
Menjelang siang, suara kicau burung, musik gamelan dan aroma rempah dari Lilin begitu memanjakan Lala.
"Saya penasaran dengan apa yang anda gunakan, ini tidak berminyak dan tidak lengket," kata Lala saat terapis profesional membantunya bangun.
Terapistersenyum melihat ibu hamil itu nampak lebih rileks, setelah mengeluh keram pada kaki, bahu dan leher.
"Nyonya, saya memijatnya dengan minyak biji anggur. Minyak terapi terbaik untuk ibu hamil, ini pasti lebih aman. Daripada minyak essensial yang bisa terserap kandungan kimianya ke bayi."
Lala mengangguk dan tersenyum puas karena terapis telah mempertimbangkan tingkat keamanan untuk bayi.
Pegal dan tegang yang dirasakan Lala sudah merada dan Terapis membantunya berdiri. Lala melewati sekat, kemudia melepas kemben dan celana da lam.
Bau bunga mawar itu begitu kentara, membuat pikiran semakin fresh. Dia memasuki bathtub bundar, membelah kelopak-kelopak mawar merah yang mengambang di permukaan air.
Hangat menjalar di kaki yang mulai tenggelam dan duduk dengan perlahan. Kelopak mawar mulai menutupi tubuh. Lala memainkan dengan meraup banyak mawar diantara kedua lengan lalu mengangkatnya.
Dengan penuh senyuman, melemparkan ke atas.
Cipak!
Mawar-mawar basah itu jatuh ke kepala dan badan, membuatnya tertawa kegirangan. Lala mengulangi beberapa kali.
Wajah dan rambut mulai basah, Lala memejamkan mata, "Enaknya... uuuuhh!" hidungnya kembang kempis akan bau mawar yang menggoda.
"Nyonya, sudah belum? saya masuk ya?"
Lala membuka mata, lalu menengok belakang. "Iya sudah, masuk saja."
Terapis wanita berpakaian putih duduk di dekatnya dan mulai memijat kepala Lala. Pijatan itu membuat Lala keenakan. Semua beban saat itu terasa sirna, sampai ia benar-benar tidur tanpa bermimpi.
"Nyonya, sudah selesai. bagaimana rasanya, lebih enak atau masih pegal?"
"Ah iya, semua pegal saya hilang, maaf ya jadi ketiduran."
"Tidak apa-apa nyonya. Syukurlah, saya senang karena nyonya sudah lebih baikan, permisi," kata terapis, mundur ke belang dengan senyum manis dan menutup pintu.
-Terusan pink fanta- panjang sebetis yang telah disiapkan Inem segera dipakai. Lala akan keluar, saat Inem masuk. "Nyonya, duduklah. Saya akan mendorong anda, kasian si kembar." Inem membujuk Lala. Dari kemarin dia terus dimarahi Tuan, karena sang nyonya menolak menggunakan kursi roda.
"Saya sehat, Inem. Tidak nyaman bila harus terus duduk, loh." Lala melewati Inem begitu saja.
Lala tidak mau dituntun. Lebih baik jalan. Dari pada hanya makan, tidur dan duduk.
Di depan pintu kamar sauna, Luca telah menunggu. Pria itu termenung melihat wajah Lala yang nampak bersinar, tetapi melangkah dengan kesulitan dan tangan kanan menyanggah perut besar.
__ADS_1
"Butuh bantuan?" tanya Luca begitu Iba melihat perjuangan ibu hamil.
Lala mendongak, menatap ipar yang nampak habis olahraga. Terlihat lelaki itu memakai celana training, juga kaus putih yang telah basah, mencetak dada dan perut kotak-kotak.
Wajah Lala menghangat saat melihat muka Luca yang semu-semu kemerahan dan basah oleh keringat.
Terlihat bibir Luca semakin pink dan basah. Lala menggeleng kepala, "Aku bisa sendiri. Pakaian mas Luca basah. Ganti dulu sana, masuk angin ntar loh."
Luca berbalik, menyamakan langkah Lala. Dia tersenyum dan pipinya terasa hangat, mengingat Lala yang masih peduli, sebelum akhirnya memasuki lift, "iya ini mau turun. Papa mau ulang tahun. Kita bantu mamah yuk!"
"Oh ya? ayo," kata Lala yang berdiri di samping Luca. Tanpa sengaja menghirup bau keringat Luca yang wangi dan segar. Hanya berdiri di dekat Luca saja, bisa merasakan pancaran hangat tubuh Luca.
Jantung Luca semakin berdegub. Sudah sering bertemu Lala, tetap saja jantung itu tak bisa di kontrol, membuatnya jadi salah tingkah.
Inem memencet tombol lift. Di tekan angka 7, yang merupakan kamar Luca. Lalu di tekan angka 1, ke ruang keluarga, seperti perintah sang nyonya.
Inem terdiam, melihat perubahan nyonya yang sekarang mulai peduli pada lingkungan. Inem terus menunduk memandangi selop hitam hadiah dari sang nyonya, saat tinggal di Clarkson Road.
Inem begitu senang saat sang nyonya memberikan itu dan berkata 'Inem, tolong anggap saya sebagai kakak mu.' Dia tidak menyangka seorang majikan mau menyayangi dan peduli.
"Ada apa mas?" Lala heran melihat Luca yang terus memutar badan ke kanan dan ke kiri.
"Tidak apa-apa, ini ... hanya ingin ke kamar mandi!" celetuk Luca dengan gelagapan, sambil menggaruk belakang telinga. Luca merasa semakin tidak bertenaga, karena memberikan alasan yang terdengar sangat memalukan.
Inem melihat pergantian angka, pada layar di atas pintu lift . Dia jadi melamun.
Lantai 10, ruangan yang berkaitan dengan Tuan, termasuk kamar tuan dan nyonya.
Lantai 9, area terlarang.
Lantai 8, tempat sauna, gym, bowling, golf indoor, ring tinju, dan arena tanding sang tuan.
Lantai 7, kamar keluarga.
Lantai 6, 5, 4, masih belum Inem ketahui.
Lantai 3, kamar tamu.
Lantai 2, arena makan dan dapur bersih.
Lantai 1, ruang keluarga yang mengitari kolam renang. Ruang tamu, hall room.
Para pelayan tidak bebas berkeliaran kecuali di area tugas. Setiap lantai selalu dijaga dua orang, yang biasanya berjaga di pintu lift atau tangga.
__ADS_1
Sedangkan Ia dan pelayan lain tinggal di bangunan terpisah, kecuali kepala pelayan.
Kepala pelayan yang begitu galak tegas dan juga sadis bagi para pelayan. Lelaki itu tinggal di gedung ini dan pasti tahu semua ruang gedung.
Para pengawal juga memiliki gedung sendiri yang diatasnya terdapat pos yang selalu di jaga 24 jam. Di titik berbeda dan semuanya terpisah mengelilingi Istana.
Semua gerak-gerik di Istana, baik di dalam maupun di luar di awasi. Siapa yang berbuat masalah, siap-siap nyawa yang menjadi taruhan.
Ia tahu semua cerita itu dari teman yang hobi bergosip.
Bagi para pelayan, begitu memasuki gerbang, seperti masuk penjara, tidak bisa keluar setelah masuk.
Dalam satu tahun semua pelayan hanya mendapatkan libur satu bulan untuk bisa pulang ke rumah.
Namun, karena Inem hidup sebatang kara, Ia tidak menggunakan libur. Lebih baik berbakti kepada Tuan, karena sang Tuan telah menolong Inem dari tragedi pembantaian yang menimpa keluarga Inem, sehingga masih hidup sampai sekarang.
Ting!
Bunyi lift membuyarkan Lamunan Inem.
Sampai di lantai 7, Luca buru-buru keluar, tanpa berkata apapun, padahal jantungnya sudah mau meledak.
Begitu menutup pintu kamar, lalu berteriak sambil mencengkram dada yang terasa sesak, "Haaa' aaaaaaaaah!"
Dia terduduk di lantai, lalu kepala memukul-mukul ke belakang membentur pintu, dengan tak terkendali. "Kamu membuatku gila. Lala!"
"Mengapa kamu tidak memilihku?"
Air mata telah menggenang
"Itu sangat sakit La!! pilihlah aku pilihlah aku. Ku harap ini hanya mimpi panjang yang begitu buruk!!" pekik Luca, dengan dua tangan yang tertumpu pada lutut dan menangkub wajah.'
Dia mencakar wajah berkali-kali, rasanya ingin merebut Lala, tidak peduli bila Lala telah menikah dengan sang adik.
"Aku tidak kuat dengan sakitnya."
Luca meringis, membuat gigi-gigi putih yang berjajar rapi itu sudah tercampur dengan tumpahan air mata dan ingus.
Lalu memukul-mukul dada, berharap sakit itu bisa pergi.
Urat-urat di keningnya menonjol, dia berkata dengan bibir bergetar, "Seharusnya aku dulu mendengarkan papah! pasti Lala sudah menjadi milik ku bila aku mendengar kan papah! mengapa penyesalan selalu datang terlambat! "
Mata yang sudah merah itu melotot, dengan begitu maksimal. Dia memeluk lutut, Hatinya bergetar begitu kuat, terasa terlampaui menyiksa.
__ADS_1