Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 9 : DUNIA MAFIA


__ADS_3

"Pakai." Kevin berpaling seraya melemparkan jaket terusan panjang berwarna coklat dengan tambahan ikat pinggang berwarna hitam.


"Kita mau kemana?" tanya Lala.


Kevin tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia tetap diam seraya menggenggam tangan Lala mulai dari masuk Lift sampai ke mobilnya, bahkan Kevin yang membukakan pintu mobil untuk Lala.


Sepanjang perjalanan Lala menatap keluar jendela. Dia yang biasanya naik bis atau angkutan kemana-mana, sekarang harus duduk dengan laki-laki tidak jelas itu.


Lala belum sempat menelepon Ayahnya. Ia langsung mengambil ponsel baru yang diberikan Kevin semalam.


Di ketik nomor ayahnya di kotak pesan. Nomor tersebut dalam sedetik berubah menjadi nama ayahnya. Di hp ini ternyata mereka telah menambahkan dan menyimpan nomer Ayahnya. Lala berhasil mengirim pesan untuk orang yang paling dicintainya.


^^^Ayah, selamat pagi.^^^


^^^Lala kini dalam keadaan yang sangat baik. Ayah tidak perlu khawatir.^^^


^^^Apa Ayah juga dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ?^^^


^^^Lala selalu berdoa untuk kebaikan Ayah.^^^


^^^Salam Rindu dan Cinta untuk Super Hero Lala .. I love you Ayah ... ❤ Jangan lupa makan ❤^^^


Semua gerak- gerik Lala tidak luput dari tatapan Kevin. Kevin tidak terlalu mengambil pusing, karena di Ponsel itu hanya ada tiga kontak yaitu Ayahnya, Kevin dan Billy.


...**...


Satu jam kemudian mobil memasuki halaman sebuah gedung cukup tua.


...Panti Asuhan ?...


Gadis itu tertegun dan turun mengikuti Kevin.


"Kak Kevin!!!!" seru anak kecil dan anak remaja sembari berlari menghampiri Kevin. Anak-anak kecil itu memutari Kevin dan Lala berjubel berdesakan merebut memeluk Kevin.


Lala berusaha keluar dari kerumunan itu, Ia tercengang dengan apa yang dilihatnya.


"Kak Kevin, apa kabarnya?"


"Kakak lama tidak kesini?"


"Kaka main, main, ayo!" pertanyaan bertubi-tubi menghujani Kevin, bak artis Hollywood di kejar-kejar wartawan.


"Iya, kita main," sambut Kevin dengan senyuman yang ramah lalu mennggandeng tangan mungil anak laki-laki berusia 5 tahunan.


...Pemandangan apa ini, itu beneran Kevin? apa aku sedang bermimpi?...


Lala masih tak habis pikir melihat Kevin yang berubah 180°.


"Nak Kevin," sapa seorang Ibu berumur 50 tahunan seraya menghampiri Kevin dengan senyum lebarnya.


"Ayo, anak-anak, kakak Kevin dibuatkan minum dulu l! Ka' Kevinnya diajak ke dalam dulu."


Mereka beramai- ramai menggiring Kevin dengan penuh kegembiraan ke dalam gedung.


Kevin sempat melirik Lala tajam memberi peringatan keras.

__ADS_1


Lala tertawa kecil, sempat-sempatnya lelaki arogansi itu mengintimidasinya.


Gadis itu mengedarkan pandangan keluar panti. Dilihatnya para pengawal perempuan berbadan tegap, tinggi, langsing seperti model, keluar dari dua mobil sedan hitam. Mereka menggunakan sepatu pantofel dan pakaian formal yang senada, sangat seksi tapi terlihat tahan banting.Mereka berpencar di setiap sudut panti, memang tak terang-terangan tapi Lala merasa diawasi gerak-geriknya.


Di jalan depan panti, empat mobil box besar terparkir. Orang-orang lalu lalang menurunkan kotak-kotak dari mobil box, membawa nya masuk ke dalam panti asuhan.


Tiba - tiba Ia dihampiri seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahunan.


"Kakak-kakak," sapa anak kecil itu seraya menyentuhnya.


"Iya, adik cantik ada apa?" sambut Lala kemudian berjongkok.


Anak itu memandangi Lala dengan antusias kemudian menarik tangan Lala.


...***...


Lala dibawa ke ayunan. "Kaka, pacarnya ka Kevin ya? Namaku Caca," tanya anak kecil itu dengan wajah yang ceria.


Dahi Lala berkerut.


"Atau Kaka temannya Ka Samantha?" sambung Caca lagi.


"Ka Samantha?" jawab Lala semakin bingung.


"Ka, bilangin ke ka Samantha. Caca kangen main bertiga sama ka Samantha dan ka Kevin. Caca sudah tanya ka Kevin. Tapi ka Kevin malah sedih tidak mau menjawab," terang Caca terlihat murung sembari memandangi boneka Barbie ditangannya.


"Apa kakak akan sering mengajak Kakak Kevin datang kemari?" harap Caca membulatkan matanya.


"Kakak siapa namanya l?" tanya Caca.


"Ka Kevin geli!" pekik Caca sambil tertawa kegelian setelah tangan kekar itu menggelitiknya.


"Ka Lala tolongin Caca! tolongin geli!" pekik Caca sambil tertawa namun bercampur isakan karena sudah tidak tahan menahan rasa gelinya.


Mata Lala terasa panas, Ia menyembunyikan sesuatu di sudut pelupuk matanya, Ia jadi teringat saat dulu Ayahnya sering menggelitiknya sampai membuatnya menangis.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kevin dengan lembut untuk pertama kali.


Lala terdiam, suara Kevin mirip seseorang yang di lkenalnya.


"Ka Kevin, apa ka Lala itu pacar ka Kevin, ya?" tanya caca menatap Kevin penasaran.


"Iya kakak cantik ini pacar Ka Kevin," ujar Kevin pada gadis di pangkuannya itu, Kevin masih berjongkok.


...Seorang Kevin berjongkok?...


...Sebentar, Dia bilang apa? Pacar? Ah tidak itu cuma karena di depan Caca saja!...


"Lalu ka Samantha, bukan pacar Ka Kevin lagi?" celetuk gadis cilik itu.


Perkataan caca membuat senyum Kevin seketika sirna.


"Caca kemari!" panggil Ibu berusia 50 tahunan tadi.


Gadis cilik itu melepaskan Kevin dan berlalu pergi.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat!" geram Kevin yang kembali terlihat menyeramkan.


Tangan Lala di tarik kasar. Gadis itu cukup terseret untuk menyesuaikan langkah nya.


...****...


Matahari mulai menampakan panasnya. Kevin dalam perjalanan, mengantarkan Lala kembali pulang ke rumah di sudut perkampungan.


"Persiapkan dirimu malam ini," tegas Kevin semakin dingin.


"Apa?"


"Kau tidak lupa membayar hutangmu kan? Ja*ang!" hina Kevin, tangan kanannya terkepal hingga urat-urat di tangannya menyembul.


Lala meremas kuat-kuat jemarinya.


"Kau tidak terima kupanggil, JA*ANG!?Kamu emang JA*ANG!" cibir Kevin terus merendahkan.


"Aku terlalu baik padamu? Aku akan memberimu hadiah malam ini! Lelaki bertabiat Kasar, maniak Se*s !!" Sinis Kevin.


"Apa kesalahanku Kevin, kumohon maafkan aku," mohon Lala dengan ketakutan.


"Karena kau seorang wanita, itulah kesalahanmu!" tukas Kevin seraya membayangkan sesuatu menarik yang akan menimpa gadis disampingnya.


Maniak ****, Mafia kasar, dengan catatan Kejahatan S*ksulnya, Lelaki ini sangat kejam,


Ia membuat wanita- wanita belia meregang nyawanya . Mafia S*ksual sebutannya, yang selalu lolos dari Hukum . Kau pasti akan senang Lala !


Kevin menyunggingkan senyuman mematikannya.


...*****...


Di tempat lain, Johan mendapat pesan anonim yang mengejutkannya.


Seorang mafia se*sual telah mengkomfirmasi kedatangannya malam ini untuk gadis yang dibawa Kevin.


"Kau gila, Vin!" gerundel Johan mondar- mandir di rumah besarnya.


...Grandpa adalah salah satu pemimpin gangster menakutkan yang disegani pihak lawan. ...


...Siapa yang tidak tahu sepak terjang grandpa di dunia mafia?...


...Semua mafia mengenalnya....


...Semua mafia takut padanya....


"Apa malam ini akan ada pertarungan sengit dengan pengawal 'Mafia Se*s' biadab? yang terkenal karena kemampuan bertarungnya. Bagaimana bila ini sampai mencuat ke publik dan nama Lala terekspos," panik Johan terus menelepon Kevin tapi tidak dijawab.


...Apa yang membuatmu marah Vin ? ku tawarkan harga tinggi dari belasan milyar bahkan, aku mau melunasi hutang gadis itu yang cuma belasan Triliun. Tapi kau menolak....


"Saat aku mengantarkan putrinya, Alen menitipkan Lala. Apa yang harus aku katakan kepada Alen Sergio bila sampai terjadi sesuatu pada Lala."


...Alen Sergio, nama samaran Algio, salah satu penjaga bayangan yang paling terkenal di dunia mafia. Aku sangat kaget saat menemui nya kemarin, aku hafal wajah Algio, tapi baru tau identitas sebenarnya. Aku tahu posisinya di Dunia Mafia, begitu sebaliknya Algio pun tau posisiku. Ternyata ini alasan Algio Vakum? karena putrinya yaitu Lala. Sekarang, aku bisa paham....


...Pasti yang Lala tahu Ayahnya itu hanya seorang penjaga biasa...

__ADS_1


"Ayolah Johan berpikir," sungut lelaki yang juga anggota mafia itu, memegangi keningnya.


__ADS_2