Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 192 : DERIT PINTU


__ADS_3

-POV JOHAN -


Seorang perempuan datang entah dari mana bertabrakan dengan Richie, dan tiba-tiba memanggil namaku dan langsung menempel pada badan saya seperti ulat, sungguh membuat saya bergidik.


“Mana kunci kamar,” tanya Richie, saya mengambil kunci elektrik di saku dan memberikannya. Richie pergi duluan meninggalkan saya.


“Johan, kamu tidak ingat aku Bianca! Sepupu Budi,” katanya membuat ku tercengang. Saya telah lama tidak bertemu Budi. Saya sedikit mendorong tubuhnya saat orang-orang memandang kami. Aku memperhatikan wajah perempuan di depan saya secara teliti, Bianca? Ya, memang banyak berubah setelah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu dengannya.


“Bianca? Ya, saya ingat. Lepas dulu,” kata ku sambil menyingkirkan kedua tangannya dari dada saya. "Dimana Budi sekarang? Aku kehilangan kontaknya.”


Bianca terdiam sejenak. Melihat ke kanan dan ke kiri. Kemudian matanya tertuju pada restoran sisi loby, “ayo, ngobrol sebentar sambil duduk. Aku lelah habis olahraga, kau tidak lihat keringat ku?” katanya. Di bagian kening dan rambutnya sedikit berkeringat. Saya melihat jam tangan, mungkin aku ada waktu sedikit. Belum saya menyetujui dan wanita itu menarik saya ke meja restoran.


Dia tersenyum ke arah saya, menatap dengan tatapan seolah menginginkan saya. “ Apa kabarmu? Lama ya,” katanya dengan penuh semangat.


“Seperti apa yang kamu lihat,” kata saya memperhatikan dia yang melipat kedua tangannya di atas meja dan condong ke arah saya. “Saya sehat dan bahagia. Lalu, bagaimana denganmu dan Budi?”


Dia terus tersenyum, tanpa berkedip. ”Aku juga sehat. Hanya saja, aku baru ketuk palu-perceraian dengan suamiku.” Dia berkata dengan senyum tanpa beban, apa itu ekspresi orang habis bercerai.


“Saya turut sedih atas itu, jadi ceritakan aku soal Budi.”


“Budi ganti nomer, ada masalah dengan istrinya. Ya, biasalah,” katanya ketika pelayan datang ke sisi kanan. “kopi saja, mba,” katanya pada pelayan hotel.


“Berikan aku nomer Budi, dimana dia sekarang, Bi?” tanya saya sambil mengeluarkan ponsel.


Bianca memencet digit-digit nomor sambil mengukir senyum di bibirnya. Saya mengalihkan pandangan dari Bianca ke tempat tadi aku makan dengan Lala.


Memandang sekitar saat orang-orang yang datang mengambil sarapan dan meja-meja mulai penuh. Saya harus cepat kembali, kasian bila ada yang tidak mendapat tempat duduk. “Jadi, apa kamu tinggal di kota ini, Bianca?”


“Aku baru pindah lebih tepatnya, sekitar semingguan. Dan saya tinggal di dekat water Boom Park, apa kamu mau mampir?” tanya nya dengan sorot mata nakal.


“Water Boom Park? Jadi kamu tinggal di daerah dekat Lala?”


“Lala mana ya?” dia memutar bola mata ke kanan, sepertinya mencoba mengingat. “Jangan bilang, dia yang kamu maksud Lala yang sejurusan kita? baru setengah semester dan kemudian menghilang?" mata melebar,


"bukan dia, kan?"


“Ya betul kamu. Dia Lala Chlarissa,” kata ku dengan lembut dan tersenyum hangat saat jari-jariku terus mengetuk meja.


“Oh no! Jadi dia di kota ini juga? Apa jangan-jangan dia yang saya temui bersama Ella Hudson.”


“Ya Ella Hudson, semalam aku bertemu dengannya. Dia memiliki restoran seafood di dekat sini, kamu mungkin perlu mampir ke sana,” kata ku dan Bianca tertawa, tawa palsu, aku meyakini.


“Apa ada masalah?” tanya saya ketika dia mengembalikan ponsel dan saya menemukan sebuah nomer yang disimpan dengan nama 'Bianca', Eh.”Nomer mu ini? Lalu...  mana nomer Budi, please.”


“Oh, senang dong, jika mereka juga tinggal disini. Johan mari kita dinner.”

__ADS_1


Pelayan datang meletakan kopi di depannya, dan saya tidak menginginkan ini, makan malam dengan wanita yang pernah jelas-jelas merayu itu sama saja memberinya lampu hijau. “Bi, aku harus menjaga anak gadis ku.”


“Ajak saja mereka! Dan aku berikan nomer Budi nanti malam.”


Aku membutuhkan nomor Budi. Seharusnya, tidak masalah jika hanya dinner. Mungkin saya perlu membawa Sasha.


Tepukan dari arah belakang. Saya mendongak ke kiri dan terkejut. Lala dengan wajah menekuk atau hanya perasaan saya saja. Namun, ini bukan sikapnya. Dia yang seharusnya selalu senyum atau setidaknya memasang wajah datar. Walau terlihat tenang, tapi aku merasakan aura kemarahan.


"Johan, kamu tidak siap-siap? apa kamu tidak ikut?" tanya Lala. Bibirnya melengkung ke bawah, cemberut.


"Hei, ayam kampus, jangan sentuh-sentuh Johan," cibir Bianca, nada bicara yang sinis membuatku terlonjak.


“Bianca?”tanya Lala, dua alis menyatu. ”Kamu disini.”


“Kau yang kenapa disini dan apa itu tanganmu? Singkirkan.” Bianca, nadanya naik satu oktaf.


Saya melingkarkan tangan di pinggang Lala yang langsing dan menariknya hingga kepala saya menempel di perut dan ketiaknya membuat bibir Bianca berkedut dan semakin mengerucut.


“Johan! kenapa kamu memeluknya-” kata Bianca terlihat tidak percaya.


Saya lalu berdiri dan mengecup pipi kiri Lala, membuat Lala tercengang dan pipinya memerah  dan saya ingin tertawa melihat wajah gugupnya, dada saya tersayat oleh panah cinta yang mendalam karenanya.


“Apa ini, Jo,” bisik Lala tak siap ketika saya mendekat ke belakang telinga putih dan harum pearnya.


”Bantu saya,” bisik saya membuat mata Lala gemetar dan tatapan terkejut tapi sedetik kemudian dia berkedip.


“Johan dia wanita gampangan!”


“Cukup, Bi,” bentak ku ketika orang-orang di restoran memperhatikan kami dan kami jadi tontonan karena teriakan Bianca, saya meyakini Lala menjadi tidak nyaman.


“Dia dengan lelaki lain. Ya, lelaki yang tadi pagi bersama mu. Jangan mempercayai dia,” kata Bianca dengan wajah menekuk. “Mereka bahkan tinggal satu rumah!”


“Omong kosong apa Bianca,” sahut Lala seperti tidak terima dan cukup menampar hati saya. Benarkah Lala tinggal satu rumah? Jadi dengan Richie. Tangan saya mengepal kuat terutama saat Lala melepas tanganku.


“Aku mau ambil dot Vino,” kata Lala.


Bianca mengayunkan tangan dan mendarat keras di pipi putih Lala meninggalkan jejak merah lima jari begitu kentara. Gemuruh di dalam dada saya melesat keluar menggerakkan tangan. Geraham mengeras dan saya ingin mengayunkan tangan ketika itu terhenti karena Lala menahannya.


“Aku tidak apa, jangan membuat tangan mu kotor,” kata Lala dengan tegas dan suara menahan geram ketika dia menutup pipi dengan tangan kiri.


Aku berdecak ketika Bianca tertawa. Aku mengepal tangan di depan perut bersiap meninju dan Lala menangkup kepalan saya, mengelusnya, seakan tidak membiarkan saya berbuat lebih jauh.


“Sok Suci, Pela*ur.”


"Diam Bianca!" bentak ku tidak kuat lagi dan Lala menahan tanganku bahkan dia memepet ke saya, menahan begitu keras tangan saya. "Dia keterlaluan," menegaskan dan melirik Lala di kiri ku. Namun, Lala menggeleng matanya menatap begitu lembut, "JANGAN," lirihnya dengan penuh penekanan dalam gerakan bibir.

__ADS_1


Kemudian, Lala maju selangkah ke depan menatap tajam begitu lama. “ Bianca, kamu tidak menyekolahkan mulutmu? kasian,” Lala mendesis, “Sepertinya, kamu iri denganku ya?” Lala menyeringai dan Bianca bergidik.


Entah mengapa sikap Lala membuat -ketel dalam diri saya yang sudah mendidih- kembali tenang.


Lala menusuk dengan jari, mendorong bahu kanan Bianca itu dengan begitu jelas sampai ke belakang. “Dari pada iri, mending kamu berusaha dengan keras, ya kan?”


Bianca tersenyum masam dan akan menjambak saat Lala pergi mengambil dot.


“Johan ighhh, sakit,” Bianca meringis.


“Jangan pernah menyakiti Lala lagi, Bi. Aku bersabar karena Budi. Jadi jaga sikapmu ke depan karena saat itu aku tidak akan menahannya lagi.”


“Dia murahan, untuk apa kamu membelanya, Johan. Dia bukan wanita baik-baik.”


“Kamu benar-benar ya, Bi. Ck,” saya menggelengkan kepala tak dapat menahan kesabaran. Dan akan meledak, beruntung Lala kembali dan mengelus lenganku.


“Ayo kembali,” kata Lala dengan botol dot yang sudah di tangan. Kami meninggalkan Bianca yang masih meringis memegangi pergelangan tangan.


Wajah saya menghangat seolah-olah seluruh pembuluh darah besar memasok semua darah ke wajah saya.  Menatap jemari Lala yang bersatu dalam jemari saya, sepertinya dia tidak menyadari. Seandainya, disisa hidup saya seperti ini, pastilah saya akan merasa jadi lelaki paling bahagia di bumi ini. Memandangnya dari samping, mata dia yang fokus pada jalan, ini hal yang menggetarkan jiwa saya.


“Kenapa kamu memotong rambut mu?” menatap rambut lurus, sepertinya dia bahkan meluruskan rambutnya. Saya ingat, saat trauma pertama dia yang juga dipotong lebih pendek dari ini. Namun, saat itu rambutnya sedikit mengembang. Saya tidak bisa menahan senyum, jiwa saya utuh sepenuhnya, setiap ada dia.


“Ini gerah, Vino tidak bisa diam, dan terlebih dia suka menarik-narik. Eh, bukan. Sebenarnya, saya memotong ini seminggu sehabis melahirkan. Mengingat saat itu harus menjaga  bayi Vino yang masih sangat merah." Dia tersenyum menatap lantai, "dan tidak bisa meninggalkan dia untuk terlalu lama di kamar mandi hanya demi membersihkan rambut panjang, pasti akan memakan waktu lama, jadi saya memotongnya." menoleh, "apa ini terlihat buruk?"


“Cantik, kamu selalu begitu, kan," wajah saya menghangat. "Seharusnya, kamu menghubungi ku sejak lama kan. Hamil, melahirkan tanpa ada keluarga di sekitarmu. Pasti kamu begitu kesulitan....”


Lala berhenti di lorong. Menghadap pada saya dengan senyum hangat yang memabukkan, “Aku tidak apa-apa.” Dia  menunduk menatap tangan kami, aku semakin mere...mas memberikan kehangatan padanya, dan dia tidak melepas tanganku. “Kan, sudah ku lewati.”


Kami bertatapan sekitar dua menitan. Tatapan dia yang selalu menghanyutkan dan membuat saya tidak  bisa menahan rasa gugup. Namun, juga tatapan yang selalu membuat saya rindu saat mata itu selalu bersinar tajam penuh arti, tatapan yang selalu menunjukan rasa hormat dan menghargai, membuatku selalu penasaran.


“Aku minta maaf, Johan. Aku telah memberikan kepadamu sesuatu ... pada saat di Chile, gua es,” katanya sedikit serak tertahan. “Sebuah harapan, Jo, aku salah. Aku, sungguh meminta maaf karena itu.”


“Tidak, hentikan, Lala. Maksud saya. Itu moment paling indah. Jadi, sepertinya kamu terlihat menyesal melalukan itu dengan saya .... ” Aku menggaruk tengkuk yang tidak gatal, dan kaki jadi tidak  bisa diam bergantian memindahkan beban tubuh saya, ke kiri dan ke kanan. “Aku ingin mengulangi itu.”


“Tapi, Jo, maksud ku bukan-”


Ceklek! diikuti derit suara pintu ketika Richie muncul dihadapan kami. Aku dan Lala sama-sama terlonjak dan mundur dua langkah ke belakang.


Lelaki itu menatap ke arah bawah, mata melebar dan menjadi tajam seolah-olah anak panah tengah melesat.


Kami penasaran dan mengikuti pandangan Richie. Bahkan kami baru sadar jemari tangan kami masih bertautan dan saya berpandangan dengan Lala dalam beberapa detik, tatapan Lala yang menahan sesuatu.


Telapak tangan mungil dalam genggaman saya menjadi lembab. Jemari lentik menjauh. Saya berkedip terhenyak. Tersisa bulir keringat dari tangannya. Aku menggenggam keringat penuh arti.


Aku pernah membanjirinya dengan keringat penuh arti, dan dia pernah melenguh panjang. Bahkan setelah dua puluh tahun lebih, saya masih mengingat dia tanpa sehelai benang. Lalu, tadi malam bagaimana saat dia hanya memakai handuk, ini sungguh membuatku gila.

__ADS_1


Lala gugup atau takut, aku tidak yakin, dengan perasaan Lala pada bos mafia di depan saya, apa yang dilihat dari lelaki yang usianya di atas saya sepuluh tahun.


Richie mengangkat pandangan dari bawah ke atas. Menatap saya dan Lala bergantian dengan bibir terkatub.


__ADS_2