Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 122 : BABY AMBER AND LYDIA


__ADS_3

POV -Lala-


Pagi dimulai, aku baru saja bangun untuk istirahat dari monitor dan buang air kecil. Kemudian perawat masuk dan meminta aku untuk menunda makan sarapan, yang baru saja tiba. 


Dia ingin membuatku terhubung kembali dengan cepat dan menjelaskan bahwa dia mengalami kesulitan memantau salah satu bayi. 


Jadi aku kembali ke tempat tidur, dan kami melanjutkan untuk mencoba dan menemukan detak jantung kecil itu—tetapi kami kurang beruntung…


Maka perawat lain datang untuk membantu. Dan lebih banyak perawat mulai berkumpul. Dan ahli bedah dipanggil ke ruangan.


Sebuah mesin ultra-sound mobile telah didorong masuk…Dokter yang mengerjakan mesin itu sendiri—dan segera mengumumkan bahwa bayi itu masih hidup.


Perawat saya yang berharga mendorong tempat tidur saya keluar dari kamar dan mulai menjalankannya di lorong…


Saya sempat melihat kekhawatiran di wajah ayah dan Johan.


Mereka meremas tangan saya dan berkata bahwa mereka sedang berdoa. 


Para perawat itu tenang, tetapi intens–tekanan dan besarnya situasi itu dapat diraba, tetapi mereka meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. 


Siska menelepon suamiku… Saya akan melahirkan bayi-bayi ini sendirian.


Begitu berada di ruang operasi, saya ingat menggunakan setiap kekuatan untuk segera naik ke meja operasi. 


Saya melihat orang-orang menarik dan memotong pakaian saya, menuangkan yodium ke perut saya, dan memasang masker oksigen di mulut saya. 


Itu semua cepat. Sangat cepat—tetapi juga tidak terasa cukup cepat. Saya tahu salah satu bayi sedang berjuang.


Sebuah lagu terus berputar di benak saya. Jiwa saya berseru kepada Tuhan tidak seperti sebelumnya.


Dan kemudian ahli bedah berseru, “Apakah kita siap? Bisakah saya mulai?”


Yang membuat saya lega—ahli anestesi menjawab, “Beri saya 4 detik lagi!”


Itu adalah kata-kata terakhir yang saya dengar ketika ahli anestesi menempatkan aku di bawah ...


Aku telah terbangun di ruang, saat Kevin mendiskusikan perawatan saya dengan perawat dan menunggu di sisi saya.


Kevin telah melewatkan kelahiran, tetapi diizinkan memasuki ruang operasi, sementara bayi-bayi ku menerima evaluasi dan perawatan awal mereka ketika saya sedang dijahit.

__ADS_1


Aku sangat pusing ketika Kevin menjelaskan situasi saat ini – tetapi senang mengetahui bahwa kedua gadis itu masih hidup dan menerima perawatan di NICU yang telah disiapkan suamiku.


🍀🍀


Di depan ruang NICU yang sudah disiapkan Kevin berbulan-bulan dengan bantuan Richie yang memiliki banyak rumah sakit.


Kevin memandangi bayi-bayi mungil itu dari balik dinding kaca, "mereka sangat mungil."


"Ya..." kata Alen sedikit bingung, "Johan telah menemukanku."


Kevin menatap Alen dalam-dalam, lalu bersandar pada dinding kaca menatap lorong panjang di depan. "Macan Putih dan Pernikahan Kontrak?"


"Aku merahasiakan itu sesuai kemauan mu," jawab Alen datar.


"Ya sudah, tidak masalah," kata Kevin, berbalik, kembali memandangi bayi-bayi.


Alen menepuk bahu Kevin, "apa kamu sudah menyiapkan nama?"


"..." Kevin hanya tersenyum melihat si kembar, hatinya begitu berdebar, matanya berbinar-binar. "Johan yang akan memberinya nama."


"Yakin?" sahut Alen yang terheran-heran, terlihat Kevin mengangguk dengan mantap, dan tersenyum bahagia tanpa beban.


"Apa aku?" tanya Johan yang tak sengaja mendengar percakapan mereka setelah dari toilet. "Aku nggak salah dengar?" tanya Johan lalu berdiri disebelah kiri Kevin, dia ikut melihat putri-putrinya."Cantik."


"Apa aku boleh memberikan nama mereka tanpa ada nama mu, Kevin?"


"Tentu boleh, mereka tetap akan menyayangi saya kan," kata Kevin sambil mengelap kristal di ujung mata.


Alen tertawa sambil mengelus bahu Kevin, "mereka pasti menyayangimu, mereka menyayangimu," kata Alen berulang.


"Terimakasih Kevin, mereka mungkin lebih mencintaimu nantinya," kata Johan dengan mata berkaca-kaca, dan tangan ikut memeluk bahu Kevin.


"Jadi siapa namanya?" tanya Kevin menoleh ke kiri, terlihat pancaran kebahagiaan Johan seperti baru terlepas dari semua beban yang membelitnya.


"Amber Clarissa Orion


Lydia Clarissa Orion"


Suara Johan mengejutkan Alen dan Kevin.

__ADS_1


"Nama yang bagus," kata Kevin.


"Nama yang Indah," kata Alen.


"Apa boleh aku menamainya seperti itu?" tanya Johan yang beberapa hari ini memang sudah menyiapkan nama, ternyata keinginannya terwujud, bahkan sebelum menyampaikan niat pada Lala dan Kevin. Justru Kevin terlebih dulu menawarkannya.


"Ya, kamu ayahnya..!" Kevin memeluk Johan yang lebih tinggi darinya.


"Makasih bro!" Johan memeluk erat Kevin. Membuat Alen tersenyum, dia tak pernah mengira dua orang itu mau legowo, dan menerima kenyataan sulit sekalipun.


Rumi memasuki ruangan itu, dia sempat melihat Alen yang sempat menatapnya.


Rumi heran setelah melihat pemuda paling tinggi yang pernah ditemuinya, "Kamu ... yang waktu itu, memakai kalung putriku, kan? mengapa kau dulu lari!!" Rumi langsung memukul pinggang Johan, sampai lelaki itu mundur ke belakang dan meringis menahan sakit.


"Anda siapa main pukul!?" tanya Johan bingung, tidak mengenal wanita di depannya.


"Dia mamahnya Lala," kata Kevin sambil berpandangan dengan Johan.


"A-a apa!? jadi? anda ibunya Lala?" Johan menoleh ke kiri, terlihat Alen mengangguk. Johan mengulurkan tangan, "saya Johan, tante."


"Saya Rumi, kamu temannya Kevin atau Lala?" tanya Rumi, lalu menjabat tangan Johan, pemuda itu malah tengok kanan melihat Kevin dan kiri melihat Alen.


"Teman Kevin dan Lala," jawab Johan singkat, dia mencoba minta bantuan Alen dan Kevin tapi tidak digubris.


Rumi cuma melihat Johan sebentar, lalu beralih melihat cucu-cucu, "kamu sudah memberinya nama, Kevin?"


Para lelaki itu berpandangan, mereka bingung menjawabnya.


"Kevin?" tanya Rumi lagi, karena tidak mendapat jawaban.


"Amber Clarissa Orion dan Lydia Clarissa Orion," kata Kevin.


"Apa kamu tak mencantumkan nama mu???" tanya Rumi sambil menoleh ke Kevin yang sedang sedikit tersenyum.


"Kan sudah ada nama Clarissa, tante."


"Oh ya sudah, kamu ayahnya jadi terserah kamu, jangan panggil tante bukankah saya mertuamu?" pinta Rumi, lalu beralih ke ayah Lala, "benarkan dia menantu ku?!"


Alen gelagapan, "Ha-iya ... jadi, panggil dia mamah, Kevin," jawab Alen sambil tertawa dan menggaruk kening yang tidak gatal. 'kenapa wanita itu jadi lebih menakutkan?'

__ADS_1


"Ah ya baiklah, mama Rumi..." kata Kevin dengan wajah memerah.


Johan terus memandangi wanita itu, terlihat wanita itu mirip sekali dengan Lala. 'Lala pasti bahagia akhirnya ketemu ibunya.'


__ADS_2