Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
Draft


__ADS_3

Di daratan Cambridge ... Lala terbangun di kamarnya, kamar saat pernikahan dengan Kevin. Dia menggigit bibir bawah. Benar-benar keterlaluan karena Kevin membawanya tanpa persetujuan.


Hubungan antara dia dengan Ars mulai membaik dan Kevin justru mengacaukannya, dan untuk apa lelaki itu membawa ke kamar ini lagi, itu paling buruk dari segala yang terburuk.


Matanya menyapu ke seluruh ruangan yang semua masih sama dan aroma mawar begitu kuat, dua buket mawar segar terdapat dalam vas tinggi di dua sudut ruangan.


Kini dia tertuju pada kotak kaca perhiasan dengan lampu paling terang. Di sebuah laci penutup kaca, mata tertuju pada kalung milik ayah. Tidak mungkin kan masih sama, menekan sandi pada tombol, sandi itu tanggal dimana dirinya bertemu dengan Kevin saat di ruang meeting.


Klik-


Mata Lala melebar saat kaca itu bergeser, bahkan lelaki itu tidak mengganti sandinya. Tangannya mengulur pada kalung berbandul ungu pemberian ayah yang saat itu tak dibawanya. "Oh ayah aku akan datang ... tak peduli sesulit apapun." Tangannya gemetar memakai kalung itu, bukan gemetar karena kalung ... tapi karena mendapati cincin pernikahannya masih terpampang di titik tengah tempat perhiasan itu.


Pintu berderit terbuka, Lala menoleh dan Kevin berjalan ke arahnya. "Babe..."


Kevin melirik kalung yang baru dipakai mantan istrinya, bulu mata lentik itu bergetar. Bahkan dia menggantikan pakaian Lala dengan gaun hijau kesukaanya. Namun hatinya sakit, saat dia menemukan bekas gigitan merah di perutnya. Oh apa Richie sejauh itu, itu tidak boleh terjadi. Dia satu-satunya, dan hanya untuk saya."


Menekan tombol dan kaca kembali menutup diatas perhiasan, "maaf, saya hanya mengambil kalung dari ayah."


"Itu semua milikmu. Saya menyimpannya, saya tahu kamu akan kembali, Babe."


"Tolong, panggil nama saja, aku tidak mau menyakiti Richie." Bulu kuduk Lala meremang, terbayang di hotel saat Kevin memaksanya untuk memenuhi nafsu buas Kevin. Tangan meraih besi berhuruf Y, di belakangnya, itu sebuah tempat kalung di sebelah meja kotak perhiasan, dan menyodorkan ke depan arah Kevin agar tidak mendekat. "Kita telah berakhir, sejak lama."


Kevin menahan senyum, kelakuan mantan istrinya membuat gereget. Dia nyaris bisa penyatuan dengam Lala sebulan yang lalu jika bukan karena Lala menggaruk wajahnya dengan ujung botong, dan membuat jerit. Dan bukankah jika dia ingin, akan menidurinya tadi pagi. Sayanya dia tidak akan melakukan itu.


"Dan saya akan menikah dengan Richie."


Bibir Kevin berkedut, "Lala, mari kita kembali, saya yakin kamu masih mencintai saya."


"Tidak! hatiku telah mati, kamu yang membuatnya mati. Jadi, jangan sakiti saya lagi atau memaksa segala hal sesuai dengan kemauan mu! kamu menghancurkannya, menghancurkan semuanya! Kau tidak tahu rasa sakitnya kamu bohongi? masih ingat betul dalam ingatanku kau' saat Ivy yang sedang sakit, kamu beralasan ke London, padahal diam-diam kamu menemuinya!"


"Bukankah cinta mu untuk dia? bahkan kau memasang fotonya! kau sama sekali tidak berpikir bagaimana perasaanku jika melihat itu? atau kau sengaja mau menghancurkanku, Kevin?"


"Lala, saya tidak akan mengulanginya."


"Aku tidak peduli, aku tak bisa hidup dengan rasa sakit itu, Kevin. Semuanya berakhir sejak kau membawanya ke rumah ini!"


Kevin mengepal kuat, "Kau menerima Richie hanya demi balas dendam karena Richie orang terdekatku kan?! kamu berhasil, aku merasakan sakitnya. Sudahi ini, kembali pada saya, Babe."


Tinjuan kuat menerjang dada Kevin, dan dada lelaki itu teguncang ke belakang tapi kakinya tetap tak bergerak. Mengambil memarik tenaga kuat dan memukul dadanya lebarnya lagi, semua kekesalan yang terpendam karena kesewenang-wenangan Kevin "Seenaknya membawaku tanpa ijin! Kamu kira aku barang!"


"Ya, pukul sepuasmu, sampai marahmu padaku hilang dan lalu kita kembali."


"Bawa saya kembali ke tempat Ars." Mengalihkan topik Kevin.


"Tidak, saya akan mengurusnya. Termasuk Alen."

__ADS_1


"Dengan apa? Membunuh?? Apa itu keahlianmu?!!" Lala mengiggit bibir keras. Bagaimanapun akan berbicara dengan Kevin itu sulit, tidak mau dibantah.


"Bila perlu."


"Aku tidak mengijinkanmu membunuh Ars atau Daniel! Dan aku tidak akan membiarkan Daniel membunuh ayah! Bahkan seekor semut tidak boleh dibunuh!"


Kevin meraih bahu Lala untuk mendekapnya dan wanita itu menyepak tangan tidak mengijinkannya. Berlalu meninggalkan kamar.


Dada Lala mendidih, Lelaki itu seperti tidak akan pernah melepaskannya, bahkan perceraian itu semua sudah clear dan lelaki itu terus mengekangnya.


***


Di kamar Ivy, Lala berkumpul dengan ketiga putrinya. Dan mendapat kabar bahwa Amber, Lydia dengan Johan sedang dalam perjalanan menuju kediaman Kevin.


Setelah drama kekhawatiran ketiga putrinya, Lala meminjam ponsel Ivy, menghubungi Richie tetapi lelaki itu belum menjawabnya. Lala mengirim pesan agar Richie segera menghubungi. Dia juga menghubungi Paman Pedro, dan ayahnya telah dibawa Ars, lebih tepatnya sang ayah menyerahkan diri. Dan Lala minta paman Pedro agar menjemputnya.


Mengabari Shasa dan Ella agar mereka tidak perlu khawatir. Dan bisnis kolam renang, ternyata dijalankan Jefri.


Di balkon, Lala menatap ke bawah, anak buah Kevin bersliweran. "Mereka tidak akan mencegahku kan?"


Tringg... Richiie menelpon video call, Lala mengangkatnya, terlihat Richie di kamar dengan pipi memar.


"Mas, kamu kenapa? Itu pipimu."


Richie mengelus pipinya, "ada sesuatu kecil, sebentar lagi sembuh."


"Iya sayangku, hanya kecelakaan kecil. Risa, kamu tidak terluka kan? Apa Kevin mengganggumu? aku minta Damar untuk menjemputmu ya?" nada cemas dari suaranya.


"Aku baik-baik saja mas. Kevin tidak mengganggu kok. Mas dimana?"


"Saya masih dipersembunyian kapal. Anak buahku menemukan Vino di Mexico, sekarang dalam penerbangan, satu jam lagi sampai di tempat Kevin. Apa Kevin belum memberitahumu?"


"Belum. Syukurlah! Jika kamu mendapatkannya mas, terimakasih banyak!" mata Lala memanas, akhirnya akan bertemu dengan Vino, itu seperti mimpi. "Saya tak sabar melihat Vino, sebulan itu msnyiksaku tanpanya."


"Itu karena saya, maafkan saya Risa, menemukanmu sampai satu bulan," Richie menghela nafas, pria itu berbaring di tempat tidur.


"Tidak apa mas." Senyuman Lala tiba-tiba memudar. "Lalu ayah?"


"Ayahmu belum sampai, kemungkinan dia akan dibawa kemari. Jadi, aku akan menunggunya di kapal."


"Mas, saya membuat janji dengan Ars, tapi sepertinya mungkin dia akan marah karena saya pergi."


"Tentang apa?"


"Saya akan menjadi perawat Damir selama satu tahun."

__ADS_1


"Apa? Itu tidak perlu. Saya telah menyandra Damir dan akan menukar dengan ayahmu." Richie berkata dingin.


"Apakah kamu akan baik-baik saja?"


"Ini hal biasa untuk saya, jangan khawatir, saya akan kembali tidak lebih dari seminggu."


"Mas ..."


"Ya? apa kamu merindukan saya, Risa? Saya ke kamarmu semalam dan kamu sudah tidak ada, lalu pagi tadi aku mendapat laporan Kevin membawamu, maaf saya terlambat."


"Tentu untuk itu, jangan ditanya, saya merindukanmu, saya harap Anda cepat pulang, mas. Sebenarnya saya sudah menolak Kevin dan dia membiusku. Tapi boleh saya meminta satu permintaan?"


"Aku akan menghajar anak itu saat ketemu nanti, berani sekali dia memaksamu. Jadi, permintaan apa, Risa? katakan."


"Saya ingin menemui Ars dan Kevin melarang saya jadi saya akan tetap menemui Ars, baik tanpa persetujuan siapapun. Saya minta tolong jangan sampai kamu membunuh Ars dan Daniel. Tolong jangan ada pertumpahan darah ... "


"Itu saja?" Richie memutar matanya menyatukan alis ke pangkal hidung.


"Ya itu saja, apa bisa?"


"Tentu! Untuk mu sayangku. Damar akan menyiapkan itu. Nanti saya akan menghubungi lagi. Beristirahlah, anda tampak lelah ... "


"Terimakasih Eros! Anda terbaik!"


"Uh huh ... Terimakasih sayang." Richie meledek Lala dengan kecupan bibir disambut tawa Lala dan telepon berakhir Lala masih menahan tawa dengan ekspresi Eros.


Ke depan, tampaknya semua akan baik-baik saja. Saat nanti bertemu ayah, Lala tidak akan membiarkan ayah jauh-jauh lagi.


"Mah ... Ayo, katanya mau masakin makan siang untuk kami," Isla baru datang melendot pada sang mama.


Lala memeluk erat, membejek-bejak wajah Isla, gadis ini ... Mamanya baru datang sudah cerita soal ketertarikaannya pada teman kampusnya.


"Ayo, kamu harus belajar masak sendiri, Isla. Karena kamu menjadi kakak, kamu harus bisa masak untuk adikmu. Kamu tahu adikmu sedang perjalanan ke rumah dan akan tiba dalam satu jam ... "


Isla menjerit lompat-lompat, tidak percaya, jeritan membuat Irish dan Ivy turut ke balkon.


"Kenapa?" Ivy lari yang baru datang.


"Ada apa mah?" Irish yang baru datang.


"Adik kita sedang pulang!" pekik Isla dan Lala mengangguk.


"Oh mamah adik! aku mau melihat adik!" Ivy membenarkan kaca matanya ikut memeluk sang mamah. "Oh ini keren! Aku tak sabar."


Pergulatan dapur antara Lala dan ketiga putrinya tak lepas dari pandangan Kevin yang duduk dengan tablet di tangannya. Seandainya mimpi itu bisa menjadi nyata. Seandainya dirinya diberi kesempatan sebentar saja untuk menghabiskan waktu bersama mereka.

__ADS_1


Kenyataan terlalu pahit. Ia ingin menyingkirkan Richie dan itu terlalu sulit, ataukah dia harus meracuni Richie demi bersatu dengan Lala lagi, meski mengambil sebuah peperangan.


Kenapa harus Richie? Kamu hanya ingin membalas rasa sakitmu kan? Kamu tidak mungkin memiliki perasaan pada Richie. Aku ter.jebak dengan teman kamarmu dan lalu kau membalasnya, karena Richie orang terdekatku, dan kebetulan Richie tertarik padamu. Begitukan!?


__ADS_2