
Siang itu, Johan menuruni tangga pesawat jet pribadi, di atap gedung yang telah di sambut para pelayan.
Setelah menerima kabar dari Kevin soal hari kelahiran Lala, Johan tanpa pikir panjang, segera terbang ke Cambridgeshire.
"Silahkan anda istirahat dulu," kata Parker, setiba di kamar yang pernah ditempati Johan.
"Sekarang antar saya ke tempat Lala, tolong."
"Nyonya di ruang khusus, harus mempersiapkan diri," kata Parker, meninggalkan Johan agar dapat beristirahat.
Menjelang sore, Johan menuju Lift, penjaga langsung menyambut dan mengantar sampai meja makan. Johan memakan sup daging dan roti dengan lahap.
Terlihat pelayan yang berdiri tidak jauh menyambut kedatangan Fabio yang minta dibuatkan steak. Sambil menunggu makanan, Fabio bercengkrama dengan Johan soal -alarm palsu melahirkan- yang membuat heboh seisi rumah dan keram yang di alami Lala.
"Kevin dimana?"
"Kunjungan proyek film di London," sahut Fabio.
Satu jam berlalu ... Johan sedang menunggu di luar ruangan tempat Lala berada, di sana dijaga oleh Siska yang terus berdiri.
"Sebentar saja, aku ingin menemui Lala?"
"Belum boleh, Tuan."
"Kalau melihat sebentar, melihat saja... aku tidak akan mengganggunya, sungguh."
"Tidak boleh."
Siska terus kekeh membuat Johan menyerah dan mau pergi.
Lelaki itu berjalan menelusuri lorong panjang nan redup. Johan melihat cahaya terang dari luar, itu ternyata pintu balkon.
Tanpa pikir panjang, Johan memutar handle, pintu terbuka dan angin cukup kencang langsung menyibak wajahnya. Suara angin berhembus di telinga. Terlihat di bawah deretan penjaga tengah di breefing.
Johan melanjutkan jalan, udara sore menyenangkan, di ujung balkon, Ia belok ke kanan. Disisi lain gedung, dia terus mengedarkan pandang ke segela arah mengamati halaman dengan susuan paving dan taman-taman cantik dan pohon-pohon terawat di dalam benteng.Terlihat di luar benteng, hutan hijau dengan pohon tua yang pernah disusupi.
Tidak jauh dari tempat berdiri, Johan mengenali sosok yang tengah merokok itu. Johan mengucek-ngucek mata berkali-kali. Benar, tidak salah. Johan yakin matanya tidak salah mengenali.
Johan berlari dengan kencang, jantungnya bergetar hebat. Mata Johan terasa panas dan bulir air mata jatuh terurai melewati bulu mata lentik.
Terlihat lelaki tua itu, mendengar suara orang berlari dan langsung menoleh dengan sangat terkejut, orang berpakaian serba hitam itu melebarkan mata, langsung melarikan diri.
Johan mengejar lelaki itu di sepanjang balkon sampai memasuki lorong, "Sial! aku kehilangan dia hhh!"
__ADS_1
Johan mengusap wajah dengan kasar dan nafas masih terengah-engah, kepala Johan terasa pusing menatap pandangan yang mulai doble.
Settt!
Sesuatu membekap mulut Johan dan menyeret tubuh Johan ke belakang. Johan seketika menarik tangan yang membekapnya. Namun orang itu membekap mulut Johan dengan tangan lain. Lalu, membanting punggung Johan ke dinding.
Lelaki tua itu menutup pintu, dan Johan melotot.
Mata Johan berbinar-binar saat orang itu melepas tangan.Terlihat mata orang itu yang basah dan langsung memeluk Johan.
"Ayah!!!!!! kamu masih hidup!!! kemana saja! aku mencarimu!!! maafin Johan, Alen!!!"
Lelaki itu memeluk erat Johan, "ceritanya panjang, aku merindukanmu!" kata Alen yang sudah menganggap Johan sebagai putra sendiri.
"Ayah!!!!" geram Johan menahan tangis. "Aku senang ayah masih hidup! jangan lakukan itu lagi! jangan mengorbankan nyawa demi aku lagi! aku tidak akan menerimanya lagi!!"
Pelukan Johan dilepas, "kamu penting bagi ayah," Alen beringsut ke tangga, lalu duduk, "selamanya begitu."
"Mereka membebaskan ayah?" duduk di sebelah Alen, menatap anak tangga di bawahnya, "mengapa ayah tidak menghubungi kami?"
"Ayah belum sempat," kata Alen. Kenyataannya alen dilarang menghubungi Johan.
Alen menunduk sambil menatap bekas luka -sayatan pedang- di pergelangan tangan, "Sekelompok orang afganistan menemukanku terlebih dulu saat aku jatuh dari tebing, mereka lalu dihadang kelompok afrika yang terlampau banyak. Dan aku disekap berbulan-bulan oleh bosnya.
"Sampai kemudian tempat itu diserang, bangunan di sekitarku mulai roboh dan sadar-sadar aku telah di gedung ini."
"Identitas Klan Bee aman, tapi musuh terus mengincar ku dan Lala. Jadi katakan pada Kakekmu, Aku keluar dari Bee. Ini yang terbaik untuk kedua belah pihak."
"Ayah maaf... keluarga ayah jadi incaran. Apa Kevin tahu Bee?"
Alen menggeleng "Kevin tidak tahu Bee," katanya dusta.
"Johan, jika umur ayah tidak lama, kau harus menemukan mereka dan segera membunuhnya, bila tidak putriku akan terus hidup dalam bahaya.
"Temui seorang master, dia guru ayah. Dia menguasai teknik tertinggi. Kamu tahu perang itu tak bisa dihindari."
"Johan mengerti."
"Kamu cari sebuah jubin yang terlihat ganjil yang telah disemen, lalu hancurkan itu. Letaknya tepat -di bawah westafel- kamar mandi, di kamar ku. Di situ ada sebuah kotak besi, kau harus memecahkan teka-teki itu, kau pasti menemukan semua petunjuk yang membawa mu ke guru ku."
"Baik ayah."
🍀🍀
__ADS_1
Makan malam di meja terasa kaku, karena tidak ada Kevin dan Lala. Meskipun begitu Anton tetap berusaha mencairkan suasana karena kedatangan Johan.
Sheril tidak suka dengan Johan, apalagi begitu akrab dengan besan.
Luca merasakan perhatian Alen pada Johan. Padahal Luca tidak pernah melihat Alen bersikap begitu, sekalipun pada Kevin, membuat Luca cemburu. Bahkan, Alen terlihat mengambilkan beberapa makanan untuk Johan.
Luca jadi ingat perseteruan dirinya dengan Johan, saat menemui Johan di kampus. Yang membuat hatinya jengkel, karena lelaki itu yang menghamili Lala.
Alen yang duduk di antara Luca dan Johan, akhirnya tersenyum pada Luca karena merasa di awasi.
"Makanlah," kata Alen pada Luca, setelah meletakan potongan kue ke piring Luca.
"Terimakasih, om." Luca memakan kue itu dengan lahap, ternyata kue yang diambilkan Alen rasanya, lebih enak. ' mengapa Alen bersikap baik pada keluarga yang bermain kotor untuk mendapatkan proyek?'
🍀🍀
Di ruang bioskop pribadi, Johan dan Luca duduk berdampingan. Johan masih kesal dengan Luca yang sudah memaksa dirinya untuk nonton bersama.
Sedangkan Luca semakin gedek ingin meninju Johan. Semua gara-gara Johan, yang membuat Lala kesulitan.
Film kolosal, yang menceritakan hubungan cinta segitiga tengah berlangsung.
"Kamu nggak cemburu?"
"Cemburu apa?"
Luca mengambil popcorn di cup yang dipegang Johan, "cemburu jika putri-putrimu akan dibesarkan oleh Kevin?"
"Aku kan ikut membesarkan mereka, ngapain cemburu."
"Kamu tidak takut apabila mereka lebih mencintai Kevin sebagai ayahnya?"
"Tidak, Kevin pantas mendapatkan itu kan, asal aku bisa melihat putri-putriku bahagia, tak masalah."
Ucapan Johan membuat Luca termenung, Ia memandangi sebiji popcorn diantara jepitan telunjuk dan jempolnya.
"Mencintai orang itu tidak harus memiliki, asal orang yang aku cintai bahagia!" kata Johan sambil tersenyum menatap Luca. Membuat orang itu melemparkan popcorn ke wajah Johan. "Asal ngomong memang mudah, kenyataanya..." kesal Luca.
Johan tertawa mendengar kata-kata Luca, Johan merasakan apa yang dimaksud Luca.
Johan semakin menyandarkan kepala ke Jok empuk warna merah. "Aku tahu ... awalnya sulit ... tetap saja, aku kudu mengiklashkan Lala. Semua orang berhak bahagia."
Luca mereok popcorn di tangan Johan. Dia memasukan semua popcorn di tangan ke mulut, sampai Luca kesulitan mengunyah.
__ADS_1
Melihat itu membuat Johan menggelengkan kepala. 'Aku seperti hidup kembali saat aku tahu aku memiliki putri-putri bersama Lala, dan itu dua ... dua bidadari. Aku mau fokus pada mereka. Hidupku jauh luar biasa bersama mereka. Tuhan terimakasih!'