
-POV LALA-
Ketika saya melewati tangga,
cahaya kuning berasal dari lilin-lilin di dalam tabung kaca menerangi sepanjang anak tangga, angin menyapu leher membuat merinding. Penutup jaket Vino ditarik ke depan menyembunyikan kepala mungilnya.
Richie menyentuh pinggang saya, menatap berhati-hati pada langkah kaki saya. "Pelan-pelan sayang."
Saya belum pernah ke restoran ini apa memang secantik ini.
Ada angin apa Richie mengajak saya menghadiri undangan. "Apa kita datang terlalu awal mas? kenapa terlihat sepi?"
"Tidak kok, mungkin mereka sudah di dalam. Ayo, di luar dingin."
Buket-buket mawar sebesar bola basket, berkualitas premium menyambut di sepanjang tepi kanan dan kiri dalam -vas setinggi pinggang berbentuk tangkai- dengan warna perak. Tongkat vas di kelilingi secara spiral oleh mawar, Menakjubkan.
Mata saya tak bekedip, tidak mau teralihkan dari lilin dan mawar, tangan gatal ingin meraih satu kuntum saja dan menculiknya.
Di ujung tangga, seorang pelayan menyambut dan memberikan seuntai buket mawar besar? saya kesulitan mengambilnya dan Richie memilih membawa Vino.
"Apa ini mba?"
Pelayan itu tersenyum ramah, dia mau menjawab tapi didahului Richie, hingga mba itu hanya mengangguk.
"Mungkin sambutan selamat datang, sudah terima saja, ayo. masuk ... dingin di luar," Tanganya melingkar pada pinggang saya, sementara tangan kiri menggendong Vino.
"Apa boleh seperti ini, mas?" saya berdebar, buketnya menutupi setengah dari tubuh saya. Tentu saja ini bonus yang menguntungkan! Wajah saya menghangat betapa kayanya yang punya hajatan, bila seratus undangan saja, bisa-bisa seratus juta untuk sambutan, mungkin ini semacam souvenir. Apa mereka tidak memasang plang nama. Saya melongok kanan kiri sepi hanya pelayan.
Saya tiba di lantai satu, lebih takjub pada sesuatu di depan saya, tepat di depan tangga menuju lantai dua. Rangkaian mawar-mawar yang tergantung indah di dalam kotak-kotak kaca sebesar ember, kotak kaca tergantung pada semacam besi kuning ang tergantung dari lantai dua. Seperti air terjun, hanya saja bukan air tapi kotak kaca berisi mawar. Bahkan itu menjuntai sampai nyaris menyentuh lantai, ini seni indah. Jantung saya berdebar.
"Mas kamu punya teman di sini? kok aku nggak tahu, apa mereka pecinta mawar? Ini seperti lautan mawar."
Hampir-hampir dinding di tutupi mawar, saya merasa mabuk begitu terlena. Kami masuk lift, reseptor menangkap bau manis dari lautan mawar-mawar.
Saya melingkar di lengan kiri Richie saat saya tidak kuasa menyembunyikan gugup, dingin menjalar di punggung saya. Namun, Richie hanya diam seperti banyak pikiran.
Begitu lift terbuka, aku nyaris terjatuh karena takjub, segala sesuatu yang menggantung di langit berwarna merah, bunga-bunga yang memang merah atau hanya karena efek cahaya merah, cahaya sangat lembut merah tua.
Di sisi dinding tersorot cahaya ungu redup.
"Sampai kapan mau diam, sayang," kata Richie dengan suara sangat indah.
"Mas nggak ada orang, kita salah tempat kali." Lift hampir tertutup dan Richie menahannya.
"Ayo sayang, mereka pasti disana."
"Mana?" tanya saya melongok sedikit keluar dari lift tapi kaki saya masih di lift.
"Cepat keluar dulu, gaun mu bisa terjepit."
Saya menatap lantai kotak-kotak kaca berisi mawar merah berhias lampu, "ini sayang diinjak, nggak apa-apa?" tanya ku dengan bodoh dan melangkah hati-hati karena sepatu hak lancip, takut-takut memecahkan kaca.
Richie mendorong pelan pinggang, saya melangkah dengan mata terpaku pada bunga mawar pink merah putih di bawah saya. "Mas," lirih ku berdebar, aku hampir-hampir melayang karena hormon endorfin. Saya mau menangis karena begitu cintanya dengan mawar. Seperti Mimpi...
Saya tak dapat berkata-kata saat lantunan saxsophone dimainkan
empat orang di sisi kiri, nadanya begitu menyentuh ulu hati saking lembut dan dalamnya. Otak ku mati, melihat satu meja, ya hanya satu meja dan kami sedang berjalan ke sana. Seorang pelayan datang menawarkan untuk membawa buket saya dan saya menyerahkan tanpa mengalihkan pandangan dari gelas kristal berkualitas tinggi di atas meja. Dua pelayan berpakaian formal hitam dengan dasi kupu-kupu menarik dua kursi.
"Mas??" Mata saya menyapu seluruh ruangan yang tertutup mawar. "Tidak ada orang," jantungku berdetak cepat seolah akan lepas dari tempatnya, takut-takut melakukan kesalahan.
"Kenapa mejanya satu?" saya bertanya dengan nafas saya yang memburu, perut bagai di putar, menatap Richie yang tersenyum sangat tampan, bibirnya tampak semakin sexy.
"Sayang, duduklah," katanya dengan sangat lembut dan gentle.
Jantung saya rasanya di lempar ke ujung langit sampai keluar angkasa, "Apa mas?"
Dia mengangguk dan mengedip perlahan meyakinkan saya. Demi apapun aku tidak sanggup bernafas. Otak ku mati.
Richie... satu meja ... tidak ada plang nama ... parkiran sepi ... Kenapa pelayan menarik kursi untuk kami. Apa ... jadi?
__ADS_1
"Masss," mata ku berkabut ingin menangis, dialah yang menjaga saya, sehingga tidak ada lagi ketakutan dimana dan kapanpun asal ada dia. Saya berdenyut di titik terdalam, titik tervital.
"Berikan tanganmu," katanya, aku seperti mau jatuh dan langsung mengulurkan tangan berharap dia cepat meraih tanganku sebelum saya pingsan beneran.
Dimana dua Vas tinggi di pinggir meja, satu di kanan dan satu di kiri. Vas berisi sebuket mawar -sebesar magicom- yang ujungnya hampir sama tingginya dengan lampu kristal bercahaya kuning redup di atas meja.
Di depan saya sebuah tempat lilin, berisi sembilan lilin panjang menyala, ini lebih dari romantis. "Richie," kata saya serak saat dia mengusap jemari punggung tangan saya yang gemetar.
"Sayang, tenanglah, malam ini adalah milik kita," katanya lembut namun tatapan nakal, dia memberikan Vino sebuah kue.
"Kita?" tanya ku masih tidak bisa mencerna.
"Ya, kau dan aku."
Pelayan datang meletakan sepiring steak dengan kentang tumbuk dan pelayan lain menuangkan sampanye dan mereka pergi.
"Sayang, aku tidak minum alkohol. Aku mau air putih saja."
"Minum sedikit saja please ya? ayo makan dulu," tegasnya.
"Steaknya besar apa aku akan habis?" gumam ku melihat ukuran steak jumbo selebar piring hotplate.
Dia terkekeh, "sayang, kamu harus makan banyak, habiskan."
Ini sih tidak akan habis.
Mengunyah perlahan, sambil menikmati lantunan Saxsophone, saya mendegar dehemam Richie berkali-kali, dia tampak lebih gugup dari biasanya.
"Mas kenapa? Biar Vino saja aku yang pegang, mereka tidak memiliki kursi bayi kah, biar aku panggi."
"Aku memang ingin memangku Vino sayang, biarkan seperti ini."
"Jadi, menghadiri pesta adalah alasan mas saja?" saya tersenyum lembut, "kenapa tidak bilang saja dinner."
"Habis jika aku tidak bilang pesta, kamu tidak mau menggunakan gaun itu, pasti," katanya dengan sedikit nada kesal. Benar juga apa yang dikatakan Richie. Gaun ini dengan belahan dada rendah berbentuk V dengan seutas tali menahan di kanan-kiri bahu, sementara bagian belakang terbuka sampai bagian pinggang. Semua tertutupi oleh sebuah -cape blazer putih tulang-. Dan sebuah kalung berlian 'Riviere' hadiah dari Richie, dia memasangkan sendiri. Ada apa dia hari ini. Saya memotong steak,yang telah habis setengah Alis ku berkerut, aku menatap Richie yang terkekeh dan tangannya menyentuh kening. Kenapa kamu tidak anteng mas. Aku memotong daging, terasa keras, apa mereka memasak terlalu matang, nggak kok, ini setengah matang.
"Lala Chlarissa," panggilnya dengan nada tegang, aku yang baru memisahkan sesuatu keras dan lancip, aku memisahkan yang keras dari daging.
"Sepertinya ada batu," kata ku, menatap Richie yang wajahnya memerah.
Keningku berkerut dalam.
"Sayang ambil," katanya saat aku menusuk potongan daging di samping sesuatu keras.
"Ambil apa?" Mataku melebar tiba-tiba, aku menelan liurku yang telah mengental. Begitu ada lingkaran gelap dan keras, terpisah dari daging tapi sedikit mengkilap, mulut ternganga tidak percaya.
Jantung Berdebar. Menatap Richie yang mengangguk seolah meyakinkan saya dengan senyum tegangnya dan dia berdiri memutari meja.
Saya memerjap beberapa kali, tangan meraih lingkaran yang tenggelam dalam daging steak, saya menyingkirkan, sebuah CINCIN?
Apa mereka membuat kesalahan, saya mengangkat cincin itu ke depan dada saya melihat lebih hati-hati, jantung saya berdetak maksimal saat Richie memberikan tisu, dan aku menoleh ke kiri Richie sudah menekuk sebelah lututnya dan Vino duduk di paha kirinya.
Mata saya berkabut. Otak saya mati, jari-jari bekerja sendiri membersihkan itu dari saus, sampai bersih dan mengkilap "Cincin?"
"Lala, Chlarisaa," kata dia, bola jakunnya turun naik.
Saya menatap dia yang meraih tanganku dan mengusap dengan jempol keras.
"Mas bangun, nanti lututnya sakit."
"Sayang, aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu."
"Ya?"
mengatakan? apa yang Richie maksud, jangan berputar-putar. Siapapun cepat tolong, bangunkan saya jika ini hanya mimpi.
"Sayang, Kata orang, cinta adalah sebuah penyakit yang bisa disembuhkan dengan pernikahan. Maukah kamu jadi penyembuh sakit ku?"
Mata ku berkabut, jantungku bergetar.
__ADS_1
"Satu-satunya hal yang bisa ku janjikan padamu saat ini adalah hatiku yang tulus. Akan kulakukan yang terbaik untuk mencintaimu dengan cara yang sama seperti hari ini, untuk seumur hidupku.
Mari habiskan sisa hidup kita bersama, mencabut rumput dan menikmati mekarnya bunga mawar di hari tua kita."
Air mata lolos dari sudut mata saya, saat dia meraih apa yang terjepit diantara jempol dan telunjuk.
Tangan saya gemetar begitu juga tangan Richie. Cincin telah berpindah ke tangan berototnya.
Richie menatap begitu dalam sambil memeluk mempererat pelukan Vino di tangan kirinya.
Pria itu tegang sejenak sambil memegang cincin yang sempat tersimpan dalam steak. "Jadi, maukah kau menikah denganku?"
Dia bertanya dengan embun di mata, dan bibir bergetar. Sialnya musik dengan melodi pelan namun sangat menyentuh hati membuat apa di dalam diri saya meleleh.
"Lala sayang, Tahukah kamu? Satu-satunya orang yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu. karena, syarat pernikahan yang langgeng adalah jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama. Jadi mau tidak kamu menerimanya?"
"Saya," bibirku bergetar terkunci tak bisa berkata-kata, pinggulku meremas ke dalam, tubuhku tegang dan sayang mengangguk dengan senyum penuh harap.
Harapan kebaikan di masa depan.
Saat melihat wajah dia yang dari tadi tampak frustasi dan tegang. Sekarang Richie tampak terkejut dengan mata begitu melebar mellihat ke kiri dan ke kanan dengan mulut terbuka lebar, seperti menang lotre dan akhirnya dia tertawa dalam haru biru dan tidak percaya, dadanya turun naik.
"Apa itu, sayang?" katanya mengi.
Aku menelan liurku yang telah mengental dan nafas tak terkontrol. "Lala, mau mas."
Dia mengecup tangan tangan saya berkali-kali.
"Tapi-"
"Tapi apa sayang?" Dia membeku.
"Mas, tapi anak Lala banyak. Aku tidak tahu apa itu akan jadi beban untuk mu tidak, tapi mereka juga sama pentingnya untuk Lala. Maxud ku, Jika mas mau menerima mereka, aku akan benat-benar menerima seutuhnya hidup bersama mu," kataku begitu saja semua lolos dari mulut saya.
"Saya akan menerima mereka seutuhnya, jadi... apa kita sekarang-" tiba-tiba keningnya mengkerut sangat dalam dan langsung duduk masih menekuk "Aghhh! lututku," pekik Richie.
"Nah, mas kan." Saya meraih Vino dari pangkuannya.
"Auuuw --auwww saya kesetrum." Richie meringis dan sedikit bersandar di lantai dengan kasar. Musik terhenti dan orang-orang menghampiri. Kepanikan tiba-tiba melanda di sekitar kami.
"Lurusin dulu mas," kataku mengelus lutut kanan Richie yang sedikit kejang sampai kami akhirnya duduk bertiga di lantai dingin. Sementara orang-orang menawarkan bantuan ada yang setengah berjongkok, ada Jefri yang baru masuk ke ruangan, semua terlihat bingung.
Setelah beberapa menit, Jefri membantu Richie berdiri dan dia terus menggerutu karena hal tak terduga. Semua orang di usir kembali oleh Richie termasuk Jefri. Hanya saja Jefri berdiri di dekat lift. Pemain Saxsoophone kembali bermain.
"Sayang," kata dia setelah menyuruh pelayan memindahkan kursi ke samping saya.
Vino duduk di paha kanan saya.
"Lala, jadi kamu mau? kita-" katanya dengan wajah memerah, dia langsung meraih sampanye saya dan menenggak habis lalu menghela nafas berat.
"Saya, kita, akan menikah?" katanya penuh penekanan.
"Richie! Harus berapa kali lagi saya mengulanginya. Kita akan menikah, kita akan menikah." Nada suara ku dengan penuh semangat.
Dia mere..mas jemariku, membawa mendekat ke bibirnya lalu mengecup begitu lembut di kuku. "Ijinkan saya."
Richie mengubah nada suaranya menjadi lembut sementara mata penuh sorot ketegangan.
Dia lebih membungkuk, memasukan -cincin berwarna merah darah- dengan penuh kehati-hatian, di jari manis saya.
Aku tersipu, kulit di pipiku terbakar karena panas. Aku menarik tanganku dan menatap jari manis saya, cincin lengket itu telah melingkar di sana, dua berlian mengapit permata merah. "Cantiknya cincin ini, Mas."
"Kamu yang cantik!"
Dia tersenyum puas langsung mendekap leher saya. Hati ini menghangat tanpa bisa berkata apa-apa.
"I love you, Lala." Richie berbisik di belakang telinga saya dan mengecupnya di sana. Kemudian menjalar ke telinga dan berakhir di puncak kepala saya.
"I Love you to, Richie. Terimakasih," kata ku, tenggororkanku tercekat karena suatu alasan.
__ADS_1
Dada lebar beraroma cendana menyelimuti reseptor dan memabukkan. Saya membuncah oleh kehangatan pelukannya.