
Hari mulai sore, Rumi masuk dengan menjinjijing -sepatu hak-, mengendap-ngendap tidak mau membangunkan Lala yang masih terpejam. DAG DIG DUG, 'mengapa aku seperti pencuri? mau gimana lagi, aku juga mau liat anak ku.'
Dengan perlahan Rumi berjongkok meletakan sepatu ke lantai, Ia berdiri tegap lagi disamping Lala, di amati muka anaknya yang bertahun-tahun telah dicari 'Alea mamah disini, kamu tidak kangen mamah? kamu sudah besar Alea.'
Lala menghadapkan Kepala ke arah lain membuat Rumi terkejut , dan langsung jongkok. Diintipnya pelan dan di tunggunya cukup lama, setelah dirasa Lala masih tidur, lalu Rumi berdiri lagi.
Rambut yang lembut itu di belai Rumi, kelembutannya masih sama seperti saat Alea kecil. Tangannnya gatel dan merambat mengelus pipi Lala yang halus dengan pelan, Lala merasa tidurnya terganggu dan meraih apa yang di pipi.
Rumi yang wajahnya langsung pucat pasih karena Lala meraih tangannya dan memeluk tangannya. DUG DUG DUG 'saya harus apa ini.
Pintu ruangan terbuka cukup keras, Rumi menoleh ada Kevin yang datang dan terperanjat. Lala juga membuka matanya karena suara pintu.
DEG
Rumi wajahnya menegang saat Lala melebarkan mata dan mengucek matanya. Kevin tetap mendekati Lala ke sisi Lain tempat tidur, dan mengelus kening Lala yang masih terpaku pada Rumi yang sedang menyapa.
"Tante? sejak kapan?" tanya Lala, tangan kiri yang terinfus memegang ujung jas Kevin.
"Baru saja, ah hanya mau mengucapkan selamat atas kelahiran putri-putrimu, Ah ya sudah tante pamit!" kata Rumi merasa kikuk, dan mengusap pipi kanan kiri Lala, lalu mengambil spatu hak di bawah dan berjalan tegap menjauh.
"Anda mau pergi begitu saja?" tanya Lala yang melihat punggung Rumi yang akan sampai pintu.
"Apa itu sikap seorang ibu pada anaknya yang baru saja melewati maut!!!" pekik Lala.
DEG
Rumi bagai disambar petir, tas dan sepatu hak ditangan terlepas dan jatuh ke lantai.
Rumi beΕbalik menatap Lala yang sedang di bantu Kevin menaikan tinggi ranjang, sehingga Lala bisa sedikit duduk.
"A-- a-pa," kata Rumi yang berdiri di sebelah Kevin, "aku..."
"Bukankah anda ibu saya? mengapa anda tidak tinggal dan malah akan pergi!? apa saya terlalu membebani waktu Anda tante Rumi?!"
"Tidak, tidak, aku takut kamu marah Alea- aku takut kamu menolak ku, aku- takut kamu tidak suka dengan keberadaanku di sisi mu."
Kevin terdiam melihat ibu dan anak Itu, "mah ... Lala ingin ditemani... Lala sudah mendengar semua dari papa Alen, jadi mamah jangan salah paham lagi."
DAG ... DIG ... DUG ... tangan Rumi gemetar, "benarkah?" tanya Rumi pada Lala, dan wanita yang baru melahirkan itu mengangguk dengan senyum hangat.
"Bolehkah mama memeluk Aleaku?"
__ADS_1
Lala mengangguk dengan kristal air mata yang jatuh dari pelupuknya.
Rumi mendekap Lala, meletakkan kepala Rumi di pundak Lala. Rasanya begitu hangat. Apa yang dihatinya begitu kuat berdenyut dan begitu dalam.
Air mata Rumi terurai ke pipi, dia mengecup rambut wangi anaknya, bau kulit kepala Lala yang sedikit berkeringat itu sama seperti saat Lala masih bayi.
"Alea ku ... mamah di sini, jangan jauh-jauh dari mama," kata Rumi dalam tangisan.
'Pelukan ibu ... pelukan ibu ... pelukan ini,' batin Lala disaat kehangatan mendekapnya. 'AKU MEMILIKI IBU.'
Kevin tersenyum, tangannya mengelus pucuk kepala Lala, 'aku ingin kamu bahagia, Babe. Teruslah begitu, lepas semua duri-duri di badan mu.'
Rumi melepas pelukan, melihat wajah anaknya yang tersenyum bahagia dan masih berurai air mata. "Maafin mama, apa Alea bisa memangilku MAMAH?"
Sentuhan lembut mamah di pipinya begitu hangat nan halus, tangan ibu memang ajaib, sentuhan-sentuhan hangat itu seperti listrik yang menghantar ke hati dan membuat hatinya lebih menghangat, lalu membuat Lala lebih semangat.
"MAMAH RUMI ... aku ingin melihat si kembar ... antarkan Lala mah," kata Lala dengan nada suara manja.
Kevin dan Rumi terhenyak dengan nada suara Lala, baru kali ini mendengar suara Lala yang kekanak-kanakan... Mereka begitu bahagia dan terhibur dengan suara manja Lala.
...ππ...
Di kursi roda Lala duduk mengamati bayi-bayi kecilnya dari balik dinding pembatas NICU, bayi-bayinya itu mengeliat dan tampak lemah, kulitnya masih nampak merah, bibir mungil itu semerah cherry dan rambutnya tebal seperti Johan, bulu matanya sangat lentik dan panjang "Ya tuhan terimakasih ... "
"Aku juga ingin cepat memegangnya, suamiku."
"Semoga dalam dua hari, mereka sudah membaik ... " kata Kevin melihat bayi dalam inkubator itu.
"Amber dan Lydia... ah mama juga ga sabar dan menimang cucu mamah," kata Rumi yang ikut memandangi sikembar di sebelah Sheril.
Sheril mengelus-ngelus pundak Rumi, bahkan sahabatnya itu belum tahu siapa ayah dari sikembar. Kevin meminta semua orang merahasiakan itu dari Rumi. "Aku juga ingin segera menggendongnya, Rum.."
"Amber dan Lydia?" gumam Lala, mencoba mencerna.
Kevin membisikan sesuatu pada Lala.
"..." mendengar itu ibu si kembar melebarkan mata , terperanga, menatap dalam suaminya yang tengah mengangguk dan tersenyum itu.
Dua sudut bibir Lala naik ke atas dan mengusap pelan dua pipi suaminya, dia mengecup Kevin sampai lelaki itu begitu merah merona, "terimakasih Kevin, suami terbaik deh, huhuhu," kata Lala kegirangan menyambut ciuman bibir Kevin.
Kemesraan itu ditangkap Luca dan Johan yang baru masuk. Johan menarik tangan Luca untuk mundur lagi.
__ADS_1
"Apa-an!" kesal Luca pada Johan, karena menariknya saat melihat kemesraan dua orang itu.
"Gimana kalo kamu ajak aku ke klub?"
Luca memiringkan kepala, "kamu nggak waras ya, baru saja putri mu lahir __"
"Ayolah, aku tidak tahu daerah ini, hanya minum, come on boy!" Johan merangkul Luca, dia tahu segeram apa lelaki di sebelahnya itu.
"Terserah lah... " Luca menuruti Johan, baginya lumayan ada teman patah hati.
...ππ...
Malam itu di Klub terbesar di batas kota, mereka berdua duduk di meja sudut bukan ruang vvip, mereka setengah mabuk dan mulai saling terbuka, karena merasa senasib, sama-sama ditolak.
Richie yang baru meninjau usaha bisnisnya turun dari lantai dua melihat dua orang yang dikenalnya. "Luca? Johan? haiyaaa lihat apa yang mereka lakukan ..."
Richie menuruni tangga melewati kerumunan orang.
"Hey bro! kenapa tidak kasih kabar datang kesini? saya kan bisa menjamunya?" tanya Richie menepuk bahu Luca.
"kasih kabar? untuk apa?" tanya Luca.
"Bos Richie?" gelak Johan, dirinya sudah menjadi anak buah Richie sebagai ganti nyawa yang telah selamat.
"HAA ! Johan! kenapa memangil begitu ha?! ada-ada saja!! panggil Richie saja," kesal Richie karena Johan terlalu terbuka, apalagi di depan Luca yang jadi targetnya.
"Kalian kenal? kenal dimana?" tanya Luca heran, lalu menyesap minumannya.
"Kita kan sama-sama teman Kevin," kata Richie pada Luca.
Richie menuangkan lagi wine ke gelasnya, "Oh."
"Ayo kita pindah vvip, apa mau aku panggilkan para gadis cantik?!
"Tidak !!" jawab Johan dan Luca bersamaan.
Richie tertawa, dia sedikit memicingkan mata pada Johan yang berani membentaknya.
"Disini saja," kata Luca, di angguki Johan.
"Baiklah sesuka kalian, nikmati saja." Richie memanggil pelayan untuk memberikan minuman paling mahal. Dua orang itu mabuk di depan Richie, mereka mengeluarkan semua unek-uneknya tanpa mereka sadari.
__ADS_1
Richie geleng-geleng kepala, Dirinya baru tahu jika Luca juga memiliki perasaan pada Lala.
Bagi Richie, mereka berdua lucu disaat menceritakan kisah mereka, apalagi saling menyalahkan, membuat Richie tertawa terpingkal-pingkal.