Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 112 : MUAK


__ADS_3

Plak Plak!!


Tamparan dua kali di pipi kiri-kanan Alen dan lelaki itu hanya diam mematung. Lala terlonjak, hatinya bergermuruh, tidak terima ada yang menyakiti sang ayah, tapi Kevin menarik Lala duduk di pangkuannya, mulut Lala mengatub tak tahan melihat ayahnya.


"Mengapa kau menyembunyikan dia? Apa kau yang menculiknya??" tanya Rumi dengan sedikit berteriak. Aura mendominasi Rumi begitu kentara di ruangan itu, wanita yang berdiri sangat dekat ... hanya sejengkal dengan Alen. Tinggi Rumi yang -sebahu Alen- membuat wanita itu harus mendongak.


"Bukankah kamu yang mau menyembunyikan dia? Bila tidak ada penculikan itu, apa mau menyembunyikan dia dariku tanpa memberitahuku?"


Glek. Rumi menelan salivanya, mengapa Alen bisa menebak jalan pikirannya, dia memang tak bermaksud memberitahu kehadiran -Lala kecil- pada pria ini. Itu hanya kecelakaan, tak ada alasan untuk tetap berhubungan dengan lelaki itu. Rumi berteriak, "aku mencarinya bertahun-tahun, sampai harapanku pupus untuk menemuinya, mengapa kau tega sekali! Dia anakku!"


"Dia juga putriku! Apa kamu kira aku akan membiarkan dia diasuh lelaki lain! Tidak akan. Dia putriku. Hanya aku yang boleh merawatnya!"


Plak! Tamparan keras mendarat pada pipi Alen. Bekas tamparan tadi saja meninggalkan kemerahan di pipi putih Alen yang yang berjamban pada garis rahangnya yang menonjol, kini bekas tamparan itu semakin meninggalkan jejak merah, semerah tomat, Lelaki itu hanya mengigit bibirnya sedikit meringis merasakan begitu panas tamparan wanita yang biasanya terlihat kalem selama dalam pengawasan Alen.


Rumi memukuli dada dan wajah Alen dengan sangat kuat. Namun, lelaki itu hanya menatap begitu dalam.


"Hentikan tante rum! Anda menyakiti ayah saya! " Kata Lala sangat jengkel, dia mendekat memeluk dan melindungi ayahnya, sampai satu pukulan kecil mengenai kepala Lala, membuat rumi tersentak dan menghentikan pukulannya.


"Alea ini mamah, ini mamah, peluk aku..."


"Tidak! Ibu Lala sudah tiada, iya kan ayah??? " Lala mendongak ke ayahnya yang terus menatap Rumi, Lala tak mempedulikan sakit akibat pukulan tangan Rumi.


"Kenapa ayah tak menjawab, apa ayah kenal tante Rumi? Ayo ayah kita pergi," kata Lala sangat tidak nyaman, dia terus menarik lengan sang ayah. Namun, ayahnya begitu kuat, tarikan Lala sama sekali, tidak membuat tubuh sang ayah bergeser.


"Dia mamahmu sayang."


Lala tertawa.


"Kalung itu milik mamahmu, bukankah, ayah sudah bilang padamu,"kata Alen merangkul punggung Lala agar mendekat ke Rumi.


"Tidak, ibu Lala di surga. Kenapa ayah bilang begitu, pasti ibu akan sedih."


"Tatap baik-baik mamahmu, lihat warna mata kalian sama."


"TIDAK!!!!!!" Lala menjerit, suaranya menggema di ruangan besar itu.


"Ibu telah tiada!! Jangan mengusik ketenangannya!! Mata ini hanya kebetulan. Jangan hanya karena kalung itu, lantas kalian mengira itu semua benar.Lala katakan sekali lagi, TIDAK! AKU BUKAN ANAK TANTE!!"


Rumi mendekap Lala, wanita hamil itu mengayunkan kedua tangannya keluar dari pelukan Rumi. Lala pergi meninggalkan mereka.


"La, mau kemana kamu," Kata Alen dengan helaan putus asa.


"Itu tidak lucu. Ayah membuatku kecewa. Aku tak akan mempercayai itu."

__ADS_1


"Mari kita lakukan tes DNA, putriku."


Lala berbalik, "siapa takut, dan anda jangan kecewa dengan hasilnya, tante Rumi," kata Lala datar, tidak terima ada orang yang mengaku-ngaku jadi ibunya.


Sejam kemudian...


Dokter memberi hasil pada Lala, semua orang berpusat pada wanita itu yang terlihat geram dan mengedarkan pandangan ke semua orang, kecuali ke Rumi, bahkan Lala tak menganggap Rumi ada di ruangan itu.


Tangan lentik itu membuka amplop coklat, menjembreng kertas di dalamnya. Wanita hamil itu tertegun lalu tertawa setelah membaca dan mendelik, membuat semua orang diruangan itu tertegun.


Alen menangkap tatapan tidak suka putrinya. Tatapan anak dan ayah itu membuat semua orang merinding.


Kaki Lala menghentak," Sampai begitunya, sampai hasil ini pun direkayasa." Lala menggelengkan kepala, meninggalkan mereka yang masih bingung.


Sepekepergian Lala, tiada yang membuka suara, hening, ruangan itu semakin mencekam. Kevin ke bekas tempat yang di dudukki Lala mengambil hasilnya. Begitupun Luca dan mamahnya, berdiri di belakang Kevin.


Dokter keluarganya sangat terpercaya, tidak akan pernah berani sampai merekayasa . Mereka benar-benar terkejut melihat hasilnya.


"DNA nya Cocok," kata Kevin dengan suara bergetar, dia mengerjapkan mata, sampai mengucek-ngucek matanya tak percaya, tetapi hasilnya tak berubah.


"Dia ibu Lala? Ibunya Guskov adalah ibunya Lala?" gumam Luca yang di dengar Kevin.


"Ha? Lala anak Rumi? bagaimana bisa?" gumam Sheril, langsung memijit keningnya, bahkan teman dekatnya itu tak pernah cerita dia mempunyai anak perempuan.


Anton dengan tatapan dalam, meminta jawaban Kevin. Kevin mengangkat bahu, dia tidak tahu apa yang terjadi dan masih mencoba mencerna, atas setiap apa yang didengar dari Alen dan mamanya Guskov itu. Luca yang peka dengan keingintahuan Anton, segera merebut kertas itu dari Kevin dan menyerahkannya ke Anton.


'karena Alen sudah tau itu Ibunya Lala? mengapa menyembunyikan dari Lala? tega sekali, Lalu kuburan siapa yang pernah aku datangi bersama Lala, yang katanya itu makam ibu Lala?' batin Luca, kepalanya begitu sakit hanya dengan memikirkan.


Tatapan terkejut Kevin membuat sang asisten itu ikut terkejut, pasalnya selama mencari informasi Lala dari awal, tidak memperlihatkan keganjilan pada informasi kematian ibunya.


Seakan langsung tahu tugasnya, Parker segera pergi mencari tahu teka-teki yang bercokol di kepala mereka.


"Mengapa Lala bilang aku telah tiada ha!??? Apa kau menyumpahiku? Tega sekali kau bilang begitu padanya!??"


"..."


"Jangan hanya diam,oh sepertinya kamu telah tahu banyak selama ini tentang aku ha?? Mengapa kau tak datang mencariku! aku yang mengandung dan melahirkannya! Bahkan kau tak punya rasa kasian sedikitpun!"


Tinjuan keras mendarat di perut Alen, sampai lelaki itu terdorong, "Aku berbicara padamu!!"


Anton, Sheril, Luca hanya diam, tidak mau ikut campur, sedangkan Kevin telah pergi menyusul Istrinya.


"Ayo kita yakinkan putri kita," Kata Alen dengan suara baritonnya.

__ADS_1


Rumi semakin jengkel, tapi marah-marahpun tidak ada hasilnya. Bagaimana bisa putrinya bahkan tak mau mengakuinya, apakah penculikan itu salahnya? Jika bukan karena itu pasti dirinya juga membesarkan Lala dengan penuh cinta. Kurang sakit apa lagi, dua puluh tahun Rumi telah kehilangan kesempatan membesarkan Lala, sekarang apa ini...


Kenyataan pahitpun harus dihadapi setelah bertemu, justru putrinya menolak mentah-mentah. Membuat hati Rumi begitu sakit apalagi ucapan Lala yang terus menyangkal dan kekeh mengira orang yang telah melahirkan anak itu, telah mati.


Di danau Istana, setelah Lala memaksa Siska mengantarnya, dia duduk termenung di rumput, tak mau di ganggu siapapun.


Namun itu tak berhasil, suaminya mengikuti dia dan duduk di sebelahnya. Setelah diam cukup lama sampai setengah jam an dan hanya menggenggam tangan Lala ke pangkuan Kevin, Lelaki dingin itu pun mulai membuka mulut, setelah sempat mengusap rambut Lala.


"Kita harus bersyukur, mengetahui mama mu masih hidup, artinya kamu memiliki kesempatan untuk merasakan hangatnya kasih sayang Ibu."


Mendengar itu, Lala menarik kuat-kuat rumput di tangan kiri, sampai rumput itu tercabut. Suaminya itu justru membuat semakin gedek.


Kevin membenamkan kepala istrinya ke dada,"itu hadiah yang luar biasa menurut saya."


Segenggam rumput yang tercabut dengan akar dan tanah yang menggantung itu di lempar Lala kuat-kuat ke danau.


PLUNG!


Bunyi cemplungan saat lemparan itu menyentuh permukaan air dan air langsung menciprat ke arah mereka, membasahi dada Kevin dan sweater Lala.


Wanita hamil itu kembali mencambut rumput-rumput diantara paha selonjornya sampai tercabut akar dan melemparkan lagi.


PLUNG! PLUNG!


Cipratan air lebih besar mengenai mereka, sampai mata Kevin terciprat, dan lelaki itu mengusap mata dengan lengannya, dia mengunci tangan Lala, mengibaskan remahan tanah itu dari tangan Lala dan mengotori celana leging hitam Lala.


Masih dalam dekapan Kevin, suaminya itu membersihkan celana sang istri, lalu memangku dan menahan tangan Lala.


Wanita yang tengah dipenuh rasa amarah di dada itu menenggelamkan wajah di ceruk leher berotot itu, dia mengusap-ngusap wajah disana, reaksi tubuhnya tak bisa diam, sesuatu di dalam hati seperti akan meledak kuat.


Lala merengek-dan berteriak, "Ahhhhhh!!!!!....


"Dari kecil, aku selalu di bully, mereka selalu mengejek aku tak punya ibu. Semua ibu mereka datang ke sekolah, mengantar-jemput sekolah, sampai para tetangga juga selalu menjelek-jelekan ibu.


Tangan kanan Lala yang kotor, bergerak tak beraturan dan pose menggambar di dada Kevin, membuat jas dan kemeja abu-abu itu kotor oleh tanah. "Mereka bilang ibu murahan, dan semua kata-kata yang lebih menyakitkan. Bahkan mereka mengusirku dengan kekerasan dan mengatakan aku anak haram, anak buangan, anak hasil selingkuhan..."


Bibirnya kelu, Lala tak meneruskan ceritanya.


Lala menarik nafasnya dalam-dalam dan menghelanya kasar, "setiap bulan aku selalu ke makam ibu untuk mendoakan ibu. Bahkan saat SD aku selalu mendatangi makam tiap minggu. Merasakan kasih sayang ibu di samping pusarannya."


Lala mencengkram kuat jas Kevin, "Lalu apa ini? aku tak akan mempercayai itu, mereka semua pasti bohong. Apa perlu aku menunjukkan pusarannya!" kata Lala berapi-api dan penuh kebencian, badannya sampai terasa demam saking tak terimanya.


"Bagaimana jika orang yang melahirkan kamu ternyata masih hidup, Babe? seandainya makam itu bukan berisi ibu? apa mau kamu mengecek ke sana, istriku? tapi kondisimu yang sebentar lagi melahirkan tidak mungkin untuk terbang."

__ADS_1


"Mengapa kamu tak mempercayaiku!!!!" Lala memukul dada Kevin, menatap benci sang suami.


Lelaki itu sedikit tersenyum membuat Lala semakin muak.


__ADS_2