Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 205 : ANDA PEMBANGKANG


__ADS_3

-POV LaLa-


Moncong senapan, menekan kepala dan pinggang saya, mengharuskan saya menuruti keinginan mereka.


Suara derungan mesin semakin keras, datang dari arah sungai.


Tidak berselang lama sebuah kapal Tugboat dengan lampu nyala terang, berhenti di jembatan kayu dipinggir sungai. Mereka terus mendorong saya dengan senjata.


Dua orang dari kapal menodongkan  pistol meminta saya turun ke kapal.


Orang di belakang, mendorong tubuh saya, hingga terjerembab ke kapal yang bergoyang.


Mesin berdengung lebih kencang, bergetar dan kapal menjauh dari rumah Tatiana.


Ya Tuhan, mereka semua lelaki, saya bergidik ketika mereka mendorong saya ke kamar yang berlantai kayu dan menguncinya dari luar.


Mata saya memeriksa setiap sudut. Hanya ada tempat tidur kecil, yang bagian bawahnya laci-laci.


Kebisingan mesin kapal, mengganggu pendengaran saya.


Saya mendekati satu jendela kecil, yang secara harafiah, berukuran satu meter kali setengah meter.


Menggeser tirai dan sedikit berjinjit, mengintip ke luar ... tepian sungai gelap dan mereka menjalankan kapal dengan kecepatan tinggi.


Suara kunci diputar, membuat saya berbalik. Pintu kayu itu bergeser.


Sebuah mata tajam itu, memperhatikan saya dari bawah ke atas dan terdiam sejenak menatap saya.


“Lala.”


Tulang belikat saya menempel di tembok, saya melebarkan mata, menatap intens dari bawah ke atas kepada pria yang usianya di atas saya, dia menutup dan mengunci pintu.


Saya bergidik, menelan air liur yang telah mengental saat saya menilai apa orang itu mengenali saya.


Dengan mata berbinar berbinar, bibir itu tersenyum tipis, “Saya Daniel. Lala, kamu melupakan saya?”


Mencerna. Daniel. Daniel. Daniel. Ada berapa orang yang bernama Daniel. Lelaki itu berjalan ke tengah ruangan dan duduk di tempat tidur, dia menepuk-nepuk kasur meminta saya duduk di sampingnya, karena di sana tidak ada kursi, di ruangan kecil ini.


“Maaf?” saya mengerutkan alis penuh tanda tanya. “Saya tidak tahu Anda.”


“Chef Daniel, restoran Hudson. Anda benar-benar melupakan saya. Sayang sekali, ya,” dia tersenyum masam.


“Head chef?” Satu alis naik, banyak pertanyaan muncul di kepala saya.


Dia mengangguk  sambil menepuk kasur, “duduk.”


Mulut ternganga dan mata saya membulat tidak percaya, sampai bahu saya bergetar.Selama dua dekade lebih tidak bertemu. Dia orang yang banyak membantu saya saat di restoran.


Head chef yang banyak mengkondisikan dan membantu saya untuk bisa merangkap tiga jabatan demi tabungan kuliah saya, saat itu.


 


Menatap lekat-lekat lantai dan bibir saya melengkung ke atas membentuk senyuman.


Mungkin saya senang karena dia, orang yang pernah saya temui. Senyum saya memudar saat memperhatikan wajah Daniel. Menurut penuturan Kevin, Daniel harus dihindari karena dia orang yang menghancurkan rumah kos saya bersama Bella.


Bulu kuduk saya meremang. “Chef, mengapa bisa di hutan ini?”


Saya sedikit tertunduk dan menggaruk jari-jari yang tidak gatal.


"Datanglah," dia menepuk tempat tidur lagi dan saya duduk di sana dengan menjaga jarak.


Jantung saya berdebar, menebak-nebak. Bagaimana jika Daniel terlibat dengan Veeper. Atau dari awal dia tahu penculikan saya.


Daniel menarik tiga jemari saya, sehingga bergeser di tengah diantara kami.


Dia mengusap ujung jemari  dan saya menahan nafas menarik tangan saya, dia menahannya tetap di tengah.


“Lala, apapun yang terjadi, tetap percayalah pada saya.”


Saya menoleh ke kiri, dan dia menatap dalam pada saya, memastikan saya memperhatikan dia.


“Apa maksud Anda, Chef?”


“Kita tidak memiliki waktu. Perhatikan baik-baik perkataan saya.”

__ADS_1


“Tapi, chef-!”


“Sssssttt-” Daniel mendesis sambil mengulurkan jari telunjuk ke bibi saya, menyentuh dan menekan.


“Dengarkan saja, ini lebih baik untuk Anda,” kata Daniel dengan suara rendah saat telunjuk itu makin menekan dan menekuk, lalu dan mengait bibir bawah saya, menggores dengan kukunya, “hanya sepuluh menit tersisa.”


“Tolong, Chef, anda membuat saya takut,” saya menunduk.


“Satu,” Daniel berkata dengan nada sangat rendah sambil memeiankan liur saya di antara jempol dan telunjuk.


Kelima jari kanan besar menusuk ke bahu kanan saya. “Jangan panggil saya chef, maupun Daniel, di depan  orang lain.”


“Dua,” Daniel menusuk jemari lain di bahu kiri ku.


Saya mendongak saat dua tangan Daniel semakin mencengkram bahu saya, dia menatap daerah dadaku. Bola jakun Daniel turun dan naik, lalu dia menelan liurnya, membuat saya semakin menahan nafas.


“Jangan membahas saya di depan siapapun.” Daniel kembali menatap saya dengan tatapan redup, dia sering menelan liurnya. Dan terus maju ke depan dan saya terus mundur ke bawah dan mata terus berkedip, penuh bergidik.


"Chef, jangan seperti ini."


"Jangan," mendorong keras bahu Daniel dan namun nafas dia telah berubah menjadi cepat. "Chef jangan," saya mulai terisak ketika Daniel berhasil membuat saya terhempas ke tempat tidur.


Berapa latihan yang saya jalani, tetap saya kalah kuat, saya tidak mengerti dengan latihan apa yang mereka jalani. Dia terus maju dan saya merasakan panas di antara paha saya.


Melirik ke paha, satu lutut kiri Daniel telah bertumpu di sana. Bulir jatuh melewati pelipis saya. Pikiran buruk mencambuk ku, secara insting saya terpojok, dan kalah.


Membuat telapak kaki saya semakin dingin, belakang lutut saya sakit terkena pinggiran tempat tidur.


“Tiga,” dia di atas saya.


Saya menekan bahu hingga tangan saya tak kuat menopang bahu kuatnya.


Saya kalah, dan tangan saya pindah secepatnya menahan perutnya yang semakin dekat.


”Jangan Melawan Ars”


"Ars? apa dia pemimpin Veeper? kenapa dia menangkapku? apa dia butuh uang?"


Walau tidak menempel, panas badannya menyelimuti saya, sampai pipi saya ikut memanas.


Dua tangan saya gemetar menahan perut daniel agar tidak menempel.


Benjolan terbentuk di tenggorokanku, mere..mas laring saya. Tampaknya kepahitan kebencian, tumpah bahkan melalui pembuluh darah.


Alis saya menyatu hidung berkerut, “Vino?”


Bahkan seorang Daniel mengetahui nama putra ku. Mata saya memanas, ingus di hidung mulai terasa mengumpul.


“Sebelum itu.” Jari-jari hangat Daniel datang dan membelai rambutku. “Saya akan membantu mu.” Membawa ke belakang telingaku. Tangannya mengenai telinga, itu menggelitik, tubuh saya bergetar.


"Membantu saya kabur dari Ars?"


Nafas saya tersembul kuat, saat tangan Daniel mulai menuruni leher saya. “Chef, jangan,” isak saya.


"Hum."


Mata saya menatap nanar, saya saya takut dengan apa yang akan menimpa saya saat ini.


Jari-jari tangan saya mencengkram kuat perut Daniel yang semkin menekan.


Jemari kaki kiri saya, saling meremas menahan rasa menggelitik tak tertahan.


Mata Daniel dipenuhi kebuasan nafsu hewan. Daniel menyeringai,  dan jatuh menyemburkan nafas yang sepanas naga. Geli semakin menggelitik oleh embusan panas seperti jarum. Aroma Blue-Ocean menyelimuti reseptor saya.


Puncak hidung panasnya menyentuh leher saya dan seketika mata saya melebar bersamaan dada saya mengejan,  impuls kuat mengirim sinyal ke seluruh tubuh saya dan gemetar kuat.


Sial. Itu justru membuat Daniel  menatap saya dengan senyum seakan-akan dia menang menggoda saya. Dan dia kembali menjatuhkan kepalanya.


Tubuhnya berat, aku kesulitan menahan perutnya, dia sengaja menekan tangan saya, benar-benar membuat saya bergidik dan ingin berteriak minta tolong.


Namun, siapa yang menolongku, seakan-akan aku sendiri yang menjadi lawan Veeper.


“Ars? Siapa dia?” Nafas saya meningkat begitu Daniel mengendus sangat dalam dan menekan kuat hidungnya, menguser-nguser disana.


Dia tenggelam dalam nafas beratnya ke leher saya, saya menahan nafas saya yang terengah-engah ketika perut bagian bawah saya bereaksi, meremas lebih dalam dan demam. “Apa anda terlibat dengan penculikan saya, apa anda bagian dari Veeper, Daniel?”saya mendesis dan menggeram saat dia menggigit leher saya.

__ADS_1


Kepala pria itu tertarik ke atas dengan tajam. Di depan wajah saya, matanya melebar dan menatap lebih tajam. Hidungnya berkedut dan mulutnya terkatub.


Saya gemetar oleh takut, aura gelap itu tiba-tiba muncul seakan saya mengucapkan kesalahan.


Namun, berikutnya dia tersenyum masam, “Ini hal yang paling penting,” tangan kiri Daniel yang bertumpu ke kasur bergerser dan memepet ke lengan saya.


Matanya kembali meredup. “Lala, bila kamu bersama Ars. Jangan mengeluarkan suara sebelum dia memberi kesempatan, untuk kamu berbicara."


Dia menatap ke dalam netra saya. “Jangan berbicara saat Ars sedang  marah, dia akan menganggap itu sebagai kesalahan fatal- karena menantangnya.


Di atas saya, dia menjilat bibir bawahnya sendiri. “Setiap satu pertanyaan dari Ars, anda ... jawablah dengan satu kalimat yang paling singkat, padat dan jelas."


"Jika dia berbaik hati untuk menanyakan kebutuhanmu, ajukan satu pertanyaan yang paling kau butuhkan. Dia tidak suka berbelit,” terangnya sambil mengusap pipi saya.


“Jika dia sampai menyuruhmu patuh, jangan mengeluarkan kata-kata apapun, atau anak peluru panas akan menghujani kepala Anda.  Jika tidak setuju dengan perkataanya, cukup diam, dan jangan pernah  menanyakan soal saya.”


Dia melihat bibir saya saat dia menggigit bibir kanannya sendiri, dan dia menatap mata saya sejenak, lalu menjauh dari saya  dan pergi ke arah pintu.


"Saya akan menemui anda saat 'pengangkutan'."


“Chef, dimana Vino ... dia baik-baik saja, kan. Bagaimana saya, bisa membawa kabur Vino?” tanya saya langsung duduk terpaku.


“Vino di suatu tempat, baby sister menjaganya. Anak sehat itu-” Daniel melirik ke samping membuat saya penasaran, menunggu kata-katanya, “baik-baik saja … untuk sekarang, dan sementara.”


Saya langsung membungkuk lemas, penuh syukur karena Vino masih baik-baik saja. Pintu bergeser dan tertutup kembali. Daniel belum menjawab saya bagaimana caranya kabur.


Vino.


Bagaimana cara aku mengirim sinyal ke ayah.


Empat anak buah Ars, membawa saya masuk ke dalam rumah tua itu lagi. Disana hanya empat penjaga menjaga di setiap ruangan, mungkin karena malam. Saya menaiki tangga, dibawa ke kamar dimana dulu saya meloncat.


Dan mereka, lagi-lagi mengunci saya dari luar.


Makanan mengepul di atas nakas. Menelan air liur sambil mengelus-ngelus perut, saya menahan keroncongan dan ingin langsung melahapnya.


Saya mencari dan menemukan pintu kamar mandi di kiri, saya masuk. Di sana tersedia semua kebutuhan saya.  Membersihkan diri tanpa membasahi luka, hanya menyeka dengan handuk basah, dan mencuci rambut saya di westafel, kemudian mengenakan piyama baru.


Saya keluar kamar mandi dan mendapati orang itu tidur di atas kasur dengan jubah tidur. Tato di sepanjang tubuh kecuali, wajah.


Menggunakan celana kolor bermerek, saya terjebak di sini lagi. Dia terpejam namun detik berikutnya dia menatap langit.


Sial, apa dia yang namanya Ars. Dia seperti tarzan dengan rambut gondrong pirang gelapnya.


Jika ini kamarnya, Mengapa dia tidak menempatkan saya di kamar penyekapan.


Dia duduk dan saya membeku sampai handuk terlepas dari tangan saya dan mencium lantai.


Dia menoleh ke arah saya, jari telunjuknya mengundang saya.


Dan saya menyeret langkah kaki dengan tubuh gemetar sampai saya berdiri di sampingnya.


Mungkin dia marah dan akan menghukum saya. Pikiranku terus meneriaki hal buruk pada saya. Oh Tuhan, kuharap dia bukan psikopat S*x.


Saya menatap kaku padanya. Daniel bilang, jangan sampai saya bersuara terlebih dulu.


PlaK!!!!


Satu pukulan melayang di pipi kiri saya, sangat panas melebihi dari Pukulan ibu Tatiana. Leher saya sangat pegal. Karena rahang saya, terdorong kuat.


Mamah, sakit ...


Saya berniat akan mengelus pipi. Namun, tubuh tangan saya terkunci oleh ketakutan, dan tidak mampu bergerak, menahan ngeri, ngilu luar biasa.


Perut saya menjadi seperti digerus dan mual.


Dingin menyelimuti telapak tangan dan kaki. Begitu dingin seperti di dalam frezeer. Bila... tangan saya dicelupkan ke dalam teh panas, pastilah jadilah teh panas itu berubah dingin.


Oh Tuhan, tolonglah saya.


Jarak kami secara harafiah hanya tiga puluh centi. Hembusan nafas kasar dan cepat Ars membuat bulu kuduk saya berdiri, dia sangat marah dan saya hanya tertunduk.


Saya menelan perlahan benjolan di tenggorokan saya. Saya cegukan karena ketakutan. Saya melirik sedikit ke tempat tidur tanpa menggerakkan kepala dan tidak ada pistol, kan.


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya?"

__ADS_1


Saya mematung dalam gemetar. Saat Ars marah, saya paling tidak boleh bersuara. Saya mengangguk perlahan menatap perut kotak-kotak yang diliputi tato -sisik ular- coklat.


"Anda pembangkang," kata dia setengah mencibir, tapi dengan nada menghina. Saya tidak memahami maksud dia. Pembangkang dari apa? Bahkan saya baru dua kali menemuinya, apa hubungannya dengan peribahasa itu.


__ADS_2