
Sedikit gontai, Richie berjalan menuju ruang ICU melalui halaman tengah rumah sakit. Memandangi pepohonan, dan beberapa orang yang juga begadang. Richie berharap dapat sedikit meringankan pegal.
Bintang-bintang tampak jelas malam itu. Mungkin karena polusi udara di rumah sakit ini masih rendah. Yang jelas, suasana seperti ini adalah momen langka yang jarang Richie temui beberapa bulan belakangan. Entah Richie yang jarang keluar malam, atau karena dianya saja yang tidak memperhatikan. Lehernya sesekali dibelai oleh angin malam, membuatnya menggigil.
Gemericik air di selokan. Juga gesekan antar dahan di pohon cemara yang mengitari halaman tengah rumah sakit. Menjadi persembahan musik dari sang alam. Yang seakan mengiringi dia yang diterpa oleh kegetiran karena Risaa sedang berjuang.
Sudut mata sebelah kirinya menangkap sebuah siluet seseorang yang sedang duduk di lantai bersandar pada tembok putih dekat pintu. Tampak begitu kesepian. Menghadap ke lorong sembari melipat kedua tangan. Sosok itu adalah Johan, dengan semua rambutnya tampak berantakan.
Richie berjalan dengan pelan menghampirinya. Johan pun menyambut dengan membetulkan posisi duduknya. Yang semula bersandar, kemudian berubah menjadi tegap.
Richie menggantungkan bibir membentuk senyuman kepada Johan, lalu duduk hingga lengan bersentuhan dengan lengan kanan Johan. Perbincangan-perbincangan selanjutnya berisi penuh dengan cerita yang dikisahkan oleh Johan.
Tentang pertemuan pertama kali dengan Lala saat kabur dari anak buah Kevin di hotel yang berisi ketakutan Lala, Johan tersenyum tipis.
Senyumnya pudar dan berubah suram begitu teringat jeritan Lala saat dipenuhi luka saya..tan tertutup da..rah ketika penyelamatan dari penjahat se..x. Meskipun, beberapa diantara itu Richie sudah mengetahuinya.
Panjang kali lebar, Johan dengan wajah muram melanjutkan, dari kenangan ketika Lala ketakutan dengan ular di pantai; terjebak hujan saat candle dinner; sampai kenangan menyedihkan trauma Lala saat awal kalinya Lala mau berbicara dan meresponnya.
Ya, Richie sendiri pernah mengalaminya saat -trauma Lala ke dua-
Hingga Richie terhanyut pada semua cerita yang dikisahkan oleh Johan. Sebelum akhirnya Johan berhenti bercerita ketika tiba-tiba keheningan pecah oleh suara tangisan dari lorong di deretan ruang ICU.
Tangisan seorang perempuan paruh baya dari ruang ICU nomor tiga terdengar begitu histeris memecah keheningan. Terdengar pula sayup-sayup suara para perawat yang coba menenangkan.
Johan menatap sesaat mata Richie. Kemudian Johan berdiri dan melangkah dengan cepat meninggalkan Richie dengan sejuta bayangan dari kisah-kisah yang diceritakan oleh Johan.
Semakin dalam Richie terbawa oleh suasana pada malam itu. Beberapa orang yang sebelumnya duduk jadi berdiri karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu haru segera menyelimuti. Raga salah seorang pasien yang telah mati, di geladak keluar, mungkin ke ruang mayat. Sedangkan perempuan paruh baya terus menerus menyeka air mata. Sembari memencet nomor-nomor di telepon genggam yang dibawa. Sepertinya sedang mencoba, menghubungi sejumlah saudara.
Tempat ini kini terdengar begitu menyeramkan. Richie meyakini, mungkin sudah ratusan atau bahkan ribuan kematian telah terjadi di ruangan itu. Dan dalam kecemasan Richie hanya bisa berharap. Semoga Lala, tidak bernasib sama dalam kondisi menjadi mayat ketika keluar dari ruang ICU.
Saat Richie masih menunggui Lala jam dinding menunjukkan pukul dua pagi. Ketika mata mulai lelah, Richie pun menaruh kepala di samping raga Lala yang jiwanya entah kemana. Dan yang terdengar nyaring hanyalah bunyi, “Tit, tit, tit," dari monitor EKG yang menandakan bahwa jantung kekasihnya masih berdetak.
Richie menatap tubuh Lala yang miring, Lala yang tampak tidur, kelopak matanya terkulai, tampak tidak kesakitan, tapi seperti orang mati. Sampai Richie tidak bisa membedakan apa pasangannya itu masih hidup jika bukan karena bunyi monitor.
Bunyi Alarm membuat Richie terjaga ketika para perawat setengah berlari ke arahnya dan Richie dalam kebingungan saat paramater monitor ada yang tidak beres dan alarm berbunyi lebih cepat.
__ADS_1
Salah satu perawat memberi tahu perawat bangsal, dengan kata lain, bahkan ketika Lala dipindahkan dari ICU, kemungkinan Lala untuk lolos sangatlah kecil.
Richie berada di samping tempat tidur Lala. Sampai Dokter menyampaikan
bila Lala tidak mungkin bertahan dalam kondisi tersebut.
Jadi, ketika Richie menelpon Johan dengan tangan gemetar. Air matanya berjatuhan. Dadanya terguncang saat tangannya mulai gemetar dan makin hebat. Dia meremas ponsel. "Cepat, datang ..., " ucapnya bergetar.
Richie tidak menanggapi pertanyaan Johan. Dia tidak sadar pikirannya melayang seperti terus mengembang dan bahunya menjadi begitu berat.
Setiap dinding yang dilewatinya menjadi begitu jelas, waktu menjadi melambat pada tiap detiknya saat mengejar perawat yang mendorong ranjang itu membuat hatinya mengkerut dengan maksimal.
Dia tidak siap untuk ini.
"Lapochka ... Lapochka .... "
Mata Richie dalam kekosongan menatap wajah Lala dengan selang-selang penyangga kehidupan, dan dibawa ke bangsal bertuliskan "REANIATION" apa yang sedang terjadi? mengapa resusitasi.
Sekarang Richie mulai berfikir yang tidak-tidak saat dia mengingat beberapa kali menghadapi saat teman-temannya di ruang seperti ini dan tidak tertolong kemudian.
Sebagai seorang yang memiliki banyak rumah sakit, sedikit tahu apa arti ruangan itu. Hati terasa sangat panas, seluruh tubuh bergetar. Dingin menjalar saat langit seakan runtuh dan menimpanya.
Titik di bawah tulang rusuk Richie bagai ditikam oleh pisau tajam.
Ini adalah masa yang sulit bagi Richie, seperti mau pingsan saat mendengar para dokter meneriakkan sesuatu satu sama lain, lalu dua wanita dan seorang pria masuk, dan sampai pintu tertutup di belakang mereka, Richie melihat Lala.
Jantung Richie terasa jatuh di suatu tempat. Richie mundur selangkah, tersandung pada dinding yang meluncur turun ke lantai.
Richie tidak tahu berapa lama, tapi akhirnya pintu terbuka lagi dan Dokter keluar, berhenti di sebelahnya.
"Dia kenapa?" Richie tidak bisa menyelesaikan asumsi, menyadari bahwa jika dia mengatakan ini, Richie tidak akan bisa bernafas lagi.
Richie mengangkat kepala dan menatap, mata lelah dokter wanita itu.
"Jadi, dia masih hidup?"
Richie mendengar isak tangis Johan dan bahkan tersentak kaget.
__ADS_1
Johan berdiri di sebelah Richie bersama Kevin. Wow, Richie tidak menyadari mereka ada di sini bersamanya.
"Ya, tapi dia tidak sadar. Kami melakukan semua yang bergantung pada kami dan sekarang terserah padanya." Dokter wanita itu menghela nafas lelah, dan menambahkan lebih pelan. "Aku bisa membiarkan salah satu dari Anda untuk dia, tapi tidak lebih dari satu menit." Dan dokter wanita itu mengangguk pada Richie. "Maukah kamu pergi?"
Richie menatap dalam ke mata basah Johan yang mengangguk perlahan dan mengatakan 'Go.' Dan memandang Kevin yang di kursi roda dengan mata-bibir itu bergetar sedikit terbuka saat cairan bening itu meluncur ke pipinya.
"Dam..n! pergilah," Kevin menghela nafas pasrah.
"Ya, ya, saya akan pergi," Richie buru-buru bangkit mengikuti wanita itu.
Begitu Richie memasuki bangsal, matanya berair, apakah wanita pucat itu benar-benar Lala? Tunangannya yang berbaring tidak sadarkan diri di tumpukan kabel di ranjang rumah sakit dan diam-diam bernafas dalam damai. Tapi, pucatnya tidak memungkinkan Richie untuk mengambil langkah ke arahnya. Lala seolah-olah tidak hidup dan dadanya yang perlahan naik membuat jelas tentang kehadirannya di sini.
"Ayo, aku akan keluar sekarang dan kamu akan punya waktu tiga menit," kata dokter wanita itu.
Richie mengangguk dengan kaki tidak tertekuk, pergi ke kekasihnya. Mendengar pintu bangsal tertutup di belakangnya. Dan dengan udara yang dipenuhi bau rumah sakit, Richie berlutut di depan Lala. Tangan Richie terulur ke wajah pucat wanita itu dan menggenggam pergelangan tangan Lala, membelai jari-jari yang dingin.
"Risaa, terimakasih untuk hari-hari mu," Richie memulai, merasakan getaran dalam suaranya. "Jangan pergi, Risaa, Aku sudah menemukan mu. Lalu mana janji mu .... " Richie merasakan matanya dipenuhi oleh air mata. "Astaga, kamu harus sadar, kamu dengar? Aku membutuhkan mu! Aku tidak bisa bertahan jika kau meninggalkan ku, kau dengar? Risaa, tolong kembalilah pada kami .... "
Di akhir kalimat, Richie tidak bisa lagi, menahan air mata dan air mata mengalir di wajahnya.
"Tolong bangun, sayang .... "
Ada keheningan yang menekannya seperti dinding bata. Terngiang di telinganya dan bercampur dengan suara alat yang membaca detak jantung kekasihnya.
Tidak dapat menahan keheningan seperti itu, sambil menghela nafas, Richie merendahkan suaranya ke tepi ranjang rumah sakit dan, memejamkan mata, merasakan kelembaban air mengalir di hidungnya dan menempel di sprei rumah sakit.
Richie tidak tahu berapa lama duduk di sana, karena rasanya seperti selamanya, tetapi tidak ada yang memintanya untuk keluar dan meninggalkan wanita itu sendirian, ketika tiba-tiba Richie mendengar monitor bunyi bip, dan takut bahwa Richie melakukannya.
Sesuatu yang salah, Richie mundur dari wanita itu. Sedetik kemudian, dokter wanita terbang ke bangsal dengan dua dokter, salah satunya dengan gigih mendorong Richie keluar, mengatakan untuk tidak ikut campur dan bergegas untuk merasakan denyut nadi Lala.
Dengan cepat, Richie mundur dua langkah lagi sampai punggung membentur dinding dan membeku bahkan berhenti bernafas.
Para dokter berlarian di sekitar dan di dekat Lala, memeriksa, menyentuh, berbicara, berteriak, tapi Richie bahkan tidak bisa mendengar semua kata yang mereka ucapkan melalui suara di telinganya sendiri. Dan kemudian ada suara yang paling menyakitkan, mengerikan dan menakutkan yang melumpuhkan, dan ...
"Henti jantung, waktu kematian ... "
Richie mendengar dan semua udara yang ada di paru-paru keluar dari dadanya. Beberapa detik lagi yang terasa seperti selamanya bagi Richie dan tangan seseorang menyentuh bahunya.
__ADS_1
"Maaf, Richie Estarchus ... "