Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 103 : PELUKAN


__ADS_3

Tak tega melihat Johan yang duduk di kursi roda dengan infus ditangannya, hati Lala semakin berdenyut, "Jo, aku ada hadiah spesial untukmu."


Tangan Lala ke atas meja, meraih sebuah buku bersampul -bunga mawar yang dikeringkan dan dilapisi cairan Lilin-.


Johan mengangkat sebelas alisnya, "Hadiah?"


Lala melihat keterjutan, kegembiraan, semua dirangkum menjadi satu pandangan


"A-aku akan menjadi seorang ayah dari dua orang putri? seperti apa dia? apakah dia akan pergi bekerja denganku? akankah saya mengajarinya melakukan sesuatu, apakah dia akan memandangku, apakah aku akan menjadi ayah yang lebih baik daripada yang aku rasakan?"


"Mereka menyambutmu, peganglah, Jo."Lala mengukir senyum, tangannya meraih tangan Johan dan meletakan di perutnya.


Johan merasakan bayi-bayi itu menendang, beberapa hari lalu, memegang mereka begitu menyakitkan. Tapi kali ini rasa luar biasa itu seperti roket yang lepas dari pelukan bumi dan itu adalah perasaan yang terbaik yang pernah dirasakannya. Organ dan jaringan sedang dirakit menjadi sebuah paket kecil yang suatu hari nanti akan melihat ke arahnya dan berkata,'aku mencintaimu, Ayah.'


Johan menangis lagi, sulit menggambarkannya, karena emosi yang luarbiasa. 'Aku sangat ingin menjadi ayah yang baik. Aku ingin membesarkan gadis-gadis yang terlibat dengan dunia, yang peduli pada orang lain, yang bermimpi dan percaya bahwa mereka dapat mencapai apa pun. 


Aku ingin mereka mencintai ibunya, punya teman, dan tidak pernah menghadapi hari yang sulit.


Tapi aku tahu mereka akan melakukannya. Saya tahu bahwa mereka akan terluka, memar, rusak. Mereka akan mengalami patah hati. Mereka akan membuat kesalahan dan mereka tidak akan mau memberi tahu saya tentang itu. Aku hanya bisa berharap bahwa mereka akan merasa seperti yang mereka bisa. Atau bahwa mereka akan dapat berbicara dengan seseorang yang peduli padanya seperti aku.


Saya memiliki begitu banyak harapan dan impian, namun, itu baru saja dimulai. Suatu saat di bulan depan saatnya akan tiba ketika mereka tidak lagi berada di dalam ibunya, mereka akan menjadi nyata. Aku akan bisa menahannya. Saya berharap semua yang saya rasakan sekarang hanya menjadi bayangan pucat masa depan ketika mereka berlarian, ketika mereka tersenyum kepada saya, atau memberi tahu saya bahwa saya salah, atau menunjukkan sesuatu yang tidak pernah saya ketahui tentang dunia.


Sejujurnya, aku tidak berpikir saya bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Rasanya seperti hidup itu sendiri. Pasang surut dan kedalaman emosi yang benar-benar mencengkeram dan mengguncang saya seperti tidak pernah saya rasakan. Itu membuatku merasa kecil dan tak berdaya ... dan penuh cinta. Sangat banyak cinta.' Batin Johan bercampur aduk saat bayi-bayi kecilnya semakin menendang kuat seakan tahu keberadaanya.


"Apakah kamu senang Jo?


"Kau masih menanyakan itu? hm... terimakasih, aku... bahagia, merasa luar biasa," kata Johan dengan lembut dan guratan merah merebak di antara tangisannya.


"Semangat Johan, mereka tak sabar berjumpa dan memelukmu."


Johan mengelap wajahnya dengan dua telapa tangannya dengan semangat, "Aku ingin terlibat ... apakah kalian akan mengijinkan aku?"


Di sudut ruangan Kevin meninju tembok, hingga membuat tangannya bedarah. Richie yang melihat itu mendekati Kevin, dia mengiikuti arah mata Kevin... terlihat Lala dan Johan yang terlihat begitu dekat. Richie mengelus punggung Johan. "Kamu luar biasa boy, bagaimana bisa kamu menyembunyikan ini. Kamu harus lebih terus terang agar istrimu tahu. Dia bukan mesin yang bisa memindai ketidak sukaanmu."


"Apa rasanya sebahagia itu?"


"Mengapa kau tanyakan pada perjaka sepertiku ha? aneh."

__ADS_1


"Datangi mereka, kau tak mau mati terbakar karena api cemburumu kan,"kata Richie lagi.


"Tidak, mereka butuh waktu."


"Kau tidak takut Lala terbuai? Jadilah lelaki gentle, datangi dia," kata Richie, dia menghela nafas merasakan kebodohan lelaki muda didepannya. "Apakah kamu memfasilitasi hubungan mereka jadi lebih semakin dekat? ck! dia istrimu bro. Berlaku selayaknya seorang suami,"kata Richie kesal dan mendorong Kevin, hingga Lala dan Johan melihat kedatangan Kevin. Richie berlalu tak tanggung jawab, malas sekali mengurusi urusan mereka, apalagi ini di markasnya.


Johan melepaskan tangan dari perut Lala, senyuman di wajahnya seketika sirna.


Sementara Lala menatap kosong pada sang suami yang berjalan kearahnya, memikirkan apa suaminya itu sebahagia Johan, dengan kehamilan Bella, hatinya begitu berdenyut terutama saat melihat ekspresi Kevin yang semakin mengganggu pikirannya.


"Apa kedatangan saya mengganggu?"


"Tidak," jawab Lala dan Johan hampir bersamaan, membuat Kevin semakin mengatup mulutnya.


"Selamat Johan."


Ucapan Kevin datar. Namun, tersirat torehan luka dari kata-katanya.


Pikiran Lala bercabang, dia justru berpikir ... jika Kevin mengucapkan itu semata karena berusaha menutupi kehamilan Bella, hati Lala kembali tercabik. Tekadnya naik-surut saat dihadapkan dengan raut wajah Kevin yang terlihat kelam.


"Terimakasih Kevin, aku berhutang banyak padamu."


'Ck! Sialan. Saya melakukannya bukan untukmu. Terimakasih? ck!maksudnya dia menertawakan saya kan? Terimakasi telah merenggut keperawanan Lala yang kamu dmaksud? ck! gila. Bagaimana bisa sampai sekarang saya terus melakukan kekonyolan.' Batin Kevin, tangan disamping pahanya mengepal kuat.


"Sesama teman harus membantu kan,"kata Kevin pelan dengan sedikit tertawa, meletakan tangannya dengan lembut di bahu Johan. Keinginan hatinya berkata lain, dia sangat ingin memukul Johan. Kevin terus berperang dengan hatinya, ketika melihat hasil foto usg yang dilihat Johan, melihat unyu peri-peri kecil yang saling menautkan kelingkingnya dan saling memberikan kekuatan. Kevin mengambil dalam-dalam nafasnya, kehadiran peri-peri kecil itu membuatnya lemah. Dirinya bahkan tak bisa membenci si kembar, justru semakin menyayanginya, bayi-bayi itu benar-benar menguras hati dan pikirannya. Di satu sisi dirinya ikut gembira memilikinya, di sisi lain itu begitu menyakitkan.


"Aku akan menyiapkan makan siang, ini sudah terlambat," kata Lala memecahkan keheningan di ruangan itu, dia melihat jam 3 sore. "Jo, tunggulah, ikut lunch bersama kami. Kamu pasti merindukan masakanku kan.."


"Apa!?" sentak Kevin, membuat Johan menoleh dan menangkap ketidak sukaan itu.


"Aku akan beristirahat saja, aku masih terlalu kenyang," kata Johan merasa tak enak pada Kevin, dia sadar Kevin yang banyak mengalah.


"Cicipi masakanku walau sedikit, kalian sudah lama tak berbicarkan?! kalian harus mengobrol. Tak apa kan suamiku?" tanya Lala, menatap suaminya yang gelagapan.


"Ah iya kami harus mengobrol. Jadi buatkan kami makanan yang enak istriku," kata Kevin dengan suara lembut dan tersenyum manis pada Lala. Dalam hatinya dia tak habis pikir dengan Lala, 'istri mana yang menyuruh suaminya mengobrol dengan orang yang telah memperkosa istrinya? menyebalkan!'


Di keheningan yang hanya ada mereka berdua, Johan melirik Kevin yang menyibukan diri dengan buku di meja lonjong besar itu, "Setelah sekian lama bisakah kamu memaafkan aku."

__ADS_1


"Kamu menanyakan sesuatu yang kamu sudah tahu jawabannya," kata Kevin dingin tanpa menoleh dari bukunya.


"Apa ada sesuatu yang bisa membuatmu memaafkannya?"


"Kau tahu, saya tak akan melakukan itu, walau menginginkannya. Mungkin saya senang jika kamu tak pernah lagi hadir dalam kehidupan kami, tapi pasti Lala dan si kembar akan kesulitan. Lala butuh kebahagiaan putri-putrinya. Sedangkan sikembar itu butuh ayahnya, tanpa aku bisa mengalahkan kehendak alam."


"Apa maksudmu, berati aku boleh ikut terlibat dalam kehidupan sikembar?"


"Kamu bodoh, sudah jelas."


"Bisa lebih jelas?"


"Hah! saialan kamu Johan brengsek, kamu masih menanyakannya. Kamu sengaja memancingku kan?atau kau mengejek ku! bodoh, bagaimana pun kau lebih berhak dengan putri-putrimu. Jadi tak usah berputar-putar, lakukan semau mu asal Lala setuju."


"Apa mereka bukan putri-putrimu?"


"Hentikan omong kosongmu."


"Mereka juga akan menyayangimu, seperti mereka menyayangi ibunya."


"Ck!" decak Kevin kesal, 'saya harap begitu,'batin Kevin, hatinya begitu sesak dengan harapan yang tak pasti, bagaimana jika si kembar tak menganggapnya.


"Jadi apa kita bisa kembali membangun hubungan diantara kita yang telah luluh lantah?" tanya Johan pelan dengan banyak harapan, harapan itu bisa ditangkap Kevin.


"Tak salah bila kita mencobanya. Toh saya dengan mudah bisa menghabisimu sewaktu-waktu."


Johan tertawa kecil, sikap Kevin itu kembali dikenalnya, setelah sekian lama tiada keintiman diantara dirinya dengan Kevin.


"Itu lucu ya? sialan kau, aku benar-benar ingin membunuhmu, lalu mengeluarkan semua isi otakmu," gerutu Kevin.


"Peluk aku Kevin, please."


"Kau harus membuat mereka membagi cintanya, bila perlu lebih besar dari mu sialan."


Johan tertawa sampai melihat Kevin menendang kursi dan lalu memeluk dirinya yang tak berdaya di kursi roda, "I will, bro! Aku tau kamu cemburu. Seribu kali pun, aku akan memohon maaf sampai kamu memberinya."


Mereka mendekap satu sama lain begitu lama dan saling merutuk, dan rutukan kasih sayang, entah mereka tak paham, semua ini tejadi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2