
Terbangun karena tak tahan ingin buang air kecil, Lala melirik ke kanannya, guling dan bantal yang Lala singkirkan tadi malam kembali membatasi antara dirinya dengan sang pacar, pria itu ngotot membatasi tidur kenapa si? terlihat Kevin masih meringkuk dengan punggung menghadapnya.
Duh... Lala yang sudah tak tahan buang air kecil, segera bangun beranjak ke kamar mandi, dillihat jam setengah tujuh pagi. Setengah jam kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan perasaan segar, masih mengenakan jubah mandi, dia berjalan keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Terlihat pacarnya itu masih tidur.
Lala membuka lemari, yang pakaiannya sebagian memang di kamar Kevin. Ia mengambil inti bajunya. Karena pacarnya tidur, ia mengenakan cela na inti tanpa melepas jubahnya, Ia lalu mengenakan rok lentur sebetis yang nyaman dikenakannya itu. Dengan yakin terhalang pintu lemari, ia melepas jubahnya dan mengenakan branya. Ia memakai kaos berwarna kuning mangga.
Gadis itu tak sadar bahwa sejak keluar dari kamar mandi terus dilirik Kevin yang pura-pura tidur. Kevin menangkap siluet punggung Lala yang terlihat dengan tali bra kuning gading itu, Kevin menelan liurnya, baru kali ini ia bisa melihat punggung pacarnya yang tela njang meski tertutup pakaian inti atas.
Lala yang selesai dengan pakaiannya berjalan ke meja rias, ia menyemprotkan parfum milik Kevin ke pergelangan tangannya, lalu mengoleskannya ke belakang telinga. Wangi aroma alam tropis, begitu menyegarkan pikirannya. Ia menyisir rambut sepunggungnya. 'apa rambutnya di potong seleher, ya? sepertinya lebih praktis'.
Dengan bergegas Lala beranjak ke Lelaki yang terlihat masih nyenyak itu, wajah tampannya, uh bikin gemes, Lala mengecup pipi pacarnya. Membuat sang empu yang pura-pura tidur, menahan kesenangannya.
"Sayang bangun,"
"Mmmmmp sebentar lagi," Kevin yang memang masih ngantuk berusaha terpejam lagi mengenang keindahan tubuh pacarnya itu, apalagi junor kecilnya kembali mengeras di bawah sana. Dari semalam dia sudah tidak bisa tidur karena Ia masih pria normal. Berkali-kali semalam ia tergoda nyaris menyentuh Lala yang tertidur, sampai dirinya harus berendam air dingin sampai puluhan menit, barulah juniornya itu mau tidur saat badannya sudah mulai menggigil.
"Yank, ntar kontrol dedek bayi," kata Lala.
"Hari ini?" tanya Kevin dengan suara khas masih bangun tidur.
Dalam cahaya kamar yang tirainya masih tertutup dan terpendar dari lampu tidur kamar, Kevin memandangi dahi Lala yang sebulat daun teratai, bibir gadis itu terlihat semerah kelopak mawar, dengan pipi mulus dan senyuman maut yang selalu menggugah jiwa kelelakiannya.
Kevin mengecup tangan Lala yang dingin dan wangi, Ia menyembunyikan rapat-rapat nafasnya yang mulai memburu karena hastrat terpendamnya.
Sepertinya Kevin tidak akan kuat sebab isi kepala yang terus membayangkan punggung mulus Lala yang terekam jelas olehnya. Ia berharap Lala cepat keluar dari kamar agar dirinya bisa memanjakan si junior dengan fantasinya.
"Jam 10 aku ke dokter, sayang bisa menemaniku kan?" tanya Lala dengan harapnya. Lala gugup bila harus ke dokter kandungan tanpa Kevin, sebab kehamilannya beresiko.
Kevin bak superhero buat Lala. Apa- apa dia meminta pendapat orang yang dirasa peduli padanya itu. Lala yang sudah biasa percaya pada Kevin karena lelaki itu terus berusaha yang terbaik untuknya.
"Iya nanti aku temani, Aku tidur dulu, ngantuk." Kevin memejamkan matanya, Ia menahan tangannya yang gatal ingin sekali meraih dan melepas bra pacarnya.
Cup! Kecupan mendarat di bibir Kevin. Kevin yang terpejam langsung membelalakan mata, tercium aroma wangi tubuh Lala yang semakin membuat jantungnya berdegub kencang.
Kevin memiringkan wajahnya mengecup dan me lu mat daging hangat itu, Tangannya refleks menahan kepala Lala yang hendak menjauh.
Mulutnya yang sudah bergetar mengenspansi daging sensual manis yang selalu berani menggodanya, ditarik tubuh sang pacar lebih erat dalam dekapannya.
__ADS_1
Kevin menyingkirkan selimut yang menyembunyikan tepakan tonjolan daging di ce la nanya. Ia menarik dan sedikit me re mas pan tat Lala yang mulai membesar karena kehamilan itu, membuat sang empu protes melotot karena Kevin yang yang mulai berani kurang ajar.
Terlihat gadis yang terbaring disampingnya itu protes namun reaksi tubuh Lala tak bisa berbohong dengan sentuhan-sentuhan Kevin yang membuat wanitanya itu kelimpungan menahan nya. Tanpa sadar menge rang kecil, membuat Bibir sensual yang basah semakin menantangnya.
Tangan kiri Kevin mera ba dan me ra ba dengan penuh tekanan, gadis yang sudah sangat memburu nafasnya karena pancingan ciuman panas, punggung gadis itu semakin ditarik, kehangatan perut besar sang pacar semakin menekannya.
Gatal gereget tangannya sudah kehabisan kesabaran, Kevin kasar menarik kaitan bra yang membungkus gun du kan besar empuk hangat yang dari tadi bergesekan dengan dada bidangnya, membuat gadis itu terlonjak. Bagi Lala Kevin sudah terlalu jauh berulah.
"hhh jangan hhh Kevin hh" pinta Lala sambil melenguh karena hujaman kecupan dan jilatan pada telinga kanannya. Tangan lelaki itu mulai menyusuri menggerayanginya berpindah mulai ke depan.
Kevin yang terbawa hasratnya menangkap erangan pacarnya dengan semakin inten mencu bu nya tak beraturan, Ia terus menghujami kecupan panas kesekitar wajah dan telinga sang gadis, tangannya yang mulai menyusur ke bagian depan tertahan tangan Lala.
Tangan kanan yang dibawah tubuh Lala, melesat memasuki kaos Lala menyusuri bermain di kulit pinggang Lala. Kevin hendak menempelkan si junior namun tehalang perut besar Lala.
Kevin coba terlepas dari cengkraman tangan Lala yang melarangnya lebih jauh. Namun usaha Lala terlambat, kebutuhan jasmani sang pacar sudah di ubun-ubun, kekuatannya tangan kekarnya lebih besar, di kendalikan tangan kirinya hingga Ia memaksa menyentuh bongkahan daging.
Daging yang selalu merayunya dengan bentuk indahnya manakala selalu tercetak jelas di baju ketat saat berada di rumah.
Karena saat gadis itu diluar tak dijinkan Kevin memakai pakaian ketat yang membentuk tubuh gitar spanyolnya.
Benar empuk, hangat, dan besar, kencang. Hanya dengan menyentuhnya dari luar, Kevin me nge rang kenik matan.
Kevin yang tak sabar itu, tangan kirinya masuk ke kaus Lala, mengelus perut besar itu pelan sambil men ngi sap lidah manis Lala.
Lenguhan Lala menyembur dan terasa panas.
"yank hhh hen hhh tikann hhh"
Tangan Kevin memainkan jarinya dibalik baju Lala. Sentuhan tiap sentuhan Kevin membuat Lala kelimpungan dengan erotisnya.
Tangan Lelaki itu mulai naik keatas, Lala yang berusaha geleng-gelang, tertahan Kevin yang terus memainkan lidahnya. Tangan Lala menahan Kevin sebelum tangan itu menyentuh dadanya, namun karena tenaga Kevin yang besar.
Nyutt. " Aaahhh.." lenguh Lala panjang.
"Hmmm," Beringas Kevin saat menyentuh gun du kan Lala yang sebagian tak muat dalam cap itu.
"Jan ngan hhhh ahh hen ahh ti hhh kan" Wajah Lala terasa panas, badan nya terasa mendidih menerima semua perlakuan Kevin bertubi-tubi.
__ADS_1
Lelaki itu terus memagut dan memanjakan Lala dengan cintanya.
Tok!
Tok!
Suara pintu, Lala mendorong tubuh Kevin.
Kepala Lala jadi pusing karena ulah Kevin, Ia telah melepaskan diri dalam nafas yang masih memburu, Ia langsung bangun mengatur nafasnya, terlihat wajah lelaki itu sudah merah merona seperti udang goreng.
"Aku lapar," Lala berusaha melepaskan tangan Kevin yang masih menahan perut besarnya.
Sorot mata dan wajah merah Laki-laki itu menampakkan kekecewaan.
"Maaf" ucap Lala mengelus punggung tangan Kevin yang mana nafasnya sendiri masih terengah-engah mencoba menurunkan kaosnya yang menampakan perutnya. Ia berjalan ke kamar mandi meninggalkan Kevin.
Kevin yang dongkol karena Lala itu sudah membuatnya pusing, dan selalu memancing hastratnya, namun ujung-ujungnya membuat Ia merana.
Lala dari kamar mandi, Ia menghindari Kevin, "Dedeknya minta makan," kilah Lala saat Kevin menatapnya tak suka. Lala, lalu meninggalkan kamar Kevin.
Begitu Lala keluar kamar, Kevin membuka resleting cela na, sang ju ni or yang sudah ber te na ga , ke ras dan mem be sar maksimal tengah kesakitan. Mau tak mau, di gen gam nya dengan ta ri kan pe lan ma ta nya ter pe jam mencoba berke la na.
Sambil berjalan ke ruang makan Lala mencoba menerka menu makanan apa hari ini, Ia mencoba melupakan apa yang baru saja di alaminya untuk pertama kali, terasa sakit tapi penuh dengan listrik yang menyengatnya.
Bagaimana dulu Johan bisa membuatnya hamil, tanpa ia punya ingatan apa-apa? Apa pria itu telah mene lan janginya? Lala merasa jijik dengan dirinya yang tak bisa menjaga diri.
Tiba-tiba bayi-bayinya menendang kuat, "Sabar ya nak, lapar ya? kita cari makanan ayok ..." tukas Lala pada bayi-bayi dalam perutnya.
Siska dan Inem menyambutnya, Inem yang bertanggung jawab langsung dengan kebutuhan Lala di rumah langsung membantu meladeni majikannya itu, menyiapkan susu hangat, jahe hangat, menyiapkan roti bakar kesukaan majikannya itu sebagai pendamping makanan utama.
"Nona, hari ini setelah anda ke Dokter, Kita akan melihat rumah baru Nona dan tidur disana. Besok anda akan fitting baju pernikahan," terang Siska pada majikannya. Lala yang tengah memakan rotinya itu mengunyah lebih cepat dan menelannya. "Rumah baru dan fitting?" Lala membulatkan matanya.
'Kami beneran akan menikah minggu ini? begitu saja? aku kan bilang belum siap.
Bagaimana dengan Johan ... bagaimana ayah dari anak-anak ini, apa aku harus cepat mengabari Johan?
Ini bukan soal aku, tapi soal hak anak-anaku.
__ADS_1
Hebat sekali Kevin bisa menemukan Ayah Alen? sebenarnya sejauhbapa Kevin bisa tahu segala macam dan sesuatu yang sulit?
Uang dari mana dia? untuk membeli rumah baru dan untuk persiapan pernikahan di negeri orang, bukanlah jumlah yang sedikit.' Batin Lala berkecamuk.