Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 201 : MALAM MENCEKAM DI HUTAN


__ADS_3

TES... TES...


Aroma tanah langsung menguar bersama tetesan makin kencang jatuh menggigit wajah.


Mata menyipit berkedip berkali-kali, hujan tak mengijinkan saya bernafas dan membuka mata, saya meraup air di wajah, memaksa untuk memperhatikan sekeliling di tengah leher kaku saya. Dimana-mana dipenuhi oleh semak berlukar tinggi menjulang, semua daratan di tutupi tanaman pendek sampai tanah nyaris tak terlihat. Beberapa dipenuhi duri tampak lebat mengerikan. Oh lelautan pepohonan.


Bulir tajam air hujan mengiritasi semua lukaku, menyiksa dengan rasa pedas terbakar. Baju telah terkotori tanah mulai luntur saking derasnya, baju koyak-koyak memanjang, sebagian bolong tercantol duri atau ranting, betapa buruknya saya.


Saya baru menyadari apakah air hujan bisa sedingin ini. Bau rumput busuk bercampur tanah basah mengganggu resepetor .


Berkabut dan mendung, langit yang tadi abu-abu gelap semakin berubah hitam, malam tak lebih dari seperempat jam. Namun, sudah mencekam, mengintip pepohonan tinggi, semakin pusing melihatnya seolah saya disedot ke dalam dimensi kegelapan. Air meluncur menerjang cela-cela dibawah punggung saya.


Angin cukup kencang menggoyangkan dahan dari pohon tua, di atas. Dahan itu panjang seperti sebuah tangan cherleader yang melambai-lambaikan dedaunan.


Belum lagi, preketek-preketek suara, dahan. Derak dedaunan basah berlomba dengan, desisan angin. Apa itu akan patah dan menimpa saya?


Air mata kengerian bercampur dengan longsoran hujan saat saya berpikir, Bagaimana saya bisa begitu bodoh?


Jika saya sampai mati, bagaimana saya bisa kembali membawa Vino?


Saya mendengus keputus-asan dalam terpejam, mungkin memejamkan mata hal terbaik saat ini. Dan mencoba berpikir jika saya sedang mandi di bawah shower, tapi ini sangat mencekam, preketek-preketek dahan itu seakan sedang menjatuhi saya.


Oh ibu macam apa, saya sungguh tidak berguna. Bahkan untuk putra saya. Saya seharusnya, tadi menanyakan Vino dulu. Mengapa saya langsung kabur. Mereka tidak akan berbuat macam-macam dengan seorang bayi kan.


Saya harus kembali atau setidaknya menyusup ke sana mencari tahu dimana Vino.


Putraku Ibu merindukanmu.


Kulit-kulit lecet tercabik hujan. Dan saya semakin terbakar karena perihnya. Seakan-akan luka itu semakin membuka melebar.


Mengapa tidak ada tempat berteduh di tempat ini, setidaknya dibawah pohon.


Bahkan saya merasakan perih di wajah saya, saya meyakini itu tak luput dari lecet.


Seharusnya dibawah pohon hujan tidak setajam ini, apa hujan terbawa angin hingga datang menyerong dan menusuk saya. Seolah alam sangat marah kepada saya.


Saya membuka mata, mencoba bangkit, tidak berhasil. Saat ini pinggang saya seperti papan lurus yang susah untuk ditekuk, punggung saya mati rasa. Saya pikir kaku di punggung saya akan bertahan beberapa jam. Kemudian tubuh saya miring ke kanan mengurangi serangan rintikan, di akhir sisa tenaga saya.


Perut lecet saya menempel di pohon. Pohon yang tak terlihat pangkalnya, sepertinya ini telah tertimbun tanah sejak lama, apakah daerah ini juga rawan longsor. Mataku bergetar dalam. Aku ingin sekali mengakhiri rasa sakit ini...

__ADS_1


Aliran air dingin dari belakang saya semakin deras membentur dan menonjok punggung saya. Begitu jelas, saya memperhatikan luncuran air keruh yang menjauh dari saya dan turun ke bawah sana, ke tempat lebih rendah. Apakah itu jurang? itu tertutupi semak tinggi gelap.


Aliran melewati pipi kanan saya, dan mengalir dibawah telinga saya sampai telinga saya sedikit tersumbat air. Saya merasakan butiran kasar pasir dan tanah yang terbawa air melalui celah leher saya. Kupikir inilah akhir dari hidup saya.


Saya pernah mendengar saat hujan, ular keluar dari leng menyelamatkan diri, melata dan mencari tempat. Apakah mereka akan lewat sini.


Hikh... saya merintih dari bagian terdalam diri saya. Bukan. Lebih tepatnya saya menjerit.


Tuhan saya tidak kuat. Tapi kuat harapan dalam diri saya, tolong jaga saya. Saya ingin melihat anak-anak ku, setidaknya untuk terakhir kali, jika memang waktu tidak lama.


Dan jika saya masih diberi waktu. Saya berjanji akan hidup lebih baik. Saya berjanji tidak akan pernah marah dan mengeluh lagi jika saya selamat. Tolong saya, Tuhan, saya ingin melihat mereka sekarang untuk setidaknya di ingatan saya, sampaikan rasa rindu saya pada mereka


Saya menjadi mengingat semua anak-anak saya, wajah-wajah mereka. Richie, ayah Alen, mama Rumi, Johan, mereka terpampang jelas dalam ingatan saya, senyumnya, marahnya.


Bahkan perkataan ayah saat saya kecil, saya mendadak mengingatnya dan dalam lingkup kata terkecil. Saya merintih, cegukan karena sesenggukan.


"Ayah, tangan," saya menunjuk rembesan cairan dari bahu besar kerasnya.


"Nak, ini, ayah sedang mainan cat lukis. Ayah menyembunyikan cat lukis di bawah kulit ayah. Dan sekarang ayah akan menutupnya." Ayah merobek kain dengan pisau, entah bagaimana caranya... ayah telah mengikat itu dengan satu tangan dan bantuan giginya. Setelah dewasa saya baru mengerti bahwa itu darah, ayah terluka.


"Ayah, kenapa kita tidak pulang?"


"Kita sedang bermain, rumah-rumahan. Hanya saja rumahnya lebih besar, ini namanya hutan, ingat ya, hutan." kata Ayah menarik saya duduk di pangkuannya.


"Yang banyak pohon-pohon besar-" ayah menunjuk pohon-pohon di sekitar. "-dan tidak ada rumah. Mengerti?" dan saya mengangguk saja karena saat itu saya tidak mengerti.


"Nak, jika kau terjebak di hutan tetaplah tenang." Ayah mendudukan ku di tumpukan daun. Dia memindahkan batang kayu.


"Ayah akan membuat sulap, kau lihat ini namannya batu," ayah menegaskan memegangi dua batu, bahkan sepertinya batu itu sama besar dengan tangan mungilnya saat itu.


Dan sulap itu berubah menjadi api.


"Saat kau di hutan, kau harus membuat sulap ini sebelum gelap datang." Ayah membungkuk dan terus meniup-niup ke butiran warna seperti kembang api yang menjalar lebar. Itu berubah menjadi bola api.


"Sulap ajaib! ayah hebat!" aku menghambur dan ayah menahan tubuhku yang hampir jatuh ke bola api.


"Jangan terlalu dekat, bahaya Nak," kata ayah dalam suara dalam.


Saya masih sangat kecil. Bahkan saya tak ingat mengapa ayah membawaku ke hutan.

__ADS_1


Gemertak gigi saya bergesekan jauh lebih keras dari suara hujan. Saya menggigil hebat, rintikan makin deras, kabut semakin turun, cahaya langit makin tak terlihat.


"Nak, jangan sampai kita kehilangan harapan. Kita akan bertahan. Dan selanjutnya kita harus tetap tenang. Kita harus memiliki keberanian bahwa kita dapat hidup bahkan tanpa siapapun," kata ayah membayang dalam ingatan.


Otot-otot rahang saya tak dapat menahan dingin dan gemeretak gigi menghujani saya.


Pikiran buruk merajalela. Hujan telah berhenti. Suara katak, serangga, suara sisa tetesan air dari pohon. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tidak ada bintang dan bulan di langit. Malam sangat mengerikan!


Ayah...


Aku seperti menghadapi kematian. Saya tidak pernah berpikir akan menjumpai hari yang begitu buruk, sendirian.


Pikiran buruk ku benar-benar berteriak padaku. Bahwa orang-orang akan mencari ku, dan mereka akan menemukan saya, sudah dalam keadaan, tidak bernyawa.


Mereka akan menangisi jasad dan, kuburan ku untuk beberapa hari. Dan lalu, tahun berganti tahun, akan melupakan ku. Atau bahkan, aku justru tidak akan pernah ditemukan...


Tapi, apakah mereka benar-benar, akan mencari ku?


Namun, aku meyakini, ayah akan mencari ku. Begitu juga paman Pedro. Mereka sangat menyayangiku, dengan hidup mereka.


"Nak, jangan hilangkan harapanmu. Tenang. Tenang." kalimat ayah itu mencongkel otakku dan menari-nari menjadi satu-satunya kekuatan saya.


Saya menggigigi hebat, kecemasan saya meningkat. Demi apapun saya berada di antara hidup dan mati.


Saya merinding hanya. Mungkin saya mulai berhalusinasi. Saya merasa dari segala arah ada yang menatapku dengan tajam. Saya membuka mata, tapu tidak bisa melihat apa-apa! tapi saya merasa jadi tontonan mereka.


Saya tidak bisa bernafas, bulu kuduk saya meremang, bahkan sepertinya seluruh bulu kulit saya meremang di badan basah saya!


Itu ... saya seperti di antara dimensi lain, badan saya seperti mengembang-mengempis dalam ketakutan. Sulit dijelaskan betapa mencekamnya, setiap suara hewan, derak daun, dan derak ranting-ranting.


Suara lewat di belakang saya, diantara rerumputan. Indra pendengaran saya menjadi sengat peka.


Gemersak di belakang, sesuatu melata, aku mohon jangan mendekat!!


Saya gemetar hebat sehingga gemertak gigi saya tertahan saking ingin tak bersuara, dan menggigit pipi bagian dalam kuat-kuat, rasa logam kuat, saya menelan darah saya sendiri.


Saya tidak mengerti di bawah sana sebuah mata merah,


apa?

__ADS_1


yang menginjak rumput ranting dan mulai makin mendekati saya. Oh Tuhan! berikan saya pingsan! aku tidak mau melihat ini. Dan tubuh tidak bekerja sesuai perintah saya, saya justru semakin sadar. Saya menggaruk paha saya karena ketakutan, tengkuk saya digigit oleh ketakutan saya dan semakin meremang merinding ke telinga dan wajah saya.


Tolong ... siapapun datanglah orang hidup ... yang benar-benar manusia murni bernafas! Tolong ...


__ADS_2