
-POV Author-
Seorang pria memutar bola-bola es dalam gelas, memperhatikan sesuatu di luar sana, seakan ada yang menarik hati dari rerumputan yang bergoyang-goyang. Dia menyesap whisky perlahan, bibirnya yang cekung menjadi seringai.
Derap langkah kaki bersusulan, sampai ruangan kembali nyenyat tinggalah embusan nafas orang-orang yang baru datang yang mencoba mengatur nafas di tengah terengah.
Sebuah tangan kanan bertato mengayun gelas kosong, sejajar bahu.
Seorang pelayan pria menuangkan whisky dari botol dengan tangan gemetar.
"Katakan." Suara sangat tenang itu membuat takut orang-orang di ruangan.
"Lapor, Tuan. Nona Lala pingsan. Dokter sedang menangani-" suara pelayan penjaga perempuan, terpotong, menyadari situasinya. Bola ketakutan menggulung di tenggorokan, kata-katanya menjadi buih tidak bisa terselesaikan.
Prang!!
Gelas kaca mendarat kasar berbenturan. Jendela kaca di depan hancur bercucuran menjadi remahan.
Kursi berputar 180 derajat, sekali gerakan tangan mengulur ke laci dan pistol berpindah di udara, melayang terayun konstan.
Dor! Door!
Gedebag!
Kening seorang pelayan tembus bolong, dan jatuh bersimbah darah.
Derap suara di bawah sepatu menapaki jubin, teratur. Terhenti di depan sang jenasah, yang melotot kosong. Sekali gerakan ... sang penembak memutar, membejek, dengan sepatu keras dan memelintir pada wajah sang jenasah yang beraroma logam, hidung sang penembak berkedut tetap melotot tajam ke depan.
Pistol yang baru meledak itu, dibanting pada wajah pelayan lain yang datang bersama sang jenasah. Sang pelayan itu hanya menunduk tak berkedip menerima bantingan keras pistol meninggalkan jejak merah jambu di hidung dan pipi membuat gemetar semakin menjadi.
Derap sepatu teratur melewati sepanjangan ruangan semi gelap tertutup.
Bak!
Kelinci kecil jatuh di depan sepatunya dengan wajah seperti melihat hantu.
Sang pria memberikan tangan dan kelinci kecil semakin pucat pasi.
Lala membeku. Memperhatikan pria dengan tato hitam sampai diujung jemari .... seluruh perut, dada dan leher. Kemeja putih itu menggantung tanpa terkancing.
Senyum dengan aura membunuh terpahat di wajah dengan rambut gondrong pirang gelap.
"Datang," suara sangat rendah dan berat, menawarkan bantuan.
Lala menggantung tangan dan mengayunkan ke udara. Terhipnotis karena kebuasan dan bukan pesona melainkan aura kegelapan dan binatang buas tersirat begitu jelas.
Mengikuti langkah besar, tangan Lala gemetar di kungkungan tangan bertato, tangan miliknya menjadi seperti tangan bayi.
Semua orang gemetaran, Lala menangkap ekspresi mereka semakin terbawa pusaran kengerian sepanjang melewati anak tangga.
Kini Lala membeku di kamar berjendela kaca lebar, di kedua sisi.
__ADS_1
Semua pelayan pergi mengangguk dan mundur perlahan. Derit pintu tertutup.
"Bantu." Lelaki itu memerintah, mengancam. Lala tidak mengerti apa, dimana dan bagaimana 'membantu'
"Lepaskan pakaian saya."
Tubuh Lala bergetar saat lelaki yang tidak tahu siapa itu mengeluarkan pistol dari saku celana dan membanting kasar ke tempat tidur.
"Mengulang dua kali?" Sang pria mengangkat alis, dengan hidung berkedut menyebar geraman.
Situasinya membuat Lala tidak bisa melawan, mendapati aura psikopat menguar di sepanjang ruangan, dan darah di sepatu hitam itu membekas di sepanjang lantai.
Sang pria maju seolah-olah menelan nyali Lala yang makin menciut.
Tangan mungil terulur gemetar oleh takut, mencoba membebaskan kemeja ketat yang mengesot, melewati otot brisep dengan tato kapak dan ular. Lala merinding.
"Takut?"
Pria sinting di depannya terus menatap, solah-olah dengan itu menelanjangi piyamanya.
Lala mengangguk gemetar, siapa yang tidak akan takut menghadapi beruang seperti itu.
Tangan bertato meraih kemeja di tangan dan menggantungkan di bahu Lala. Kemudian menempatkan tangan Lala di gesper hijau.
Menggeleng kuat, Lala menggeleng kuat. Lidah menempel di mulut, dia tidak bisa menjawab. Hanya kristal-kristal bening meluncur dan melewati pipi tidak bisa direm
"BUKA." Sang pria memelototi dan mengeram.
Tangan mungil gemetar bekerja secepat kilat. Gesper telah dibebaskan, Lala memegang gesper dengan kepala berdenyut, tidak bisa menghadapi tekanan lagi."Tolong," kata-katanya tercekik.
Meletakan gesper di lantai. Lala membebaskan dua sepatu meninggalkan kaus kaki beraroma musk. Tangan mungil Lala kini ternoda seperti darah, dia meyakini bau tembaga dan lengket. Lala gemetar memperhatikan sesuatu kental putih yang bercampur darah di antara jepitan jempol dan telunjuk, dia tidak tahu apa. Namun, dirinya meyakini itu bagian dari tubuh manusia.
Lala terjerembab ke belakang dengan merinding melempar sesuatu kenyal yang menempel mengejek ketakutannya.
Kaki besar itu mengayun memijak di tengah dada Lala. "Lepas."
Seolah tahu Lala membebaskan kedua kaus kaki.
"Datanglah, Bit*ch,"
Mata Lala terpaku darah ditangan dan dia menggeleng sesenggukan tertahan.
Dering hp menggema dari suatu tempat di celana jeans. Lala mendongak memperhatikan takut-taku pada sang pria yang masuk dan mengeluarkan ponsel lipat.
Terlihat sang pria menatap tajam seakan-akan sesuatu mengguncang.
Sang pria bercakap dalam bahasa asing, mendengus dan menggeram, mengumpat kasar dan meninggalkan Lala yang membatu.
Pintu tertutup, umpatan menggema dari luar.
Mata Lala menoleh tajam, menyapu ruangan, dia bergegas meraih sprei di belakangnya.
__ADS_1
Setengah berlari dalam diam takut mau menimbulkan keributan. Melewati pintu kaca. Mengikat sprei di pagar dan menjulurkan ke bawah.
Otaknya mati, dia melihat rerumputan di bawah. Tanpa mengatur nafas yang selalu terasa tercekik. Mencoba memanjat, melewati pagar besi. Tangan bertahan kuat di antara celah pagar. Buku-buku jari memutih, otot-otot menonjol menahan beban tubuhnya.
Meringis dan menggantung, melempar kaki dan mengapit sprei. Merosot dalam pegangan sprei. PANAS. Lala melotot saat orang dari lantai satu mengetahui ulahnya, mereka lantas berdiri dalam keterkejutan.
Tatapan Lala menikung tajam ke bawah, dalam seperkian detik menekuk lutut.
Brak, kaki menyentak rumput. Tubuhnya sedikit terpental ke atas. Lalu terjungkal, badan terguling, tak beraturan. Dalam beberapa detik setelah teehenti, Lala cepat mengumpulkan kesadaran.
Suara tembakan menggema di udara.Dia duduk memaksa kesadaran. Harapan terakhirnya, Secepat yang dia bisa. Berlari seakan ini akhir hidupnya.
Daun-daun kering berderak terinjak di bawah kaki polos.
Pikirannya bergulat.
Vino Vino, lari lari.
Tembakan menggema. Lala melesat menjauh dari rumah tua, masuk ke dalam hutan.
Tidak mengetahui di mana, Lala merasa sudah sangat menjauh, tembakan mulai berjarak.
Dia melihat ke belakang tidak menemukan tanda-tanda orang mengejar. Sementara Lala kehabisan nafas, dia meraih pohon di belakangnya.
KOSONG.
Melesat, Lala tertarik ke belakang, punggung terhantam. Tubuh mengguling, derak daun ranting, bumi berputar, sesuatu menghantam begitu pada perutnya. Tiba-tiba pandangannya gelap.
Kicau burung samar. Lala menyipitkan mata. Gemerisik angin dan suara orang membuatnya terjaga.
Menatap hari yang mulai gelap,
"Aghh." Lala memiringkan kepala dan tertahan leher kaku yang sulit digerakan. Sekujur badan terasa kaku ngilu. Lala meringis berniat meraba-raba perut tapi terhalang pohon besar yang menutup seluruh perut.Lala berusaha terlentang dengan sisa tenaga.
Lala menarik piyama, menekuk leher yang begitu sakit, memaksa melongok. Perutnya ungu memar begitu lebar dan perih.
Dia tidak dapat bangkit untuk duduk, air mata lolos. Sekarang entah apa yang harus dilakukannya, menatap langit yang berubah abu-abu gelap.
Malam jangan cepat datang.
Haruskah tubuhnya terkunci pada tanah tanpa bisa di gerak kan, dia menyesal tidak memakan sarapan.
Suara orang semakin begitu kentara, Lala menjerit dalam hatinya.
Tuhan tolong!!!! Tuhan!!!!!!!!!!!!!!!!
Dia mengintip ke asal suara dari atas dimana dia jatuh, mereka mungkin akan menemukan bekas jatuhnya. Dirinya membeku, merasakan begitu lembab tanah dibawahnya, menatap Nanar pada langit.
Aku bukan orang jahat, mengapa ini menimpa aku dan keluargaku.
Dingin air mata mengalir dari sudut pipi menimbulkan gatal. Menggerakkan tangan pun begitu lemah.
__ADS_1
Jika orang-orang itu melongok kemari mungkin mereka akan menangkapnya. Dan psiko gila itu bisa lebih kejam, psiko gila yang bahkan lebih mengerikan dari psikopat yang pernah ditemuinya.
TES.. TES..