kabur, tubuhku seperti melayang. Semakin Gelap.


...🍀🍀...


Dalam perjalanan Kevin tengah bersama Parker menuju wilayah utara.


Parker mengemudi, tangan parker membenarkan posisi earpiece. Seseorang disana sedang memberi informasi padanya.


"Tuan, mereka telah membawa Nyonya," kata Parker gemetar.


"Security itu tolol. Dia tak segera melapor!?" geram Kevin dengan mata nyalang.


"I-itu security pengganti. Security yang seharusnya berjaga, pulang tadi sore karena sakit."


"Berapa lama security itu bekerja, sampai tidak tahu ada fasilitas kesehatan 24 jam?! mengapa membawa Johan ke rumah sakit. Konyol."


'Saya sudah menjauhkan Johan. Namun, takdir memang mengharuskan Johan dan Richie bertemu?' batin Kevin.


"Kita serbu ke markas Tuan Richie?"


"Tidak perlu. Lala mungkin bisa mengatasinya."


"Baik Tuan."


"Berikan perlindungan pada keluarga Lewis, terutama tante Tiara. Susupkan pelayan terlatih."


"Baik bos, tapi," kata Parker terpotong.


"Siapkan peti mati," kata Kevin dingin.


"Ha?" Parker ternganga matanya mendelik.


"Siapa tau mereka menghabisi Johan," kata Kevin memelankan suaranya dan tangannya mengepal.


Tangan parker gemetar, "Apa!??? Kenapa kita tidak mencegahnya, Tuan?"


"Johan yang membuat masalah di wilayah Richie, dia harus menanggung perbuatannya sendiri. Siapkan dokter bedah terbaik, mungkin ada operasi besar."


"Bos, Dokter Vincen berada diluar negeri. Butuh sebelas jam penerbangan untuk kembali."


"Hm," jawab Kevin.

__ADS_1


"Apa Johan bisa selamat,Tuan?"


"Tergantung Istriku," kata Kevin, sorot matanya melayang jauh ke luar kegelapan malam.


__ADS_2