
...💫💫...
"Duduklah, Nak," kata sang ayah dengan sangat lembut.
Tidak ada keinginan untuk menguji kesabaran sang ayah, tetapi Lydia tidak terbiasa dengan raut wajah ayah yang jauh dari biasa.
Masih berdiri, Lydia membeku di balik sofa di -kamar sang ayah-
Waktu terasa berlalu dengan lambat, akibat mulut ember sang paman. Sorot mata sang ayah yang tadinya lembut dan penuh kasih sayang, sekarang jadi menciutkan nyali Lydia hingga perutnya terasa seperti diperas dan dipelintir.
"Jangan hanya berdiri saja." Terlihat sang papah yang duduk meringkuk, tidak menyembunyikan ketidaksukaan, seakan ada bola api panas menyala di punggung sang ayah.
Rasa dingin merayap di bawah kulit, merayap masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh Lydia.
"Duduk," kata sang ayah, yangmana sikapnya begitu dingin. Bak gunung es lalu longsor menenggelamkan Lydia dalam ketidakberdayaan.
Mengepalkan rahang, Lydia tenggelam ke kursi. Tetapi sang ayah itu tidak terburu-buru untuk mengguncang udara dengan kata- kata. Sang ayah menekan matanya untuk memulai.
Lydia menarik pandangan dengan bergetar dari wajah merah padam sang ayah, melempar jauh menatap pemandangan yang luar biasa indah di luar jendela. Gelungan ombak dan alam bebas.
Sungguh sangat bertolak belakang, dengan keadaan dirinya yang dikekang.
Sesuatu yang paling dibenci anak gadis bahwa harus menghadapi kemarahan ayah. Apa semua ayah galak?
Gemerisik angin menerpa dedaunan di luar, gulungan ombak dan deburan ombak di bibir pantai saling menyahut tak lantas melipur dan justru membuat kepala Lydia berdenyut.
Ingin berlari dan menenggelamkan diri ke ombak bergelung-gelung menghilang dari persidangan yang pasti akan menekan perutnya sampai terhimpit. Tetapi sebelum semua menjadi gelap "Ayah," menarik nafas dalam-dalam, "Lydia salah, tidak meminta ijin keluar. Tapi, pasti ayah melarang. Lydia kan sudah besar, dua puluh dua tahun dan bahkan dalam beberapa beberapa hari lagi dua puluh tiga tahun."
Johan menatap intens bahkan tanpa berkedip saat rahangnya terlihat mengeras. "Lydia, Kamu tahu kan, ayah tidak suka itu."
Glek-Semua berakhir seperti ini, sekalipun Lydia memprediksi ini akan datang, pada akhirnya dia merasa berada di ambang jurang lalu terpeleset meraih dahan kayu, kering tua lapuk dalam kegelapan, mencoba bertahan dalam ketidakpastian akan kemarahan alam. Dia tidak tahu alam akan menyambar atau terjun. Seperti itulah perasaan tak nyaman ini.
"Itu tidak seburuk apa yang ayah pikirkan," kata Lydia datar.
"Apa yang kamu cari di tempat kotor? apa kamu mencari pacar? biar Ayah jodohkan saja, ya?"
__ADS_1
Bibir atas terangkat, mengerutkan alis. Lalu apa hubungan dengan 'perjodohan,' menatap ayah. Lagi dan lagi perjodohan, mengigit pipi bagian dalam, Itu menjijikan apa ayah kira ini jaman Siti Nurbaya.
"Ayah, aku semalam hanya mencari ketenangan, apa itu tidak boleh?"
"Mengapa harus di tempat penuh kegelapan?" Lubang hidung ayah membesar bergetar seakan ada pusaran angin keluar dari dalam sana.Terlihat jelas hembusan nafas cepat seakan-akan dapat mematikan jika tidak menghirup dalam sepersekian detik.
"Itu tidak pantas. Perilaku mu itu ..." Sang ayah menahan dan tak meneruskannya. "Jadi, siapa yang mengajarimu? siapa yang membawamu ke sana?"
Lalu apa jika dirinya memberi tahu? ayah akan menghukum teman-teman tanpa sepengetahuannya. Hanya karena sesuatu berjalan dengan tidak semestinya, lalu ayah akan menemui mereka seperti yang sudah-sudah.
Ayolah ayah, Lydia hanya minum dan membakar lemak, melepas penat, apa yang salah? Ingin dia menjawab seperti itu itu. Tentu saja itu hal bodoh yang akan semakin membuat ayah terbakar.
"LYDIA." Johan di sofa sebrang meremas kepala dengan kasar.
Lydia menangkap sang ayah yang berjuang menahan kekesalan, "Lihat ayah, aku tidak ada yang terluka kan? tidak terjadi apa-apa kan, lalu apa yang salah?"
"Hah.." Johan kembali menggeram, bola matanya seperti bara."Dan bukan berarti kamu boleh menginjak kaki di sana. Dengar baik-baik, jam malam kembali ayah berlakukan. Jam 9 dan begitu juga dengan dua pengawal."
"Ayah!!!! Lydia sudah besar! aku sudah berkerja dan aku perlu inspirasi tanpa gangguan pengawal gila itu! dan mengapa jadi jam 9, harusnya jam 10!" katanya tercekat, dosakah bila dia ingin melempari ayah dengan seuntai kapas. Dia tidak bisa membayangkan hari-harinya akan dipenuhi dengan dua penjaga rese itu yang melarang ini itu dan ... dan selalu menjaga di depan pintu persis seperti anjing penjaga yang menggonggong, begitu ada orang lewat. Bedanya penjaga itu super cerewet, menggonggong. Itu benar-benar membuat Lydia ingin melempari mereka dengan timah panas.
Sekali lagi, Lydia mengatupkan rahang dengan paksa, dengan cara ini dia menghancurkan kilatan amarah dalam diri. Mengepalkan tangan ke bibir, menahan kata-kata yang merobek perut. Lydia menarik napas dengan sangat Iambat, memperhatikan cara terpisah bagaimana cara lubang hidungnya juga ikut bergetar dengan marah.
"Lydia, dengarkan ayah."
"Ini sudah setengah jam," kata Lydia tertahan setelah melirik jam tangan, dirinya sudah menjadi bubur karena serangan kalimat ayah yang betubi-tubi.
Bibir Lydia gemetar hebat, kekesalannya berakumulasi dengan keputusasaan yang telah bertumpuk-tumpuk. "Ayah mau berceramah sampai kapan..."
"LYDIA, apa kamu memahami semuanya?"
Sudah tidak bisa menahan rasa tertekan lagi. "Lydia tahu! Lydia akan jaga diri."
Memelankan suara dengan perasaan jengkel dan kasian pada ayah. Itu berkecamuk menjadi satu "Lydia tidak pernah macam-macam. Dansa kan olahraga."
"Kamu bilang olahraga? di tempat orang mabuk? Chhh." Alis ayah terangkat dengan cepat. "Kamu seperti ini, membuat ibu mu kecewa."
__ADS_1
"Lydia juga sama kecewa dengan ibu!" menangkap sorot mata putus asa sang ayah, "memang cuma ayah dan Ibu saja yang bisa kecewa dengan Lydia? apa para orang dewasa tidak pernah melihat kebutuhan kami!? Lydia muak dengan ini semua! Aku benci ayah," pekiknya, ketika mata sudah berkabut, dan hatinya dicincang dalam mesin giling kehidupan.
"Saya harap kamu mengerti bahwa kamu harus berperilaku sesuai dengan usia dan pendidikan mu," katanya penuh penekanan.
Untuk waktu yang lama Lydia membedakan tone suara sekecil apa pun. Sekadar catatan, sekarang ayah berbicara padanya seperti dirinya anak yang nakal.
Tanpa mendengarkan aliran badai pidato bernada tinggi yang mencerahkan, Lydia bergegas berdiri. Pundaknya seperti memikul anak berumur lima tahun, dia tak kuat menahannya, membuat makin tertunduk, di dalam diri umpatan membabi buta.
Dia meninggalkan sang ayah, saat genangan cairan bening sudah tidak tertahankan, membanting pintu dengan kekuatan sedemikian rupa, menggetarkan tembok yang tidak tahu apa salahnya.
Bukankah kami putri ayah!
Orang dewasa egois, mereka benar-benar tidak mengerti keinginan anak mereka. ahhh!!
Johan menatap pintu terbuka dengan nanar, dia menghela nafas ingin mengadu.
Merasa tidak tahu diri dan malu bila sedikit-sedikit harus meminta pendapat Sasha mengenai ulah putrinya. Sebenarnya dia ingin bertanya pada mama Tiara, tapi itu terlalu memalukan. Bisa-bisa sang mama kembali mengatur perjodohan untuknya.
Mengurus seorang gadis kadang membakar otaknya, semakin sang putri dikekang semakin perilakunya menjadi-jadi. Semakin dimanja semakin susah diatur. Atau karena dirinya yang tidak becus mengurus ini semua.
Palu-palu besar bagi memukul kepala, pundak dan lehernya, semuanya menjadi pegal dan berat.
Dia memutar pandangan ke atas, menahan matanya yang mulai memanas dan memerah. Sesaat dia kembali dalam rasa sepi yang mengigit.
Dia butuh pundak seorang wanita untuknya bisa menyandarkan kepala yang akan meledak dan begitu membuat lelah.
Apa salah saya Tuhan.
Bukankah saya telah meninggalkan dunia Klan nan gelap, memilih hidup normal dan menjadi biasa.
Lydia... Ayah, hanya tidak ingin kamu mengalami nasib seperti ibu.
Betapa menyadari perilaku buruk ayah pada Ibumu, ayah tidak menyesali itu, karena ayah jadi memiliki mu.
Namun, ayah takut karma menimpamu karena keburukan-keburukan ayah di masa lalu. Itu ketakutan terbesar. Karena ayah takut lelaki bajingan akan datang mengganggumu.
__ADS_1