
-POV AUTHOR-
Kini, dia duduk di depan kolam renang, mengamati pertunjukan sore, akan tetapi pikirannya melayang jauh. Tampaknya menaiki kapal selam bersama Ars dan Damir melihat paus dan hewan-hewan dalam lautan dalam di tempat tergelap, itu masih belum membantunya untuk mencari jalan keluar, dan selang-selang otak justru semakin mengkerut dan bundet.
Dua tangannya semakin memeluk lengan, bayang-bayang wajah ayahnya, bayang-bayang wajah Kevin, bagaimana nanti putrinya Isla, Iris, Ivy membayangi.
Setiap orang memiliki kehidupan mereka sendiri, tetapi ada apa dengan kehidupannya yang jauh dari normal. Selama ini dirinya berhasil melewatinya bahkan kebohongan Kevin selama duapuluh tahun yang terlampaui menyakiti, dirinya bisa melalui.
Namun, apa ini, belum lama dikejutkan dengan apa yang dilakukan ayah dan Kevin. Dan apa alasan Mereka akan membunuh ayah? Setidaknya setelah ini dirinya akan menguatkan diri, dia benar-benar akan bertanya kenapa.
Jadi, mungkin, ayah juga sebenernya tahu siapa Kevin saat malam pernikahannya. Jadi, itukah alasan ayah saat itu membawanya kabur? tentang hidup Kevin yang abu-abu ... black lion dan macan putih.
Ayah mungkin melakukan perbuatan keji seperti apa yang dia lihat saat anak buah Kevin membunuh seseorang, sepertinya dari mata ayah, ayah juga melakukan itu.
Lala menggelengkan kepala, kakinya naik ke kursi renang, dan menenggelamkan kepala ke dalam lutut.
"Ibu Lala."
Lala sedikit menoleh kanan, "Dima," katanya tak semangat.
"Kenapa? ada masalah?" Dima memperhatikan gerakan lambat saat kepala wanita itu kembali tertumpu pada lutut dan rambut halus pendek itu kembali menutupi pipinya. Dima sempat menangkap mata wanita itu yang tidak bercahaya, seakan-akan sesuatu telah terjadi.
"Hei Dima, ayahku adalah Algio."
Mata Dima melebar, dia berjongkok di dekat wanita itu dan memegang kursi. "Apa anda serius?"
"Ya, ceritakan padaku, Ars dan Daniel sudah tau itu."
Dima melirik ke segala arah. Anak buah Ars cukup jauh berjaga di depan pintu restoran yang menghadap kolam renang.
"Dan mereka sedang menangkap ayahku, sepertinya." Lala sangat tidak bertenaga bahkan untuk bercerita, bahkan sekarang tidak tahu dirinya harus percaya atau tidak pada Dima.
"Ah, aku berduka untuk itu." Dima duduk di lantai keramik, tulang belikat menempel di kursi yang di duduki Lala, dia tidak mau melihat wanita itu jadi memunggungi lebih baik.
"Jadi, pengangkutan ini ada hubungannya dengan Algio?" gumam Dima. Sebenarnya alangkah lebih baiknya dirinya tidak ikut mencampuri urusan bos Ars, tapi wanita itu tampaknya seperti diujung jurang, gelap, dan seperti tidak ada yang menolongnya.
"Apa yang harus aku lakukan, Dima? Artyom akan membunuh ayahku dan mantan suamiku. Dan kau tahu tidak ada seorang anak yang akan membiarkan itu terjadi kan."
"Bagaimana anda bisa tahu itu, ibu Lala?"
"Saya masuk ke ruang kerja Ars dan tiba-tiba Artyom masuk, menangkapku dan menghukum ku."
"Artyom menghukum? Dan anda masih hidup? Luar biasa!"
"Apa maksudmu, Dima?"
__ADS_1
"Semua orang yang berurusan dengan Artyom mati, dan Anda masih hidup, oh mungkin karena anda sangat penting, atau karena Ars belum menangkap Algio!"
"Dima, mungkin ini bukan soal aku. Aku sangat tidak penting disini, tapi ayahku akan tertarik kesini karena saya. Lalu Ars maupun Daniel sepertinya tidak akan mengakhiri ini. Apa kamu tahu cara menyingkirkan seseorang?" Lala teringat jelas kata-kata Daniel, lelaki itu akan menghancurkannya.
Dima tertawa ... "Dengan tenaga Anda yang hanya angka dua dari seratus, sama sekali anda tidak bisa melawan Ars maupun Daniel, kecuali Anda meracuninya serentak."
"Kau anak buahnya. Mengapa kau bicara begitu Dima?" Lala melempar kepala ke belakang bersandar pada kursi hingga lengan Lala bersentuhan dengan rambut belakang Dima.
Menghela nafas panjang, Dima menatap orang-orang sedang berseluncur dari lantai 10, kapal ini sangat mewah. "Papa ku di pabrik itu, dia seorang dokter bedah, sudah sepuluh tahun di sana. Kami tidak pernah melihat selama sepuluh tahun, Ars tidak mengijinkan pekerja pabrik keluar dari sana, bahkan untuk menemui keluarga mereka."
"Dan Lalu?" Nada suara Lala sedikit naik, matanya memperhatikan langit biru semi oranye, seharusnya ini indah ... matahari hampir terbenam dalam setengah jam.
"Saya menjadi anak buah Ars, karena ingin memasuki pabrik, sayangnya cukup lama saya mencari, pintu pabrik itu sulit ditemukan. Itu seperti bunker besar atau terowongan bawah tanah sangat panjang. Tidak ada orang yang tahu, orang mengira itu hanyalah hutan belantara biasa, padahal di bawahnya sangat luas."
"Dima, sepertinya aku pernah memasukinya pabrik yang kamu maksud." Lala miring ke kanan memperhatikan rambut Dima, aroma laut melebur dengan aroma kayu dari rambut Dima.
Dima terkekeh. "Mana mungkin. Saya sudah hampir delapan tahun, masih tidak menemukannya. Dan anda baru satu bulan, mustahil, sistem keamanan itu tidak main-main."
"Dima aku serius, bahkan aku menemukan sebuah peta mungkin kau membutuhkan untuk menemukan papamu."
"Peta? dari mana anda mendapatkannya, Ibu Lala?" Dima bergeser melirik wanita yang sepertinya sepuluh tahun di atasnya.
"Bisa dibilang itu semacam ruang rahasia. Sengaja aku membawa peta yang banyak berisi ruangan, aku kira itu bisa membantuku keluar saat itu. Jadi, aku melemparkan peta itu di atas kabinet kamar mandi, di kamar yang aku tempati. Dan di kamar itu, terdapat ruangan di sebelah kanan ... dari sana tanpa sengaja aku memasuki pabrik itu." Lala menangkap Dima yang berkedip cepat, nafas lelaki itu tiba-tiba naik.
"Mengapa anda menceritakan ini, ibu Lala?"
"Terimakasih, aku akan menyusup mengambil peta itu, sepertinya ... peta itu memang bisa membantuku."
Lala dan Dima kembali terdiam mengamati pertunjukan acrobatik di depannya.
"Ibu Lala, aku bertemu orang asing yang mencurigakan, sepertinya orang itu memusuhi Ars, saya tidak yakin sih." Dima bergumam.
"Hum, seperti apa orangnya?"
"Rambutnya semi pirang, saya sempat menatap mata biru gelap itu, bola matanya sangat indah seakan aku terhanyut ke dalamnya. Entah kenapa orang itu menatap ku seolah tahu sesuatu. Saya yakin bukan anak buah Ars. Namun, yang membuat saya terus berpikir karena aku sempat mendengar dia menyebut 'Lala Klarisa' dengan nada kesal."
Mata Lala melebar, "Oh, dimana kamu melihat dia?" mengamati mata Dima yang tampak serius. Bagaimana mungkin ada yang menyebut namanya, biru gelap apa yang dimaksud-Kevin!!
"Semalam, mungkin keluar dari ruang dansa, padahal Tuan Ars juga di dalamnya. Dan ada bekas cakaran dalam di pipi kirinya."
Lala menelan benjolan keterkejutan di tengorokan, "Kevin." Sebulan yang lalu dirinya menyerang wajah Kevin dengan botol sampai wajah itu berdarah dan akhirnya dirinya menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
"Ibu Lala? anda baik-baik saja?" Dima memperhatikan wanita itu yang memegang kursi seakan-akan hendak jatuh dengan tangan gemetar dan tatapan kosong.
"oh ... mengapa berkumpul disini."
__ADS_1
"Maksud anda apa, Ibu Lala?" Dima ikut berdiri saat wanita itu berdiri dan meninggalkannya begitu saja.
Jadi, apa saya harus membantu ibu Lala? Dima berpikir, karena wanita itu sudah menunjukan sebuah peta dan pintu masuk pabrik itu, mungkin dirinya bisa membawa pergi papa jika memang itu peta pabrik.
Okey saya akan membantu. Pertama, aku harus mencari pria semalam, saya kira, saya tahu dia dimana.
Di tempat lain Lala masuk ke ruangan Damir, mencari Ars ... tanpa permisi dia membuka semua kamar dengan paru-paru yang pecah oleh kemarahan, dia tidak akan takut lagi, dia memilih menghadapi Ars! bahkan setidaknya untuk tahu apa alasannya.
...**...
.
Baru saja mandi, tampaknya sore ini Ars merasa hawa positif, dia mungkin akan menghadiahkan video call Vino pada Lala, dan wanita itu akan berterimakasih padanya dengan senyum manisnya.
Lalu kata-kata terimakasih yang bagaimana yang terdengar baik tapi tidak terlalu berlebihan dan tetap menawan. 'Terimakasih Lala' sepertinya itu terlalu kaku.
'Damir selalu lebih ceria saat di depanmu, dengan tulus ... saya sangat berterimakasih untuk itu, Lala. ' sepertinya ini lebih baik. Jadi, apakah dirinya harus tersenyum? sepertinya aneh. Haruskah bersikap biasa saja? tampaknya itu tidak sopan.
Ars memutar bola mata malas, mengapa harus memikirkan hal bodoh. Lihatlah, Ars ada apa dengan otakmu!
Pintu berderit terbuka.
Sepertinya itu Lala. Ars memasukan tangan ke jubah dan mengikat tali di pinggangnya, memastikan tubuh tertutup, karena wanita itu risih setiap kali melihat tubuh setengah telanjangnya. Mungkin dirinya harus bersikap sedikit manis pada wanita itu.
Derap langkah kaki itu berhenti, bahkan nafas cepat wanita itu bisa didengarnya walau jaraknya cukup jauh. Mungkin wanita itu sangat bersemangat karena kekaguman berkat dirinya mau mengajak wanita itu naik kapal selam. Wanita itu mungkin tidak akan pernah mendapat fasilitas mewah seperti itu dari pacarnya, kan. Bukankah saya keren.
"Katakan kenapa anda akan membunuh ayah saya dan Kevin!"
Rasanya, rahang ini hampir-hampir jatuh ke tanah. Darimana wanita ini tahu, Ars menelan perlahan benjolan keterkejutan di tenggorokannya. Mengapa seperti ini, wanita itu tidak bersemangat karena mau berterimakasih, dan lalu dirinya juga berterimakasih pada wanita itu. Mengapa ini sangat melenceng jauh dari perkiraanya.
Mata Ars memutar ke samping saat wanita itu memukul punggungnya dengan keras, berani sekali, keberanian Lala meningkat? masihkah dirinya harus bersikap manis, merayunya 'oh tidak boleh marah' dan lalu wanita itu terharu dan meminta maaf karena telah memukulnya dan menyesalinya lalu wanita itu bersikap manis padanya?
"Jawab kenapa!? Apa kamu tuli Ars Vladimir! Oh Veeper - Shark Blue! Sergey Vladimir!" Wanita itu berteriak dengan serak membabi buta.
Kepala Ars berdenyut. Itu jauh lebih buruk dibanding dirinya dilempari kotoran. Dia kira wanita itu datang baik-baik. Ternyata ...
Dan Ars dalam sepersekian detik pantatnya jatuh ke bumi, tulang-tulang di tubuhnya terasa lapuk dan runtuh.
Matanya memanas, terhenyak seolah-olah tergelincir dalam lubang hitam gelap dan tergulung dalam kepedihan kesakitan dalam lorong panjang tiada berujung, tidak ada yang menolongnya dan dirinya harus bertahan dalam kesakitan-
Bayangan saat itu aku baru merayakan ulang tahun ke sebelas saat itu adik Thyoma berusia enam tahun ...
menatap sesuatu jatuh di rumah kami tepat beberapa detik setelah aku dan adik turun dari mobil. Dan bagaimana sang adik-Thyoma kebingungan melihat rumah kami dalam sepersekian detik menjadi kobaran api besar.
Air mataku jatuh, melihat terakhir kali ibu dan papa yang baru masuk, hilang ditelan merah api yang menjilat membulat ke udara.
__ADS_1
Dan api dari langit datang lagi diikuti dentuman memekakkan telinga. Saat itu sopir langsung meraih dari belakang menggendongku bersama adik, beberapa detik kemudian dentuman menggema di langit, melemparkan kami melewati atas mobil, terpental sampai api meluap-luap di atas kepalaku dan mengoven wajahku bersama sang adik, membakar kami.