Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 165 : MAAFIN IBU


__ADS_3

Selamat membaca😘


🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹🏹


"Teman kecil? maksudnya apa dan siapa teman kecil anda?" tanya Lala tanpa menoleh, ingin melemparkan Richie ke dalam timah panas.


Punggung Lala yang bagai tertancap tombak, rasanya berat, sebab tidak nyaman bila orang luar tiba-tiba ikut campur dalam urusan tempat tinggalnya.


Sementara itu, Richie menatap Lala dengan perasaan bersalah, tangannya menggeser Vino dari pinggang, membalik hingga Vino bisa menghadap depan di depan perutnya.


Lala mengingat betul, tadi pagi, dia mengelap -meja dapur cor- ini setelah membuat sarapan, warna abu-abu acian semen itu kini tidak ada lagi, terganti dengan marmer.


Kompor miliknya diganti kompor listrik keluaran terbaru lengkap dengan alat pemanggang. Dinding warna kuning itu menjadi wallpaper motif dengan bunga sakura. Dirinya tidak tahu harus gimana dengan ketidaknyamanan ini. Jangan terlalu baik terhadap kami, Richie.


Vino mengulurkan tangan ke depan, memangil-manggil dengan bahasa lucunya pada sang Ibu dengan tidak sabar.


“Ibu masih kotor, sayang. Sebentar, Ibu mau mandi, ya,” kata Lala dengan lembut. Sementara matanya beradu tatap dengan Richie, tatapan sangat dalam membuat Richie jadi salah tingkah.


"Boy, ayo main lagi, Vino anak pintar." Richie mengusap pucuk rambut wanita itu karena tatapan Lala itu begitu menusuk relung hatinya, "Hah, ya sana mandi," kata Richie merasa kikuk, dia cepat-cepat membawa Vino ke depan TV, menata hatinya agar tidak melompat keluar.


Gemerisik angin dan derau hujan semakin kencang. Kerepyak! kerepyak! Air hujan makin mengguyur.


Di dalam kamar mandi, Lala menyalakan kran air panas. Alat itu bekerja.


Kucuran air hangat menyerbu punggung Lala yang pegal. Bulir-bulir air meluncur dengan mulus dari ujung kepala, berlomba-lomba melewati seluruh tubuhnya. Pegalku jadi hilang.


Lala menuangkan shampo, menggosok rambut pendeknya. Bila dipikir-pikir Richie begitu perhatian, dia memikirkan kami yang kedinginan. Sepertinya, aku jadi keterlaluan bila marah padanya, kan? Mengingat dia sudah memikirkan kenyamanan untuk ku dan Vino dengan begitu detail.


Mengapa lelaki baik seperti itu belum menikah si!! masa iya karena aku, itu tidak mungkin! apa sih yang aku pikirkan, sungguh kepedean , huh memalukan!! kata-katanya sulit dipercaya! dia pandai, perhatian, milyader, keren, badannya bagus! kaya, tampan! mustahil hanya memikirkan aku kan? siapa aku! jangan bermimpi dan kepedean, Lala Clarissa!


Dia yang masih terpejam merasakan air mati, dia meraba-raba kran- didepannya terasa lebih gelap. Wanita itu menyeka licinnya air shampoo di wajah terutama mata, matanya terasa perih ketika semua tampak gelap. Mati lampu?


"Ahhhhh! Tuan Richie, apa mati LAMPU?" Lala berteriak, manakala dia meraba-raba buih sabun masih terasa banyak di kepala dan wajah, yang belum hilang, dia memejamkan mata yang sudah terasa perih.


"Lala, mati lampu, tunggu." Richie meraba-raba dalam kegelapan, menarik Vino ke pangkuan, lantas meraba hp di kasur dan segera menyalakan senter.


Dalam kegelapan Lala bergeser ke kanan menggapai bak.


Tangan kiri berpegangan di bak, tangan lain meraba lubang bak dan membilas tubuhnya.


"Saya membawakan mu senter, pakailah."


"Ehm... sebentar." Lala berjalan sambil meraba-raba dinding timbul yang terasa halus, dimana sebelumnya berupa dinding semen kasar.

__ADS_1


Dia meraba serat kain kasar ditangannya, dan segera melilitkan handuk, rasanya sangat pengap dalam kegelapan ruang sempit.


Richie berdiri di depan pintu dengan senter ponselnya, dia terpaku saat bau harum itu tercium, begitu hanya tangan Lala yang terlihat.


"Berikan senternya." Merasa tidak ada tanggapan, kepala Lala muncul balik pintu kamar mandi.


"A-h ini." Matanya tak berkedip menatap bulir air di wajah dan kulit bahu Lala, jantungnya berdegub lebih kencang.


Selesai Lala berpakaian, mengandalkan pencahayaan dari Richie Richie saat wanita itu menggendong Vino sambil menciuminya. Di belakangnya Richie terus menghirup bau wangi dan langsung meraih handuk lembab di rambut Lala manakala mereka telah duduk di depan tivi.


"Tuan Richie, aku akan mengeringkannya sendiri."


"Lihat tanganmu sibuk, dan jangan memangil seperti itu lagi, saya terganggu."


"Jadi saya harus memanggil apa?" Lala memberikan ASI menggunakan apron menyusui, dia merasa risih ada Richie di belakangnya, tapi Vino sudah tak sabar. Sedangkan ponselnya mati, dia tidak mungkin membawa pencahayaan yang hanya satu dan meninggalkan lelaki itu dalam kegelapan.


Richie memberikan tekanan pada kepala Lala, dan memijatnya. "Saya juga bingung, sebaiknya kamu memanggil dengan apa, bagaimana bila 'Mas'?"


"Mas?" Lala tertawa kecil.


"Panggilan itu tidak cocok ya?" Richie berubah jadi tak bertenaga, setelah sebelumnya nampak semangat.


"Siapa yang bilang tidak cocok? hanya saja, jarang ada yang mau di panggil seperti itu." Lala kembali tertawa, teringat dirinya memanggil Johan saat pertemuan pertama. Eh, apa kabar Johan ya? aku belum mengecek instagram Amber dan Lydia!


Kilatan- kilatan putih dari langit terlihat di lubang Ventilasi, Lala langsung menutup telinga Vino, anaknya itu baru tidur.


Dentuman kencang menggema. Petir tidak beraturan, terkadang dan tiba-tiba begitu menggelegar keras dengan sangat panjang seakan sedang membelah langit malam ini. Beruntung Vino tidak terbangun.


Handuk basah jatuh ke bahu Lala manakala pijatan Lelaki itu makin intens. Lala ingin menolak, tapi Richie selalu membuatnya tak bisa melawan. Jari-jari Richie terasa besar saat menyentuh kulit kepala.


Richie condong ke depan, Lala tersentak dan menjauh ketika merasakan bibir ditambah hembusan panas Richie di telinganya.


Wanita itu menoleh ke kanan, "jangan macam-macam, mas Richie."


"Saya tidak sengaja, mengapa kamu jadi berpikir saya berbuat macam-macam? Ah! jangan-jangan itu yang kamu pikirkan selama ini?" Dua sudut bibir Richie terangkat, membentuk senyuman dalam bayangan hitam di sebagian wajah Richie sebab cahaya terhalang kepala wanita didepannya. Dia merasa gemas dan ingin mengungkung Lala.


"Tu-an, ah mas Richie. Aku tidak berpikir macam-macam, karena kamu terlalu dekat, jadi-"


"Oh - Iya - iya, sayang maaf!" Richie menutup mulutnya, dia memelankan suara "sorry."


"Kamu menggantung perasaan saya, Tuan Richie. Aku sudah mengajak anda berpacaran, dan anda mengatakan aku suruh menunggu. Sedangkan anda begitu sesuka hatinya memanggil 'sayang' dan bersikap romantis."


"Apa kamu suka dengan itu?" Richie dengan senyum licik dan suara baritonnya menangkap wajah cemberut Lala dari belakang.

__ADS_1


"Jangan membuatku bingung. Jika kita tidak berpacaran buang jauh-jauh sikap mu yang menyebalkan ini agh!"


Richie menjatuhkan kepala pada bahu kanan Lala, matanya terpejam dimana ia mere..mas handuk di pangkuan.


"Saya harus bertindak yang benar kan? Saya benar-benar ingin serius dalam segala hal tentangmu. Saya ingin segala prosesnya begitu sempurna. Rissa, saya sungguh sangat menyayangimu."


Richie melingkarkan kedua tangan ke depan di perut Lala. Sampai tangan kanan menyentuh kaki mungil Vino dalam pangkuan Lala.


Terasa hangat perut dan pinggang wanita itu.


"Mas, Richie, tidak usah pedulikan cara untuk memulai ini, bukankah itu sama saja? yang terpenting kan komitmen kita dalam menjalaninya."


Jantung mereka mulai berdetak kencang, mereka tidak mengira akan jadi saling terbuka pada akhirnya.


"Saya tidak mau setengah-setengah, mengingat sudah bertahun-tahun lamanya menunggu, saya ingin memulainya dengan cara yang benar, Risaa."


Lala merasakan Richie membenamkan wajah ke bahunya. "Kamu menunggu apa? cara? bukankah itu berlebihan?"


Richie kembali duduk tegap. "Tidak! cara itu penting bagi saya. Dan Rissa, kamu adalah wanita yang spesial."


Mendengar itu wajah Lala menghangat, dua sudut bibirnya mengukir senyuman, dan wajahnya menghangat.


"Sekarang saya bertanya, apa perasaanmu jika tengah bersama saya?" tanya lelaki itu dengan suara berat dan serius.


"Nyaman, tentu saja. Bila tidak, aku tak mungkin jauh-jauh mendatangimu ke markas saat di UK kan..." Suara Lala terdengar makin kecil. "Apa itu salah?"


"Nyaman ya?" Richie memegangi dagu, berpikir sejenak, matanya memandangi punggung Lala dan dia mulai bergumam.


"Mungkin itu karena hubungan kita saat kecil, bukankah kita sudah terhubung sampai sejauh ini, apa ini TAKDIR? mengingat kita tumbuh dalam lingkungan yang sama dan lalu terpisah cukup lama. Saya menemukan kamu kembali. Saya merindukanmu, Rissa. Sangat merindukanmu."


Dada Richie terasa berdenyut, saat kenangan masa kecilnya bersama Lala begitu tergambar jelas dalam benak pikiran. Dia kembali menjatuhkan kepala pada bahu wanita itu. Kekasih ku.


Lala merasakan hembusan nafas panas Richie pada baju katunnya, itu menembus kulit punggung dan terasa geli. "Maka ceritakan, seperti apa jika kisah itu memang benar ada? aku ingin tahu."


"Ikut tour dengan saya ke Rusia, saya akan menunjukan banyak hal padamu."


"Tapi ... mas Richie. Anda mungkin salah orang? siapa tahu aku bukan teman masa kecil mu, aku tidak mengingat apapun dan itu tidak mungkin sih-"


"Maka biarkan saya membuktikannya, ikut dengan saya...Rissa." Richie dengan nada berat lantas menyisir rambut Lala dengan jemarinya.


Memikirkan kemungkinan besar ada masa lalunya bersama Richie yang terkubur, membuat jantung Lala kembali berdetak dengan kencang, saat matanya terus memandang sang putra.


Vino, apa kamu mengijinkan Ibu membuka hati yang penuh luka ini untuk Om Richie? bagaimana jika kamu besar nanti, apa kamu akan membenci ibu karena telah meninggalkan ayahmu? Jangan membenci ibu, Nak. Maafin Ibu...

__ADS_1


__ADS_2