
"Bisakah anda memijat bahu saya?"
Mata Lala melebar, oh itu tidak boleh terjadi, itu berbahaya, bagaimana jika lelaki itu minta yang lain dan lainnya "Tuan Ars, tangan saya sakit."
"Hmm." Ars berdiri dan memutar tubuh. Air terlempar dan mengombak, busa-busa menempel pada tubuhnya. Wanita itu tertunduk dan makin membungkuk, menenggelamkan diri, dengan cepat-cepat menarik busa ke arahnya.
Ars menahan tawa, dan menurunkan tubuh menghadap wanita berwajah pucat pasi itu.
"Sakit? berikan tanganmu?" Ars menemukan sedikit kulit tangan Lala yang tak tertutupi busa.
"Ah! sem-sembuh, tiba-tiba sembuh, tidak keram, iya-ya?" Lala tergagap, dan semakin menunduk.
Jari-jari Ars menyingkirkan rambut Lala yang menutupi wajah ke belakang telinga, wajah itu sangat merah.
"Bisakah anda berbalik, saya akan memijatnya-" kata wanita itu dengan serak.
"Siapa Eros?" Ars menyingkirkan busa di depan wanita itu, dan Lala otomatis menarik kembali busanya. Ars tidak dapat menahan tawa, dirinya sampai mendongak sambil tertawa, betapa menghiburnya itu.
"Tuan Ars, saya ingin meluruskan kaki, Anda di depan saya, saya kesulitan."
Ars menyeringai dirinya bergeser sangat sedikit. "Sudah?"
"Kurang," sahutnya, tetapi pada akhirnya setelah Ars menjauh, dirinya enggan meluruskan kaki, bagaimana ini. Lelaki itu tidak tahukan, jika tubuhnya sangat polos dan tanpa sehelai benang. Lain kali jika saya berendam saya akan berpakaian lengkap! Dan tiba-tiba suasana hening, dirinya kikuk, Lala menoleh kiri memperhatikan ombak laut.
Lala duduk makin meringkuk, memeluk lututnya, memperhatikan busa tebal di depannya, dan Ars juga tertutupi busa sampai batas dadanya, rambut gondrong sedikit ikal itu basah karena Ars terus menyingkirkan rambutnya yang menempel di pipi. Bahkan sepertinya rambut Ars lebih panjang daripada rambutnya.
"Saya mungkin berusia sekitar lima tahun saat itu, ayah memasukan saya pada pendidikan pra sekolah." Lala menangkap tatapan Ars, yang berbeda, lelaki itu seperti seorang kakak dan sedikit usil. "Saat saya menunggu ayah ketika hari itu ayah datang terlambat, saya mengejar kupu-kupu, tiba-tiba hujan turun dengan deras."
"Apa itu di Moskow?" Ars mulai antusias.
__ADS_1
Saya mengangguk, " Saat itu aku berdiri masih tercengang. Itu pertama kalinya aku basah kuyup karena hujan. Saya bahkan belum terbiasa mandi pancuran, karena saat itu hanya mandi ember air panas.
Lala mengulas senyum, dia terpejam terbayang jelas rasanya. "Hujan sejuk yang membasahi saya dari ujung kepala sampai ujung kaki adalah sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya."
Membuka mata, Lala menatap kiri ke Laut. "Seorang kakak berkacamata dengan mantel coklat, mendatangi. Bukannya menarik ku ke tempat terdekat untuk berteduh, dia malah berjongkok di depan saya, tertawa dan memintaku lari. Saat itu sepi, madam di kantor, saya dan eros justru berlari di taman tertawa sambil menunggu ayah.
"Ayahku panik melihatku basah kuyup dan datang langsung menggendongku, ayah juga sama kehujanan. Dan jadilah ayah mengajak Eros ke rumah untuk mengganti baju dengan pakaian ayah!" Wanita itu menyeringai seolah tenggelam dalam pikirannya.
Ars berkedip perlahan, tampaknya masa kecil putri pembunuh berjalan sangat baik. Ars mundur menjauh dan bersandar pada pinggiran, memperhatikan cahaya pagi ke emasan yang datang dari luar.
"Bagaimana dengan masa kecil anda, Tuan Ars? Anda selalu meminta saya, tapi-"
Ars menghela nafas panjang, dia menoleh kiri, wanita itu wajahnya sangat mirip dengan sang pembunuh. "Kebahagiaan itu direnggut oleh penghianat-pembangkang." Dada Ars bergemuruh dan mendongak bersandar di pinggiran memperhatikan langit kaca, tampaknya whirpool pun tak mampu merilekskan pikirannya.
"Tuan Ars, anda tampak tidak baik-baik saja. Adakah sesuatu yang bisa membuat Anda lebih baik?" tanya Lala dengan ragu, dan lelaki itu tidak menanggapinya dan terus terpejam.
"Tuan Ars ... " Lala menangkap pria itu seperti banyak masalah. Seolah-olah pria itu sangat jijik kepadanya dan lalu ke luar melangkah ke bilik mandi kaca, dan Lala memunggungi bilik transparan itu. Sampai Ars selesai mandi, pria itu keluar sebentar dan kembali membawa paper bag, kemudian menutup pintu.
Ketika Lala keluar, Ars tidak ada di kamar.
Melangkah menuruni tangga, menggunakan jamsuit tanpa lengan, warna hijau olive, dan kalung pendek sedikit tebal warna emas, dan sepatu berhak rendah warna bening. Juga jam tangan putih, serta anyaman gelang tangan warna hitam.
Di bawah tangga, seperti ruang tamu, rak buku, rak anggur, dan asisten Ars menunggu di sana.
Kemudian mengantarnya ke tempat sarapan. Di sana Ars sedang menyuapi anak kecil. Makan pagi plasmanan namun ini di ruang khusus tidak ada orang lain, sangat menjengkelkan.
Lelaki itu tidak menoleh, ada apa dengannya. Seorang anak kecil duduk dengan kaki terus mengayun-menggantung, di kursi, bibir mungil memengulas senyum padanya. Mungkin saat Vino besar akan seperti itu. Atau ini putranya Ars? sangat mirip rambut ikal pirang gelap.
"Papa ... Damir sudah," anak lelaki itu menggeleng. Dan Ars meletakan sendok berisi sereal dan susu.
__ADS_1
"Makan kuenya, Damir." Ars berkata sangat lembut setelah memotong kue warna warni dalam potongan kecil, tangan mungil itu lantas memegang garpu kecil, oh lucunya bagi Lala.
Mata Lala melebar penuh keterkejutan karena bocah itu berbahasa indonesia. Dan belum pernah dia mendengar suara Ars selembut itu.
"Hola," tanpa sadar Lala menyapa pada anak kecil itu dengan suara lembut penuh semangat saat Damir menatapnya dengan seutas senyum imut.
"Halo, Madam, nama aku Damir. Damir suka sekali kue ini. Madam mau?" Damir memberikan kue yang ditusukan garpu oleh papahnya ke Lala.
Dua sudut bibir Lala terangkat penuh, punggung sedikit membungkuk, "Madam makan ini dulu. Kue Itu untuk Damir saja."
Dan bocah itu mengangguk, lalu kembali bercerita soal gurunya di sekolah pada ayahnya.
Sedangkan Ars sempat melirik tajam pada Lala, membuat Lala menunduk penuh tanya, dirinya tidak melakukan kesalahan kan, hanya menyapa apakah tidak boleh.
"Papah, Damir mau main sama Madam!"Celotehnya.
Lala menangkap ekspresi Ars berubah menjadi merah padam dan sendok yang akan disuapkan diletakan kembali.
"Habiskan kue dan susu itu, dan anda akan mendapatkan itu, oke?" Ars mencoba berkompromi dengan wajah datar dan Damir membuat gerakan oke dengan tangan mungilnya. "Baik papah."
Lala mengerutkan kening sambil cepat-cepat menghabiskan sarapan. Dirinya merasa Ars menghindari tatapannya, bahkan sampai Damir di gendong sang asisten dan Lala mengikutinya tanpa ada perintah dari Ars.
Ars menatap kepergian putranya, bagaimana menjengkelkannya bocah itu saat ingin bersama wanita itu.
"Tuan, selamat pagi." Seorang anak buah datang menghadap.
"Hm, Dimana Artyom?" Ars menatap punggung Lala yang hilang di balik pintu.
" Adik Anda di kamar, perlukah saya mengundangnya?"
__ADS_1
"Tidak. Datang ke kantor A, hubungkan dengan Algio, dan Bella." Ars berkata sambil berjalan cepat di ikuti anakbuahnya.