
-POV LALA-
Aku dibawa masuk keruang besar yang terdapat banyak sekat stenless. Lampu itu menyala lebih terang saat aku datang, aku dimasukan ke salah satu sekat yang dibuka dengan kunci elektrik.
“Apa ini?” ujarku mematung saat aku di dorong ke dalam sekat itu, dan aku menunduk karena ruangan itu sempit dan pendek, untuk berdiri saja tak bisa, dan mereka menutup pintu membuat seketika gelap, suara sepatu mereka menjauh dan cahaya minim itu semakin minim seperti cahaya dari lentera.
Aku menangis, memangisi hidupku.
“Lala? Apa itu kamu?”tanya suara yang terasa tidak jauh.
Tangisanku terhenti sesaat tak percaya pada pendengaranku.
“Babe itu kamu? Ini saya BABE!” teriaknya lagi.
“KEVIN? ITU KAMU? APA KAMU BAIK-BAIK SAJA?”
“Ya aku baik-baik saja, jangan berteriak, energimu akan cepat habis.”
“Mengapa kau hendak membunuhnya, kamu tahu siapa dia, untung kamu selamat sayang.”
“Dia berani menyentuhmu, membuatmu kacau. Suami mana yang hanya akan diam saja, Babe.”
Kami terdiam sejenak, aku bersandar pada tembok sisi kanan, asal suara Kevin.
“Dimana anak-anak?” tanya dia dengan suara bergetar.
“Mereka baru pulang dari antartika, dan sudah kembali masuk kuliah. Ngomong-ngomong tiga hari ini aku tak medapat kabar dari Parker dan Ayah Alen, sayang. KIra-kira mereka kemana?”
__ADS_1
Kevin diam cukup lama tanpa menjawabku.
“Sayang ini semua gara-gara aku kan, kau dan Richie jadi seperti ini. Mari kita berpisah, aku lelah seperti ini terus,”kataku dengan suara tercekat, dengan air mata yang telah berlinang.
“KAU BERBICARA APA? JANGAN BILANG BEGITU LAGI. Apa kau sudah tak mencintai saya lagi, BABE?” jawabnya dengan suara bergetar.
“AKU MAU BERPISAH TITIK!” pekik ku dalam tangisan.
“KENAPA? Apa karena saya akan menemui Bella? Apa kamu tak terima karena saya akan menemui putraku? Apa kau tidak menerima apa adanya hidup saya, BABE? KAU TAK MENCINTAI SAYA!”
Hatiku berdenyut aku benci dengan keadaan ini, Pikiranku terlalu lelah. Anak buah Richie nyaris membunuh Kevin saat Richie dinyatakan meninggal secara medis. Saat itu duniaku semakin gelap, aku tak bisa membayangkan akan kematian Kevin. Aku berharap saat itu ada keajaiban Richie bisa hidup kembali. Dan saat itu sampai aku berikrar, bila Richie hidup lagi, aku akan melepas Kevin. Aku tak mau jadi penyebab Kevin dalam bahaya lagi. Aku berjanji akan menjauh sejauh-jauhnya dari hidup Kevin. Aku lebih tak siap melihat Kevin kehilangan nyawa hanya karena aku. Aku lelah.
“MENGAPA KAU TAK MENJAWAB, JADI INI KARENA BELLA? DAN KAU TAK MENCINTAI SAYA.”
“YA AKU TAK PERNAH MENCINTAIMU. AKU HANYA PURA –PURA SELAMA INI_”
Aku menangis menahan tangisanku, air mataku terus berlinang, aku tak sanggup lagi meneruskan kalimatku. Aku mengelap ingusku yang terus mengalir agar Kevin tak mendengar sesenggukanku.
“JANGAN KATAKAN ITU LAGI SAYA MOHON,BABE HHUHHHHHHHH,” katanya dalam tangisan kerasnya.
Aku bahkan belum pernah mendengar dia menangis sekalipun. Tangisan Kevin yang seakan tak percaya dengan kata-kataku, tangisannya begitu melengking membuatku sakit. Aku jadi bingung kenapa aku meminta pisah? Tapi aku tak mau membuatnya terkena masalah lagi karena aku.
“KEVIN ! SADARLAH, AKU MAU MENIKAH DENGAN KAMU KARENA TERPAKSA, KARENA KAU MEMAKSAKU, KARENA KAU JUGA MEMAKSA AYAHKU MENANDATANGI PERJANJIAN KONTRAK AGAR AYAH MAU MENIKAHKAN AKU DENGANMU. LALU AKU TANYA DARI MANA AKU BISA MENCINTAI MU?”
“NHH DARI MANA KAU TAHU PERJANJIAN ITU? OH AYAH MERTUA CERITA ITU? BIAR AKU BERI TAHU KAU, AKU MELALUKAN ITU UNTUK MENAHAN ALEN AGAR TAK KEMANA-MANA. KAU TAHU KENAPA? HANYA DENGAN ITU AKU AKAN MEMBATASI GERAKNYA, ORANG-ORANG YANG MENGINCAR ALEN PUN TAK DAPAT MENGGANGGUNYA.”
Aku begitu lelah, hatiku sangat lelah, aku tak pernah mengira perdebatan akan terasa semenyakitkan ini. Tubuhku yang duduk bersandar seakan tak memiliki kekuatan lagi. “Aku tak percaya kata-katamu, omong kosong! ayahku tidak memiliki musuh. Dari awal pun begitu bodohnya aku mempercayaimu, aku mau saja menikah denganmu karena iming-iming keamanan ayah, padahal kau yang membelit ayahku kan?” cercaku menyudutkan Kevin.
__ADS_1
Bahkan aku tak percaya dengan apa yang keluar dari mulutku, begitu jahat kata-kataku pada orang yang selalu melindungiku dan ayah. Aku membenci diriku. Aku tak sanggup menyakitinya lebih jauh. Tidak ! Aku harus menjauh darinya! Ini yang paling baik sekarang!
“TERSERAH KAMU BABE, KAU HANYA MENCARI ALASAN. SAYA TAK MAU MELEPAS. BAHKAN SAMPAI MATIPUN,” teriakannya dalam isakan tertahan. "Bahkan kita akan memiliki seorang bayi lagi, bisa-bisanya kau berkata begitu, BABE..." lirih Kevin dalam suara tercekat.
“AKU TELAH MENCIUM BIBIR JOHAN, AKU SAMA SEKALI TAK MEMILIKI PERASAAN PADAMU. JADI, AKHIRI SEKARANG JUGA, AKU MUAK DENGAN HUBUNGAN KITA_”
“AKU TAK PEDULI BABE!!!! AKU TAK PEDULI! DIAMLAH!!!!” bentak Kevin dengan suara penuh getaran, itu terdengar sangat menakutkan, aku tahu dia sudah sangat marah. “Aku tak peduli seberapa besar kau menyakiti saya. I don’t care, Babe HUHHHH Hah!!”
BUGH!!! BUGH!!!! BUGHH!!!
“MENGAPA KAU TAK BISA MENCINTAI SAYA? MENGAPA SAYA TAK BISA MENDAPAT CINTAMU! BAHKAN UNTUK SELAMA INI BABE!”
BUGH!BUGH!
Suara Tinjuan itu begitu menakutkan dan menggema dalam ruanganku, aku yakin Kevin berada di ruangan sebelah. Punggungku yang menempel pada stenlel itu merasakaan getaran pukulan Kevin.
‘Jangan begitu sayang! Kau akan menyakiti tanganmu! Mengapa kau tak membuatnya jadi mudah!’ batin ku begitu geram dan marah pada diriku sendiri. Aku sudah nyaris gila karena situasi yang paling ku benci ini. Aku tak menginginkan ini, sungguh aku tak menginginkan ini.’MENGAPA AKU MENYAKITI KEVIN! AKU TAK BISA! AKU TAK BISA!’
Aku menggelengkan kepala, ‘AKU HARUS BISA! AKU HARUS BISA!’ aku memukul-mukulkan kepalaku tak kuat merasakan sakit di kepala ku. Kepalaku begitu pening, ruangan di sekitarku terasa berputar.
“babe... babe.. Babe...” suara itu semakin melayang dan nyaris tak terdengar saat aku mulai terasa limbung.
bersambung ...
...*** ...
terimakasih para pembaca, pengumunan novel bagus nih , mampir ya ...
__ADS_1