
"What can I get for you?" (apa yang bisa saya sediakan untuk anda?) tanya seorang bartender.
"Surprise me," jawab lelaki itu. Membuat Lydia menoleh, dia melirik pria disebelahnya seperti bukan orang lokal dan pria itu balik menatap Lydia dengan tatapan dingin.
Dua jam terlewati, orang-orang datang silih berganti, Lydia membayar tagihannya dengan uang tunai, dia melebihkan beberapa lembar ratusan ribu untuk tips sang bartender, “saya pikir saya mungkin terlalu banyak minum. Maukah Anda menuangkan kopi untuk saya? Saya akan meminumnya dan menelepon taksi, hum ambil kembaliannya,”kata Lydia sedikit berteriak dan badan menempel ke meja, dengan tatapan matanya yang telah meredup.
"Dengan senang hati nona," kata bartender, juga dengan suata keras, jemarinya mulai menghitung jumlah uangnya, dan mengetahui ada sisa lima ratus ribu, tentu saja itu jarang terjadi, dua sudut bibirnya terangkat, mengetahui pelanggan barunya tidak pelit.
Setelah menyesap kopinya hingga setengah gelas. Lydia berdiri dengan sedikit limbung, nyaris jatuh dan ditangkap pria yang dari tadi selalu di sebelah Lydia.
Namun, Lydia mendorong pria itu dengan kasar sampai pria itu terdorong beberapa langkah membuat pria itu menghela nafas kasar, dan menahan gemertak giginya.
"Sampai jumpa, terimakasih," kata Lydia saat menoleh pada sang bartender dengan suara yang sedikit tak jelas di tengah suara musik yang begitu keras.
"Datanglah kembali lain kali, nona!" Sang bartender yang tadinya sudah loyo, menjadi kembali berenergi.
Di pelataran, Lydia menghentikan langkah dan berbalik. Dia hanya setengah mabuk dan masih sadar untuk sekadar tahu."Jangan mengikuti, kau tidak tahu ya siapa aku?"
Pria di belakang, menaikan satu alisnya, "emang siapa kamu? apa kamu butuh tumpangan?"
Lydia maju satu langkah, dia mendongak, "aku-aku, untuk apa aku memberi tahu mu?"
"Kau menjatuhkan ini." Pria itu meraih tangan kiri Lydia, dan menempatkan dompet hitam di sana. Membuat Lydia menunduk dan mendekatkan tangan ke wajah, dia membuka dompet itu, memastikan apakah miliknya, dan itu benar ada foto Lydia, ibu, dan ayah dalam satu frame di sana.
"A, ehm." Lydia mengeluarkan sejumput uang dan menempelkan pada pria itu, "thanks ya."
"Hey, apa ini, tidak." Lelaki itu mengembalikan uang pada tangan Lydia. "Aku tidak butuh ini."
__ADS_1
"Oh, ya sudah, sekali lagi terimakasih." Lydia menatap pria berponi itu sebentar, dan berjalan dengan kaki berat menuju taksi yang sudah dipesannya.
Pintu taksi di buka, dia berhenti sejenak menoleh ke arah lokasi mobilnya yang terparkir diujung, yang harus ditinggalkan dan diambil besok karena merasa masih belum kuat untuk mengemudi, sebelum pada akhirnya dia duduk dengan kasar, tangannya memijit kepalanya yang pening. "Hotel Laut Biru, pak."
“Baik mba, saya mengemudi dengan aman,” kata supir taksi menatap sang pelanggan di -spion tengah-. Pelanggan hotel itu selalu baik dan suka memberi uang lebih, dia semangat bila gadis itu telepon, sang sopir dengan senang hati segera menjemput, sekalipun jauh lokasinya.
🇬🇧🇬🇧🇬🇧
Di belahan bumi lain, Ivy sedang sibuk di depan komputer. Dia memiliki ruangan khusus, hadiah dari Kevin dengan peralatan super canggih dan terbaru.
Dia baru selesai melakukan panggilan video dengan kakek Alen. Terkadang menggunakan bahasa rahasia yang disamarkan ke sebuah permainan yang sudah disepakati hanya dimengerti oleh Ivy dan Alen.
Tidak hanya itu, Ivy berberkal flashdisk yang dititipkan ke supir saat Lala memutuskan pergi. Menggunakan itu, Ivy mengikuti petunjuk menghubungi seseorang, memakai sandi khusus di alamat website khusus untuk tahu perkembangan sang mama dan Vino, adik laki-lakinya. Tentu dia merahasiakan itu dari siapapun, apalagi ayahnya.
Ivy menggeser foto demi foto, ketika keluarganya masih utuh. Dia membenci tante Bella, karena membuat mamanya jadi pergi. Ivy menyeka air mata di pipinya.
" Ma..,maaa … Ivy kangennn!” tubuhnya terguncang dalam isaknya. “mamaa pulangg... Hksh haa...kh,” mulutnya terganga lebar dalam tangisan dan semakin tertunduk. “Ivy mau lihat mamah!!" Sejalan dengan rasa sakitnya saat air bening berjatuhan tiap kali mengerjapkan mata yang gatal oleh tetes air mata. Dia menyerobot tisu sebanyak-banyaknya dan mengeluarkan dengan kesal semua ingusnya dalam beberapa kali dorongan. Bahkan hidungnya begitu gatal tidak mau kompromi dan sangat mengganggu, dia mengusap kasar tisu pada hidungnya masih dalam isak dan membuang tisu yang sudah terasa lembab itu ke sembarang arah dengan penuh amarah.
Ivy memukulkan kening dan mengebrak meja kaca secara brutal, "Mengapa ini terjadi pada keluarga kita, mah hhhh hhh." Ivy kembali meraung, matanya terpejam begitu kuat merasakan sesuatu diluar kendalinya.
“Ivy nggak kuatttt., mah, mamah, mamah!” Air mata jatuh melewati pipi dan masuk dalam mulutnya yang ternganga dan kepalanya mulai sakit. Ia merasa dingin di seluruh kulitnya. Rasa panas di punggung, dada dan tenggorokannya. Ia merasakan dekapan besar yang mengungkung dan menciumi rambutnya membuat dia membuka mata.
“Ivy sayang, papah disini, sayang.”
Semakin Ivy merasa tidak berdaya, kedua tangannya terkulai dalam dekapan papa, menatap nanar leher papa di depan matanya .”Mama, mamaaaaaaaa... Maaamaa.....a!” teriak Ivy semakin menjadi-jadi dalam isaknya disaat bahunya loyo dan lemas, berharap mama dan papanya kembali bersatu.
Kevin menatap tisu berserakan yang telah basah dimeja: di pangkuan Ivy: di lantai; sambil mengelus dan menciumi rambut Ivy. “Papah disini,” kata Kevin dengan suara bergetar, hatinya terasa panas dan sesak, melihat rambut Ivy yang juga kucel dan lembab entah oleh keringat atau air mata Ivy. Terlihat mata Ivy telah bengkak dan sembab, membuat hati Kevin tersayat.
__ADS_1
Dia menoleh ke layar laptop Ivy, dimana foto Lala dan Kevin duduk saling memunggungi, Ivy tidur di pangkuan Lala, Isla tidur di pangkuan Kevin, dan Irish bersandar diantara Lala dan Kevin, Itu foto bersama terakhir kalinya di depan danau Istana, di sebuah alas tipis diatas rumput.
“Kamu mau ketemu mama, sayang?”Kevin mengelus punggung Ivy, dan merasakan kepala Ivy terkulai, dia menoleh mendapati Ivy tak sadarkan diri. “I..VY! Jangan bercanda!” menepuk-nepuk pipi Ivy, melepas kaca mata Ivy yang retak dan menaruhnya di meja.
Lelaki yang masih lengkap dengan setelan jasnya, itu menggendong Ivy yang terkulai, lalu sedikit berlari, matanya tidak mau lepas dari sang putri yang terasa semakin ringan dalam gendongannya dibandingkan dari terakhir kalinya saat dia juga menggendong sang putri yang jatuh sakit.
Parker yang tengah melamun di depan pintu, matanya melebar dan begitu tersentak melihat Ivy yang pingsan. Sambil menghubungi kepala pelayan dan dokter, dia mengikuti langkah cepat Kevin. Sang tuan baru pulang dari Indonesia, dan buru-buru menemui Ivy karena anak itu selama dua hari ini tidak mau mengangkat telepon dari Kevin.
Anak itu membuang telepon setiap pelayan memberikan ponsel dan telepon rumah pada Ivy.. Seminggu terakhir anak itu juga susah makan, terutama tiga hari ini anak yang selalu murung itu membuang makanan dan roti. Pelayan tahu, Ivy hanya mau minum air putih, sehingga beberapa kali dia pingsan dan perlu diinpus cairan. Namun dasar Ivy yang susah diatur, begitu sadar langsung mencabut infusnya, dia menjadi sedikit arogan dan menghajar siapa saja yang berani mendekatinya.
Tentu saja Kevin tidak sampai hati menjagal Ivy dengan pengawal laki-laki, cukup beberapa hari ini Kevin menyuruh pelayan mengikuti apa kemauan Ivy, saat dirinya di Indonesia yangmana dia juga mengamati dari jauh anak laki-lakinya yang baru berumur satu tahun.
***
Di batas kota, malam itu Richie tengah duduk di ruang kerja rahasia dengan tangan memegangi mouse, mengarahkan kursor pada website khusus, dan mengeklik dua kali pada kotak masuk. Lelaki yang memakai celana pendek dan kaus hitam itu, menatap intens layar laptop.
Membuka laporan yang belum di cek sejak dua tahun lebih karena hilang ingatan, dia geleng-geleng, matanya memerjap pelan saat tangan kiri di depan mulutnya.
Beberapa teman bisnis rahasia, sudah ribut dan Richie mengusap wajah dengan kasar. Banyak hal berkembang dua tahun terakhir yang harusnya berjalan dengan baik, justru mangkrak dan berantakan.
Mata Richie semakin melebar menanggapi beberapa laporan ahli IT rahasia, mengenai peretasan yang dilakukan oleh Ivy, putri dari Lala dan Kevin.
"Gadis kecil ini nyalinya sungguh besar, aku rasa Kevin tidak tahu ini..." gumamnya sambil mengelus-ngelus dagu saat jantungnya berdegub tidak beraturan. "Apa ini cara kamu merindukan uncle, ya?" Richie menyeringai, tapi sedetik kemudian dia memijit kening dan menggigit bibirnya dalam waktu lama.
Matanya menyala, tidak suka,"Haruskah bertarung dengan putri dari wanitaku?"
“Hahhh...” dia menghela nafas panjang ,menyandarkan tubuh ke belakang. Dia memutar kursi 180 derajat, menatap foto besar masa kecilnya dengan Lala sedang berpelukan di taman belakang rumahnya, sambil jemarinya mengetuk-ngetuk ke sandaran tangan. Ivy, kamu sudah terlalu jauh. Sial! Apa kamu akan menghalangi Uncle mendapatkan ibumu?
__ADS_1