Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 78 : SIAPA RICHIE?


__ADS_3

Enam jam berlalu, kami masih menyapa tamu.


Ayah dan Ibu mertua asik bercengkrama dengan penyanyi dan artis kelas A. Mereka sangat glamor.


Setengah jam Kevin belum kembali dari kamar kecil. Aku lelah, ku pindahkan beban tubuh pada kaki kanan.


Melihat ke kiri menunggu Kevin. Kandungan ku elus pelan saat perut kembali mengencang, ini yang ke lima.


'Kalian harus kuat.'


Seperti mengerti kekhawatiranku, mereka menendang bersamaan, aku menghela nafas, bermain dengan tendangan mereka.


Tiba-tiba pandanganku berputar membuat tanganku menggapai sesuatu .


Keseimbanganku menghilang. Pandanganku gelap, sesuatu keras menahan punggungku.


Aku mengerjap, Seorang pria menahanku, tatapan kami bertemu.


Netra hitam itu mengkilat menatapku, bibirnya melengkung ke atas memperlihatkan deretan gigi putih dan rapih.


"Saya bantu," hembusan pria itu menyembur hangat. "Terimakasih," ucapku melepaskan diri dari tanganya.


Mertua dan pengawal berdatangan dan memintaku untuk beristirahat, namun aku menolak.


"Anda bersemangat sampai tidak memperhatikan signal tubuh yang sudah kelelahan," Kata pria itu setelah orang-orang menjauh. "Perkenalkan saya Richie.


Dia mengulurkan tangan, menarik perhatianku karena jari telunjuk berurat itu tersemat cincin warna hijau yang di kelilingi berlian. Warna hijaunya sangat langka.


Aku beralih ke wajah Richie, matanya menyipit.


Aku mencengkram gaunku


Dia melebarkan mata, "e' hm."


Aku tergagap dan Ku ulurkan tanganku ke tangan Richi. Tangan kami bersentuhan, tangan Richi terlalu hangat dan lembut.


Aku tersentak sampai mataku membulat. Richie menarik sudut bibirnya sampai terangkat penuh.


"Saya Lala," jawabku.


Jemari Richie bergeser sangat pelan menyusuri telapak tanganku dan turun sampai ke ujung jemariku. Lembut dan hangat genggaman Riche.


Keningku berkerut saat dia akan membungkuk.


Mulutku terbuka dan tatapanku koson. Dia mencium punggung tanganku dengan tangan kiri Richie turut menggenggam tanganku.


DEG. Aku mematung dan jantungku berdebar.

__ADS_1


"Anda penuh pesona," kata Richie masih membungkuk dengan sedikit mendongak ke atas dan aku tak bisa menyembunyikan rasa hangat di pipiku, "Tuan Richie terlalu menyanjung."


"Lihat Anda tidak bisa menyembunyikan pesona Anda, Nyonya Lala Saint." Dia mengecup jemariku sekali lagi.


Begitu jemariku terlepas darinya, aku menekuk jemariku yang berkeringat.


"Anda begitu gugup di depan saya, Nyonya Saint. Mereka bisa salah mengira jika saya lelaki beruntung yang mendampingi anda, nyonya Saint."


JLEB. "Tuan Richie Anda terlalu memainkan perasaan saya. Saya hanya salah satu dari mereka, kaum hawa yang mudah terbawa suasana karena Anda terlalu sering menyanjung. Anda tahu kan, kami kaum hawa lemah dengan itu. Sepertinya bukan sepenuhnya salah saya jika saya gugup atau jika mereka salah mengira."


"Anda tahu Nyonya LaSaint. Sebenarnya jika mereka menganggap begitu justru saya sangat senang." Richie tertawa kecil.


"Mengapa anda merubah-rubah nama saya, Tuan Richie?" tanyaku, alisku naik sesaat.


Richie mengambil sesuatu di jasnya, "Siapa yangmerubah nama Anda? Saya hanya menyingkatnya. Nyonya 'LaShaint'."


Richi mencondongkan wajah kepadaku, "atau saya harus memanggil 'Nyonya Lala Saint Mariano' itu terlalu panjang."


Richie terdiam sejenak, "Atau disingkat LSM, anda kan tahu di Indonesia itu kepanjangannya apa, orang mengira anda pegaw-"


"Stop, Anda akan terus berdebat dengan saya?" tanyaku dengan alis menyatu, justru membuat Richie tertawa lepas.


"Maaf Nyonya LSM , ah salah-"


Aku memelototi Richie.


"Maksud saya, nyonya Lala Saint."


"Semoga ini mengobati kekecewaan yang telah disebabkan saya." Richie memberikan kotak biru kecil.


Aku mengerutkan kening, "Apa ini Tuan Richie?"


"Hanya hadiah kecil. Please, Nyonya Lala Saint."


"Tapi,"


Tiba-tiba Kevin sudah di belakang dan memeluk pinggangku.


"Terima, Babe," Kevin mencium pipiku, seketika wajahku menghangat.


"Terimakasih, Tuan Richie," ucapku pada Richie, tanganku meraih kado itu dan dia tersenyum puas.


Kevin dan Richie berbicara dengan bahasa itali. Sama seperti ayah saat sedang telpon dengan rekan kerjanya. Sayang aku tak tahu artinya. Kevin terlihat serius dan tidak suka.


Kotak hadiah Richie itu telah dibawa Siska bersama hadiah lainnya.


.

__ADS_1


.


Richie memberikan lengan kepadaku. Aku beralih memandang Kevin dan dia mengangguk.


Sebelum aku pergi Kevin mencium keningku. Aku dan Kevin saling bertatapan hangat, saat Kevin akan mencium bibirku aku menghindarinya, dia melototi ku.


"Malu," aku menggerakkan mulutku tanpa bersuara.


CUP!


Tanpa aba-aba di depan para tamu undangan Kevin mengecup bibirku dengan sorot mata tajam.


Dia membelah bibirku dengan cara sensualnya, nafas hangatnya menyembul ke hidungku, memancingku, matanya semakin lembut namun bibirnya semakin menulusuri bibirku, memberi kekenyalan dan kelembutan daging yang selalu membuatku hampir hilang kendali.


Sorot mata hangat Kevin semakin terpancar manakala satu lampu besar kini fokus menyorot kami.


Wajahku semakin menghangat, darah mulai mengalir ke seluruh wajahku. Kevin memejamkan mata. Aku yang malu-malu karena semua tamu memandangi kami, terbuai karena cumbuan Kevin. Aku tak tahan lagi , mataku terpejam menelan liur kami yang terus terasa manis dan membangkitkan semangat kami. Kevin mengeratkan tangannya pada pinggangku. Jantungku semakin berdebar kuat, bibir sensual Kevin yang me lu mat terus berebut saliva denganku.


dia teman hidupku. 'My husband'.


Richie berkata dengan bahasa asing, membuat Kevin menghentikan aksinya, setelah dia mengecup ku sekali lagi dan memelukku di depan umum, dia berbicara bahasa asing pada Richie.


'Mereka sengaja berbahasa asingkah? Menyebalkan, mentang-mentang aku tak tahu.


Aku menautkan tanganku pada Richie, dia menarikku ke sisi gedung. "Akan kemana kita, Tuan Richie?" Aku beralih mendongak dan melihat mata Richi yang lurus memandang ke depan.


"Ke tempat yang membuat Anda terpukau, Nyonya Saint."


Aku menoleh ke belakang kulihat Kevin, menyapa beberapa tamu bersama Om Anton dan tante Sheril.


"Anda begitu fasih berbahasa Indonesia, tapi juga Fasih berbahasa lain ..." kataku sambil mulai menuruni sepuluh anak tangga.


Gaun putihku dengan belahan selutut kucincingkan sedikit, Mereka tadi pagi memberikanku selop mengingat kehamilanku sudah besar.


"Saya menguasai 25 bahasa, tapi itu masih jauh dibawah Kevin," dia membantu ku turun tangga dan kembali memberikan lengan, aku kembali menautkan tanganku.


Kami masuk ke dalam lorong warna hitam dengan cahaya redup.


"Itu mengagumkan bisa menguasai banyak bahasa, Tuan Richie," ucapku, pipiku menoleh saat sentoran angin membuatku mengigil, melewati lorong yang suhunya jauh lebih rendah. Richie melepaskan jas dan meletakan di punggungku.


"Terimakasih." Aku melirik lelaki yang seperti usianya beberapa tahun di atas Kevin. Dia sangat Lux.


"Apa masih jauh?" tanyaku dan tepat saat Richie meghentikan langkahnya.


Bersambung ...


_______________________________

__ADS_1


Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍



__ADS_2