Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 176 : PERINGATAN


__ADS_3

"Papa nggak keluar kota lagi kan?" Isla menarik piring Kevin, yang diatasnya masih ada setengah daging.


"Lusa papa harus ke London, malam sudah di rumah, apa kamu perlu sesuatu?" Kevin menatap lembut pada sang putri, yang memakan potongan daging dengan begitu lahap.


Isla mengunyah dengan sedikit cemberut, sesekali melihat paman Richie yang tersenyum padanya.


"Bawakan satu lagi, dan buatkan sup jagung," perintah Kevin.


"Baik Tuan." Kepala pelayan pergi setelah memberi hormat.


Dua tangan Kevin mengepal begitu kuat dibawah meja, menatap Richie dengan senyum saat pria di depannya itu tengah memasukan daging ke dalam mulutnya.


"Pah." Isla menyentuh tangan sang papah dengan lembut.


"Iya?"


"Isla kangen mamah..."


Kevin yang masih bertatapan dengan Richie, sama-sama terbelalaknya mendengar itu dan Richie yang juga terlihat sama terkejut.


"Kita doakan semoga mamah kembali ya," katanya berusaha menenangkan Isla, dirinya juga gusar dan bertanya-tanya apa Lala mau berbaik hati memberinya kesempatan kedua.


"Mamah pasti pulang, bukankah ini sudah lama? pasti mamah akan pulang lebih cepat, karena merindukan putrinya yang cantik ini." Kevin mengusap pucuk kepala Isla.


"Papa, cepat bawa pulang mamah," pinta Isla meraih punggung dan memeluk Kevin.


"Tentu..." Kevin mengelus rambut Isla dalam pelukannya, mendekap dengan begitu erat buah hatinya yang selalu bisa melipur dan menguatkan hatinya.


Makanan datang, Kevin menyuapi Isla bubur jagung hangat sampai habis. Kemudian gadis itu mengucapkan salam pada dua orang paruh baya itu.


Ting!


Lift terbuka, Kevin dan Richie melangkah beriringan melewati lorong. Dua penjaga menyambut di pintu lounge.


Di ruangan semi redup, dengan musik lembut, mereka duduk dan kembali terdiam, menatap bartender meracik minuman.


"Richie, saya memiliki seorang teman wanita, dia sangat cerdas dan menarik, maukah bila saya mengenalkannya padamu?"


"Sepertinya, tidak."


"Temui dulu, tidak ada salahnya."


"Kapan?" tanya Richie mencoba mengikuti jalan pikiran Kevin.


"Malam minggu."


Kevin menyesap perlahan minuman yang terasa begitu kuat, lantas menghadap Richie.


"Mengapa banyak diam, kamu memikirkan sesuatu?"Kevin menatap lurus pada gelas Liquor di tangan."Kamu terlihat sibuk belakangan ini."

__ADS_1


"Hum ya, banyak yang perlu dilakukan."


"Sepertinya sesuatu yang menarik, ya?"


Richie menyesap minumannya yang terasa sedikit manis, dia menoleh kesamping. Menelaah maksud dibalik pertanyaan Kevin. "Ya, menarik."


Mereka terdiam cukup lama dan saling menatap.


"Bagaimana dengan Bella?" tanya Richie melihat Kevin yang sudah mulai mabuk dan menatapnya dengan sinis.


"Sekalinya berbicara kau menanyakan ini, sejak kapan kamu peduli ini?"


"Saya bertanya karena kau sebelumnya terlihat peduli..."


"Richie, mengapa kamu selalu memperhatikan saya. Bahkan setelah menusuk mu.Apa kamu tidak bisa marah terhadapku walau sedikit?" Kevin menyandarkan wajah ke meja. Sampai gelas di dekatnya terdorong dan ditangkap Richie.


"Bukankah kamu memiliki perasaan pada Bella."


"Kamu menilai seperti itu, bagaimana jika kenyataannya sebaliknya..." Kevin terpejam. "Apa kau tak bisa marah padaku, sepertinya saya harus memukulmu."


Obrolan Kevin makin melantur.


"Beri...kan lagi," kata Kevin mulai tak jelas.


"Hentikan, mau sampai kapan kamu minum?" Richie turun dari kursinya.


"Hum, ya." Richie memapah Kevin meninggalkan bartender.


"Dia anak yang susah dikendalikan." Kevin melangkah dengan limbung.


"Namanya juga remaja."


Di temani Parker mereka menuju kamar Kevin.


"Dua minggu tidak mau masuk kuliah. Mau jadi apa Ivy jika seperti itu terus..."


"...." Richie bertatapan dengan Parker di lift.


Di depan pintu kamar, Parker mengambil alih Kevin. Richie mau melangkah masuk tapi di halangi dua penjaga.


Dia dapat menangkap bau wangi yang biasa tercium di kamar Lala. Dia dapat melihat kamar itu bernuansa sama saat dulu sering menjenguk Lala kala trauma. Pandangnya terhalangi karena penjaga itu menutup pintu, Richie mengepalkan tangan kuat-kuat, ingin menghajar dua orang di depannya.


Parker di dalam melepas sandal tuannya.


"Kau lihat Bill, dia meninggalkanku bersama pria lain!"


"Ya, Tuan." Parker menggeser kaki Kevin agar tidur lurus. "Anda beristirahatlah."


"Saya kurang apa..." ucap Kevin dengan suara makin mengecil.

__ADS_1


Parker melihat Kevin yang memejamkan mata menoleh kanan. Terlihat disampingnya, sebuah gaun yang dulu sering di pakai sang Nyonya. Sang Tuan tidak mengijinkan gaun hijau itu pindah dari atas kasur.


Dengan hati trenyuh, Parker menyelimuti sang Tuan, dia menyalakan lampu tidur, dan memadamkan lampu kamar.


Terlihat di luar Richie masih berdiri. Parker mengantar Richie kembali ke kamarnya.


"Anda melihat ini semua kan, Tuan Richie."


"Apa?"


"Pasti Tuan Kevin tidak akan mengatakan ini, tapi bila anda cukup sadar diri, menjauhlah dari nyonya."


"Mengapa kamu berbicara seperti ini? apa kamu tidak takut bila saya membuat perhitungan padamu."


"Selama apapun demi Tuan Kevin, sekalipun saya harus mati untuk menghabisi nyawa anda, akan tetap saya lakukan."


Richie tertawa dangan satu sudut bibi terangkat.


"Kau mencoba mengancam, ya? seharusnya sebelum kamu mengatakan itu, hal yang pertama kau harus persiapkan dahulu adalah dirimu, bukan mulutmu."


Parker membuka pintu kamar Richie. Tangan mempersilahkan Richie masuk, bukannya lelaki itu masuk, justru berdiri di depannya dengan sangat dekat tepat di garis pintu.


"Anda hanyalah penghalang kebahagiaan diantara tuan dan nyonya."


Ceklek! Dua penjaga menodongkan pistol dari dalam kamar, melangkah mendekat mengarahkan ke kepala Richie.


"Saya bertindak dulu, bukan dengan mulut besar."


Richie tertawa mengetahui sikap bodoh Parker, dia condong kedepan menempel pada dada parker, menunduk menatap mata didepannya dengan nyalang. "Hanya Dua? apa kamu yakin mereka cukup mengalahkan saya?"


"Saya tidak mengalahkan anda sekarang Tuan Richie, saya memperingatkan Anda menjauhi nyonya, atau saya sendiri yang akan maju."


Richie mengetuk kening Parker dua kali dengan tangan kiri, "bahkan, sebelum kamu bertindak, aku bisa membunuh mu, Lyra dan putramu. Apa kamu kira, saya akan berbaik hati pada seorang wanita? kalian mau menjadi sate?"


Tangan Parker yang disamping paha mengepal kuat, sekilas menatap dua anak buahnya yang di belakang Richie.


"Bahkan Kevin pun tak berani kepada ku. Bagaimana bisa dia memiliki asisten bodoh sepertimu. Oh, kau BILLY, PARKER, terserah apa nama mu kau sama saja tak becus mengurus tuan mu, dan membuat dia menghamili Bela? CK! CK!"


PROK...PROK...


Richie bertepuk tangan dengan kuat. "Demi apapun kau asisten hebat. Hebat memberikan kesusahan besar pada percintaan Tuan mu. Bukan saya tapi kau sumber masalahnya. Jadi, jika kau sadar diri. Buat tuan mu mengerti, bahwa cinta itu tidak dengan memaksa, menyakiti. Tapi menjaganya. PAHAM? Dan jika sekali lagi saja siapapun membuat wanitaku sakit lagi. Maka lihat apa yang akan ku berikan pada seluruh keluarganya!!"


Parker terbelalak mendengar tawa Richie yang menggema, tawa yang auranya mendominasi, bahkan dua anak buah Parker menjadi pucat pasi.


"Kau tahu, yang membuat mereka berantakan, sekali lagi K A M U. Semuanya bermula dari K A M U, asisten paling bodoh sedunia, ck! cepat tembak saya!! kau kira kau bisa membunuhku?" geram Richie, suaranya bergetar meredam dari dalam diri yang akan meledak.


Parker mendengar geraham Richie gemertak dan mata menghunus begitu dingin dengan kening menonjol dan wajah yang sudah merah padam.


DEG

__ADS_1


__ADS_2