
Peringatan sarat akan unsur kekerasan ! Mohon bijak dalam menyikapi bacaanya🙏
_____________________________________
Dua minggu telah berlalu, Kevin semakin sibuk dengan tugas kuliahnya. Ia hanya bertemu Lala pagi dan sore hari di luar jam kuliahnya, karena malamnya harus di kediamannya di Clarkson Rd, ya Kevin terpaksa karena Luca memperpanjang masa tinggalnya di Cambridge. Kevin harus terus kucing-kucingan, agar tidak diketahui Luca. Tak arang Lala protes karena Kevin sering di luar dari pada menemani waktu Lala.
Namun malam itu sungguh genting, Pak Salim sang kepala pelayan yang patuh pada perintahnya, mengabari Kevin bahwa terjadi sesuatu dengan nona Lala, tentu saja tanpa sepengetahuan Luca.
Kevin telah bersiap, namun saat ia sampai pintu dihalangi oleh Luca.
"Mau kemana? ini tengah malam?" tanya Luca curiga.
"Ke rumah Guskov, minggir aku bukan anak kecil!" seru Kevin berbohong.
"Memang segenting itu? ini sudah malam loh?"
Kevin mendorong tubuh Luca kasar. "Aku bilang minggir!"
Kevin pergi mengendarai mobilnya sendiri di tengah malam yang dingin. Luca menatap kepergian Kevin, tak biasa-biasanya kenapa sang adik terlihat begitu khawatir?
Lima belas menit kemudian Kevin sampai di rumah sakit, dia naik ke ruang vvip dimana pacarnya tengah mendapat perawatan intensive. Dokter masih melakukan pemeriksaan dan pengamatan dengan teliti termasuk mengambil sampel darah Lala.
Satu jam kemudian hasil pemeriksaan darah keluar, hasilnya sungguh mengejutkan Kevin. Ditemukan kandungan pota**um sia**da dalam darah Lala yang nyaris mengilangkan nyawa Lala terutama janinnya. Mata Kevin berubah nyalang.
"Bagaimana kalian bisa kecolongan ha!!! bagaimana Kalian akan bertanggung jawab bila terjadi sesuatu pada wanitaku? kalau sampai nyawanya tak selamat, jangan harap nyawa keluarga kalian akan selamat!!" berang Kevin mengeluarkan senjata api dari jaket tebalnya.
Para pengawal membulatkan mata begitu juga Siska, habis lah nyawa mereka.
Klek-
Para pengawal memejamkan mata saat pelatuk senjata itu ditarik.
Dorr!
Dorr!
Dorr!
Tiga tembakan menembus sepatu dan mengenai punggung-kaki-kanan tiga pengawal laki-laki.
__ADS_1
Para pengawal itu menahan panas pegal pada kakinya, namun mereka tak berani mengeluh, masih untung nyawa mereka tak melayang.
"Dan kau Siska, jangan kira karena kau perempuan bisa lolos! cari pelakunya segera atau ku buang mayatmu ke orangtuamu, paham!" nyalang Kevin.
"B-b-baik Tuan, tol long am ampuni saya yang teledor!" jawab Siska ketakutan.
"Minggir kalian! menjaga satu orang saja tak becus! Seharusnya kalian yang keracunan!"
Brak!
Kevin menendang kursi di koridor dan meninggalkan mereka yang ketakutan.
Darah mulai mengalir dari kaki tiga pengawal laki-laki mengotori lantai putih rumah sakit itu. Para perawat lalu berdatangan mengurus luka tembak pengawal setelah mendapat perintah dari pengawal lain yang terlihat jabatannya lebih tinggi.
Sementara Siska bagai akan diterkam harimau, nyalinya langsung menciut. Bagaimana mungkin bisa ada Racun dalam tubuh Nona? sementara dia selalu memeriksa dan menguji semua makanan yang hendak disantap Nona Lala. Ia harus segera minta bantuan Parker, agar mau membantunya.
Dokter terus mengawasi perkembangan Lala dan kandunganya dengan teliti, sampai pemeriksaan terakhir kedua bayi Lala masih bisa diselamatkan, namun Lala masih juga belum siuman.
Bantuan pernafasan, bantuan penawar antidot, dan pemberian hydroxocobalamin untuk mengikat racun yang sudah masuk di hati, semua dokter lakukan dengan hati-hati.
Satu jam kemudian Lala sudah tidak kejang-kejang, Dokter melarang Kevin menyentuh daerah mulut dan tangan Lala yang terpapar zat beracun.
Suara pintu terbuka, Parker masuk ke dalam ruangan itu, memberi hormat kepada Kevin.
"Aku mau kau yang mengawasi Lala sementara ini,"
"Baik, Tuan. Anda sebaiknya segera pulang, Tuan Luca bisa curiga bila Anda terlalu lama. Anda tidak menginginkan Tuan Luca tahu keberadaan Nona, kan?"
"Hah, Sialan, aku ingin menemaninya."
"Anda bisa datang besok pagi, Tuan. Saya akan menjaga Nona dengan baik, dan saya akan langsung melaporkan bila Nona siuman."
Kevin ingin sekali mencium kening dan tangan Lala, namun itu di larang.
"Jangan kecewakan Ibumu! bertahanlah kalian,nak. Perlihatkan ke dunia jika kalian anak-anak yang kuat, kalian harus menjaganya, beri Ibumu kekuatan" bisik Kevin pada bayi-bayi di perut Lala, Kristal-kristal air jatuh dari sudut mata Kevin ke perut Lala, dia hanya bisa mengelus kandungan Lala yang terasa hangat.
Dengan berat hati Kevin meninggalkan Lala jam dua pagi.
Daniel kabur dari serangannya, beberapa bulan lalu saat sudah ditangkap. Kepala Kevin benar-benar pusing, masalah Daniel belum tuntas, kini ada lagi yang mengancam nyawa Lala, bukan mengancam, orang itu beneran akan membunuh Lala.
__ADS_1
"Sialan Sialan ! Aku hanya ingin hidup tenang!!!" teriak Kevin sambil mengencangkan laju mobilnya.
**
"Algio?" tatap sinis orang yang sedang mengitari dirinya yang diikat di kursi besi yang tertanam ke lantai.
"Apa ini putrimu?!" sinis lelaki besar bertato dengan berpakaian jas yang tengah menunjukan video putrinya yang telah berbadan besar.
Mata Algio membulat, bagaimana mereka bisa tahu keberadaan putrinya?, dan apa? putrinya tengah hamil besar?
"Hmmphhh!" mulut Algio di bekap, Algio geleng-geleng kepala.
"Oh benar putrimu ya!" tawa pria itu semakin menggelegar. "Kau lihatlah baik-baik, ini sebelum dia masuk rumah sakit. Tapi, karena kau sudah menghabiskan kesabaran tuanku ... " tatap pria itu tajam. "Lihat lagi ya!" Pria itu menggeser videonya, terlihat video yang diputar jika Lala yang sedang kejang-kejang dengan mulut berbuih, sampai Lala di dorong masuk ke sebuah ruangan yang terlihat seperti rumah sakit, video itu terhenti. Pria itu membuka bekapan Algio.
"Bajingan kau! apa yang kau lakukan pada putriku ha!"
"Tentu saja semua ada harganya algio. Berikan nama Tuanmu dan Ku lepaskan putrimu, bagaimana? sepadan kan??" tawar sang pria itu.
"Ah kurasa itu sangat menguntungkan untukmu, karena kamu bisa mendapatkan putrimu dan juga cucumu ya?" ucap pria itu sambil tertawa lagi. "Kenapa kau diam? Jawab Algio! kau memegang dua nyawa? apa kau mau merelakan mereka hanya untuk menyelamatkan tuanmu?! yang mana bahkan tuanmu juga sudah tak peduli dengan keberadaanmu sekarang ya!?"
Sundutan listrik menyerang tubuh Algio, membuat Algio badannya kesakitan. Sudah beberapa kali mereka menyiksa Algio dengan sengatan listrik, namun tidak membiarkan Algio mati demi meraih tujuannya.
"Atau kau mau kubawa putrimu kemari, dan kuperlihatkan padamu bagaimana menyiksa putrimu yang sedang hamil di depan matamu? ini pasti serukan?! Ah itu ide cemerlang!" seringai pria itu.
"Si sialan kau! siapa sebenarnya kalian?? panggil tuanmu! temui aku pengecut!" teriak Algio meronta dari rantai besi yang mengikatnya.
"Kau merasa dirimu tinggi? sampai mau menemui bosku ha? coba kau pikirkan? selama ini siapa yang pernah kau serang? apa kau ingat barang sedikitpun? pastinya tidak kan!? karena terlalu banyak orang, yang telah kamu habisi tanpa rasa kasian kan Algio???" Pria itu meninju wajah algio berkali-kali dengan amarahnya, membuat darah segar mengalir dari mulut Algio. Pria itu menyundut listrik ĺebih lama sampai Algio pun pingsan dibuatnya.
Kemudian pria itu meninggalakan Algio.
Di ruang sebelah. Sang penyiksa menghadap bosnya, bosnya di balik tirai tebal, sang penyiksa tidak bisa melihat siapa bosnya.
"Ada perubahan?" tanya sang bos dari bilik Tirai.
"Belum, dia masih setia pada tuannya. Mengapa kita tidak langsung membunuh putrinya saja?"
"Kau bodoh ya, kita bisa bermain-main dengan putrinya sampai Algio mau memberitahu."
"Sepertinya dia tidak akan memberitahu bos?"
__ADS_1
"Bawa putrinya kemari, buat algio menyerah, kalau perlu ... kau per ko sa atau kau gu gurkan janin putrinya di depan Algio atau kau lakukan dua-duanya sekaligus, siksa mereka sampai Algio membuka semuanya!" geram seorang dari bilik Tirai itu dengan tawa liciknya.