Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 102 : DIARY BOOK


__ADS_3

"Johan harus menjadi bawahan ku," kata Richie.


Lala berjalan ke arah Richie, "kenapa?"


Richie mendekat ke wajah Lala dan menatapnya dalam, "di dunia ini tidak ada yang gratis. " Dia melewati Lala, mengambil tepung, pergi lagi mengambil susu dan pergi lagi mengambil telur.


Dihampiri Richie yang terus mondar-mandir itu, seperti tak fokus, 'mengapa tak mengambilnya sekalian? apa dia sengaja menghindari ku?' batinnya. Lala bersandar pada meja dapur melihat Richie disebelahnya. Richie mengambil se cup tepung dan menuangkan pada mangkuk kaca, "Johan masih kuliah. Apa anda mau menjadikannya seorang pembunuh seperti kemarin?"


"Jangan mencampuri urusan saya,"kata Richie dingin, dia memasukan kuning telur ke tepung.


"Anda memang pembohong, katanya mau melepaskan Johan..."


"Kocok ini," kata Richie tidak menanggapi Lala, Dia memberikan mangkuk berisi putih telur dan susu.  Richi dari belakang Lala memegang tangan Lala agar memegang mangkuk itu, sedangkan  tangan lain Richie memberikan handmixer dan mengarahkannya, setelah itu membiarkan Lala mengerjakan tugasnya. Sementara Richie mengaduk adonan tepung dengan spatula.


"Matikan. Tuangkan kemari," perintah Richie,lalu di turuti Lala. Richie kembali mengaduknya.


"Tuan Richi__"


"Nyalakan kompornya."


"Yang mana?"


"Kamu tak lihat, yang ada wajan. Api kecil saja," kata Richie tanpa menoleh, Lala menurutinya.


"Tuan Richie__"


"Ambil margarin di pintu kulkas, lelehkan sedikit," kata Richie di turuti Lala.


"Tuan Richie__"kata Lala setelah meletakan margarin dan belum meleleh.


"Kemari," kata Richie. Setelah Lala mendekat, dia memberikan adonannya pada Lala. Dia memegang tangan Lala dan mengayunkannya pelan," seperti ini."


Sisa kocokan putih telur itu dituangkan semua oleh Richie, dia beranjak ke dekat kompor mencicipi daging. "Bawa adonannya kemari." Setelah Lala di depan kompor, Richie meraih sendok sayur dan memberikan pada Lala, "Dua sendok setengah."


Lala menuangkan adonan pada teflon. "Tuan Richie yang baik budiman, tidak boleh menjadikan Johan melakukan pekerjaan kotor, dia ayah dari anak-anak ku."


"Apa!?" Richie terbelalak sampai mundur beberapa langkah saking terkejutnya. "Apa karena itu kau terus membela dia?"tanya Richie dengan nada naik satu oktaf sambil melirik kandungan Lala.


"Ya... saya tak mau ayah dari anak-anak ku sampai menghilangkan nyawa orang lagi. Apa kata mereka bila sudah besar nanti."


Richie menghela nafas kasar, "Jadi, Kevin sudah tau?"

__ADS_1


"Iya. Dan saya harus menemui Johan dan memberi tahunya, jadi ijinkan saya menemuinya."


Richie mengambil spatula dan membalikan pancake, "Hmmm. Hidupmu memang memusingkan ya, ck," gumam Richie yang di dengar Lala. Richie mengambil piring dan memberikannya pada Lala.


"Kau tahu, tidak ada lelaki yang, dengan senang hati membesarkan anak orang lain. Bukannya Kevin sudah menaruh perasaan padamu sejak lama? harga dirinya terluka, ya. Pasti Kevin tak akan memberitahu jika dia merasa hancur karena itu. Coba kamu pikirkan perasaan Kevin, mengapa kau terus mengurusi Johan. Suamimu Kevin atau Johan? kau benar-benar menginjak-nginjak harga dirinya, Nyonya Saint, berhenti mempedulikan Johan. Jangan-jangan ini yang membuat suami mu selingkuh ..." Richie sedikit ikut kesal pada Lala.


"Angkat, dan teruskan itu," kata Richie menyentuh tangan Lala yang termenung.


"Kau tahu nyonya Saint? alasan Kevin mau menjadi ketua Fraksi, setelah dia terus menolaknya. Itu karena kau. Karena ingin melindungi mu dari musuh-musuh yang tak jelas asal-usulnya. Dan itu balasan mu... membuat bayi dengan pria lain, saya tak mengira kamu menjijikan nyonya Saint."


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Richie, membuat pria bergaris rahang kuat itu berubah menjadi merah padam.


"Anda tidak tahu apa-apa," seru Lala dengan kepala mengayun ke kiri.


"Saya bersumpah akan membunuh Johan." Richie mendelik, mengelus pipinya yang perih.


"Ahh!!!" teriak Lala di tengah sesak hatinya.


Bau angus menguar ke ruangan, Richie melirik kebelakang Lala, melihat pancake yang sudah menghitam dan mengasap, Richie menggeser Lala dengan kasar dan cepat mematikan kompor, sekaligus mematikan sup daging.


"Saya tak membuat bayi, lebih tepatnya dia memperkosaku, tak perlu saya menceritakan ini kan, ya ... menjijikan-saya memang seperti itu. Mungkin Tuhan menghukum ku lewat Bella dan Kevin," ucap Lala pelan dengan suara tertekan dan bergetar, dia mengambil tiga mangkuk.


'Apa yang dipikiran wanita ini? terus membela orang yang sudah memperkosanya? Apa dia sudah gila?! Dia memang gila, sudah tahu suaminya selingkuh masih berlaga tidak tahu apa-apa. Dan justru berlaku manis seperti ini? cih dia memang aneh.


Apa itu bayi tak apa. Mengapa semalem Poo Poo mendeteksi suhu badan mereka meningkat sampai tengah malam, apa mereka bercinta sampai selarut itu di tengah perut besar itu? sebenarnya bila saya mau, saya bisa mengaktifkan kamera itu dan melihat pertunjukan panas mereka. hah! mereka memang pasangan gila!' batin Richie tak habis pikir.


Fraksi utara memiliki tujuh ketua, dan yang melajang hanya Richie. Alhasil Richie jadi bulan-bulanan nyonya ketua. Richie melihat Lala yang termenung di sampingnya, jelas kentara pikiran Lala di tempat lain. Dilemparkan buku di depan Lala,"baca itu peraturannya."


Wanita itu membuka halaman ketiga, tatapan matanya kosong sambil memegang keningnya.


"Kau mau membaca daftar halaman buku sampai kapan?"


Pertanyaan Richie tak di tanggapi Lala, membuat lelaki itu menghela nafas.


Dua jam berlalu, para istri ketua pulang setelah sesi perkenalan dan memberi setumpuk materi berbahasa Indonesia pada Lala.


"Melelahkan, Tuhan." Lala menjatuhkan kepalanya di meja besar itu, membenamkan wajah di buku yang terbuka itu, dia merasa tak punya tulang sama sekali. Kepalanya terasa penuh dan akan meledak. Hatinya terasa mati. Semua perkataan Richie tadi pagi membuatnya tambah gila.


Saking lelah hayatinya Lala dia sampai dia sudah tidur dua jam dan Richie membiarkan itu.

__ADS_1


Kepalanya terasa sakit, Lala bangun mengucek-ngucek matanya, dia menoleh ke kanan.


"Jo!"


"Kamu tidur begitu lelap ya, kebiasaan mu buruk sekali."


Lala akan membuka selimut yang menutupi paha Johan, "kamu kenapa disini, kamu harus istirahat, Jo. Ayo aku antar kembali ke kamar."


Tangan Lala di tahan Johan. "Jangan membukanya, aku hanya memakai dalaman. Atau kamu mau melihatnya?" lirih Johan sedikit meledek, membuat guratan merah di wajah Lala. Wanita itu menarik kembali tangannya mengurungkan niat.


"Apa pelurunya sudah dikeluarkan?"


"Belum."


"Kenapa?ah aku akan__"


"Bukankah sudah aku katakan, jangan terus mengkhawatirkan ku. Bahagialah bersamanya, dan berhentilah memberikan harapan padaku."


"Jo___"


"Jangan mempedulikan lelaki lain selain Kevin, karena mereka akan salah paham."


Lalla menangkup wajahnya,"aku lelah, Jo."


"Kenapa?"


"Bella..."


"Bella? dia pasti akan menghubungimu."


"Kamu tidak tahu , Jo."


"Tahu apa? bagaimana aku tahu jika kamu tak cerita. Ah aku punya titipan dari ayah mu, maaf kakek Lewis belum menemukan ayah Alen."


Lala mendongak, "ayah?" dia kembali diam, 'Aku tak boleh memberitahukan keberadaan ayah pada siapapun termasuk keluarga Johan, demi keselamatan ayah. Maaf Jo, aku harus menyembunyikan ini,' batin Lala yang teringat pada perintah sang suami.


Kalung berbandul biru diberikan Johan dan Lala menerimanya. Terlihat lelaki itu tertunduk dan suaranya bergetar menceritakan detik-detik ayah Alen yang hilang dari pengawasan Johan, hati Lala bergetar mendengar Johan.


"Johan, ayah pasti akan ketemu. Jangan terlalu bersedih. Aku percaya ayahku orang hebat, dia pasti akan melindungi dirinya."


Tak tega melihat Johan yang duduk di kursi roda dengan infus ditangannya, hati Lala semakin berdenyut, "Jo, aku ada hadiah spesial untukmu."

__ADS_1


Tangan Lala ke atas meja, meraih sebuah buku bersampul -bunga mawar yang dikeringkan dan dilapisi cairan Lilin-.


Johan mengangkat sebelas alisnya, "Hadiah?"


__ADS_2