
-POV Author-
"Dua puluh menit." Ars menatap tajam pada wanita paling menjengkelkan di depannya, dia memunjuk jam dindinh
Lala menelan saliva mengangguk cepat.
Di kamarnnya Lala bergegas ke kamar mandi, westafel bundar, dia membungkuk menempel pipi di meja, sebuah benda sebesar kancing besar dalam plastik yang tersolasi di belakang westafel. Dia meraih dengan ujung sikat gigi karena lumayan sempit.
"Richie," Lala menggenggam alat hitam itu, dan memeluknya. Jadi semalam dirinya menghabiskan waktu dengan Richie.
Oh entah harus senang atau apa, tapi dimana lelaki itu kini berada. Tandanya di kolam renang semalam dia tidak salah melihatnya.
Bagaimana cara lelaki itu masuk? bahkan dirinya masuk menggunakan sidik jari. Pacar ku memang keren!
Wajah Lala memerah di pantulan cermin. Memikirkan betapa bodohnya dirinya semalam. Jika itu bukan mimpi, dia tidak mungkin sangat nakal! apa yang dipikirkan Richie tentangnya! oh apa lelaki itu akan berpikiran macam-macam tentangnya.
Lala, ingatlah cincin!
Lala memutar pandangan ke seluruh penjuru tempat-tempat terkecil. Dia yakin tak melepas itu. Semalam masih ada saat gelas di anggur akan jatuh, dirinya ingat betul dentingan cincin dan gelas itu.
Sprei, selimut, bantal bahkan sudah di bolak-balik, "Dimana oh dimana empat ratus milyar! bahkan aku tak pernah melihat uang sebanyak itu!!"
Lala melirik ke bawah lorong, ke ujung-ujung sofa, tidak ada. Habislah aku, kenapa Ars jadi ikut campur. Dan kenapa cela..na da..lam ku hilang, nggak mungkin Richie membawanya.
Kepala Lala pening, punggung tangan terbakarku -tergores.
...***...
Ars melirik melirik jam, saat dirinya telah berganti kemeja putih tanpa di kancing dan celana jeans.
"Nick, Satu jam lagi, Artyom harus di ruang kerjaku."
"Baik Tuan, apa anda akan ikut bersama Tuan Damir?"
Ars mengangkat bahu. "Kau sudah beritahukan cerita masa kecil wanita itu pada Algio? apa tanggapannya?"
"Saya belum yakin. Namun, sepertinya sedikit lagi, orang itu menyerahkan diri, Tuan. Perlukah saya menangkap cucunya yang lain?"
"Tidak, fokus pada jalur. Berapa hari lagi Bella sampai, kau awasi wanita licik itu tanpa sepengetahuan Artyom, saya mencium ada yang tidak beres dengannya."
"Seharusnya nanti malam, Tuan. Saya juga merasa ada yang tidak beres dengan nona Bella, terlebih bagaimana saat dulu suaminya menyekap Artyom, dan beberapa anak buah James yang tersisa melakukan pergerakan terstruktur, saya meyakini mereka di bawah kendali nona Bella."
Ars melirik jam tangan, kaki-kakinya terus bergoyang-goyang di atas pahanya. Dia mengibas tangan, "Panggil Lala, apa dia tidur lagi!??"
"Baik Tuan, Permisi." Nick meninggalkan kamar. Dan Ars melangkah keluar saat putranya memeluk pahanya.
__ADS_1
"Papa ... Damir, kangen mama."
Mata Ars melebar, hatinya seperti di tembak keluar pulau, dia berlutut dan anaknya langsung mendekap.
"Papa, juga kangen mama, seperti Damir." Kecupan ringan mendarat di keningnya. "Ayo papa suapin. Damir kemarin mau fried chiken?"
Sang putra terus mendekapnya, ada apa Damir dari kemarin, anak ini tidak mau mendengarkannya.
"Damir mau es krim?"
"Damir mau mama," isaknya. "Teman-teman Damir, pulang sekolah dijemput mama. Damir ngga punya mama."
Mata Ars memanas. Perut dan dan ulu hatinya memanas, hingga empedu seperti pecah dan naik ke tenggorokan begitu pahit, sangat pahit. Ars mengelap sudut matanya, dan kembali menepuk punggung Damir, suaranya tertahan. Oh istriku, lihat, putramu merindukan mu. Saya tidak tahu harus berkata apa lagi padanya.
"Tuan Ars..."
Dari arah belakang wanita itu datang, Ars mengelap sudut matanya dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Damir kenapa?" tanya Lala saat melihat mata anak itu berkaca-kaca.
"Madam tidak mandi, madam ..." Damir serak, mengangkat tangan ke atas menggapai wajah madam.
"Madam akan mandi dulu," Ars berbalik, matanya melirik pada jemari polos Lala. Dimana cincinnya? tampaknya dia akan menanyakan itu, tapi suasana hatinya sangat enggan. Dia melewati Lala. "Ganti pakaianmu."
"Madam, papa ... " Kedua tangan Damir mengulur pada Lala.
"Baik!" Lala meraih paper bag dari tangan pelayan. Dia memasuki kamar asing. Dan berganti baju dengan terus bertanya-tanya dimana kantor Ars. Bagaimana caranya masuk, perlukah menggunakan Damir? atau pura-pura petak umpet. Menyebalkan, Richie bahkan tidak memberitahunya. Dimana Lelaki itu, aku akan menendangnya, menggangguku saat mabuk!
Setelah sarapan Lala bermain dengan Damir, dia melirik pada Ars yang tidak keluar dari pintu. Kemana lelaki itu, apa ruang kerjanya di sini.
"Nanny, saya akan ke kamar mandi sebentar, tunggu, ya."
Dan Nanny itu menggangguk, Lala mengendap-ngedap, ruangan ini lebih mudah dari pada rumah Ars yang terlalu banyak penjaga. Ini seperti rumah tingkat di dalam kapal, beda pintu dengan kamar Lala yang di lantai dua hanya ada kamar tidur.
Mengikuti ke lorong, sampai lelaki itu masuk ruangan. Lala berhenti saat akan balik dia mendengar suara Daniel, dia celingukan mencari persembunyian, menggeser kenop pintu dia masuk ke sana.
"Hahaha ... Tunggulah, Bel, nikmati saja." Suara Daniel seiring dengan langkah sepatunya.
Daniel melirik ke kiri sebuah pintu yang sepertinya baru tertutup. "Sudah dulu, Bel, sampai jumpa." Danie menggigit bibirnya, dia memasukan ponsel ke saku.
Tangan kirinya memegang kenop, memutar ke bawah.
"Tuan Artyom, Tuan Ars menunggu."
Daniel menoleh kanan pada Nick yang mengerutkan Alis.
__ADS_1
"Ada apa? " Nick maju dua langkah.
Kriiiiit.... Pintu di dorong penuh. Daniel menatap penuh ke ruang kotak, tumpukan kasur lipat dan beberapa barang.
"Tuan Arthyom?" Nick menepuk bahu sang tuan, dia ikut mengintip ke ruang kosong.
"Perasanku saja," Daniel akan menutup pintu, tapi di dorong lagi, sebuah kulit manusia mengganggu pemandangannya. "Sudahlah tidak ada apa-apa." Dia menarik pintu lagi. Matanya melirik kiri sambil melangkah menjauh melewati dua ruangan diikuti Nick.
Di rungan Ars duduk mencoret-coret kertas lebar. Ujung dagunya terganjal tangan kirinya, tampak berpikir keras. "Thyoma, kau menjemput Bella nanti malam." Ars tanpa menoleh, menandai peta buta di kertas lainnya.
"Ars, mengapa terlalu lama. Bukankah seharusnya menembaknya di tempat," kata Daniel.
*Daniel nama samaran yang hanya diketahui Lala dan teman-teman saat dia menyamar me jadi Head chef. Nama aslinya Artyom, atau nama pangilan rusia lain Artem, Thyoma. Namun Ars lebih suka memanggil Thyoma secara tidak formal. Tetapi bila di depan anak buahnya Ars memangil dengan nama Artyom.*
"Lelaki itu masih bersembunyi." Ars dengan nada datar. "Dia terlalu cerdik, kita lihat sejauh mana tetap bertahan." Ars mendorong peta, "Di wilayah ini, Nick, kau kerahkan di sini."
"Bagaimana jika dia kabur lagi?" Artyom duduk di hadapan Ars, melirik titik peta.
"Kali ini tidak, asal kau terus memindahkan Vino." Ars menggigit jari memijat keningnya.
"Ada apa Ars? masalah?" Artyom mencium ada yang tidak beres dengan kakaknya.
Artyom memiringkan wajah nyaris menempel wajah ke meja, untuk mengintip mata merah kakaknya.
"Ars?" Artyom terkekeh. "Jangan Bilang ..."
Satu pena terlempar tepat ke kening Artyom. "Diamlah kau! fokus."
"Kau tak bisa menjilat ludahmu sendiri. Ars, saya memperingatkan mu."
Ars terkekeh. "Hanya orang bodoh yang memberikan permata langka empat ratus milyar."
Artyom tertawa keras. "Mengapa menjadi permata. Ayolah Ars. Ini tidak boleh lebih dari seminggu. Lupakan cincin langka. Anda bisa mencari yang lain. Anda bisa mendapatkan yang lebih besar,"
Artyom mengedipkan mata. "Jadi sampai batas kapan Algio menyerahkan diri. Kita tidak perlu menukarkannya. Kita akan mendapatkan semua. Sekali tepuk dua Lalat, kita akan membalas kematian ayah dan ibu! kita akan melihat kematian algio!! Ha ha ha ...
"Kita akan meraih macan putih dan black lion dan Kevin akan mati!"
Ars menatap mata sang adik yang berapi-api, sang adik yang seperti mencium bau kemenangan.
Bruk-
Ars, Artyom dan Nick berpandangan dan melirik pintu.
Artyom mengendap mundur, "jadi bisnis kita apa baik-baik?" tanya Artyom pada Nick dengan terus mundur mengendap kepintu meminta Nick terus berbicara.
__ADS_1
"Sejauh ini baik, semua dengan suka rela menjual ginjal mereka," Nick melirik Artyom yang membuka pintu dan melirik ke luar ruangan.