
“Ayo, kita terbangkan !” seru anak kecil itu sangat semangat menarik tangan Lala dan Luca bersamaan membuat dua orang dewasa itu kaget dan saling pandang.
“Aku tidak tahu caranya," jawab Luca mengikuti anak kecil itu, matanya tidak suka saat tangan anak kecil itu menyentuh tangan Lala.
“Tunggu dik, barang daganganmu?” tanya Lala yang tau susahnya jualan, Ia hampir jatuh karena tarikan anak kecil itu. Lala memberi kode pada Bella agar mengikutinya.
“Bapak itu akan menjaganya. Titip ya pak!” ucap anak kecil itu lalu dengan riangnya melewati orang yang berlalu lalang di depannya.
Bella mengikuti mereka, Ia menggigit sempolannya yang tinggal satu itu.
...*...
Sepoi-sepoi angin menerpa wajah mereka yang kini sudah di rerumputan pinggir pantai, area yang lumayan luas tanpa ada gangguan pohon.
“Kakak berdiri disini, nanti aku kasih aba-aba. Benangnya tinggal di tarik-tarik kak” ucap sang anak kecil mendorong pinggang Luca yang masih saja kebingungan karena masa kecilnya hanya diisi dengan pendidikan tata krama dan bisnis tanpa bermain.
Sang anak kecil itu menarik tangan Lala, “Kaka nanti lepasin layang-layangnya ya, tunggu aba-abaku,” anak kecil itu mengajari titik yang harus dipegang Lala.
“Ayo kak, saat hitungan ketiga siap ya,” ucap sang anak kecil menunggu angin yang lebih kencang.
“1,2,...3! Cepet Ka cantik, lepas!” teriak anak kecil itu kepada Lala yang tengah senyum penuh semangat.
Lala melepaskannya dengan penuh tenaga, senyuman tersungging penuh menatap layang-layang yang mulai terbang di atasnya.
“Ya, betul ! terus tarik tarik ka!” teriak anak kecil itu pada Luca lalu menghampirinya.
Luca melebarkan matanya was-was menatap layang-layangnya yang meliuk-liuk akan jatuh . Dirasakannya tarikan angin pada benang di gengganmannya. Ada rasa takjub saat mengendalikan tarikan di tangannya, pria itu tertawa lepas.
Lala menghampiri Luca, mengamatinya, gadis itu terpesona, ada desiran aneh yang ada di dalam hatinya.
...jarang-jarang melihat Mas Luca tertawa lepas....
“Gimana, seru?” Lala menarik benangnya saat layang-layang itu akan turun, tangan kirinya tak sengaja menyentuh tangan Luca, membuat Luca yang sangat peka terhadap sentuhan itu terlonjak.
“Ya, seru.” Luca berusaha fokus pada layang-layangnya menatap wajah Lala yang sedang membantunya mengulurkan benangnya agar layang-layang terbang lebih tinggi... Jantungnya terasa berdetak lebih cepat.
Angin cukup kencang membuat rambut panjang Lala terbang mengenai hidung Luca, aroma wangi yang tercium membuat Luca semakin tidak karuan ... desiran aneh di dalam dadanya semakin menjadi-jadi. Wajahnya terasa panas.
Lala masih asik menarik-narik benangnya, menjaga layang-layang tetap stabil. Pria bukannya bermain dengan layang-layang malah semakin gusar dengan hatinya.
“Mas Luca, tarik dong nanti benangnya nyangkut sama punya orang,” Lirik Lala memberikan benang di tangannya.
Luca tersenyum menerima benangnya.
Bella yang di belakang terus mengamati kelakuan dua orang itu, Ia tahu, pasti ada sesuatu di antara mereka yang tidak mereka sadari.
...**...
Satu jam kemudian mereka sudah memutari seluruh tempat festival.
“Apa itu?” tanya Luca menghampiri kerumunan.
“Namanya Sintren,” ucap Bella ikut menyelip di sekumpulan orang.
Luca menarik tangan Lala, memberi tempat untuk gadis itu di depannya.
“Gadis perawan itu diikat, akan dimasukkan ke kurungan besar.” ujar Lala tanpa sadar.
“Perawan?" tanya Luca, dahinya berkerut.
“Eh iya, harus gadis yang masih perawan dan suci.” Jawab Lala.
“Ya sudah, kamu masuk sana saja, sekalian!” Celetuk Luca.
“Hus, itu, harus lewat ritual berbulan-bulan, untuk jadi seorang sintren.” Jawab Lala.
“Lihat dibuka, wow! Keren!" Bella mengabadikan pertunjukan itu.
“Loh kenapa pakaiannya bisa berubah? Itu sulap ya? mengapa dia memakai kacamata hitam? apa dia malu?" ujar Luca heran yang tidak pernah melihat budaya negara ini baik dari tv media sosial. Ia tak memiliki media sosial, Ia tidak pernah melihat tv. Ia selalu berurusan dengan bisnis yang semua laporannya sudah disiapkan assistennya.
__ADS_1
Lala dan Bella terkekeh dengan pernyatanyaan Luca, 'apa ini orang hidup di luar angkasa??' batin Bella.
“Ayolah jawab, di kurungan itu dia tidak mungkin bisa berdiri untuk mengganti kostumnya. Tidak ada ruang tersembunyi juga, hppp!!” mulut Luca dibekap tangan Lala.
“Mas Luca lihat saja dulu!” perintah Lala beralih melihat pertunjukan, Ia tidak mau kenikmatan mencintai seninya di ganggu.
Luca memegangi bibirnya.
...Gadis ini main pegang-pegang....
Wajah Luca memerah.
“Apa dia beneran pingsan atau tidur? Kamu percaya mistik, La? Apa cuma kita yang di kibuli?" Giliran Bella yang berceloteh.
“Ya, itu kekayaan budaya negara ini, patut kita apresiasi kan? kamu kan anak seni kenapa malah tanya aku? Nikmati saja keindahannya. Itu lihat ! Penarinya jatuh lagi pas musiknya mati.” pungkas Lala menatap pertunjukan di depannya yang sangat menarik baginya. Ia sangat menyukainya, ada bahagia tersendiri walau hanya dengan memandanginya.
“Apa setan memasuki tubuhnya?” bisik Luca di telinga Lala.
“Iya Mas Luca, bener” kesal Lala menoleh ke Kanan. Orang ini selalu mengganggu kenikmatannya.
Wajah Mas Luca sangat sangat dekat, hidungnya mancung. Aku dapat melihatnya dengan jelas mata tajam Mas Luca.Mengapa terlihat indah.
Luca sadar Ia sedang diperhatikan. Hembusan nafas Lala menyapu pipi kiri Luca, Luca merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Jantungnya semakin cepat.
"Uhuk-Uhuk!"
“Tenggorokanku kering banged,” Bella batuk-batuk, memegangi tenggorokannya,Ia merasa ada yang tidak beres dengan tenggorokannya.
“Ayo kita cari minum,” ucap Lala yang tiba-tiba merasa canggung dan menjauhi Luca, mereka keluar dari kerumunan.
... ***...
Semua arena festival telah didatangi, mereka akan menuju parkiran mobil. Di tengah jalan mereka di hadang anak-anak kecil.
"Kak ayo ikut main sama kami, kami kekurangan pemain, mau ya?" ucap seorang anak kecil berusia 13 tahunan.
"Main apa?" tanya Bella.
"Apa!? gobac sodor? Apa itu?!" tanya balik Luca yang mendengar nama aneh.
"Iya, pasti seru banget! Ayo Mas Luca ikutan, mumpung ada Kesempatan." ajak Lala yang sudah lama tidak main permain tersebut.
"tapi...,"ucap Luca tak digubris kaum hawa.
Mereka pun bermain, diputuskan Lala dan Bella di Tim A sebagai penyerang, harus melewati setiap baris batas. Dimulai dari baris awal, sampai baris belakang dan kembali ke baris awal.
Tim B sebagai penjaga harus berada baris horizontal dan vertikal. Tugas Luca adalah penjaga baris vertikal jadi Ia bebas mondar-mandir di garis tengah.
Masing-masing tim ada 5 pemain, lapangannya dibagi 4 persegi panjang, ukuranya masing-masing 5m x 3m.
Peraturannya tim penyerang tidak boleh tersentuh tim penjaga.
Tim A berhasil masuk ke kotak 2,3,4.
Badan Luca tinggi hampir dengan mudahnya menyentuh tim penyerang bila tim Lala tidak hati-hati. Lala dan Bella berhasil masuk ke dalam kotak yang berbeda.
Luca berusaha menjangkau Bella dan Lala, dua gadis itu cukup terpojok. Lala akhirnya berhasil melewati garis belakang, kemudian disusul Bella. Mereka semua sudah cukup terengah-engah dengan tugasnya.
3 Penyerang telah berhasil kembali ke garis awal. Tersisa Lala dan Bella.
Riuh penonton sibuk memberikan semangat. Semua pemain fokus pada tugasnya, mereka tidak sadar sudah jadi tontonan.
Luca sudah keringatan, penonton perempuan malah kini sibuk merekam dan menyeru Luca dengan sebutan 'Babang!' , 'Ganteng!' , 'Opa!'.
Luca tidak terganggu, dia selalu bisa fokus pada segala sesuatu ya kecuali gadis itu yang belakang ini bagai mengusik ketentraman hatinya.
Luca tidak akan membiarkan lawan menang, Ia berusaha meraih Lala atau Bella, sampai akhirnya Bella berhasil kembali ke garis awal.
Tinggal Lala yang akan menjadi penentu kemenangan.
“Awas La!” Bella mengingatkan saat Luca hampir menyentuhnya." Semangat La !"
__ADS_1
Posisi Lala sulit karena semua penjaga fokus kepadanya.
Penjaga baris itu lengah, Lala mengambil kesempatan langsung lari .
“Yeeehh !!!!!!!” teriakan para penonton mereka bertepuk tangan dengan riuhnya.
Semua pemain tim A dan B masih terengah-engah, penuh keringat, tapi mereka puas, kerena permainan ini sangat menyenangkan.
”Yeah kita menang,” teriak Lala, Bella dan timnya bersamaan.
Lala dan Bella melakukan yel-yel. Ayunan pertama gadis itu saling meninjukan kepalan tangan. Ayunan kedua dengan gestur menembaknya.
Dua gadis itu tertawa lepas merayakan kemenangannya.
Luca tersenyum melihat mereka.
Luca baru sadar, kapan terakhir kalinya dia merasakan kebahagiaan ini? Telah lama hidupnya terasa hambar. Apalagi semenjak meninggalnya Grandpa.
Games ini seru, bagus untuk acara gathering di kantor.
Matahari mulai lelah menampakan sinarnya, mereka kembali ke Villa dengan perasaan puas.
...****...
Sesampainya di Villa ada dua mobil hitam di halaman. Begitu Luca turun dari mobil , terlihat Luca menghampiri 4 orang berjas hitam dan mengobrol.
Bella dan Lala masuk ke dalam Villa membawa kantong-kantong hasil buruannya di festival.
Dua gadis itu meletakan di atas meja, di depan tv di ruang tengah.
“La, tolong ambilin minum,” pinta Bella yang sedang memotong kue yang baru dibelinya.
“Ya Bell,“ Lala berjalan ke dapur dan bersenandung. Dia melewati satu sekat dan masuk area dapur.
Saat tiba di dapur, gadis itu melihat sosok yang terlihat bagian kakinya sedangkan tubuhnya terhalang pintu atas Lemari es.
Lala hanya melirik lalu mengambil gelas dari lemari. Tangan kirinya meraih teko yang berisi air putih dan dijinjingnya.
Ia tetap bernyanyi tanpa mempedulikan ada orang atau tidak.
Lala berbalik, tangan kanannya membawa dua gelas.
Kemudian langkah kaki dan nyanyiannya terhenti saat ...
Bruk!
Bunyi pintu kulkas ditutup.
Lala menoleh ke belakang tanpa berbalik badan.
PRANG!
Dua gelas di tangan Lala jatuh pecah berantakan ...
____________________________________
...Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini....
Siapa yang dilihat Lala sampai membuat dua gelas ditanganya jatuh?
Yuk Simak di Bab selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimaksih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.
__ADS_1