Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 154 : MENUTUP LEMBARAN LAMA


__ADS_3

Hari mulai malam, malam itu Richie tinggal di rumah Lala.


Ruang tengah di depan tivi begitu berantakan oleh mainan Vino. Sedangkan Lala sibuk menyetrika.


"Bila lelah, tidurlah. Vino biasa tidur jam sepuluh." Menoleh ke belakang, mengamati wajah Richie yang terlihat letih setelah seharian lelaki itu bermain dengan Vino tanpa mengeluh.


"Hm... Apa tidak ada alkohol di kampung ini?" Richie mengambil bola-bola kecil yang dilempar Vino. Di dekatkan lagi pada bocil yang sudah memakai baju tidur dan masih asik menggoyangkan tangan mungil.


"Tuan Richie, itu sudah pasti tak ada. Kenapa? Ada masalah?"


Richie menarik Vino duduk di pangkuannya. "Saya selalu kesulitan tidur malam, lebih tepatnya takut tidur malam, karena itu Alkohol sedikit membantu."


"Itu karena anda mensugestikan pada diri begitu. Sudah ke psikater?"


"Sudah ... belum membuahkan hasil." Richie mengamati Lala yang telah selesai menyetrika, wanita itu berjalan ke dapur.


"Hey Boy, kamu nggak punya beban yah?"


"Chachacha." Vino berceloteh melepaskan diri dari pangkuan Richie, anak itu berdiri menatap Richie dengan senyum dan terus mengayunkan tangan


"Apa kamu mengejek saya, Boy. Hemmm sini." Richie, dua sudut bibirnya terangkat penuh. Denhan perlahan mengangkat Vino jauh ke atas kepala Richie mengayunkan Vino ke bawah, membuat anak itu makin terkikik dengan lucu setiap Richie mengangkat kembali ke atas.


Kelakuan Richie membuat Lala tersenyum, hatinya menghangat. Setelah rumah ini begitu lama monoton, malam ini terlihat lebih berwarna dengan kehadiran Richie. Vino terlihat begitu bahagia.


'Berdosa saya bila menjauhkan Vino dari Kevin?'batin Lala, hatinya berdegub ketika mengingat Kevin.


"Minumlah ini, pasti lebih hangat dan membuat tidur lebih lelap." Lala memberikan pada Richie ketika Richie menghentikan aksi karena kedatangan Lala


Richie menghirup aroma kuat minuman warna caramel, dia menyeruputnya minuman yang masih mengepul. " Ahhh... Apa ini? Begitu hangat di tenggorokan?" tanya Richie menatap Lala dengan intens, apa salah jika dirinya merasa nyaman di dekat Lala.


"Campuran jahe merah, kapulaga, mrica, gula aren." Lala memakaikan kaos kaki pada Vino. Sang putra, bila malam tidak dipakaikan kaus kaki pasti nanti tidurnya sering terbangun.


"Minuman ini ... saya suka, nafas saya langsung plong." Diseruput lagi, badannya menjadi jauh lebih rileks, "apa kita memiliki hubungan di masa lalu?"


"Maksudmu Tuan Richie?" Lala mulai merasa tidak nyaman. "Ya Anda hanya sebatas teman dari mantan suami saya. Apa anda mengingat sesuatu?" Tanya Lala mulai teringat kelakuan kurang ajar Richie ketika pria itu belum hilang ingatan.


"Apa kamu bisa membantu ingatanku kembali? Mengapa pak Pram bilang saya pernah dekat denganmu? Sedekat apa?" Richie semakin dalam menelisik mata Lala, sedetik kemudian wanita itu beralih ke tivi.


"Teman biasa," Jawab Lala datar.

__ADS_1


Dari dalam -diri Lala- selalu timbul perasaan takut bila Ingatan Richie kembali, takut bila lelaki itu akan kembali mengganggunya.


Tangan Lala semakin dingin, menyadari Richie merangkak bergeser makin mendekatinya, membuat Lala makin tertunduk.


"Ada apa ini? apa penglihatan saya salah?" Richie mengangkat dagu Lala dan wanita itu menghindar. "Kenapa tak mau menatapku? Apa pernah ada sesuatu di antara kita?" Richie mencoba mencari tahu manakala jantung dan hati Richie mulai bergejolak tanpa bisa dikontrol.


'Reaksi apa ini' batin Richie menyadari ada yang tidak beres dengan respon Lala dan respon tubuh Richie sendiri.


"Tidak ada, kamu terlalu dekat. Cepat menjauh!!" Lala menjaga nafas tetap terkontrol, bau aroma tubuh Richie begitu kentara. Tanpa bersentuhan kehangatan dada Richie begitu memancar.


Lala menggigit bibir bagian dalam matanya kosong. Dia mulai bernafas pendek dan cepat tanpa disadarinya.


"Tatap saya bila memang tidak pernah ada apa-apa." Perintah Richie, membuat Lala meluruskan kepala, terlihat wanita itu menelan saliva dan sedikit mematung ketika Richie mulai memperhatikan mata Lala baik-baik.


'Indah," Batin Richie saat melihat manik biru langit Lala. Richie dapat mencium aroma wangi menyenangkan -tubuh Lala- Aroma yang terasa familiar di dalam benak pikiran.


'Mengapa tubuh ini bisa mengenali aroma ini, tapi tidak mengingat segalanya. Apa sebenarnya masa lalu Saya dengan wanita ini?'


Mata Richie memanas, dia tak kuat menatap wanita itu yang penuh daya tarik. Ya, Richie mengakuinya. Hanya dekat begini saja semua indra Richie langsung aktif, terutama indra penciuman dan perasanya.


Terbesit rasa strawbery dalam ingatan Richie begitu membuka mata dan mengamati biir Lala baik-baik. Bibir yang cantik dengan wajah datar saja, ujung bibirnya tetap tertarik ke atas, binir bagian bawanya lebih lebar sedikit, membuatnya terlihat sangat sensual walau hanya diam.


"Apa yang kau lakukan Richie, hentikan_" kata Lala pelan dengan penuh penekanan, dia makin memundurkan kepala sampai mentok tembok menatap lekat-lekat Richie makin mendekat. Dia membuka bibirnya mencoba bernafas normal.


Namun hal itu justru di tangkap lain oleh Richie yang sangat menikmati geroginya Lala.


"Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya memastikan kau tak berbohong..." bisik Richie kembali menatap Lala. "Apa kita pernah berciuman?" tanya Richie dengan suara berat.


Dada Lala sudah naik turun, meskipun dia mencoba menahan nafas. Namun gejolak tubuhnya, justru mengingatkan kembali atas sentuhan Richie. Lala mendorong dada Richie dengan kedua tangan. Matanya mulai memanas, setetes bulir air mata jatuh di pipinya.


Melihat itu, dada Richie mulai meradang, "Apa yang kau sembunyikan dariku ha? Mengapa kau tak menjawabnya? Apa pernah ada yang spesial?"


"Aku takut karena kau terlalu dekat. Hanya itu." Lala melepas kedua tangan yang di tahan Richie, lelaki itu menggeser tangan Lala ke tengah dada Richie yang berdegub kencang.


"Bisa menjelaskan ini, dada saya ada yang aneh? Kamu tahu maksud saya kan, Clarisaa???" Bulir air mata Richie jatuh. "Apa ini?" Tangan lain Richie mengelap mata, dan melihat tangan itu basah oleh air mata. "Mengapa? Mengapa saya tak tahu apa-apa? Apa ini!!!" Geram Richie menahan suara tetap pelan agar Vino tak ketakutan. Air mata Richie terus berjatuhan membuat Richie kebingungan.


Lala merasakan deguban kuat jantung Richie yang sangat hangat kentara di telapak tangan Lala. Tangan Richie begitu menggenggam erat, begitu hangat, sama persis kehangatannya saat Richie menggenggam pertama kali di acara pernikahan Lala.


Berkali-kali Lala berusaha melepaskan diri dan Richie dengan perlahan mulai mendekap. Wanita itu merasakan kehangatan dada Richie dan rasa nyaman. Kilatan-kilatan potongan ingatan muncul di kepala Lala akan perlakuan Richie di hotel, membuatnya kembali menangis.

__ADS_1


Setelah selama ini tidak tahu apa yang dilakukan Richie kala dihotel , dia mendapat sepotong ingatan itu bahwa Lelaki ini mencoba melecehkannya saat itu. Lala semakin hanyut dalam sesenggukan tertahan. Disatu sisi persaan nyaman, di satu sisi perasaan jijik. Apa pernah ada yang merasakan ini? dua rasa berlawanan.


"Clarissaa apa aku pernah menyakitimu? Mengapa kau seperti ini? Apa yang tidak saya ketahui? Mengapa hati saya merasa sakit?"tanya Richie karena Lala gemetar hebat dalam rengkuhannya.


Vino menyentuh paha Richie. Lelaki itu tetap mengamati Vino yang duduk bermain di dekat paha Richie.


"Mengapa hati saya sakit, seakan di dalam ini mau keluar? jangan diam, jawab..." Kesal Richie, merasa tak dapat jawaban. "Lihat saya," perintah Richie lagi, mengoyangkan bahu Lala. "Mengapa kau seperti ini? Apa yang kau tangisi? Kasih tahu saya harus bertanya pada siapa? apa saya harus bertanya pada Kevin? Saya beri tahu, ini sangat tidak nyaman di dalam dada saya, saya sangat bingung dan kepala saya tak kuat setiap memikirkan ini," kata Richie seraya mengusap pipi basah Lala.


"Saya sudah terlalu bersabar padamu.Saya ingin memastikan sendiri ini, jangan tolak saya."


Punggung Lala di tahan tangan kiri Richie, tangan kanannya menahan kepala Lala dengan lembut.


Lala tersentak dengan mata membelalak ketika Richie yang terpejam menempelkan bibir.


Perasaan Richie bagai langsung melesat keluar angkasa. Hembusan nafas yang tertahan wanita itu membuat Richie merasa nyaman dan begitu hidup.


'Apa kamu milik ku? Apa kamu wanita ku? Mengapa ini begitu familiar? Rasa ini benar-benar terekam jelas dalam benak dan pikiranku. Tak ada kata yang bisa menggambarkan keindahan dan kedamaian saat merengkuhmu. STRAWBERRY? Benar kan! saya tidak salah Ini benar-benar strawberry yang saya cari.' Hanya sekadar ciuman bibir. Membuat Richie merasa hidup sepenuhnya.


"Jadi siapa kamu?" Lirih Richie ketika melepas ciuman itu, dia tiba-tiba tersenyum menatap sorot mata Lala yang tak bisa di tebak. Wanita itu bahkan sempat melenguh dan itu rasanya wow.


Richie spontan mencium kening Lala dan langsung berdiri membawa Vino dalam gendongannya. Berjalan ke ruang tamu, dan menggelitik dada Vino, sampai terdengar cekikikan lucu Vino.


Entah mengapa Richie tiba-tiba merasa listrik kebahagiaan yang menjalar di seluruh tubuh. Ia jadi lebih semangat, lebih tepatnya 1000x lebih semangat.


Dia tidak tahu apa, tapi berkat tadi, seperti menemukan kehidupannya yang terasa hilang. Hati yang kosong pun berbunga-bunga. Seperti anak kecil yang mendapat permen.


Tubuh jangkung dada lebar itu merengkuh boneka kecil yang hangat dan unyu, dia duduk pada kursi kayu panjang di ruang tamu, merasakan kedamaian.


"Apa kamu bisa panggil saya papah, beby Vin?" Dua tangan Richie memegang dada Vino, dia menciumi Vino disambut tawa dan senyuman bayi yang bisa seakan tahu kebahagiaan Richie. Rasanya Richie menjadi gila, gila karena begitu semangat.


"Pah pa.. Papha.."


"Bagus boy, ayo panggil Papah!!!" Lagi, Richie berdiri memutar badan dan mengangkat Vino tinggi-tinggi.


Sedangkan Lala masih termenung, memegangi bibirnya. Dia tak tahu reaksi apa pada tubuhnya. Mengapa tubuh ini bereaksi seperti ini. Apa karena sudah terlalu lama. Ini tidak benar.


'Sudah saatnya aku menghapus masa lalu, tak peduli segelap apa dulu. Aku sudah mulai kehidupan baru. Tapi bagaimana perasaanku. Ini masih sulit...'


"Apa aku boleh bahagia? boleh hidup tenang? melepas hatiku dan mengiklaskan semua? Apa aku bisa membuka hati untuk cinta yang baru? Atau larut dalam hati penuh trauma."

__ADS_1


__ADS_2