Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 232 : DATANGLAH


__ADS_3

Lala dan Johan berpandangan menunggu sudah dua jam, sementara di tengah mereka Kevin baru sadar dan terbaring lemah tak memiliki tenaga.


Hidung Lala berkedut karena aroma diinsfektan mengganggu resptor. "Kevin," turun dari kursi saat Kevin mengeluarkan tangan dari selimut yang hijau yang menutupinya.


"Masih sakit?" Johan menangkap mata Kevin yang baru terbuka dan melihat sekitar.


"Minum ya?" menyentuh bahu kanan Kevin, Lala menekuk bibir ke bawah, hatinya gundah melirik bibir Kevin yang tampak kering sedikit pecah-pecah dan wajah Kevin yang tampak pucat,


bagi Lala untuk seorang Kevin sakit itu mustahil, meskipun pria itu juga seorang manusia, dulu saat hidup bersama hanya menemui dua kali pria itu di rawat karena kelelahan.


Namun, tampaknya sekarang jauh lebih serius, hasil pemeriksaan dokter belum keluar. Dan juga Kevin dada Kevin naik turun dengan kentara, oksigennya minim hingga harus dibantu selang oksigen.


Kevin menggeleng, Lala menggigit pipi bagian dalam merasa bersalah membentaknya tadi pagi. Pria itu menoleh ke Johan dengan gerakan seperti kecewa dan menghindari tatapanya, sepertinya Kevin marah.


"Dokter sedang kemari," Johan menangkap tatapan Kevin yang redup, sambil mengusap kepala Kevin. Seringkali, walau Kevin lebih tua beberapa bulan, tapi Johan justru memperlakukan Kevin seperti seorang adik. Ya, bagaimana tidak, dari jaman Kevin memiliki perasaan dengan Samantha, Johan meyakini dirinya satu-satunya yang selalu peduli setiap Kevin patah hati.


Setelah pemeriksaan dokter, dan anak-anak menengok sebentar karena Kevin harus banyak istirahat, dan Lala memompa asi untuk Vino di rumah rumah, karena ia harus menunggui Kevin sementara di kamar vip rumah sakit milik Richie.


Saat Johan keluar sebentar untuk merokok, Kevin masih belum mau bicara, entah pura-pura atau beneran Kevin justru terpejam.


Paman Pedro, menelpon dan Lala menyuruh paman menunggu di bawah.


"Mau kemana?" tanya Kevin akhirnya mengeluarkan suara pelan, tapi masih terpejam.


Menyentuh lengan Kevin sambil sedikit membungkuk "Kevin, aku mau menemui teman ayah di bawah."


"Tidak boleh, jangan menemui Ars tanpa saya," suara Kevin seperti anak kecil.


"Aku cuma menemui paman sebentar-"


Mata Kavin terbuka dengan tatapan redup, "menemui lalu kabur diam-diam? Bahkan saya sakit kamu masih mau meninggalkanku?" suara Kevin sangat rendah terdengar seperti keputusasaan.


"Ya, aku harus menemui paman, dan memberitahunya bila kami akan pergi besok."

__ADS_1


Meraih lengan Lala, "aku tidak akan membiarkamu pergi," Kevin mendesis, "Uhhh-" meringis, menekan kepalanya sendiri yang seperti tersengat listrik begitu nyeri tak tertahankan.


Lala ikut memegangi kepala Kevin, lelaki itu menggertakan gigi terlihat sangat menderita.


"Dokter bilang kamu harus banyak istirihat dan kamu tidak boleh setres."


"Ihhhghh," nyeri kepala mereda sekitar tiga menitan, dia menyingkirkan tangan Lala dari kepala, "suruh Pedro naik dan bicara disini," hati Kevin menjadi mendidih lagi.


"Iya, iya! aku telepon supaya paman kemari saja," sahut Lala dengan nada kesal, darimana Kevin tahu bila yang akan datang Pedro.


*


Kevin sudah mendengkur ketika Pedro sudah tiba di ruang tamu yang dipisah oleh sekat.


Lala sempat menelpon Richie di depan Pedro dengan suara pelan.


Menurut penuturan Richie, sikap Kevin yang melarang Lala pergi sendirian adalah wajar, Richie memaklumi. Richie berjanji akan memantau Alen yang baru tiba di kapal dan meminta Lala untuk tidak khawatir.


"Jadi, kita akan berangkat besok?" Pedro mengerutkan alis menambah tampilan keriput di dahi.


"Ataukah saya pergi sendiri saja?" Pedro mengelus dagunya tampak berfikir melirik meja.


"Richie sedang menyuruh Pak Damar kemari untuk menemui paman," Lala memutar cangkir di tangan mencari kehangatan susu, "dia akan memberitahu paman semuanya, kebetulan Richie masih dalam persembunyian untuk mengawasi ayah."


"Apa dia Richie yang dulu kamu ceritakan, yang mabuk di depan pintu rumahmu?" bisik paman sangat pelan dengan kepala sedikit mendekat.


"Ya," wajah Lala menghangat dan Pedro mengangkat dua sudut bibirnya menatap wajah Lala yang memerah, menggelengkan kepala tidak bisa dipercaya putra Alen bisa bersama otang yang cukup diakui.


Pintu kamar berderit terbuka dan Johan menurunkan ketinggian alis sampai nyaris menempel mata. "Pedro?" wajahnya menegang, ada apa anak buahnya dengan Lala.


"Eh bos," Pedro terlonjak tidak mengira akan bertemu cucu Lewis yang sudah keluar dari Dunia Bawah, dan meninggalkam Bee.


"Bos?" alis Lala terangkat dengan sendirinya, "Johan kemari."

__ADS_1


Johan melirik Lala yang tampak bingung, lalu Johan beralih pada Pedro dan saling pandang dengan kode khusus.


"Lala, sebentar ya, mulut saya sangat pahit, mau merokok di luar." Pedro segera pergi sebelum diberondongi pertanyaan lain.


"Johan berhenti," Lala berlari untuk mencekal tangan Johan dan mendongak, "mau kemana, apa yang kalian sembunyikan? apa tentang ayah atau Bee?"


Johan ternganga, alisnya menempel pada pangkal hidung, "Eh, sebentar, ponselku ketinggalan di bawah. Takut hilang," Johan melengkungkan bibir ke bawah berakting sedemikian rupa, "banyak data penting." seraya menangkup tangan mungil Lala untuk lepas dari pergelangan.


Menghindar dari tatapan Lala yang tajam seakan hendak mencongkelnya dengan semua keingintahuan Lala, ini sangat merepotkan, itu terlalu bahaya jika Lala sampai tahu.


"Tunggu disini," menjewel pipi kanan Lala sebanyak dua kali dan menariknya sampai Lala meringis kesakitan, lalu dengan cepat Johan pergi.


Dari pagi Lala terus menanyakan Bee, tapi dirinya tidak siap untuk membuka itu, entah sejauh mana yang Lala tahu, karena itu janjinya dengan Alen untuk menyembunyikan semua itu dari Lala.


Lala hendak menyusulnya, dua penjaga menyebalkan langsung menghalangi. Hanya dirinya yang tidak boleh keluar dari kamar.


"Dimana Tuan Parker?" Lala dengan tangan sedakep menekuk bibir.


"Maa, kami tidak diperkenankan untuk menjawab. Silahkan masuk," Salah satu dari dua orang berjas hitam lengkap dengan alat di telingannya mengangkat tangan di depan pinggang, agar sang nyonya masuk.


"Kevin cepat sembuh, aku harus bertemu ayah, setidaknya kamu jangan menghalangi aku bertemu ayah. Kamu tahu aku sangat mencintai Ayah." Lala duduk dengan loyo di depan Kevin yang terpejam, malam ini Johan dan paman bahkan belum kembali dari tadi siang dan tidak menjawab telepon..


"Ayo besok kita pergi."


Lala membelalak, Kevin tidak tidur, "bukan kita, tapi saya akan pergi dengan paman," meraih tangan kanan Kevin, jemari pria itu saja terlihat sangat lemah.


"Tidak kamu pergi bersamaku," Kevin mencoba mengulas senyum.


"Tidak Kevin, kamu masih sakit, dan nyerimu masih sering kambuh, dan sesak nafasmu..." protesnya dengan bibir melengkung ke bawah.


"Aku sudah sembuh, besok ...juga pulih," suaranya seperti tidak yakin. "Datang kemari temani saya tidur, Lala. Kumohon beri saya sedikit kekuatan ..." Kevin menarik tangan Lala.


"Kevin, tidak boleh. Aku menerima lamaran Richie dan kamu harus menerimanya."

__ADS_1


"Datanglah, dan besok kita menemui ayahmu." Kevin menarik Lala untuk naik ke ranjang pasien yang lebar.


Jantung Lala berdegub, Kevin mengabaikan kata-katanya.


__ADS_2