Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 149 : KEPERGIAN LALA


__ADS_3

Bila ditahan lebih lama pasti dia akan jatuh, Lala semakin mual, perutnya sakit, tangannya semakin terasa dingin. Dia benar-benar jadi mual.


"Em..." kata Bella, justru membuat jantung Lala makin berdetak kencang.


Sebelum Bella berbicara lebih jauh, Lala langsung memotongnya, "sebentar ya, saya bebersih dulu, bersantailah, Bell... Aku ingin ke kamar mandi," Lirih Lala menatap Bella sebentar, berbalik mencoba bersikap biasa meninggalkan mereka.


Di lift Lala memegangi dinding lift, tubuhnya merosot tak kuat, tak kuat menahan gejolak di tubuhnya. air matanya menggenang dan berjatuhan di pahanya. Sementara tangan berpegangan pada dinding lift.


Pintu lift terbuka tanpa disadari Lala, Luca tersentak melihat Lala menangis dalam pandangan susah di tebak. Dia menekan tombol lift, dan memapah Lala di lantai yang jarang di datangi orang. Dia mengajak Lala duduk di sebuah taman dengan atap kaca di lantai enam.


"Jadi, kamu sudah bertemu?" tanya Luca yang bisa menebak ekspresi Lala.


"Iya. Lala mau bercerai dengan Kevin. Jadi, mas Luca jangan cari Lala lagi."


Mendengar hal yang tak pernah disangkanya. Luca entah senang atau sedih, melihat sikap dingin Lala. Hatinya berdenyut seolah tak menginginkan Lala bercerai, karena tahu betul secinta apa wanita itu dengan Kevin.


Diraihnya dagu Lala, dilihat pipi Lala yang basah dan ingus yang telah keluar, dan wanita itu menengok kanan tak mau mau menatap Luca.


"Apa kamu mau pergi denganku? Aku janji tak akan menggangu mu, aku menyiapkan tempat yang kamu mau."


Tangan Lala melepas tangan Luca, dia menatap Luca sebentar. "Tidak mas Luca, aku tak kan bertemu siapapun. Permisi, aku mau bersiap-siap,"katanya dengan nada tegas, dia berjalan, setiap langkahnya makin menggambarkan tekadnya yang sudah bulat, meninggalkan Luca yang menggaruk-garuk kasar kepalanya karena tak tahu mesti berbuat apa.


Dikamar Lala, mengeluarkan koper kecil, memasukan baju seadanya, semua perhiasan kado pernikahan ditinggalkannya.


Pintu kamar terbuka, Kevin melangkah semakin cepat begitu melihat apa yang dilakukan Lala. Dia meraih pergelangan tangan itu, melepas lipatan baju dari tangan Lala agar Lala melepasnya. Wanita itu bersusah payah mempertahankan tanpa mau melepas, jantung Kevin berdebar kencang, makin berpikiran buruk.


"Hentikan Babe, saya mohon, tolong demi apapun saya rela jangan tinggalkan saya, "kata Kevin dalam-dalam saat dirinya memeluk dari belakang Lala, menahan kedua tangan Lala yang terlihat menahan kemarahan.


"Aku sudah mengajukan gugatan ke pengadilan. Tidak ada yang ingin aku katakan lagi. Semua berakhir karena aku sendiri yang ingin mengakhiri," kata Lala dengan tegas.


"Aku tahu ini karena kebohonganku. Karena Bella kan? Demi apapun saya tidak ada perasaan dengan dia. Saya hanya akan mencarikan tempat tinggal untuk Edric," mengajak Lal duduk di ranjang tapi ditolak.

__ADS_1


Lala mendongak, menatp lekat-lekat dan sangat tajam, "untuk apa mencari? biarkan dia tinggal disini. Dan demi apapun saya juga akan keluar malam ini. Aku tidak mau melihatmu lagi. keputusanku sudah bulat." Lala melepas kuat tangan Kevin yang menghalanginya.


Kevin meraih Lala dalam dekapannya dengan susah payah sampai dia bisa menghadap Lala, melihat tatapan Lala yang begitu dingin.


Saat Kevin akan mendekat ke bibir Lala, wanita itu menolak dan tak mau melihat Kevin. Semakin dieratkan tubuh itu. Kehangatan itu, kehangatan itu, kehangatan yang akan pergi jauh dan Kevin tak yakin akan bisa meraihnya.


Dunia serasa bergoyang dan penuh gonjang-ganjing, Kevin benar-benar tak bisa hidup jauh dari Lala. Kepala Kevin bersandar pada bahu Lala. "Saya mencintai mu, saya mencintaimu, saya mencintaimu, tidak ada kata-kata lain lagi, cinta cinta. Kamu sekarang bebas berpergian, bahkan tanpa pengawalan lagi. Saya ingin melihat kebahagiaan terakhir kita. Saya tak bisa hidup tanpamu."


Kevin menurunkan tangan, melingkar di pinggang Lala."Semua yang ku lakukan selama ini hanya untuk kebahagiaan kita, pliz, pliz pliz, saya tak bisa tanpamu plizz, apapun pokonya pliz tetap bersamaku." Kevin terus meyakinkan dengan sepenuh hati di saat lutut dan badannya gemetar, bulir-bulir air mata jatuh di bahu Lala, ketakutan setengah mati akan kepergian Lala dari hidupnya.


"Tidak bisa," kata Lala serak, mendorong tubuh Kevin yang terhempas. Lala cepat-cepat menutup resleting koper, menarik pegangannya dengan wajah dingin kaku dan nafas yang sudah di tahan-tahan.


Tak menyerah, Kevin meraih paha Lala, merangkulnya begitu kuat, agar wanita itu tak bisa pergi "Jangan, jangan pergi dariku La, jangan jangan jangan." Kevin menangis dengan badan begitu gemetar, merengek seperti anak kecil di paha Lala.


Kaki Lala ikut bergetar, sebelum dirinya kembali lemas karena mumpung masi ada sisa tenaganya, dia menekan kukunya pada jemari Kevin dengan kuat sampai Kevin berdarah,"Aku katakan terakhir, aku tidak mau melihatmu lagi."


Dilepaskan cengkraman kuat Kevin dengan susah payah sampai tangan dua orang itu kesakitan, tapi mereka tak peduli dan tetap bertahan pada keinginan masing-masing, saling mencengkram meninggalkan bekas merah, Kevin yang sudah menangis beranak sungai dan mata sayu, sangat berbeda jauh dengan kesombongan saat Kevin menahan ayah Lala 21tahun lalu. Dan Lala yang bersikap sangat dingin, begitu kuat keinginannya untuk enggan melihat Kevin lagi.


Di luar kamar, Luca mendengar keributan mereka. Bahkan mendengar teriakan Kevin yang membabi buta mempertahankan Lala agar tak mau pergi. Luca menatap langit lorong. Dadanya tak bisa bernafas mendengar keributan mereka dan tangis Kevin yang bercampur teriakan seperti orang gila menyayat hati Luca yang tanpa sadar matanya memanas dan air mata sebesar jagung melewati bulu mata lentiknya dan bulir air mata jatuh ke pipi bersamaan bunyi keras.


BLAK!


Pintu terbuka kasar, dan Lala melewati Luca tanpa peduli, berjalan begitu dingin.


"Jangan pergi La, jangan seperti ini, dinginkan kepalamu," kata Luca dalam isakan menahan tangan Lala.


Tanpa berkata apa-apa, Lala melepas cengkraman tangan Luca dengan kuat, "jangan ikut campur!"


Luca benar-benar tersentak tak siap akan kehilangan Lala. Tidak jauh darinya, mama Sheril dan Papa Anton berusaha ikut membujuk Lala.


"Maaf, mamah dan papah, Lala sudah tidak bisa," kata wanita itu dengan sangat dingin, dan benar-benar pergi.

__ADS_1


Keluar dari lift, Lala di hadang Fabio dan istrinya, sama, kata-kata yang sama dilontarkan Lala. Kata maaf karena tak bisa menjalaninya, termasuk pada anak-anaknya.


Lala benar-benar ingin menenangkan diri dan melapas semuanya.


Bella pun turut menghadang dan Lala tidak berkata apapun, langsung melewati Bella tanpa mau melihat.


Lala menuju mobil yang dimana selalu berada supir siap siaga. Lala membuka pintu mobil, menoleh ke kanan menatap keindahan Istana yang makin indah oleh lampu terang di tengah gelapnya malam di jam 10 an malam. Untuk terakhir kalinya Lala memasukan keindahan istana itu ke dalam memori kepalanya dan cepat masuk mobil.


Rintik hujan mulai turun, petir menggelegar bersahutan seiring kilatan putih di langit malam, dan angin kencang membuat daun-daun bertebangan di jalanan yang tersorot lampu mobil, semakin memperburuk suasana hati Lala yang di tahan-tahan di depan sopir.


Di luar benteng Lala memberikan sebuah flashdisk pada -sopir pribadi- agar diberikan pada Ivy dan meminta sopir itu agar kembali ke Istana.


Lala keluar dari mobil, hujan semakin deras, punggungnya seperti tertusuk ranting oleh air yang seperti ditumpahkan dari langit. Angin kencang membuatnya berdesir kedinginan.


Kilatan putih dilangit yang menjalar ke tanah membuatnya tersentak dan jalan lebih cepat.


DUARRRRR petir menggelegar tepat tidak jauh dari taksi yang sudah di pesan Lala.


Lala basah kuyup langsung membawa koper dan telah pindah di taksi.


Lala menggigil kedinginan, "Jallan," perintah Lala dengan gemertuk giginya, pada sopir taksi manakala jok yang di duduki makin basah, karena tetesan air dari bajunya.


DUARR!!


Petir terus bersahutan. Penghangat mobil seperti tak bekerja. Di taksi Lala meluapkan segala sesak di dada, ia terlalu lelah, melepas semua rasa sesak dan tak ingin mengingat apapun.


Sopir taksi yang menjalankan mobil, melihat -spion tengah- saat wanita yang rambutnya berantakan dan basah kuyup karena kehujanan.


Sopir memberikan handuk kecilnya ke Lala. Bukannya mengelapi wajah dengan handuk kering yang sudah di terima, bibir wanita itu justru melengkung kebawah, menampakan giginya di kegelapan taksi, meraung memilukan. Membuat hati dan kepala sang sopir terasa ngilu terlebih melihat tatapan wanita seolah sangat kesakitan.


Padahal sang sopir tak mengenal siapa wanita itu. Dia menjalankan mobil ditemani tangisan memilukan wanita itu yang beradu dengan suara petir dan hujan lebat.

__ADS_1


Cuaca luar sedang sangat buruk dan diramalkan badai akan terjadi sampai dini hari.


__ADS_2