Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 249 : PULANG KEMANA?


__ADS_3

-POV LALA-


Saya tidak dapat berbicara dan menjadi sangat bingung. Aku tidak tahu apa yang terjadi. 


Aku hanya bisa bernafas melalui mulutku. Rasanya seperti saya bernapas melalui sedotan. Itu adalah perasaan yang tidak biasa. Saya merasa ingin muntah karena saya merasakan selang di belakang tenggorokan saya. Juga selang di hidung saya ke perut saya yang terpasang pada pengisap tetapi itu telah meringkuk di belakang tenggorokan saya yang membuat saya tersedak, mual.


Saya mendapatkan cukup oksigen tetapi tubuh saya ingin panik. Aku memejamkan mata dan berdoa dan menangis, melawan PANIK.


Tidak nyaman, saya mencoba menarik tabung dari mulut tetapi sesuatu menahan dua tanganku. Saya mendengar suara Richie yang menyuruh untuk tidak melakukan itu. Mencoba berbicara dengan tangan dan berharap bahwa semacam isyarat akan menyampaikan maksud, saya yang terkekang. Saya memiliki pengekangan dari pergelangan tangan, yang TIDAK saya butuhkan! 


Jika tangan saya bebas, saya merasa dapat berkomunikasi dengan mereka! 


Beberapa jam berikutnya setelah saya menyerah setelah mencoba berkomunikasi mereka hanya mengendurkan satu tangan pada satu waktu untuk aku bisa menulis pertanyaan untuk mereka. Dan mereka tidak punya waktu untuk memainkan 20 pertanyaan.


Ketika saya bangun saya melihat Johan yang mencoba mengajak mengobrol. Saya tidak melihat Richie tetapi melihat dokter yang merawat. Saya hanya sempat mendengar Richie. Hal-hal yang sangat kabur tentang apa yang dikatakan Richie.


Atau dokter menjelaskan apa yang terjadi dan Johan menceritakan semua. Pikiran saya tidak bisa membungkus apa yang sebenarnya terjadi dan Johan mengulangi apa yang telah terjadi pada saya.


Saya menghitung 23 pompa, dan ada tangki Helium besar di samping tempat tidur. Saya tampaknya tidak bisa menghirup udara bahkan di ventilasi sehingga dokter mencampur O2 dan He. 


Saat saya kembali bangun, tidak ada Richie dan Johan. 


Tubuh saya mengenali trakea sebagai benda asing dan meningkatkan produksi lendir untuk mencoba mengeluarkan benda asing itu. 


Saya muntah di rambut saya, di leher saya. Saya ingin memberi tahu mereka agar memberi saya kain cuci dan saya akan membersihkan sendiri, tapi ini ICU.


Saya melirik perawat laki-laki ketika alarm ventilasi saya berbunyi karena tekanan tinggi saat lendir menghentikan tabung saya dan udara tidak bisa masuk tapi dia berada di luar pintu berbicara tersenyum dan tertawa dengan perawat wanita.


Saya mengguncang rel tempat tidurku, bahwa saya terikat karena dia memindahkan lampu panggilan dari jangkauanku ... butuh banyak usaha untuk memindahkan pantatku ke sana untuk menggapai, tapi tetap itu gagal.


Dan Tuhan seperti mendengar doaku saat Richie datang dengan tatapan nanar. Dia tampak marah pada perawat tapi dia yang membersihkan muntahan saya dari tubuh saya, dan aku menangis saat perawat pergi, tapi Richie dengan sabar menenangkan ku dan memberi semangat.

__ADS_1


Keesokkan pagi, Richie memandikan saya dan membersihkan arena pribadi saya. Kemudian dia mengecup kelopak mata saya dan mengucapkan kalimat penyemangat sebelum pulang.


Menjelang siang, saya dipindahkan ke ruangan berbeda. Penuturan Johan itu sebuah ruang perawatan, Johan tampak kurusan dan mata itu seperti mata panda.


Saya kembali terbangun saat sore dan menemukan Richie tanpa tahu kapan Johan pergi.


Hari ke dua, di ruang perawatan saya secara bertahap disapih dari mesin dan mulai belajar duduk pagi itu dengan dibantu Johan yang membantu saya menggerakkan kaki dan tangan di tepi tempat tidur, tentu masih terdapat selang di mulut saya dan malam itu Johan bermalam.


Di hari ketiga, Richie datang lalu dia memandikan saya di tempat tidur, kini saya belajar berdiri dan saat saya akan jatuh Richie menangkap saya.


Kamar ini hanya ditempati saya. Malamnya seseorang masuk dan Richie tidak mengatakan apa-apa saat pergi. Dan orang itu Kevin, sepertinya aku baru melihatnya sejak saya bangun. Awalnya hanya ada kecanggungan pada akhirnya dia bercerita banyak membuatku menangis saat dia menunjukan video Vino.


Hari keempat, Kevin hendak membasuh tubuh saya dan saya menolak, jadi dia hanya membasuh wajah saya dengan kain basah. Pagi itu saya mulai berjalan lagi dengan tiga orang di belakang saya yang salah satunya mendorong semacam monitor yang terhubung pada selang saya.


Dan di kanan seorang perawat. Di kiri ada Kevin, di depan ku ada juga tiga perawat.


Begitu saya duduk, berjalan tidak terlalu jauh tapi saya sudah kelelahan. Para perawat memberi semangat dan selamat atas kemajuan saya, aku menjadi semakin semangat.


Malamnya Richie belum datang, maupun Johan, tapi karena otak ku yang lemah sepertinya aku tidak menggubris itu. Aku melirik Kevin yang tertidur di kursi, sesekali lelaki itu tidur memijat lehernya.


Hari ke enam, Saya akan di ekstubasi.


Dokter wanita itu melepas sesuatu perekat yang menahan di pipi kiri dan kanan ku dan tabung-tabung itu dilepas dengan cepat, dia menarik dari tenggorokan saya.


Mata saya mendelik saya seperti tercekik dan Richie memberi keyakinan pada saya.


Tenggorokan saya sakit dan akhirnya saya bisa membuang selang makanan dan akan makan makanan lagi! Tidak pernah ada rasa sakit dari ventilasi! Saya merasa jauh lebih baik setelah tabung dilepas.


Tapi beberapa menit keluar dari ventilasi saya menjadi terus panik dan berpikir saya tidak bisa bernapas. 


Tidak bisa bernafas, adalah hal paling menyakitkan. Tidak hanya harus berurusan dengan ketidakmampuan untuk "menarik napas", tetapi rasa sakit di dada dan diafragma karena kelelahan otot pernapasan, rasa sakit di punggung karena penggunaan otot yang berlebihan dalam mencoba bernapas. 

__ADS_1


Emosi menyerang ku, ketidaknyamanan yang terkait dari kelelahan otot lebih buruk daripada kecemasan APAPUN yang pernah saya rasakan. Sudah sangat buruk sehingga saya ingin memohon untuk di intubasi karena saya mengira betapa saya akan mati, tapi Richie mencoba meyakinkanku ini keluhan murni.


Tapi saya terus-menerus merasa seperti tidak bisa bernapas dan tercekik. Tidak membantu bahwa saya masih diberi obat yang cukup berat sehingga saya merasa bukan diri sendiri, saya cukup paranoid. Memori jangka pendek saya kacau dari semua ini.


Hari ke tujuh, saya telah melewati masa paling menakutkan itu dan saya bisa bernafas tanpa ventilator!


Namun, keributan terjadi saat Johan baru mulai menyuapi saya sarapan bubur yang sangat encer, saat Richie dan Kevin berdebat kemana saya akan pulang.


"Vino masih membutuhkannya, dia harus di rumah." Kevin mengencangkan suara, dan saya bertemu tatap dengan Johan.


"Tidak. Kalian sudah bercerai, itu tidak etis, Kevin."


"Nah, lalu di tempat mu. Richie, sama tidak baik."


"Kevin, terima saja bahwa, kami akan mendaftarkan pernikahan kami." Suasana makin memanas dan saya menelan kasar suapan Johan.


"Huh ya?!!!" Kevin berdecak meraih kerah kemeja Richie, rasanya saya ingin melempar mereka dengan guling. Sayang nya, kekuatanku belum cukup untuk itu.


"Bro! Nah, gimana kalau ... Lala pulang ke Jawa dia akan lebih nyaman di rumah sendiri. Dan ada aku di sana, eh ada Luca juga," Johan menyela, tampaknya Johan di sini yang paling tenang.


"TIDAK!" Bentak Richie dan Kevin bersamaan, dua orang yang berdiri berhadapan itu kini menatap tajam pada Johan. Mereka berjalan, kini duduk di ranjang samping kaki ku. Richie di sisi kanan, dan Kevin di sisi kiri. Bibirku berkedut, huh.


"Dan lagian Alen di tempat saya." Kevin membela diri. "Dan anak-anak semua di tempat saya, Lydia dan Amber. Nah ... anak-anak tidak nyaman bila ibunya di tempat pria asing?" Kevin memicingkan mata ke kiri pada Richie dengan suara penuh penekanan, ada kepercayaan diri di sana. Dan Richie mendengus kesal.


"Saya kira perkataan Kevin ada benarnya, Eros," saya menghela nafas dalam kebingungan saat Kevin tersenyum pada Richie. Dan saya menatap Eros dengan memohon.


"Jadi, sayang?" Richie memberikan tatapan posesif pada saya. Dia belakangan sering tampak menahan marah, terutama bila perawat melakukan kesalahan. " ... dan Java Island terlalu jauh, untuk saat ini. Kita perlu ke kantor pendaftaran."


"Saya ingin ke jawa, Eros," suaraku dengan lesu. "Saya ingin pulang," dan saya sangat canggung bila harus ke kediaman Kevin. Dan anak-anak akan menatapku galak bila aku ke rumah Richie, bahkan tatapan para anak gadis mulai posesif.


"Tidak!" Richie dan Kevin menjawab bersamaan lagi membuat saya mendengus dengan penuh kekesalan, dan bibir saya mengerucut, rasanya ingin menangis.

__ADS_1


Johan mengangkat bahu pada saya, bahkan teman terbaik ku ini tidak bisa berkutik karena mereka. Saya meraih mangkok dari tangan Johan dan makan sendiri saat Richie memijat pergelangan kaki saya yang tenggelam dalam selimut.


"Ayo, sayang, putuskan kemana kamu akan pulang!?" Richie dengan nada memohon dan itu pertanyaan yang sangat sulit bagiku, bahkan saya harus memilih pada pilihan yang tidak ingin aku pilih sekarang.


__ADS_2